Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 88

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 88

Mabujang terkejut bukan main melihat kekuatan tenaga sakti Putu Risang. Dengan mata kepala sendiri, ia menyaksikan tali ikatan di tangan Putu Risang putus. Mata Mabujang masih terbelalak ketika Putu Risang dengan cepat melepaskan ikatan kakinya, lalu membuka ikatan tali pada kedua tangan dan kaki Mabujang.

"Bantu aku melepas ikatan ini. Aku akan membuka ikatan tali Raja dan Ratu," ujar Putu Risang setelah berhasil membebaskan diri.

Dalam waktu singkat, mereka semua telah terlepas dari ikatan di dalam barak tahanan tersebut. Sementara itu, langit malam di atas Nusa Sapudi terlihat mendung; wajah rembulan seolah terkoyak oleh awan hitam. Beberapa prajurit asing masih berjaga di hampir setiap pintu barak. Beberapa orang terlihat sesekali berkeliling meronda untuk memastikan keadaan di sekitar barak.

Namun, perlahan suasana malam yang dingin di sekitar barak prajurit asing itu terasa semakin dingin dan senyap. Angin yang berhembus perlahan bersama suara ombak di pantai menciptakan irama alam yang begitu damai, membisiki hati dan sukma untuk diam sejenak, memejamkan mata, mengosongkan perasaan, dan membiarkan diri terbuai oleh rasa kantuk. Ternyata, suasana senyap itu bukanlah kebetulan. Lelaki asal Madura, kawan Putu Risang dan Mabujang, telah melepaskan ajian sirep perasuk sukma.

Dampak dari gendam ilmu ajian sirep tersebut ternyata begitu kuat. Dua orang prajurit di depan barak tahanan mulai terkantuk-kantuk hingga akhirnya tertidur dalam posisi duduk bersandar pada lutut. Di beberapa tempat, para peronda juga terlihat tertidur di sekitar perapian mereka. Hawa kantuk yang kuat telah menyerang seluruh penghuni barak, membuat mereka terlelap lebih nyenyak di bawah buaian hawa dingin dan irama malam.

Tiga bayangan berendap-endap meninggalkan barak menuju pantai. Mereka adalah Mabujang bersama Raja dan Ratu Kediri yang menuju perahu bercadik.

"Kabut mulai turun menutupi pandangan," batin Mabujang dengan mata terbelalak melihat kabut putih halus menyelimuti Nusa Sapudi, kian lama kian tebal. Ia merasa bangga bahwa Putu Risang benar-benar bisa diandalkan karena mampu mengeluarkan ilmu sakti yang menciptakan kabut penutup pandangan.

"Mereka pasti tengah keluar dari barak tahanan," kata Mabujang kepada Raja dan Ratu Kediri agar bersiap naik ke perahu dan segera meninggalkan pantai.

Sesuai dugaan, dua bayangan keluar dari kabut tebal menghampiri mereka. Mereka adalah Putu Risang dan kawannya.

"Mari kita segera berangkat sebelum kabut menghilang," ajak Putu Risang sembari mendorong perahu bercadik bersama Mabujang, sementara Raja dan Ratu Kediri telah berada di atas perahu.

Dalam waktu singkat, perahu bercadik itu sudah melaju ke tengah laut, menjauhi bibir pantai yang masih berkabut tipis. Angin darat berhembus perkasa, menggelembungkan kain layar perahu yang meluncur tenang di permukaan laut sunyi.

"Bintang paku itu adalah arah kemudi kita," ujar kawan asal Madura itu sambil menunjuk ke arah jajaran bintang di langit malam.

"Pantai Sunginep," seru Mabujang penuh kegembiraan.

Sebuah gundukan hitam membujur rebah seperti raksasa tengah berbaring tampak di hadapan mereka; itulah daratan besar Nusa Madura. Perlahan namun pasti, perahu bercadik mereka mendekati bibir pantai Sunginep.

"Kalian pergi begitu lama," sapa seorang kawan di pinggir pantai. Namun, bibirnya seolah terkunci saat melihat dua orang asing di atas perahu. Saat menyadari bahwa mereka adalah Raja dan Ratu Kediri yang selama ini dicari, ia segera menyambut dengan takzim setelah mendengar perintah Putu Risang untuk membawa mereka ke tempat persembunyian.

Malam itu, mereka berjalan menuju sebuah gubuk di hutan kecil dekat pantai Sunginep. Bukan main gembira kawan-kawan Putu Risang melihat kehadiran Raja dan Ratu Kediri. Beberapa prajurit kelompok pemburu berjaga secara bergantian di ujung malam yang segera berakhir. Bintang Kejora muncul di ufuk timur, bersinar terang memandu sang surya yang mulai menyemburkan warna kemerahan di langit purba. Kokok ayam jantan membuyarkan mimpi-mimpi malam.

"Pagi ini aku seperti baru mendengar suara kokok ayam yang merdu, membangunkan hati dan jiwaku dalam kehidupan baru. Ternyata jiwa yang tidak memiliki apa-apa justru terasa begitu kaya raya. Segalanya tampak begitu indah," ucap Raja Jayakatwang penuh kebahagiaan sambil menatap wajah Ratu Turuk Bali.

"Kakanda telah memiliki mahkota singgasana sejati, mahkota singgasana Dewa Siwa yang bertahta di atas permadani jiwa yang tenang, tanpa keakuan duniawi," jawab Ratu Turuk Bali.

"Aku akan menulis keindahan jiwa ini pada lembaran rontal, mengabadikannya untuk semua jiwa yang haus dahaga agar selalu berada dalam kesejukan hati, memadamkan segala amarah dan angkara," ujar Raja Jayakatwang.

Demikianlah, Gusti Yang Maha Agung memanggil jiwa melalui jalan kepahitan dan derita. Saat Raja Jayakatwang kehilangan segalanya, harta dan takhta runtuh musnah, Sang Pencipta memberikan penggantinya: istana kebesaran jiwa.

Di luar gubuk, matahari pagi mulai menerangi tanah melalui celah dedaunan. Beberapa prajurit menyiapkan makanan bagi Raja dan Ratu Kediri yang berada dalam tanggung jawab mereka hingga tiba waktunya untuk kembali ke Bumi Majapahit.

"Mudah-mudahan tidak ada orang yang memborong puluhan kuda, sebagaimana orang kaya Nusa Sapudi memborong perahu kayu," ujar Mabujang kepada Putu Risang saat mereka hendak mendatangi pasar hewan untuk mencari kuda, mengingat mereka tidak mungkin mengarungi laut lepas karena musim angin timur laut belum usai.

Beruntung, seseorang menuntun mereka ke Tanah Perdikan Sunginep, di mana seorang peternak kuda bersedia menyediakan kebutuhan mereka dengan harga yang lebih terjangkau daripada di pasar hewan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment