Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 86

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 86

Syukurlah para prajurit Raden Wijaya dapat menolong dan menyelamatkan beberapa orang tawanan perang yang sebagian besar adalah kaum wanita. Tidak sebagaimana luka para prajurit yang dapat diobati, hati dan perasaan para wanita itu memerlukan waktu yang lama untuk dapat kembali pulih seperti sedia kala. Luka mereka ada di dalam lubuk hati yang paling dalam, luka akibat tersiksa dan teraniaya dalam cengkeraman kebuasan para prajurit asing yang tidak mengenal lagi norma-norma kehidupan. Mereka adalah kelompok manusia yang dipenjarakan oleh nafsu kebiadaban, jauh lebih rendah dan lebih kotor daripada binatang yang paling hina sekalipun.

"Akhirnya kita dapat mengalahkan keangkuhan mereka," ujar Ki Sandikala kepada Raden Wijaya di sampingnya di tepian Sungai Kalimas. Mereka memandangi satu per satu tiang layar perahu milik pasukan asing itu tenggelam dan menghilang dari permukaan air.

"Ada satu yang dapat meloloskan diri. Aku berharap paman dan bibiku masih hidup bersama mereka," kata Raden Wijaya kepada Ki Sandikala.

"Saat ini sudah terjadi pergantian arah angin laut. Perahu besar mereka tidak akan dapat membawa mereka kembali ke tempat asalnya. Angin muson akan membawa mereka ke arah timur," jawab Ki Sandikala.

Wajah Raden Wijaya berubah cerah. Terlintas di dalam benaknya bahwa bibi dan pamannya, Raja Jayakatwang, masih dapat diselamatkan dari tangan orang-orang asing itu. "Mereka masih belum jauh," kata Raden Wijaya penuh harapan.

"Izinkan hamba memerintahkan beberapa orang untuk mencari Ratu dan Raja Kediri itu," ujar Ki Sandikala.

"Pergantian musim angin laut masih enam bulan ke depan," sahut Raden Wijaya.

"Benar, kita dapat mencari mereka di beberapa daratan terdekat," jawab Ki Sandikala.

Demikianlah, pada hari itu juga Ki Sandikala memerintahkan beberapa orang untuk mengejar perahu asing yang diperkirakan membawa Ratu dan Raja Kediri sebagai tawanan perang. Putut Prastawa, Menak Jingga, Menak Koncar, dan Putu Risang masing-masing telah ditunjuk sebagai pemimpin kelompok pencarian.

"Kalian berpencarlah ke segala arah ke mana perahu asing itu mungkin merapat. Segeralah meminta bantuan bila perhitungan kalian tidak mampu menghadapi pasukan mereka," perintah Ki Sandikala.

Setelah mendengarkan pengarahan, pasukan pencari berangkat dari Bumi Majapahit menuju Bandar Tanah Ujung Galuh. Mereka akan berpencar mencari di beberapa daratan terdekat. Setiap kelompok membawa seorang prajurit yang sangat mahir mengenal arah angin dan letak daratan terdekat, tempat yang mungkin digunakan perahu asing itu untuk berlindung menunggu pergantian arah musim angin.

"Kita bergabung dalam kelompok yang sama, wahai anak muda," kata Mabujang sambil berlari mendekati Putu Risang saat mereka sama-sama menuju Bandar Tanah Ujung Galuh.

Bandar Tanah Ujung Galuh hari itu sudah mendekati senja; air laut yang biru mulai terlihat kelam menampar bibir dermaga kayu. Terlihat sebuah perahu bercadik mulai menjauhi dermaga menuju laut lepas. Mereka adalah salah satu kelompok pemburu yang mencari keberadaan sisa pasukan asing. Putu Risang dan Mabujang berada di dalam salah satu perahu tersebut.

Sementara itu, di hari yang sama, jauh dari Bandar Tanah Ujung Galuh, sebuah perahu besar berukir naga di anjungannya tampak terapung di atas laut yang sunyi dengan layar terkembang penuh. Ternyata perahu besar itu berisi prajurit Mongol yang tersisa, yang berhasil meloloskan diri dari sergapan pasukan Raden Wijaya. Dengan terpaksa, mereka mengikuti arah tiupan angin yang membawa mereka berlayar tanpa tujuan ke arah timur.

"Magucin dan Yongki, kalian lebih mengenal Raden Wijaya dibandingkan diriku. Apa kira-kira yang ada dalam pikirannya saat ini mengenai kita?" tanya seorang panglima perang bernama Ike Mese kepada dua perwira bawahannya, Magucin dan Yongki. Keduanya adalah orang yang pernah diselamatkan oleh Ki Sandikala dan diantarkan ke Bumi Majapahit.

"Kita telah membuat marah Raden Wijaya karena menawan Raja dan Ratu Kediri, salah satu perjanjian yang telah kita langgar kesepakatannya," jawab Magucin.

"Raja dan Ratu Kediri itu sangat berharga sebagai jaminan kepada Kaisar Yang Dipertuan Agung Kubilai Khan bahwa tugasku di Jawadwipa telah terlaksana dengan baik," kata Panglima Ike Mese dengan suara keras, merasa tersinggung karena dituduh berkhianat.

"Yang ingin kutanyakan adalah apa yang dipikirkan Raden Wijaya terhadap kita saat ini," tanya sang Panglima kembali.

"Yang pasti, Raden Wijaya akan memerintahkan prajuritnya untuk memburu kita dan berjaga di setiap bandar Jawadwipa karena tahu kita terjebak dalam pusaran angin yang berlawanan dengan arah pelayaran kita ke tanah leluhur. Raden Wijaya akan terus memburu kita karena tahu kita membawa harta rampasan perang dan dua tawanan berharga itu," jawab Yongki.

"Apa menurut kalian yang dapat kita perbuat untuk keluar dari penjagaan Raden Wijaya?" tanya Panglima Ike Mese.

"Kita harus berlayar melambung menghindari Jawadwipa dan menukar perahu besar berciri naga ini karena mata-mata Raden Wijaya pasti sudah disebar di sepanjang pantai timur," usul Yongki.

"Aku setuju dengan buah pikiranmu itu," jawab Panglima Ike Mese.

Pembicaraan mereka terhenti ketika terdengar teriakan dari arah anjungan, "Daratan!"

Panglima Ike Mese, Magucin, Yongki, dan beberapa orang lainnya segera menuju anjungan. Di bawah kabut senja, terlihat samar sebuah daratan terbujur di hadapan mereka.

"Kita berlabuh di daratan itu," perintah Panglima Ike Mese.

Di ujung senja, perahu besar itu berlabuh di sebuah pantai di daratan tak bernama. Beberapa nelayan yang bermukim di sana mengawasi kedatangan mereka.

"Maaf, kami terbawa arus angin dan terdampar di daratan ini. Apakah kami dapat berjumpa dengan pemimpin kalian?" tanya Magucin kepada salah seorang nelayan.

"Tuan berada di Nusa Sapudi, begitulah kami menyebutnya. Mari kuantar tuan kepada pemimpin kami," jawab nelayan tersebut.

Setelah diperkenalkan dengan pemimpin perkampungan di Nusa Sapudi, Magucin segera melancarkan tipu muslihatnya. "Kami kenal banyak orang di seberang daratan besar Madhura yang akan memberi tuan beberapa perahu kayu," ujar pemimpin pulau itu yang tergiur oleh janji hadiah dari Magucin.

"Terima kasih, kami tidak akan melupakan kebaikan budi tuan," kata Magucin.

"Beberapa orang kami dapat mengantar kalian sampai ke Tanjungpura. Di sana kalian dapat bersembunyi dari penguasa Jawadwipa sambil menunggu datangnya angin barat," kata pemimpin itu.

Tak lama berselang, Magucin kembali membawa hadiah berupa beberapa pundi keping emas. "Ini adalah tanda persahabatan kita. Kami akan membawa hadiah lebih banyak lagi setelah tuan menyiapkan perahu kayu tersebut," ucapnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment