Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 92

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 92

Kedua anak itu mulai berlatih tanding, masing-masing menunjukkan kebolehannya. Di mata Pendeta Gunakara dan Prabu Guru Darmasiksa, Gajah Mada tampak sudah dapat menguasai perkelahian itu. Langkah-langkahnya sukar sekali ditebak ke mana arah tujuannya.

Ternyata Gajah Mada yang baru mendapatkan pencerahan itu sudah dapat menyerang dan mengelabui langkah Jayanagara. Sudah tiga kali Jayanagara terjatuh terkena pukulannya.

"Aku tidak akan mudah tertipu lagi," kata Jayanagara yang juga mendapat pencerahan baru dari gaya Gajah Mada yang telah menjatuhkannya hingga tiga kali.

Latihan bertanding itu menjadi kian seru, masing-masing telah dapat mengembangkan jurus-jurus mereka sendiri yang penuh ragam tipuan. Sementara itu, Adityawarman yang memperhatikan mereka ikut mendapatkan pencerahan; ia mulai mengerti bagaimana mengembangkan jurus-jurus baku yang dapat digunakan sesuai dengan keadaan.

"Kalian berhenti dulu, kasihan kawanmu yang satu itu ingin juga menunjukkan kebolehannya," kata Prabu Guru Darmasiksa kepada Gajah Mada dan Jayanagara yang semakin asyik berlatih. Mendengar suara Prabu Guru Darmasiksa, Jayanagara dan Gajah Mada berhenti bertanding.

"Hati-hatilah menghadapi Jayanagara, jangan sampai dirimu tertipu," bisik Gajah Mada kepada Adityawarman yang turun menggantikannya. Adityawarman dan Jayanagara pun mulai berlatih tanding. Mereka adalah anak-anak cerdas yang sudah dapat mengembangkan jurus-jurus serta menerapkannya dalam gerak langkah tak terduga, meski masih dalam ageman yang tidak mengubah tata gerak dan pola perguruan mereka.

"Mereka adalah anak-anak yang cerdas," ujar Prabu Guru Darmasiksa kepada Pendeta Gunakara.

"Kejadian pagi tadi telah membuka pencerahan dan pengenalan mereka terhadap tata gerak yang seharusnya," jawab Pendeta Gunakara yang sudah lama mengawasi perkembangan lahir batin ketiga anak itu. "Tuan Prabu Guru Darmasiksa adalah tamu kami, hari sudah sangat terik. Mari kuantar ke Bumi Majapahit agar Raden Wijaya gembira dan bahagia telah kedatangan seorang datuknya dari Kerajaan Pasundan," lanjutnya.

"Baiklah, aku membayangkan semangkuk rujak kelapa muda di hadapanku," kata Prabu Guru Darmasiksa sambil tersenyum.

Matahari memang sudah tergelincir dari pucuk ujung lengkung langit. Hari terasa begitu terik dan pengap, pertanda sebentar lagi akan turun hujan. Iring-iringan tiga anak kecil bersama dua orang tua di belakang mereka meninggalkan pinggir Hutan Maja menuju sebuah pemukiman di Bumi Majapahit.

Seperti dua sumber mata air jernih yang bersatu dalam aliran sungai di pegunungan yang sejuk, Jayakatwang yang baru terbuka kesucian mata batinnya seolah menemukan sahabat baru. Seorang kawan bicara yang memuaskan dahaga pengembaraan sucinya dalam menjangkau samudera rahasia keindahan alam rohani. Sahabat baru Jayakatwang itu adalah Prabu Guru Darmasiksa. Meski baru pertama kali berjumpa di Pasanggrahan Raden Wijaya, mereka merasa seperti sahabat lama. Sepanjang malam mereka asyik berbincang, seakan malam tidak akan membuat kantuk datang.

"Mari kita mengabadikan perjumpaan kita ini dengan menciptakan sebuah tembang kesunyian hati. Aku akan mengiringi kecapi Paman Prabu dengan suara serulingku," kata Jayakatwang.

Di malam yang sunyi itu, terdengar suara kecapi dan seruling yang merdu. Kadang mengalun halus, kadang naik turun seperti pengembara yang merindu kekasih, namun terkadang terdengar seperti suara laskar yang bertarung di medan laga. Akhirnya, suara itu pelan dan terputus-putus seperti pengembara tua yang ragu di persimpangan jalan.

"Aku akan selalu memainkannya dengan serulingku setiap kali teringat perjumpaan kita," kata Jayakatwang dengan wajah gembira setelah menyelesaikan irama tersebut.

"Tembang baru ini harus diberi nama. Apa menurutmu nama yang tepat?" tanya Prabu Guru Darmasiksa.

"Tembang Kenangan Hina Kelana," jawab Jayakatwang.

"Nama tembang yang indah," sahut Prabu Guru Darmasiksa setuju.

Mereka tidak menyadari bahwa mereka telah menciptakan sebuah tembang yang kelak akan membuat sebuah peperangan besar. Peperangan di mana banyak darah bersimbah di tanah kering, diiringi denting senjata beradu dan suara derita perih kematian. Di Bumi Majapahit, sajen aneka bunga dan bancakan telah diletakkan di hampir tiap sudut perempatan jalan, pertanda akan ada hajatan besar.

Matahari pagi bersinar cerah menerangi alun-alun Bumi Majapahit yang cantik meriah dipenuhi umbul-umbul, hiasan bunga, dan janur. Enam ribu prajurit Majapahit telah memenuhi alun-alun dengan warna-warni panji kesatuan. Hampir semua prajurit mengikat kepalanya dengan kain dwiwarna merah putih, lambang kebanggaan dan kemenangan besar mengusir bangsa Mongol. Prajurit Gula Kelapa, begitu panggilan kebanggaan mereka.

Tajuk-tajuk di alun-alun dipenuhi undangan dari berbagai kalangan; para ningrat, kaum brahmana, hingga para ketua padepokan yang mendukung kedaulatan Majapahit sebagai pengganti Kerajaan Kediri yang telah runtuh.

Mahesa Amping berdiri di jajaran terdepan. Matanya berkaca-kaca memandang Watu Gegilang di tengah alun-alun, tempat duduk calon raja yang akan melaksanakan upacara Abhiseka. Kebahagiaan dan keharuan mengisi hati Mahesa Amping. Perjuangan dan cita-cita Raden Wijaya akhirnya sampai juga.

Pikiran Mahesa Amping hanyut kembali ke masa di Padepokan Bajra Seta, tempat ia pertama kali bertemu Raden Wijaya. Ia teringat masa petualangan di Tanah Melayu saat menjadi telik sandi Kerajaan Singasari di bawah kendali Raja Kertanegara. Ia juga teringat masa kecilnya yang penuh kesengsaraan sebelum diasuh oleh Mahesa Murti dan Mahesa Pukat.

Lamunan Mahesa Amping terputus manakala suara bende Ki Prabu Segara berdengung tiga kali. Tanda upacara suci akan dimulai. Ia melihat iring-iringan memasuki alun-alun. Raden Wijaya dikawal oleh dua orang prajurit, salah satunya membawa payung pusaka, Kiai Pananggungan, yang konon dapat menahan hujan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment