Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 78

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 78

"Sebuah kademangan yang cukup besar," ujar Mahesa Amping kepada Raden Wijaya ketika di ujung senja mereka tengah memasuki gerbang gapura Kademangan Ngrangkah Pawon.

"Mereka telah bekerja dengan rapi," kata Raden Wijaya kepada Mahesa Amping di pendapa sebuah rumah yang disediakan bagi mereka.

"Semoga Tuanku Raden Wijaya dan Tuan Senapati dapat beristirahat," ujar seorang anak muda yang mengantar Raden Wijaya dan Mahesa Amping ke rumah itu. Ia tidak lain adalah Putu Risang yang bermaksud pamit untuk melaksanakan tugas lainnya.

"Terima kasih, singgahlah kemari setelah tugasmu selesai, kami membutuhkan dirimu," sahut Raden Wijaya kepada Putu Risang yang terlihat tengah menuruni anak tangga pendapa rumah itu.

Tidak terasa malam sudah mulai larut di atas Kademangan Ngrangkah Pawon yang telah dipenuhi oleh tiga ribu pasukan Raden Wijaya. Namun, keberadaan mereka tidak mengubah suasana di kademangan itu. Pasukan Raden Wijaya sepertinya tidak ingin mengusik ketenangan para penduduk dengan melakukan keonaran yang dapat meresahkan, sebagaimana biasa dilakukan oleh mereka yang merasa kuat terhadap kaum yang lemah. Warga biasa dan para kawula yang tidak mengerti apa pun selain tugas rutin mereka—sebagian bertani dan bercocok tanam untuk menghidupi keluarga—tetap tenang.

"Malam ini hamba telah mendapat berita bahwa sebuah pasukan besar telah bersiap menyongsong kehadiran kita," kata seorang pemuda, Gajah Pagon, kepada Raden Wijaya dan Mahesa Amping di pendapa rumah peristirahatan mereka.

"Kademangan ini sangat baik untuk lumbung kita, tetapi terlalu terbuka untuk sebuah benteng pertahanan. Apakah kamu sudah mendapatkan tempat pilihan yang baik?" tanya Raden Wijaya.

"Di kaki Bukit Kadungan, setengah hari perjalanan dari sini," jawab Gajah Pagon.

Malam memang semakin larut, menyelimuti bumi Kademangan Ngrangkah Pawon dengan udara dingin yang menusuk kulit. Namun, Raden Wijaya dan Mahesa Amping masih terus membicarakan beberapa hal penting ditemani oleh petugas telik sandi kepercayaan mereka, Gajah Pagon.

"Duduklah, kami memang sedang menunggumu," sapa Raden Wijaya kepada Putu Risang yang terlihat naik ke pendapa rumah itu.

"Maaf, hamba sudah membuat Tuanku menunggu," kata Putu Risang sambil duduk di sebelah Gajah Pagon.

"Kamu pernah membawa pesan rahasiaku kepada Ratu Turuk Bali. Kuminta untuk kedua kalinya kepadamu untuk menemui Ratu Turuk Bali dengan pesan yang sama, agar ia pergi menjauhi Kotaraja Kediri sebelum kami datang menghancurkannya," ujar Raden Wijaya memberikan tugas kepada Putu Risang.

"Hamba akan segera melaksanakan perintah Tuanku," sahut Putu Risang penuh rasa hormat.

"Gajah Pagon akan menuntunmu agar dapat sampai di pintu peristirahatan Ratu Turuk Bali," ujar Raden Wijaya.

"Hamba akan mengantarnya, sekalian melihat situasi terakhir di Kotaraja Kediri," tambah Gajah Pagon memastikan dirinya siap mengantar Putu Risang menyampaikan pesan pribadi Raden Wijaya kepada bibinya sendiri, Ratu Turuk Bali.

Demikianlah, pagi-pagi sekali Gajah Pagon bersama Putu Risang sudah terlihat keluar dari Kademangan Ngrangkah Pawon. Kuda-kuda yang mereka tunggangi tampak seperti terbang melintasi bulakan panjang. Tidak lebih dari setengah hari perjalanan berkuda, mereka sudah mencapai sebuah padukuhan kecil tidak jauh dari batas Kotaraja Kediri. Di sana mereka menitipkan kuda-kuda mereka kepada seorang petugas telik sandi di sebuah rumah yang tersembunyi.

"Lebih aman berjalan kaki, jauh dari kecurigaan siapa pun saat semua mata memandang curiga kepada siapa saja yang mendatangi Kotaraja Kediri," ujar Gajah Pagon memberikan alasan kepada Putu Risang.

"Kupercayakan semua kepadamu, wahai sang penuntun," kata Putu Risang penuh senyum.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Putu Risang, Gajah Pagon berhasil membawanya masuk ke Kotaraja Kediri dengan aman. Mereka masuk tanpa dicurigai oleh prajurit di gerbang kota sebelah timur karena datang sebagai pedagang yang memikul beberapa barang tembikar.

"Kamu terlalu tampan untuk menjadi seorang pedagang tembikar," seloroh Gajah Pagon kepada Putu Risang ketika mereka telah melalui gerbang kota.

Bukan main terperanjatnya Putu Risang ketika di sebuah rumah yang tidak asing lagi baginya, Gajah Pagon memperkenalkannya dengan seorang lelaki yang juga pernah dikenalnya.

"Jadi selama ini kamu sudah mengetahui jati diriku?" tanya Putu Risang kepada seorang lelaki di hadapannya yang tidak lain adalah Mabujang, orang yang dulu menyediakan rumahnya untuk disewakan.

"Maaf, tugasku dulu hanya diminta untuk membantumu tanpa sepengetahuanmu," jawab Mabujang sambil tersenyum.

Malam itu, Putu Risang dan Gajah Pagon menginap di rumah Mabujang yang ternyata adalah seorang petugas telik sandi yang telah lama ditempatkan di Kotaraja Kediri. Keesokan harinya, mereka diam-diam menyaksikan pasukan besar Kediri keluar dari gerbang timur.

"Pasukan yang besar, sedikit lebih besar dibandingkan pasukan Raden Wijaya," ujar Putu Risang sambil mengamati pasukan tersebut.

"Mari kita kembali ke rumah Mabujang, ada seseorang yang akan kita temui di sana yang akan mengantarmu masuk ke dalam istana," ajak Gajah Pagon.

Di rumah Mabujang, Gajah Pagon memperkenalkan mereka kepada seorang lelaki berumur bernama Ki Pakering. "Ki Pakering adalah seorang pekatik istana, dialah yang akan membawamu ke dalam," ujar Gajah Pagon.

Diam-diam Putu Risang mengakui kekuatan jaringan telik sandi Raden Wijaya di Kotaraja Kediri. "Tuanku Raden Wijaya telah mengintai lama di padang perburuannya," batin Putu Risang.

"Aku akan membawamu masuk ke istana, kebetulan aku tinggal di belakang istana," kata Ki Pakering.

Hari belum begitu petang saat Ki Pakering datang memasuki istana bersama Putu Risang.

"Siapa yang kamu bawa, Ki Pakering?" tanya seorang prajurit penjaga.

"Kemenakan dari istriku, mudah-mudahan anak ini betah menjadi seorang pekatik di istana ini," jawab Ki Pakering. Karena sudah lama bekerja sebagai pekatik dan dikenal baik, tidak seorang pun mencurigainya. Ki Pakering mampu memainkan perannya dengan sempurna.

Malam itu, di atas langit Kotaraja Kediri, rembulan tersenyum dalam sinar kesempurnaannya. Angin dingin berhembus di antara lorong jalan setapak istana yang mulai sepi. Namun, tak seorang pun menyangka ketika ada sesosok bayangan berkelebat di sekitar kerimbunan tanaman bayam merah.

Ratu Turuk Bali masih duduk di pinggir pembaringannya dengan perasaan suram. Cahaya pelita di pojok kamar membiaskan gurat wajah penuh kepedihan. Kembali terlihat bayangan bergerak cepat melintas di atas atap dan diam tersamar di keremangan malam.

"Diriku sudah tidak muda lagi," ucap Turuk Bali kepada dirinya sendiri.

Hati Ratu Turuk Bali yang membeku seketika pecah oleh keterperanjatan saat sebuah bayangan meluncur dari atas dan berdiri di hadapannya. Ia membekap mulutnya sendiri ketika mengenali sosok itu.

"Maaf bila hamba datang dengan cara seperti ini," ujar seorang pemuda sambil merangkapkan tangan sebagai sikap hormat.

"Kamu datang kembali," ucap Ratu Turuk Bali setelah kesadarannya pulih.

"Hamba pernah membawa sebuah pesan rahasia, hari ini hamba datang kembali atas perintah Tuanku Raden Wijaya," ujar Putu Risang.

"Membawa pesan yang sama, meminta aku pergi mengungsi sebelum purnama kedua?" tanya Ratu Turuk Bali seolah sudah mengetahui isi pesan tersebut.

"Pesan itulah yang akan hamba sampaikan kepada Tuanku Ratu," jawab Putu Risang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment