Chapter 82
Sebaliknya, ia merasakan kulit tubuh di bawah pusarnya tertembus sebuah benda tajam. Wajah hitam Patih Kebo Mundarang menjadi lebih pucat dan dingin seketika karena di bawah pusarnya tertanam sebuah benda tajam; keris Nagasasra di tangan Raden Wijaya telah menembus tubuhnya.
Terlihat tubuh Patih Kebo Mundarang runtuh ke bumi perlahan. Nyawanya telah terbang bersama kulit yang tertembus hawa keris keramat yang sangat ampuh, seampuh seribu bisa ular yang paling mematikan. Itulah keampuhan keris Nagasasra warisan Raja Erlangga yang berada di tangan Raden Wijaya, yang kini terlihat dicabut perlahan dari tubuh Patih Kebo Mundarang.
Kematian Patih Kebo Mundarang begitu menggemparkan. Para prajurit Kediri seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi di tengah pertempuran mereka. Semua orang di Kediri sudah mengetahui kesaktian ilmu Patih Mundarang yang sukar dicari lawan tandingnya saat itu. Namun, hari ini mereka menyaksikan sendiri bahwa Patih Kebo Mundarang yang sakti itu telah dibinasakan oleh musuh yang masih muda, Raden Wijaya.
Bersama dengan kematian Patih Kebo Mundarang, pertahanan induk pasukan Kediri memang semakin rapuh. Ditambah dengan kabar kematian panglima perang mereka, semangat para prajurit Kediri semakin susut. Tekanan dari tiga arah pasukan Raden Wijaya pun menambah rasa putus asa para prajurit Kediri. Semangat bertempur mereka tidak dapat dibendung lagi; satu per satu jatuh berguguran dalam kepungan pasukan Raden Wijaya yang tetap disiplin dengan strategi perang berkelompok.
Terlihat Mahesa Amping, Putut Prastawa, dan Putu Risang hanya berdiri mengawasi pertempuran yang sudah diketahui ujungnya itu. "Aku menyerah," ujar seorang prajurit Kediri seraya melempar pedangnya, diikuti oleh beberapa kawannya.
Langit di atas Padang Kadungan terlihat redup, awan hitam berarak menghalangi sinar matahari yang mulai turun merayapi dinding lengkung langit sebelah barat. Padang Kadungan teduh sepi tanpa denting senjata atau sumpah serapah, hanya sesekali terdengar rintihan orang-orang yang terluka. Beberapa orang telah mengembuskan napas terakhir, mati di atas tanah Padang Kadungan.
Hari berada di ujung senja ketika para prajurit Raden Wijaya dan tawanan mengurus jenazah kawan mereka serta merawat orang-orang yang terluka. "Tenaga dan semangat para prajurit harus dipulihkan, peperangan ini bukan yang terakhir bagi kita," ujar Raden Wijaya sambil membawa pasukannya kembali ke barak di kaki bukit Kadungan, di bawah perlindungan hutan yang aman dari serangan mendadak.
Sementara itu, tiga belas ribu pasukan Mongol sudah mulai bergerak dari arah utara Kotaraja Kediri. Sesuai perhitungan panglima perang Mongol, mereka akan sampai di Kotaraja saat tengah malam, ketika semua orang sedang terlelap dan tidak menduga mimpi buruk yang akan menjadi kenyataan pahit.
Berita kekalahan pasukan Patih Kebo Mundarang telah merembes masuk ke Kotaraja Kediri. Hampir sepanjang malam, setiap jiwa di Kotaraja sukar memejamkan mata. Berita tersebut menjadi pukulan keras yang memeningkan kepala. "Putra kita mungkin tertawan atau gugur di Padang Kadungan," ujar seorang lelaki tua kepada istrinya.
Malam itu, keadaan di Kotaraja Kediri terasa terbalik; orang miskin merasa tenang, sementara para saudagar kaya dan pejabat istana tidak dapat tidur nyenyak di rumah mewah mereka. Mereka mengira pasukan Raden Wijaya tidak akan datang malam itu. Namun, mereka terbangun bukan oleh pasukan Raden Wijaya, melainkan oleh kenyataan yang jauh lebih buruk.
"Pasukan Raden Wijaya!" teriak warga saat mendengar suara langkah kaki kuda bergemuruh. Dugaan mereka meleset jauh. Bukan pasukan Raden Wijaya yang datang, melainkan tiga belas ribu prajurit Mongol yang liar, memecahkan suasana malam yang mencekam. Dua ribu prajurit Kediri tidak mampu mempertahankan istana. Pasukan Mongol seperti air bah yang meluluhlantakkan apa pun di depan mereka. Rumah-rumah terbakar, jerit dan tangis terdengar di segala penjuru. Kotaraja Kediri terbakar habis.
Pasukan Mongol menaklukkan kota dengan cara biadab; membakar bangunan tanpa sisa, merampok barang berharga, dan menghinakan para gadis serta wanita. Api berkobar menjilati kayu rumah-rumah megah, diiringi suara langkah kuda layaknya bayangan setan yang mencari mangsa.
Sementara itu, jauh di ujung malam, cahaya pagi mulai melukis langit di kaki bukit Kadungan. Barak-barak sederhana dipenuhi para prajurit yang masih terlelap setelah kemenangan kemarin. Di tengah kesunyian, dapur umum mulai berasap menyiapkan ransum.
"Ternyata aku masih dapat melihat ransum pagiku," ujar seorang prajurit.
"Bagiku, pagi terasa hambar selama masih jauh dari Tanah Ujung Galuh," sahut kawannya yang merindukan seseorang bernama Surti.
Di saat yang sama, seorang lelaki bernama Mabujang datang dengan tergesa-gesa menuju barak Raden Wijaya. "Antarkan aku ke barak Tuan Raden Wijaya, ada berita penting dari Kotaraja," katanya kepada Putu Risang.
Raden Wijaya terperanjat mendengar berita tentang kebiadaban pasukan Mongol di Kotaraja. "Aku pernah mendengar Mongol menaklukkan banyak kota, tapi baru hari ini aku mendengar kebiadaban mereka. Dan kita telah bersekutu dengan manusia liar seperti mereka," ujar Raden Wijaya sambil termenung.
Matahari pagi di atas Padang Kadungan bersinar tinggi, menyinari rerumputan hijau dan gundukan tanah merah yang berjajar rapi sebagai pusara tanpa tanda.