Chapter 75
"Kakang Mahesa Semu tidak perlu khawatir. Sebulan yang lalu kami sudah menurunkan para petugas telik sandi untuk menyiapkan lumbung-lumbung itu. Jadi, tugas kalian berempat hanya sebatas menjaga lumbung-lumbung tersebut sampai saatnya tiba," kata Mahesa Amping kepada Mahesa Semu.
"Jalur mana yang akan digunakan oleh pasukan darat Raden Wijaya menuju Kotaraja Kediri?" tanya Muntilan kepada Mahesa Amping.
"Pasukan darat Raden Wijaya disiapkan sebagai pasukan pembuka, hanya sebagai pemancing agar pihak lawan tergoda untuk datang menyambut umpan. Di saat yang tepat, akan datang gelombang badai yang meluluhlantakkan mereka lewat gelombang pasang tiga belas ribu pasukan Mongolia yang akan membanjiri medan pertempuran sebenarnya. Karena pasukan darat Raden Wijaya hanya berfungsi sebagai pasukan pemancing, maka jalur perjalanan yang akan kita pergunakan adalah jalur para pedagang, yaitu jalur yang biasa dilalui oleh orang banyak agar pihak lawan mudah melihat umpan yang sengaja diletakkan di tempat terbuka," kata Mahesa Amping menjelaskan siasat perang yang telah disepakati bersama panglima besar pasukan Mongolia.
"Sebuah siasat perang yang hebat," ujar Mahesa Darma tanpa sadar mengagumi rencana yang dijabarkan dengan singkat oleh Mahesa Amping. Sementara itu, yang lainnya terlihat mengangguk-angguk tanda setuju.
"Ada banyak kemungkinan yang pasti akan terjadi. Aku yakin tuanku Raden Wijaya telah mempersiapkan semua kemungkinan itu," sahut Pendeta Gunakara yang sedari tadi diam mendengarkan, kini ikut angkat bicara di atas pendapa.
"Benar, Tuan Pendeta. Raden Wijaya sudah mempersiapkan berbagai kemungkinan, salah satunya adalah kesiapan pasukan khusus yang dibentuk lewat tangan Ki Sandikala sebagai pasukan tersembunyi yang dapat bergerak kapan pun dan di mana pun dibutuhkan," tanggap Mahesa Amping.
"Berapa kekuatan pasukan darat Raden Wijaya yang bergerak keluar dari Bumi Majapahit menuju Kotaraja Kediri?" tanya Mahesa Semu kepada Mahesa Amping.
"Tiga ribu prajurit akan bergerak bersama menuju Kotaraja Kediri, sedangkan dua ribu prajurit akan menyusul sebagai pasukan cadangan. Selain itu, ada sekitar tiga ribu pasukan khusus di bawah pimpinan Ki Sandikala yang berasal dari berbagai padepokan sebagai kekuatan tersembunyi untuk menjaga segala kemungkinan yang mungkin terjadi," jelas Mahesa Amping yang didengarkan penuh kekaguman oleh semua orang di atas pendapa.
Memang pembagian kekuatan tersebut sangat matang dan penuh perhitungan dari seorang pemimpin muda, Raden Wijaya. Pagi itu, matahari bersinar cerah menyinari rumput hijau di halaman depan pasanggrahan Mahesa Amping.
"Orang itulah yang akan menjadi penghubung yang membawa kalian ke titik-titik lumbung pangan pasukan darat Raden Wijaya," ujar Mahesa Amping sambil menunjuk seseorang yang sedang berjalan menuju pendapa.
Ketika orang itu telah menaiki tangga, ternyata penghubung yang dimaksud adalah Gajah Pagon, seorang pemuda yang sudah banyak berjasa bagi pergerakan Raden Wijaya. Sesuai dengan keahliannya, Gajah Pagon ditugaskan sebagai petugas telik sandi kepercayaan Raden Wijaya.
Setelah Gajah Pagon memperkenalkan diri kepada saudara seperguruannya, para cantrik dari Padepokan Bajra Seta, Mahesa Amping melepas kepergian mereka untuk tugas yang sangat penting: menjaga lumbung-lumbung pangan bagi pasukan darat Raden Wijaya. Putu Risang, Mahesa Darma, Mahesa Semu, Muntilan, dan Gajah Pagon pun melangkah keluar dari gerbang gapura pasanggrahan diiringi tatapan dan doa keselamatan dari Pendeta Gunakara dan Senapati muda, Mahesa Amping.
"Mereka dapat diandalkan," kata Mahesa Amping kepada Pendeta Gunakara saat melihat rombongan Putu Risang menghilang di balik dinding halaman.
Sebagaimana dikatakan Mahesa Amping, mereka memang dapat diandalkan. Mereka telah berjalan cukup jauh meninggalkan Bumi Majapahit. Sepanjang perjalanan, mereka berusaha tidak meninggalkan kesan mencurigakan. Terkadang mereka menyamar sebagai pedagang keliling, terkadang sebagai pengembara biasa yang banyak dijumpai di setiap tempat. Banyak orang memandang sebelah mata terhadap para pengembara, menganggap mereka sebagai orang yang lari dari masa depan atau pemalas. Namun, apa pun kata orang, kelima ksatria itu terus berjalan tanpa rintangan.
Setelah sehari penuh berjalan, mereka tiba di lumbung pertama, sebuah tempat tersembunyi di dalam hutan yang tidak jauh dari jalan utama. Beruntung mereka diantar oleh Gajah Pagon karena penjagaan di sekitar lumbung tersebut sangat ketat, berlapis empat. Namun, karena Gajah Pagon sudah sangat dikenal oleh para prajurit penjaga, mereka diterima dengan baik.
"Apakah kalian tidak mendapat kendala selama bertugas di sini?" tanya Gajah Pagon kepada salah seorang prajurit.
"Tidak ada kendala, namun dua hari ini kami dicekam oleh kehadiran seekor harimau," jawab prajurit itu dengan wajah ketakutan.
Gajah Pagon menatap keempat kawan seperjalanannya yang ditugaskan menjaga keamanan lumbung pangan. "Nanti malam kita tunggu harimau itu," ujar Mahesa Darma penuh semangat.
"Kuserahkan semuanya kepada kalian," kata Gajah Pagon, menaruh kepercayaan penuh pada anak muda yang telah mendapat mandat dari Mahesa Amping itu.
Ketika malam tiba, suasana mencekam menyelimuti para prajurit penjaga. Mereka merasa harimau itu akan datang kembali mencari mangsa, karena lokasi lumbung itu mungkin merupakan wilayah kekuasaan sang raja hutan. Malam itu ditandai dengan keriuhan suara monyet yang melompat dari dahan ke dahan. Naluri mereka terganggu oleh sesuatu yang berbahaya, yakni sosok harimau jantan.
"Suara geraman harimau," ujar Putu Risang yang memiliki pendengaran tajam.
"Kita dekati arah suaranya," ajak Mahesa Darma tanpa rasa takut, yang segera disetujui oleh Muntilan dan Mahesa Semu.
Dua anak muda itu mengendap-endap mendekati sumber suara. Akhirnya, mereka melihat seekor harimau yang sedang berjalan mencari mangsa di daerah perburuannya. Mereka diam berdiri, menahan napas agar kehadiran mereka tidak tercium oleh indra penciuman harimau yang sangat tajam.
Mahesa Darma menyentuh pundak Putu Risang, memberi isyarat bahwa ia yang akan menyelesaikan urusan harimau itu. Segera setelah itu, Mahesa Darma melompat ke arah harimau tersebut. Si kucing besar yang terkejut mengeluarkan auman yang memecahkan kesunyian malam. Namun, suara itu tidak membuat nyali Mahesa Darma menciut.
"Haummm!"
Harimau itu melompat menerkam dengan sangat cepat dan tangkas, layaknya menerkam mangsa biasa. Namun, malam ini ia tidak berhadapan dengan kijang yang lincah atau badak yang kuat, melainkan dengan Mahesa Darma yang bergerak lebih gesit dari kijang dan memiliki kekuatan luar biasa. Di mata Mahesa Darma, gerakan harimau itu tampak lambat. Ia menghindar dengan sigap ke arah samping dan menendang perut harimau besar itu hingga terguling di atas tanah.