Halo!

Tapak Tapak Jejak Gajahmada - Chapter 93

Memuat...
Tapak Tapak Jejak Gajahmada

Chapter 93

"Raden Wijaya tengah menuju ke altar penobatannya, menuju altar cita-cita dan perjuangannya," kata Mahesa Amping dalam hati sambil mengarahkan pandangannya ke arah Raden Wijaya yang sedang berjalan menuju Watu Gegilang.

Raden Wijaya tampak sudah duduk di atas Watu Gegilang. Seorang pendeta terlihat datang membawa kendi tanah berisi air suci. Pendeta suci itu menghadap para tamu undangan, lalu dengan diiringi doa dan mantra, ia memulai upacara abhiseka Raden Wijaya.

"Semoga dewa langit dan dewi bumi merestui upacara ini," ucap pendeta suci itu mengawali pembukaan upacara abhiseka. "Pada hari ini telah terlahir Prabu Nararya Dyah Sanggramawijaya dengan nama abhiseka sebagai Kertarajasa Jayawardana."

Semua yang hadir tampak hening, seolah tersirep suasana dan wajah welas asih sang pendeta.

"Nama yang terlahir ini terdiri dari empat kata: kerta, rajasa, jaya, dan wardhana. Unsur kerta berarti Baginda Prabu memperbaiki Jawadwipa dari kekacauan yang ditimbulkan oleh para penjahat dan menciptakan kesejahteraan bagi rakyat Majapahit. Oleh karena itu, bagi rakyat Wilwatikta, Baginda laksana surya yang menerangi bumi. Unsur rajasa mengandung arti bahwa Baginda berjaya mengubah suasana kegelapan menjadi terang-benderang akibat kemenangan beliau terhadap lawan-lawannya. Dengan kata lain, Baginda adalah penggempur musuh. Unsur jaya mengandung arti bahwa Sri Prabu memiliki lambang kemenangan berupa tombak berujung tiga, Trisulamuka, sebagai senjata Dewa Siwa; karena senjata inilah seluruh musuh-musuhnya hancur. Unsur wardhana mengandung arti bahwa Baginda Prabu mengayomi segala agama, memberikan kebebasan kepada seluruh rakyat Majapahit untuk menjalankan ajaran agamanya dengan leluasa; di sisi lain, Baginda Prabu menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat Majapahit," jelas sang pendeta mengenai makna nama abhiseka bagi Raden Wijaya.

Suasana di alun-alun hening; semua mata dan telinga tertuju kepada sang pendeta.

"Semoga sang terlahir akan dapat melindungi para kawula, menjaga perjalanan para saudagar, memadamkan setiap peperangan dan kerusuhan bersama para kesatria. Semoga sejuk dan kedamaian selalu bersamanya," lanjut pendeta itu.

Semua mata tertuju kepada sang pendeta saat ia berjalan mendekati Watu Gegilang tempat Raden Wijaya duduk. "Semoga air suci ini memberkatinya," ucap pendeta itu sambil mengguyurkan air suci dari kendi di tangannya. Sorak-sorai bergemuruh di seluruh alun-alun. Pemandian air suci itu adalah perlambang bahwa Raden Wijaya telah sah sepenuhnya sebagai Raja Majapahit, seorang yang berkuasa dan berdaulat memegang kendali kerajaannya, sebuah kerajaan yang melanjutkan kejayaan Singasari.

Semua orang maju ke depan untuk memberikan ucapan selamat kepada sosok yang terlahir kembali dengan nama abhiseka Kertarajasa Jayawardana. Upacara abhiseka diakhiri dengan perjamuan besar. Semua orang yang hadir di alun-alun terlihat penuh kegembiraan.

"Terima kasih untuk semua kesetiaanmu," ujar Raden Wijaya sambil memeluk erat sahabatnya, Mahesa Amping.

"Terima kasih untuk keberadaanmu bersamaku selama ini," ucapnya kepada Ranggalawe yang datang memberi ucapan selamat.

"Ananda perlu banyak nasihat Paman. Terima kasih untuk doa dan restunya," kata Raden Wijaya kepada Jayakatwang yang turut datang memberikan restu.

Sementara itu, matahari di atas alun-alun Bumi Majapahit mulai mendekati puncaknya. Sang surya seolah iri melihat keramaian yang tidak kunjung usai di bawah teriknya. Suasana kebahagiaan di alun-alun seakan tidak menghiraukan sengatan panas tersebut; semua orang merasa bahwa matahari baru telah lahir, sang surya yang menerangi hari depan mereka. Dialah Raden Wijaya, surya Majapahit.

"Janganlah hendaknya kamu mengganggu, menyerang, dan merebut Bumi Sunda karena telah diwariskan kepada saudaramu bila kelak aku telah tiada. Sekalipun negaramu telah menjadi besar, jaya, serta sentosa, aku maklum akan keutamaan, luar biasa, dan keperkasaanmu kelak sebagai raja besar. Ini adalah anugerah dari Yang Maha Agung dan menjadi suratan-Nya. Sudah selayaknya Kerajaan Jawa dengan Kerajaan Sunda saling membantu, bekerja sama, dan saling mengasihi antara anggota keluarga. Karena itu, janganlah berselisih dalam memerintah kerajaan masing-masing. Bila demikian, akan menjadi keselamatan dan kebahagiaan yang sempurna. Bila Kerajaan Sunda mendapat kesusahan, Majapahit hendaknya berupaya sungguh-sungguh memberikan bantuan; demikian pula halnya Kerajaan Sunda kepada Majapahit," tutur Prabu Guru Darmasiksa di tengah perjamuan memberikan nasihat kepada Raden Wijaya.

"Nasihat Eyang Prabu akan cucunda pusakai," jawab Raden Wijaya dengan hati terharu.

Malam menyelimuti bumi di atas pasanggrahan Raden Wijaya. Beberapa kesatria Majapahit dipanggil oleh raja baru mereka.

"Terima kasih untuk semua yang telah kalian berikan bagi berdirinya Kerajaan Majapahit ini. Perjuangan panjang telah kita lewati untuk merebut dan mengembalikan pilar-pilar singgasana Singasari di atas bumi Majapahit ini," ucap Raden Wijaya kepada semua yang hadir di pendapanya. "Aku masih memerlukan tenaga dan pikiran kalian guna mengendalikan roda pemerintahan yang luas ini."

Suasana di pendapa hening; semua orang menunggu kata-kata Raden Wijaya, menanti tugas yang diamanatkan.

"Aku hanya melanjutkan pendahuluku, Sri Baginda Maharaja Kertanegara, membangun singgasana di atas air yang telah terbangun lewat pembuatan armada besar Jung Borobudur yang telah berlayar di barat dan timur laut Tanah Jawa. Aku ingin bumi Majapahit menjadi surya baru yang menerangi daratan dan lautannya. Sebuah surya yang besar, sang surya Majapahit Raya."

"Aku perlu seorang Mahapatih di Kerajaan Majapahit ini yang akan membangun bumi Majapahit lebih besar dari Kotaraja Singasari, membangun istana Majapahit lebih megah dan lebih indah. Menjadi tangan, kaki, dan kepalaku dalam membangun sebuah nagari besar. Aku meminta Ki Sandikala bersedia mengabdi kepadaku sebagai Mahapatih," pinta Raden Wijaya sambil menatap Ki Sandikala dengan penuh harap.

"Sabda Paduka Sri Baginda Raja Kertarajasa Jayawardana adalah sebuah titah. Semoga hamba tidak mengecewakan Paduka," jawab Ki Sandikala sambil merangkapkan kedua tangan di atas dada.

"Aku perlu dua orang pejabat perdagangan di barat dan timur pelayaran Majapahit. Kupercayakan kepada Argalanang dan Paman Kebo Arema."

"Semoga hamba dapat menjalani titah Paduka," jawab Argalanang dan Kebo Arema bersamaan.

"Aku perlu seorang duta perdagangan di Balidwipa dan sekitarnya sampai ke Sumbawa. Kutunjuk Ranggalawe untuk melaksanakan tugas itu."

"Semoga hamba dapat melaksanakan titah Paduka," jawab Ranggalawe penuh hormat.

"Kutunjuk Paman Putut Prastawa untuk mengatur urusan dalam rumah tangga istana."

"Hamba hanya seorang putut yang biasa mengurus padepokan kecil. Semoga hamba dapat melaksanakan titah Paduka," ujar Putut Prastawa.

"Aku perlu seorang panglima angkatan darat dan laut yang kuat. Kupercayakan kepada Senapati Mahesa Pukat untuk menjadi Tumenggung yang mengendalikan kekuatan Majapahit."

"Keberhasilan perjuangan kita tidak lepas dari para petugas telik sandi. Untuk itu, kupercayakan pucuk pimpinan petugas sandi kepada Gajah Pagon yang selama ini telah menguasai jaringan tersebut dengan baik," kata Raden Wijaya memandang Gajah Pagon.

Semua mata beralih ke arah Gajah Pagon. Mereka menatap dengan tegang saat Gajah Pagon menarik napas dalam-dalam. Setelah melepas napas panjang, ia mengangkat kepala.

"Ampun, Tuanku Paduka. Bukan maksud hamba menolak budi jasa anugerah jabatan yang Tuanku Paduka percayakan kepada hamba."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment