Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 76

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 76

Kemarahan harimau besar itu telah memuncak. Ia mengibas-ngibaskan seluruh kulit badannya sambil mendekati Mahesa Darma hingga masuk ke dalam jarak terkamnya.

"Haummm!"

Terdengar kembali geraman harimau itu. Namun, kali ini Mahesa Darma tidak berusaha menghindar. Begitu cakar depan sang harimau nyaris menggapainya, anak muda itu menjatuhkan dirinya dan melayangkan sebuah tendangan tepat mengenai perut bagian dalam hewan tersebut.

Dampaknya sangat hebat. Harimau itu terlempar melambung hingga terhempas pada batang pohon besar. Tendangan kuat dan hempasan yang keras membuat harimau itu langsung pingsan.

"Masih hidup," teriak Mahesa Darma dengan penuh gembira setelah sempat ragu dan khawatir hewan itu akan mati.

"Mengapa tidak langsung dibunuh saja harimau itu?" tanya seorang prajurit kepada Mahesa Darma.

"Harimau ini jantan. Mungkin anak dan induk betinanya masih menunggu di suatu tempat. Bila tugas kita di hutan ini selesai, aku bermaksud melepaskannya kembali," jawab Mahesa Darma sambil terus mengikat keempat kaki harimau yang masih pingsan itu.

"Budi anak itu begitu halus dan penuh perasaan," gumam Putu Risang dalam hati seraya memperhatikan Mahesa Darma.

Keesokan harinya, Gajah Pagon mengajak rombongannya melanjutkan perjalanan ke beberapa titik lumbung yang harus disinggahi. Mereka sepakat agar Mahesa Darma tetap tinggal di hutan itu.

"Biarlah Mahesa Darma menunggu pasangan harimau itu datang kemari," ujar Mahesa Semu sambil tersenyum setuju meninggalkan Mahesa Darma bertugas menjaga dan mengawasi lumbung pertama di hutan tersebut.

Ketika matahari mulai merangkak menuju puncak, rombongan itu telah cukup jauh meninggalkan lumbung pertama. Saat senja berakhir, mereka memasuki hutan yang tidak begitu jauh dari sebuah kademangan. Ternyata di sanalah para prajurit bertugas menyiapkan lumbung pangan untuk pasukan darat Raden Wijaya.

"Sampai hari ini, kami belum menemukan kendala apa pun," lapor seorang prajurit ketika ditanya Gajah Pagon mengenai keamanan di sekitar lumbung tersebut.

Karena hari sudah gelap, Gajah Pagon, Mahesa Semu, Muntilan, dan Putu Risang sepakat untuk bermalam di hutan itu. Sebagaimana lumbung pertama, penjagaan di sekitar lumbung kedua juga berlapis. Sepanjang hari para prajurit berjaga silih berganti untuk memastikan suasana di sekitar lumbung padi itu aman terkendali.

Keesokan paginya, tidak ada kejadian apa pun. Akhirnya, disepakati bahwa Muntilan harus tinggal untuk bergabung dengan para prajurit di lumbung kedua. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju lumbung ketiga dan keempat.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, mereka tiba di lumbung ketiga dan keempat. Di lumbung ketiga, disepakati bahwa Mahesa Semu yang bertanggung jawab menjaga keamanan. Sementara di lumbung keempat, Putu Risang menjadi orang terakhir yang ditugaskan menjaga keamanan.

Lumbung keempat ternyata tidak berada di tengah hutan, melainkan di sebuah kademangan yang cukup besar dan ramai, yaitu Kademangan Ngrangkah Pawon. Lokasinya tepat di dalam gudang rumah seorang saudagar kaya yang sangat dihormati oleh warga sekitar.

"Perkenalkan, kawanku ini bernama Putu Risang," ujar Gajah Pagon memperkenalkan Putu Risang kepada saudagar kaya raya tersebut, yang ternyata merupakan seorang telik sandi yang selama ini menyamar sebagai pedagang di Kademangan Ngrangkah Pawon.

"Tuanku Raden Wijaya tidak akan salah memilih orang," kata saudagar itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment