Chapter 79
Lama Ratu Turuk Bali terdiam duduk di ujung pembaringannya. Cahaya pelita di kamar itu memantulkan wajah putih halus wanita yang tampak sudah tidak muda lagi, namun masih menyisakan jejak-jejak kecantikannya di masa lalu yang telah lewat.
Terlihat Ratu Turuk Bali memandang Putu Risang, lalu mengangkat wajahnya. "Katakan kepada tuanmu, meski kutahu hati dan cinta seorang Raja sudah tidak kumiliki sepenuhnya, namun pengabdianku masih tetap utuh selamanya."
"Katakan kepada tuanmu, cintaku pada kenangan rindu kasih keluarga tidak akan pernah hilang."
"Katakan kepada tuanmu, aku masih seorang permaisuri bagi putra-putriku dan hari depan mereka. Demi mereka semua, kutindas rasa kepedihan hati seorang istri yang terbagi. Demi cinta dan kasih mereka, biarlah kuakhiri hidupku nanti sebagai Dewi Sati yang melebur dalam api pembakaran jenazah sang Raja."
"Dan bila kemenangan berpihak kepada bala pasukan tuanmu, aku tetap seorang permaisuri di seberang jalannya," ucap Ratu Turuk Bali dengan derai air mata; sepertinya kata-kata itu sudah lama ingin ditumpahkan. Malam itu, ia menumpahkannya lewat seorang pemuda, petugas pembawa pesan rahasia.
"Apakah ada lagi yang ingin Tuanku Ratu sampaikan kepada Tuanku Raden Wijaya?" tanya Putu Risang yang bermaksud pamit.
"Tidak ada lagi," jawab Ratu Turuk Bali sambil menggerakkan kepalanya sebagai tanda merestui kepergian anak muda itu.
"Selamat tinggal, Tuanku Ratu," ujar Putu Risang kepada Ratu Turuk Bali, menyusul dengan ayunan kaki yang membawanya melesat jauh ke atas atap kamar. Tidak seorang pun malam itu mengetahui bahwa penjagaan istana Kediri telah ditembus dengan mudah oleh pemuda bernama Putu Risang.
Ketika pagi datang, terlihat Ki Pakering berjalan bersama seorang pemuda menuntun seekor kuda, seolah hendak mencari rumput.
"Hari masih pagi buta, rajin sekali kalian," sapa seorang prajurit penjaga kepada Ki Pakering saat hendak keluar dari gerbang istana.
"Pagi seperti ini aku akan membawa banyak rumput segar untuk kuda-kudaku," jawab Ki Pakering memberi alasan.
Demikianlah, Putu Risang tidak kembali lagi ke istana Kediri, melainkan langsung menuju rumah Mabujang tempat Gajah Pagon menunggunya.
"Mari kita selekasnya keluar dari Kotaraja Kediri ini," ajak Gajah Pagon kepada Putu Risang yang sudah bersiap diri.
Hari pertama setelah purnama di bulan itu, terlihat iring-iringan pasukan besar keluar dari Kademangan Ngrangkah Pawon. Mereka adalah bala prajurit Raden Wijaya yang akan berangkat menuju kaki bukit Kadungan. Di sanalah Raden Wijaya akan menempatkan pasukannya sebagai benteng pertahanan.
Tidak sampai setengah hari perjalanan, akhirnya pasukan itu sampai di kaki bukit Kadungan. Mereka menemukan tempat yang terlindung di sebuah hutan kecil. Pasukan itu segera berbagi tugas; sebagian berjaga-jaga, sebagian membuat barak sederhana, dan sebagian prajurit ahli menyiapkan dapur umum untuk makan siang setelah berjalan setengah hari tanpa beristirahat.
"Iring-iringan pasukan lawan telah keluar dari Kotaraja Kediri," lapor seorang petugas telik sandi kepada Raden Wijaya di barak khusus.
"Mereka pasti sudah mengetahui keberadaan kita di kaki bukit Kadungan ini," ucap Raden Wijaya memperhitungkan situasi.
"Berapa kekuatan pasukan yang telah keluar dari Kotaraja Kediri itu?" tanya Raden Wijaya.
"Ada sekitar empat ribu pasukan, sepertiganya adalah pasukan berkuda," jawab petugas telik sandi tersebut.
"Terima kasih, kembalilah ke kesatuanmu," perintah Raden Wijaya.
"Menjelang sore mereka pasti baru akan tiba," ujar Mahesa Amping kepada Raden Wijaya setelah petugas itu keluar.
"Artinya pasukan kita punya waktu lebih lama untuk beristirahat di kaki bukit ini," kata Raden Wijaya sambil tersenyum kepada sahabatnya itu.
Sebagaimana dikatakan Mahesa Amping, menjelang senja iring-iringan pasukan Kediri sampai di kaki bukit Kadungan, hanya berjarak sepadang terbuka dari barak pasukan Raden Wijaya. Mereka langsung mengirim utusan untuk menemui Raden Wijaya dan menawarkan agar ia menyerah.
"Katakan kepada Panglimamu, besok pagi aku, Raden Wijaya, akan turun bersama pasukan segelar sepapan di padang Kadungan. Aku ingin mengukur sendiri kekuatan dan keberanian para prajurit Kediri yang dulu pernah diluluhlantakkan oleh buyutku, Raja Ken Arok," ucap Raden Wijaya kepada utusan itu. "Antar orang ini sebagaimana kamu mengantar saudaramu," tambahnya kepada seorang prajurit agar mengantar utusan tersebut keluar dari lingkungan pertahanan tanpa gangguan.
Hari kedua setelah purnama, lengkung langit pagi dengan semburat warna merah masih remang mengerudungi bumi di kaki bukit Kadungan. Di timur padang Kadungan, tempat pasukan Raden Wijaya bermalam, suasana memang masih remang dan senyap, namun di barak dapur umum kesibukan sudah berlangsung lama menyiapkan ransum bagi prajurit yang akan bertempur.
Saat langit mulai terang, para prajurit menikmati makanan pagi mereka. "Di sebelah barat sana mereka pasti seperti kita, tengah menikmati ransum pagi," kata seorang prajurit kepada kawannya.
"Mungkin hati dan perasaan mereka juga sama, sama-sama berharap dapat menikmati ransum pagi esok hari," jawab kawannya sambil tersenyum.
Ketika langit sudah terang, terdengar suara bende Ki Prabu Segara menggema, memecahkan kesunyian hutan di timur padang Kadungan. Suara itu memacu denyut jantung para prajurit lebih kencang. Itu adalah tanda bagi mereka untuk bersiap diri. Tidak lama kemudian, barisan panjang terbentuk mengisi sisi-sisi hutan di antara batang pohon besar. Barisan itu menyerupai ular raksasa penghuni hutan yang marah karena terusik dari ribuan tahun masa pertapaannya.
Suara bende Ki Prabu Segara terdengar untuk kedua kalinya, memerintahkan barisan itu keluar dari hutan, merayap melewati semak perdu, hingga akhirnya tiba di tempat terbuka di padang Kadungan sebelah timur. Barisan itu berhenti saat di hadapan mereka berdiri barisan besar seperti pagar berlapis yang mengisi sisi sebelah barat padang Kadungan.
"Gelar perang Diradameta!" gumam Raden Wijaya dalam hati saat melihat empat ribu prajurit Kediri yang sudah menunggu.
"Anak Tumapel itu terlalu angkuh, merasa yakin bahwa gelar perang supit urangnya dapat merobohkan gelar Diradametaku," batin seorang pria berwajah hitam di atas kudanya. Ia adalah Patih Kebo Mundarang yang diperintahkan Raja Jayakatwang memimpin pasukan Kediri.
Sesuai dugaan Kebo Mundarang, barisan ular raksasa dari hutan telah membentuk gelar perang supit urang, sebuah gelar tandingan khusus untuk menghadapi gelar perang Diradameta yang melambangkan seekor gajah besar mengamuk.
"Keris Nagasasra," gumam Mahesa Amping dalam hati saat melihat Raden Wijaya di atas kudanya mengangkat tinggi keris keramat warisan Raja Erlangga itu. Hal yang sama juga dirasakan oleh Putu Risang yang berdiri di sebelah Putut Prastawa, sang senapati pengapit kiri.
Semua prajurit di barisan Raden Wijaya melihat keris itu sebagai pertanda untuk bersiap dengan senjata masing-masing. Hampir semua prajurit mencabut pedang dari sarungnya, sementara pemegang tombak menggenggam senjatanya lebih erat, siap menghantam dada musuh.
Di seberang sana, terdengar suara aba-aba yang melengking, disambut gegap gempita suara langkah kaki manusia dan kuda yang menggetarkan bumi Padang Kadungan. Namun, Raden Wijaya tidak memberi aba-aba apa pun, tangannya masih mengangkat tinggi Keris Nagasasra.
Baru ketika pasukan Patih Kebo Mundarang mendekat sekitar tiga puluh langkah, Keris Nagasasra di tangan Raden Wijaya berputar-putar. Itulah perintah bagi pasukannya untuk bergerak. Suara penghubung dalam setiap pasukan memberi aba-aba serupa dengan memutar panji-panji kesatuan mereka. Diiringi suara gemuruh, pasukan Raden Wijaya bergerak menghadang serangan musuh, sementara sepertiga pasukan di belakang Raden Wijaya bertahan di tempatnya menanti musuh yang terus mendekat.