Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 91

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 91

"Gila!" seru lawan Gajah Mada yang harus melompat ke samping untuk menghindari serangan.

Perkelahian antara Gajah Mada dan orang dewasa itu kembali memanas. Gajah Mada hampir selalu berhasil lolos dari setiap serangan lawannya yang telah mengerahkan segenap kemampuan serta berbagai jenis tipuan halus. Namun, Gajah Mada dengan mata terpejam mampu keluar dari sergapan penuh tipuan tersebut, bahkan berbalik menyerang dengan tidak kalah berbahayanya.

Hingga pada suatu kesempatan, Gajah Mada berhasil menjatuhkan lawannya melalui sebuah pukulan yang mendarat tepat di antara pangkal pertemuan kedua paha orang itu. Orang tersebut mendelik menahan sakit yang luar biasa hingga napasnya seolah terputus. Seketika itu pula, ia rebah ke tanah seperti baju lusuh, tidak bergerak lagi, lalu pingsan.

Kedua kawan orang itu melotot dengan wajah pucat ketakutan bercampur heran melihat Gajah Mada masih memejamkan mata menghadap ke arah kawannya yang terkapar. "Dedemit hutan ini mungkin marah kepada kita," bisik salah seorang di antara mereka dengan gemetar. Keduanya tampak bimbang, antara takut dan tidak percaya bahwa anak kecil tersebut mampu mengalahkan kawan mereka dengan bantuan makhluk halus penunggu hutan Maja.

Di tengah kebimbangan itu, seseorang muncul entah dari mana sambil mengumpat. "Murid bodoh, kenapa harus takut dengan segala macam dedemit?" bentak orang itu.

"Ampun, Guru. Dedemit hutan ini telah merasuki anak itu," jawab salah satu muridnya.

"Dedemit atau setan belang apa pun, aku tidak akan pernah takut!" teriak orang yang dipanggil guru itu. Ia langsung menghadapkan diri ke arah Gajah Mada yang kini tersenyum dengan mata terbuka.

"Apakah orang tua akan turun tangan melayani anak kecil seperti aku?" tantang Gajah Mada sambil merenggangkan kaki, bersiap dengan wajah penuh percaya diri.

"Aku tidak akan melakukan apa pun, hanya ingin membungkam mulutmu yang tua sebelum waktunya," sahut orang tua itu sambil melangkah mendekat. Ia mengangkat tangan tinggi-tinggi, hendak menghajar Gajah Mada. Namun, tangan itu tertahan di udara seolah tidak mampu digerakkan. Mata orang itu melotot penuh rasa takut karena seluruh anggota badannya terasa terkunci.

Perlahan, rasa terkunci itu luluh seiring kemunculan seorang pria tua renta dengan wajah penuh senyum yang memancarkan keramahan. Wajah yang bening seperti telaga di pagi hari itu seketika menggetarkan hati orang yang dipanggil guru tersebut.

"Memalukan, orang tua memukul seorang anak kecil disaksikan oleh banyak orang," ucap orang tua renta itu dengan nada tenang.

"Maaf, dengan siapakah aku berhadapan?" tanya orang itu dengan hati sungkan, menduga bahwa pria di depannya bukanlah orang sembarangan.

"Aku hanya pengembara biasa. Orang di dekatku memanggilku Embah Galunggung," jawabnya lembut.

"Ampunkan hamba yang tidak berlaku hormat di hadapan Tuanku Prabu Guru Darmasiksa," ucap orang itu sambil bersimpuh bersujud. Kedua muridnya pun mengikuti tindakan gurunya.

"Bangkitlah. Hendaklah kamu bersujud hanya kepada Gusti Nu Luhur. Aku jengah melihatnya," ujar sang Prabu. Ketiga orang itu bangkit dengan tubuh gemetar, tidak berani menatap langsung ke arah sang orang tua.

"Dari mana kamu tahu nama asliku? Sudah lama orang-orang tidak memanggilku dengan sebutan itu," tanya Prabu Guru Darmasiksa.

"Kecapi dari kayu kenanga dan tali petik dari emas yang Tuan bawa," jawab orang itu sambil menunduk.

Prabu Guru Darmasiksa tersenyum memandang kecapi di tangan kirinya. "Sekarang pergilah. Buang segala niat burukmu untuk mencelakai salah satu dari ketiga anak ini, karena salah satu dari mereka adalah cucu buyutku." Prabu Guru Darmasiksa, maharaja dari kerajaan Pasundan yang telah melengserkan diri dan berdiam di Gunung Galunggung untuk mengajarkan ilmu kesucian batin, benar-benar disegani.

Mendengar perintah itu, ketiga orang tersebut segera memapah kawan mereka yang pingsan dan pergi dengan tergopoh-gopoh penuh hormat. Setelah mereka menghilang di balik kerapatan Hutan Maja, sang Prabu menoleh ke arah ketiga anak di depannya.

"Siapa di antara kalian putra Sanggrama Wijaya?" tanya beliau ramah.

"Aku Jayanagara, putra Wijaya," jawab Jayanagara tanpa rasa takut.

"Aku sudah menduga. Mata dan alismu sama dengan yang dimiliki oleh putra dan menantuku, Sanggrama Wijaya dan Pangeran Lembu Tal," ujar Embah Galunggung sambil memegang pundak Jayanagara dengan wajah gembira, seolah menemukan kembali barang berharga yang lama hilang.

"Ayahku pernah bercerita bahwa kakek buyutku berasal dari tanah Pasundan," tutur Jayanagara.

"Aku dari Tanah Pasundan, akulah kakek dari ayahmu. Panggil aku Eyang Buyutmu," sahut sang Prabu.

Percakapan itu terhenti ketika seseorang muncul di dekat mereka. "Terima kasih telah menolong tiga anak momonganku ini," ujar orang itu sambil merangkapkan tangan di dada.

"Ternyata semut merah di gundukan semak-semak telah mengusik keberadaan Tuan Pendeta," balas Prabu Guru Darmasiksa tersenyum. Orang itu adalah Pendeta Gunakara yang selama ini bersembunyi.

"Ajian ilmu Pameling dan ilmu pengancingan sudah sangat langka, dan hari ini aku melihatnya langsung," puji Pendeta Gunakara.

"Hanya sebuah permainan untuk anak-anak," sahut sang Prabu merendah. Beliau kemudian menoleh kepada ketiga anak tersebut. "Siapakah kamu wahai anak hebat?" tanyanya kepada Gajah Mada.

Gajah Mada teringat bisikan gaib yang membantunya menjatuhkan lawan tadi. "Namaku Gajah Mada," jawabnya.

"Dan siapa namamu?" tanyanya kepada Adityawarman.

"Namaku Adityawarman," jawab anak itu.

"Kalian bertiga kelak akan menjadi orang-orang hebat. Kalian sudah matang mengenali jurus, hanya perlu banyak pengalaman bertanding, terutama mengenal ragam tipu daya," ujar Prabu Guru Darmasiksa sambil mengedipkan sebelah mata kepada Gajah Mada.

"Hanya orang bodoh yang dapat tertipu sampai dua kali," bisikan itu terngiang kembali di hati Gajah Mada. Ia menyadari bahwa jurus-jurus dapat diatur dan dikembangkan sesuka hati, tidak harus runut, bahkan bisa mengecoh lawan dalam sepuluh langkah ke depan.

Gajah Mada merasa bersemangat untuk menerapkan pengalaman barunya itu ketika sang Prabu meminta mereka berlatih tanding. Tanpa diminta, Gajah Mada maju menantikan lawan. Jayanagara pun maju berhadapan dengannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment