Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 73

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 73

Namun, tidak untuk Putu Risang yang sudah memiliki kekuatan sejati melalui laku tirakat yang hampir setiap malam dilakoninya, sebuah ajian sakti dari kitab pusaka pertapa Gunung Wilis. Ternyata, apa yang terjadi di sekitar panggung sederhana itu tidak lepas dari pengamatan Mahesa Amping dan rombongannya.

Mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Putu Risang saat melihat penerapan ilmu orang yang baru datang. Sihir yang begitu dahsyat telah mengecoh semua orang di sekitarnya hingga merasa seolah-olah bumi berguncang.

"Aji Pelemah Sukma," gumam Mahesa Amping, menyadari bahwa orang itu telah mengeluarkan ajian yang mampu melumpuhkan serta mengendalikan pikiran banyak orang. Hanya orang yang sudah mumpuni yang dapat menguasai ilmu tersebut.

"Kita harus segera turun ke medan," ujar Mahesa Amping kepada rombongannya, berniat melindungi segala kemungkinan buruk yang menimpa Putu Risang.

"Tahan dulu!" Mahesa Amping membatalkan perintahnya sendiri, membuat Mahesa Semu, Mahesa Darma, Muntilan, dan Pendeta Gunakara menahan langkah yang sempat terayun. Mahesa Amping menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya seperti seseorang yang terlepas dari marabahaya besar. Kekhawatirannya terhadap Putu Risang kini telah sirna.

"Ilmu anak itu ternyata sudah dapat mengatasinya," ujar Mahesa Amping sambil memberi isyarat agar rekan-rekannya tidak perlu turun tangan. Ternyata, dengan ketajaman matanya, Mahesa Amping melihat Putu Risang mampu meredam ilmu sihir tersebut. Kedua mata anak muda itu bersinar terang, memancarkan sorot yang menembus pandangan lawan. Sihir yang tersebar pun meredup dan pudar keampuhannya.

Dari tempat persembunyian, Mahesa Amping melihat wajah Ki Gendon memerah penuh kemarahan. "Habisi mereka!" seru Ki Gendon, memerintahkan pengikutnya menyerang Putu Risang dan Paman Ragil yang masih berada di atas panggung. Seratus pengikut Ki Gendon mengepung panggung dengan rapat, tidak memberi celah sedikit pun bagi mereka untuk meloloskan diri.

Sementara itu, Mahesa Amping melihat sepuluh orang sewaan si pria perlente diam-diam berusaha menyingkir. "Tangkap mereka," perintah Mahesa Amping kepada Mahesa Semu, Muntilan, dan Mahesa Darma untuk mencegat para pengecut yang takut terbawa amarah Ki Gendon—sosok kejam yang dikenal mampu membunuh musuhnya tanpa penyesalan.

"Kalian tidak boleh pergi ke mana pun," seru Mahesa Semu bersama Muntilan dan Mahesa Darma saat menghadang mereka.

"Sial!" umpat salah satu dari sepuluh orang itu sambil mencabut golok panjangnya. Kawan-kawannya mengikuti, siap menghadapi ketiga orang yang menghadang. Tanpa aba-aba, pertempuran pecah di luar batas tanah lapang tempat panggung berdiri.

"Sayang, aku hanya ditugaskan menangkapmu, bukan membunuhmu," ujar Mahesa Darma seraya meninju perut lawannya hingga jatuh pingsan. "Satu," ucap Mahesa Darma kepada rekan-rekannya, membuat mereka geli melihat tingkahnya yang menganggap pertempuran sebagai permainan. Mahesa Amping diam-diam memuji kepercayaan diri anak muda itu.

"Kakang Mahesa Murti telah membentuk jiwa anak itu sehingga tidak mengenal rasa takut," batin Mahesa Amping.

"Dua!" teriak Muntilan, memancing semangat Mahesa Darma. Benar saja, dua orang lawannya terpental oleh gerakan kaki dan tangannya.

"Kuserahkan ketiga orang itu menjadi milik Tuan Pendeta," ujar Mahesa Amping kepada Pendeta Gunakara saat melihat sosok Mandralola si Tangan Sakti Berdarah Biru beserta dua pengiringnya berusaha melarikan diri.

"Semoga aku dapat menangkapnya hidup-hidup," jawab Pendeta Gunakara, lalu melompat melesat menghadang ketiganya.

"Menyingkir dari kami atau tubuhmu remuk tak bertulang," ancam Mandralola.

"Sayang, aku bukan ikan bandeng. Kalian sudah menjadi milikku untuk kulucuti," balas Pendeta Gunakara dengan ekspresi menyeramkan.

"Wajahmu sungguh memuakkan," ujar Mandralola sambil mengeluarkan trisula dari pinggangnya. Kedua temannya pun melakukan hal yang sama. Tiga senjata trisula disorongkan bersamaan ke arah Pendeta Gunakara, namun sang pendeta hanya tersenyum dan melompat tinggi menghindari serangan tersebut.

Mahesa Amping beralih pandang ke arah panggung. Ia melihat panggung itu dirobohkan, namun Putu Risang dan Paman Ragil berhasil melompat sebelum bangunan tersebut ambruk. Keduanya bertarung di tengah kerumunan musuh dengan mudah, seolah menjadi dua bola api yang merobohkan ratusan rayap.

"Ketua Padepokan Pancawarna itu sangat licik, ia ingin menguras tenaga Putu Risang lewat tangan pengikutnya," batin Mahesa Amping. Namun, kecemasannya mereda saat seratus orang pasukan pilihan yang dipimpin oleh Ki Sandikala datang menyerbu. Pertempuran pun berubah menjadi gejolak dahsyat.

"Selamat datang, wahai saudaraku," sapa Putu Risang kepada bala bantuan yang datang.

"Sial!" umpat Ki Gendon saat melihat kedatangan pasukan lawan.

"Jangan mengumpat sendiri, bisa-bisa kesialan benar-benar menghampirimu," sahut Ki Sandikala yang tiba-tiba sudah berada tepat di hadapan Ki Gendon, yang kini menyadari mimpinya untuk merebut keris Nagasasra telah buyar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment