Chapter 89
Dan sebagaimana yang dikatakan orang itu, mereka mendapatkan harga kuda yang lebih murah dibandingkan dengan harga di pasar hewan.
Demikianlah, sembilan penunggang kuda terlihat sudah keluar dari hutan kecil di dekat pantai Sunginep, langsung menuju arah pesisir pantai selatan daratan besar Madura.
Abu kering pasir pantai terlihat mengepul di belakang kuda-kuda mereka yang rancak berlari. Hari itu sehari sebelum pelaksanaan upacara abhiseka Raden Wijaya menjadi raja pertama Majapahit.
Terlihat di pendapa Pasanggrahan, Raden Wijaya tengah ditemani Turuk Bali dan suaminya, Jayakatwang.
"Pamanda dan Bibi, besok adalah hari upacara pemercikan air suci sebagai pemberkatanku sebagai Raja yang berkedudukan di Majapahit. Ananda mohon doa restu dan persaksian Pamanda dan Bibi berdua," ujar Raden Wijaya kepada paman dan bibinya, mantan penguasa Kerajaan Kediri.
"Kami berdua akan menjadi saksi dan merestui penobatan Ananda, merestui jalan lurus yang akan Ananda lewati membawa takhta singgasana Majapahit mengarungi samudra kejayaannya," sahut Jayakatwang kepada Raden Wijaya dengan wajah tulus penuh kebijaksanaan.
"Terima kasih atas restu dari Pamanda dan Bibi berdua. Semoga Ananda dapat membawa darma ini sebagai warisan pusaka leluhur yang dapat Ananda jaga sepanjang hayat," kata Raden Wijaya penuh rasa terima kasih kepada paman dan bibinya, dua orang yang sangat dihormatinya itu yang dianggapnya sebagai sesepuh yang dapat membimbingnya sebagai seorang Raja Majapahit.
"Semoga kamu dapat mengambil banyak hikmah atas segala pahit dan getir, kebaikan dan keburukan di masa lalu kekuasaanku," ucap Jayakatwang kepada Raden Wijaya.
"Aku bersama bibimu saat ini sudah merasa terlepas dari himpitan dan keserakahan duniawi. Izinkanlah aku untuk dapat membangun sebuah pura di Tanah Ujung Galuh, di mana aku dapat dengan mataku melihat luasnya lautan, namun hatiku selalu tertambat di tanah para petani," kata Jayakatwang kembali kepada Raden Wijaya.
"Permintaan Pamanda dan Bibi akan segera Ananda perkenankan," ujar Raden Wijaya.
"Ada sebuah tanah yang berbukit di sekitar Tanah Ujung Galuh, dari situ kita dapat melihat lautan luas. Bila Pamanda dan Bibi berkenan, Ananda akan perintahkan orang untuk dibangunkan sebuah pura di sana," lanjut Raden Wijaya.
Mendengar perkataan kemenakannya itu, terlihat Jayakatwang dan Turuk Bali merasa sangat gembira.
Mereka seperti mendapat sebuah tempat untuk hari-hari tua mereka, di sebuah tempat di mana mata dapat memandang lautan luas, namun masih melihat hijaunya tanah ladang dan kesibukan para kaum tani. Dan tempat yang elok itu berada di Tanah Ujung Galuh.
Angin semilir berembus menerbangkan rumput kering di halaman muka pasanggrahan Raden Wijaya di awal pagi yang cerah di bawah pandangan tiga pasang mata di atas pendapa itu.
Tiga pasang mata yang teduh dinaungi kedamaian hati sebuah persaudaraan yang sudah sekian lama terpecah. Kini mereka seperti tiga jiwa yang telah dipersatukan kembali dengan tali kasih sedarah, sehati, dan sejiwa.
Sementara itu, di alun-alun bumi Majapahit saat itu terlihat kesibukan besar. Beberapa orang terlihat sudah hampir selesai mendirikan beberapa tajuk, sementara yang lain tengah merangkai janur kelapa sebagai penghias dan pertanda akan dilaksanakan sebuah upacara besar, upacara abhiseka Raden Wijaya menjadi seorang raja agung di mana bumi Majapahit telah menjadi pusat prajanya, tempat takhta singgasananya.
Semua kesibukan itu adalah untuk menghadapi hari esok, di mana di alun-alun itu akan digelar sebuah upacara agung, upacara abhiseka, upacara pemercikan air suci kepada Raden Wijaya yang akan dinobatkan sebagai Raja Majapahit.
Pada saat itu pula, hampir di setiap banjar di bumi Majapahit sudah berhias dengan aneka umbul-umbul, panji-panji, dan janur kelapa. Terlihat bendera dwiwarna gula kelapa berdiri di tengah-tengah setiap umbul-umbul dan panji-panji.
Kesibukan di bumi Majapahit menjelang hari penobatan Raden Wijaya memang menjadi pemandangan umum hari itu. Hampir di setiap tempat, semua orang yang berada di bumi Majapahit ikut merayakannya, ikut merasakan kegembiraan dan kebahagiaan itu.
Masih di tengah kesibukan menghadapi upacara agung itu, Mahesa Amping dan Ki Sandikala di pasanggrahan masing-masing terlihat telah menerima kedatangan para utusan dari berbagai kalangan dan dari berbagai daerah yang jauh, yang memang sengaja diundang untuk menyaksikan upacara penobatan Raden Wijaya.
Mereka yang datang sebagai tamu undangan adalah raja-raja bawahan, kerabat, dan keluarga besar Wangsa Rajasa Singasari yang mendukung sepenuhnya dan berada dalam satu pusat pemerintahan di bawah panji praja Majapahit Raya.
Para tamu undangan itu juga termasuk utusan dari berbagai padepokan di Jawadwipa, serta para pendeta dan brahmana dari berbagai pelosok daerah di Jawadwipa yang berharap pemerintahan baru praja Majapahit dapat mengayomi dan melanggengkan agama serta ajaran mereka agar tetap tumbuh di bawah naungan kekuasaan raja baru, Raden Wijaya.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa penghuni bumi Majapahit sebagian besar adalah mereka yang dikirim oleh Adipati Aria Wiraraja dari Madura dan para cantrik Padepokan Teratai Putih dari berbagai tempat di Jawadwipa dan Balidwipa yang dibawa oleh guru besar mereka, Ki Sandikala.
Hampir dapat dikatakan bahwa para penghuni bumi Majapahit itu adalah para lelaki yang hanya tahu memegang berbagai senjata dan bercocok tanam.
Ternyata Gusti Agung Maha Pengasih dan Pemurah memberikan berkah. Dalam sebuah serangan mendadak atas para prajurit asing di Sungai Kalimas beberapa hari yang lewat di mana kemenangan gilang-gemilang berada di pihak Raden Wijaya, mereka juga telah berhasil menyelamatkan para tawanan perang yang dibawa dari Kotaraja Kediri. Sebagian besar di antara mereka itu adalah kaum wanita.
Hanya beberapa orang saja dari para tawanan wanita itu yang berniat kembali ke kampung halaman mereka, kembali ke keluarganya di sana. Namun, sebagian besar lagi telah berniat untuk tidak kembali selama-lamanya. Mereka telah menjatuhkan sebuah niat suci: mengabdi di Bumi Majapahit.
Bukan sebuah kebetulan, tapi sudah menjadi guratan tangan dari Gusti yang Maha Agung bahwa di Bumi Majapahit ada dua srikandi, yaitu Nyi Nariratih dan Endang Trinil. Merekalah dua srikandi Bumi Majapahit yang telah ditugaskan untuk menghimpun para wanita itu, membina, dan melatihnya menjadi sebuah kekuatan lain melengkapi kekuatan yang sudah ada di Bumi Majapahit.
Hari itu, menjelang upacara agung penobatan Raden Wijaya menjadi Raja Agung, para wanita itu telah kembali ke kodratnya berada di kesibukan yang lain, yakni di dapur umum, memenuhi dan menyiapkan kebutuhan makan dan minum pagi, siang, dan malam bagi para tamu undangan yang telah berdatangan memenuhi Bumi Majapahit.
Sementara itu, di tengah kesibukan Bumi Majapahit menghadapi hari upacara besar itu, terlihat tiga anak lelaki di pinggir hutan Maja tengah berlatih mematangkan jurus-jurus mereka. Kita pasti sudah dapat menebak siapa lagi ketiga anak lelaki di bumi Majapahit itu kalau bukan Gajah Mada bersama Jayanagara dan Adityawarman.
Meski guru penuntun mereka, Putu Risang, sudah beberapa hari tidak mengawasi dan membimbing mereka karena tugas-tugas khususnya, ketiga anak itu masih terus berlatih setiap hari di sanggar terbuka mereka di pinggir hutan Maja.
Namun hari itu, mereka tidak tahu bahwa beberapa pasang mata tengah mengawasi mereka dengan maksud buruk. Mereka bertiga memang tidak menyadari ada beberapa orang yang berniat untuk menculik mereka.
"Kita belum tahu siapa di antara ketiga anak itu putra Raden Wijaya," ujar salah seorang dari mereka yang mengintip di balik semak belukar.
"Bawa saja mereka bertiga," sahut yang lain.
"Kamu benar, kita bawa mereka semua untuk kita serahkan kepada guru kita," tambah orang ketiga.
Ternyata yang tengah mengintai di pinggir hutan itu adalah tiga orang lelaki bertelanjang dada. Bagian pusar sampai pertengahan paha hanya ditutupi oleh selembar kain yang dililitkan, sebuah ciri bahwa mereka adalah pengikut dari sebuah sekte agama tertentu di zaman itu.
Setelah mengamati cukup lama, ketiga orang lelaki itu yakin bahwa tidak ada orang dewasa bersama ketiga anak tersebut.
"Nampaknya mereka tidak dijaga oleh siapa pun," ujar seseorang yang paling tua di antara teman-temannya, seperti sebuah ajakan untuk keluar dan membawa pergi ketiga anak itu.
Demikianlah, ketiga orang lelaki itu keluar dari persembunyian mereka.
"Hebat, teruslah berlatih, kami bertiga akan terus menunggu sampai selesai," ujar salah seorang dari mereka sambil mendekati tempat berlatih Gajah Mada bersama kedua kawannya.
"Mengapa kalian berhenti?" tanya orang yang paling tua.
"Kami tidak ingin ada orang asing melihat latihan kami," jawab Gajah Mada dengan dada membusung.
"Kalau begitu, berlatihlah dengan pamanmu ini," kata orang tertua itu sambil mengejek, membuat kuda-kuda dan menggerakkan kedua tangannya memamerkan berbagai jurus.
"Jangan salahkan aku bila tanganku melukai Paman," ancam Gajah Mada sambil maju selangkah.
"Tua sekali pikiranmu," ujar orang itu mendelik mendengar ucapan Gajah Mada yang lazimnya diucapkan oleh orang dewasa yang sudah mapan ilmunya.
"Aku sudah siap menerima serangan Paman," kata Gajah Mada penuh percaya diri dengan sedikit merenggangkan kedua kakinya dan dada yang masih dibusungkan.
Melihat sikap Gajah Mada itu, ketiga orang lelaki tersebut tertawa terbahak-bahak melihat keberanian anak itu, terutama mendengar ucapannya yang seperti seorang pendekar dewasa yang ahli kanuragan.