Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 80

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 80

Sementara itu, Mahesa Amping sebagai senapati pengapit telah bergerak maju membawa pasukannya melambung untuk menusuk pertahanan lawan di sebelah kanan.

Sebagaimana Mahesa Amping, Putut Prastawa yang dipercaya sebagai senapati pengapit di sebelah kiri telah membawa pasukannya bergerak melambung lebih jauh lagi, melengkung untuk menusuk pertahanan lawannya.

Terlihat Mahesa Amping di barisan paling depan bersama pasukannya seperti bola api yang menusuk dan menerobos lambung pasukan lawan. Satu per satu prajurit Kediri yang berhadapan dengan Mahesa Amping seperti sekumpulan semut yang terburai pecah saat tersentuh bola api tersebut. Ujung cambuk pendek Mahesa Amping seolah bermata, selalu datang merobohkan siapa pun lawan yang mendekat. Meski Mahesa Amping tidak meluruhkan seluruh kesaktiannya, hanya menggunakan sedikit kekuatan tenaga cadangannya, tindakan itu tetap saja membuat para musuh menjadi pontang-panting. Keadaan tersebut membuat pasukan di belakangnya menjadi bersemangat untuk terus menerobos masuk lebih dalam guna memecah lambung pertahanan lawan.

Sementara itu, di sisi kiri pasukan Raden Wijaya, seperti tidak mau kalah dengan rekan-rekan mereka di barisan sebelah kanan, Putut Prastawa dan Putu Risang bersama barisan pasukannya yang melambung jauh telah berhasil mengoyak-ngoyak pertahanan lawan.

"Dua orang bercambuk telah mengoyak pasukanku!" seru Patih Kebo Mundarang dengan geram. "Perkuat pertahanan lambung kalian!" teriaknya memberi perintah.

Para penghubung segera menyampaikan perintah untuk memperkuat pertahanan lambung tengah yang sudah mulai terkoyak. Seperti sekumpulan banteng yang marah, barisan pasukan Patih Kebo Mundarang di bagian lambung tengah bergerak condong untuk menghadang pasukan lawan yang dipimpin oleh Mahesa Amping. Pergerakan cepat itu memang berhasil memperkuat kembali sisi lambung pertahanan mereka yang terkoyak, namun di sisi lain telah melemahkan pertahanan mereka sendiri. Hal ini membuat Putut Prastawa yang didampingi Putu Risang berhasil membawa pasukannya masuk lebih dalam, merobek-robek ekor pasukan gelar perang Diradameta tersebut.

Cakra milik Putut Prastawa dan cambuk pendek Putu Risang menjadi dua senjata yang menakutkan. Keduanya membuat gentar setiap lawan yang melihat karena senjata tersebut merobohkan siapa pun yang mendekat. Bersama pasukan Raden Wijaya yang seolah tumbuh taring baru, mereka memporak-porandakan pertahanan belakang musuh.

"Gila!" maki Patih Kebo Mundarang dengan geram saat melihat pasukannya tergilas dan terkoyak-koyak.

Sementara itu, pertempuran di bagian lambung pasukan Kediri kembali hancur. Ujung cambuk pendek Mahesa Amping terus bergerak, satu per satu lawan tersapu dan jatuh bertumbangan. Keadaan itu membuat pasukan yang bersamanya semakin percaya diri untuk memporak-porandakan pasukan musuh.

"Gila!" Patih Kebo Mundarang kembali mengumpat. Kegeramannya dilampiaskan dengan menghunjamkan keris besarnya kepada setiap prajurit musuh yang mendekat.

"Aku harus menghentikannya," ujar Raden Wijaya yang melihat kebuasan Patih Kebo Mundarang membantai prajuritnya.

"Sudah lama aku ingin mengenal kesombongan anak bangsawan Tumapel," tantang Patih Kebo Mundarang saat Raden Wijaya sudah berada di hadapannya dan langsung menerjang bersama kudanya.

"Sudah lama juga aku ingin membalas kecuranganmu di peperangan Padang Kalimayit beberapa tahun lalu," balas Raden Wijaya sambil mengelak, memacu kudanya, dan balik menyerang.

Perkelahian dua panglima perang itu pun berlangsung semakin seru. Keduanya saling serang dan balas menyerang di atas kuda masing-masing, namun tetap mengawasi medan pertempuran dan memberikan perintah kepada para penghubung. Sementara itu, pasukan mereka terus bertempur dengan dahsyat. Denting suara senjata beradu, sumpah serapah, jerit ratap kesakitan, dan rintihan menjadi suara peperangan yang membisingkan suasana Padang Kadungan.

Dua kelompok manusia yang serupa itu saling membantai, seakan iba telah hilang. Yang tersisa hanyalah keinginan untuk mempertahankan diri dengan cara membunuh. Jiwa, hati nurani, dan kehalusan budi setiap manusia seolah tersingkirkan, seperti bukan lagi manusia, melainkan makhluk yang lebih terbelakang dari binatang. Begitulah hasrat jiwa manusia dalam kancah peperangan.

Namun, tidak demikian dengan Mahesa Amping, Raden Wijaya, dan Putu Risang. Walaupun mereka memiliki ilmu puncak yang dapat menciptakan petir, kobaran api, atau meleburkan sebongkah batu besar, mereka tidak melakukannya. Mereka hanya menggunakan sedikit kekuatan tenaga cadangan untuk melumpuhkan musuh. Mata senjata di tangan mereka tidak buta karena hati mereka tetap terjaga di tengah kebuasan peperangan yang penuh lumuran darah di pakaian, senjata, dan tanah.

Matahari di atas langit Padang Kadungan sudah bergeser mendekati puncaknya. Celah kemenangan pasukan Raden Wijaya mulai terlihat manakala Mahesa Amping dan pasukannya berhasil mengoyak lambung pasukan lawan. Sedikit demi sedikit gempuran mereka tidak mampu lagi ditahan oleh pasukan Kediri hingga akhirnya lambung itu terpecah dan memisahkan kepala pasukan. Di saat yang sama, pasukan Putut Prastawa dan Putu Risang juga berhasil menggempur ekor pertahanan lawan. Kedua pasukan pengapit itu kemudian berbalik arah dan menyerang sisi pertahanan bagian kepala.

"Gila!" teriak Patih Kebo Mundarang melihat pasukannya bercerai-berai.

"Menyerahlah, orang berwajah hitam!" seru Raden Wijaya dari atas kudanya sambil menyerang ke arah kaki kuda Patih Kebo Mundarang.

"Sial!" umpat Patih Mundarang yang tidak dapat menghindar. Keris Nagasasra berhasil melukai kaki kanan kudanya hingga membuat kedudukannya limbung.

"Kupenggal kepalamu!" teriak Patih Kebo Mundarang sambil melompat dari kudanya yang terluka.

"Sudah kukatakan, sudah lama aku ingin membalas kecuranganmu di Padang Kalimayit beberapa tahun yang lalu," ujar Raden Wijaya yang turut turun dari kudanya untuk mengimbangi lawan. Patih Kebo Mundarang tidak lagi mengumpat, ia langsung menerjang Raden Wijaya.

Sementara itu, di tepian sungai sebelah utara Kotaraja Kediri, puluhan perahu besar telah merapat. Mereka adalah tiga belas ribu prajurit Mongol. Dengan bantuan seorang pemandu dari Raden Wijaya, mereka dapat mendekati Kotaraja Kediri melalui jalur air. Kehadiran pasukan Mongol ini sama sekali tidak diketahui oleh para penguasa Kediri yang tengah memusatkan seluruh perhatiannya di Padang Kadungan.

"Saat ini, dua saudara yang berseteru pasti tengah beradu jiwa dalam pertempuran. Kita akan masuk mengganyang mereka tanpa perlawanan berarti," ujar seorang panglima berperawakan tinggi besar dengan alis tebal yang gagah dan berwibawa.

"Kapan kita akan membantai mereka?" tanya seorang perwira yang tampak tidak sabar.

"Malam ini!" tegas sang panglima.

Dua orang perwira bawahannya terdiam. Mereka tahu perangai panglima mereka yang tidak suka dibantah, sekaligus mengakui kecerdikannya dalam mengatur siasat perang. Hari itu juga, tiga belas ribu prajurit Mongol diistirahatkan di hutan kecil dekat tepi sungai. Kehadiran mereka belum diketahui siapa pun. Pancingan Raden Wijaya yang membawa pasukan ke jalan terbuka antara Bumi Majapahit dan Kotaraja Kediri berhasil dengan baik. Mereka hanyalah umpan yang memancing harimau keluar dari sarang. Sayang sekali, penguasa Kediri tidak menyadari bahwa pasukan yang luar biasa besar akan datang seperti air bah yang membawa malapetaka.

Sementara itu, di Padang Kadungan, matahari telah bergeser dari puncaknya. Terik cahaya menyengat, membuat udara panas dan pengap, sepanas suasana pertempuran yang masih berlangsung. Mayat dan prajurit terluka bergelimpangan di antara suara denting senjata dan sumpah serapah.

"Kesombonganmu ternyata hanya seperti ini," ejek Patih Kebo Mundarang sambil terus mengganyang Raden Wijaya dengan serangan bertubi-tubi.

"Aku akan melayanimu sampai habis tenagamu," jawab Raden Wijaya tenang sambil terus menghindar, masih ingin mengkaji sejauh mana tataran ilmu orang berwajah hitam itu. Ternyata, Patih Kebo Mundarang salah tanggap terhadap sikap Raden Wijaya dan merasa tatarannya jauh lebih tinggi karena lawannya hanya terus menghindar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment