Chapter 95
Sementara itu, Putu Risang telah diangkat sebagai guru pribadi Pangeran Jayanagara dan tinggal di Istana Majapahit bersama istrinya, Endang Trinil, seorang gadis cantik jelita putri kemenakan Mahapatih Sandikala. Selama lima tahun itu, Pangeran Jayanagara dan Gajah Mada telah menjalin persahabatan yang sangat sukar dipisahkan. Mereka berlatih bersama di bawah pengawasan dan pembinaan Putu Risang yang telah diangkat secara resmi menjadi guru di istana. Berkat gemblengan Putu Risang, kedua pemuda itu memiliki kemampuan kanuragan yang jauh lebih hebat dibandingkan pemuda seusianya.
Kedekatan Pendeta Gunakara dengan Jayakatwang telah membawa Gajah Mada untuk tinggal bersama di Puri Tanah Ujung Galuh. Hari-hari dijalani Gajah Mada di kediaman Jayakatwang. Sepasang suami istri mantan penguasa Tanah Jawa itu merasa gembira dengan kehadiran Pendeta Gunakara dan Gajah Mada di puri mereka di Tanah Ujung Galuh.
"Kamu sudah dapat membawakan suara seruling tembang Hina Kelana dengan baik, sebuah tembang gubahan aku dan Prabu Guru Darmasiksa," ujar Jayakatwang kepada Gajah Mada yang telah mengakhiri tiupan serulingnya.
"Terima kasih, kepandaian Paman jauh melebihi suara seruling Ananda," sahut Gajah Mada dengan penuh penghormatan.
"Sayang, tidak ada seorang pun di sini yang dapat memainkan kecapi dengan penuh perasaan hati selain Prabu Guru Darmasiksa," kata Jayakatwang mengenang perjumpaan mereka beberapa tahun silam yang telah mengikat mereka menjadi sahabat dan bersama menciptakan tembang kenangan Hina Kelana tersebut.
"Bukankah Tuan Jayakatwang telah berjanji untuk datang mengunjungi Prabu Guru Darmasiksa di Tanah Pasundan?" tanya Pendeta Gunakara.
"Benar, kami telah berjanji untuk saling mengunjungi," jawab Jayakatwang.
"Pangeran Jayanagara pernah juga menyampaikan kepadaku keinginannya untuk suatu waktu datang ke Tanah Pasundan," ujar Gajah Mada menirukan keinginan sahabatnya.
"Kita dapat mengajak Pangeran Jayanagara datang ke Tanah Pasundan," sahut Turuk Bali yang ikut berbicara di atas pendapa Puri Jayakatwang.
"Besok aku akan menghadap Baginda Raja Kertarajasa untuk meminta izin berkunjung ke Tanah Pasundan," kata Jayakatwang penuh kegembiraan.
"Semoga Paduka Raja berkenan juga melepas Pangeran Jayanagara ikut bersama kita," sambung Gajah Mada.
"Semoga Nyi Nariratih dapat mengizinkan dirimu pergi jauh ke Tanah Pasundan," ujar Pendeta Gunakara mengingatkan Gajah Mada untuk meminta izin kepada ibundanya, Nyi Nariratih.
Pagi itu matahari bersinar cerah. Empat orang terlihat memasuki gerbang timur Kotaraja Majapahit. Mereka adalah Jayakatwang, Turuk Bali, Gajah Mada, dan Pendeta Gunakara. Selain menjalankan kebiasaan keluarga setelah hari raya Galungan untuk saling berkunjung, mereka berniat memohon izin kepada Raja Kertarajasa untuk berangkat ke Tanah Pasundan.
"Mahapatih Sandikala telah merancang Kotaraja Majapahit dengan sangat baik," puji Jayakatwang saat melihat bangunan rumah yang berjajar rapi mengikuti garis sepadan jalan.
"Lihatlah, hampir setiap rumah meletakkan gentong air di depan pintu mereka," tunjuk Pendeta Gunakara.
"Aku merasa iri melihat jiwa kerukunan orang-orang di Kotaraja Majapahit ini. Gentong air itu sebagai pertanda keterbukaan mereka kepada siapapun yang lewat di depan rumah mereka. Sebuah pemandangan baru yang tidak ada di Kotaraja Kediri ketika aku masih berkuasa," ujar Jayakatwang.
Semakin masuk ke pusat Kotaraja Majapahit, keadaan semakin ramai oleh hiruk-pikuk pedati pedagang dan pejalan kaki. "Aku akan mengantar Gajah Mada bertemu ibundanya, Nyi Nariratih. Apakah Tuan Jayakatwang ingin singgah juga?" tanya Pendeta Gunakara saat berada di depan barak prajurit.
"Kami berdua akan singgah di barak ini, tetapi setelah kunjungan kami ke istana," jawab Jayakatwang.
Mereka pun berpisah. Jayakatwang dan istrinya melanjutkan perjalanan ke istana, sementara Pendeta Gunakara bersama Gajah Mada memasuki gerbang barak pasukan Srikandi, pasukan prajurit wanita yang hanya ada di Kerajaan Majapahit pada zaman itu.
"Aku akan memanggil Nyi Rangga Nariratih," ujar seorang prajurit wanita yang telah mengenal Gajah Mada. Tidak lama berselang, Nyi Rangga Nariratih datang menemui mereka.
"Baru saja aku berencana ke Tanah Ujung Galuh untuk mengunjungi kalian," sambut Nyi Nariratih.
"Waktu kami lebih senggang daripada Nyi Rangga," jawab Pendeta Gunakara. Setelah menanyakan kabar, Pendeta Gunakara menyampaikan rencana perjalanan mereka ke Tanah Pasundan.
"Perjalanan itu sangat jauh, aku akan merindukan kalian," ujar Nyi Nariratih.
"Ini adalah perjalanan bagi Gajah Mada untuk mengenal dunia yang lebih luas," tutur Pendeta Gunakara.
"Kutitipkan putraku ini yang nakal," ucap Nyi Nariratih sambil tersenyum kepada Pendeta Gunakara yang menyayangi Gajah Mada layaknya anak sendiri. Nyi Nariratih merasa bersyukur putranya berada di lingkungan orang-orang hebat; mendapat bimbingan kanuragan dari Putu Risang dan Pangeran Jayanagara, bimbingan kejiwaan dari Pendeta Gunakara, serta pengetahuan tata negara dari Jayakatwang.
"Bawalah senjata cakra ini, semoga hatimu selalu mengingat ibundamu," ucap Nyi Nariratih sambil menyerahkan senjata lingkaran bergerigi tersebut. Gajah Mada menerimanya dengan penuh rasa terima kasih. Senjata itu dianggapnya sangat sempurna karena dapat disembunyikan di balik pakaian.
Suasana barak kembali ramai ketika Jayakatwang dan Turuk Bali datang. "Baginda Raja Kertarajasa telah memberikan izin keberangkatan kita ke Tanah Pasundan. Bahkan, beliau mengusulkan agar Pangeran Jayanagara dan Putu Risang ikut serta," ujar Jayakatwang memberikan kabar gembira.
Di waktu yang lain, pagi itu awan putih menghampar di cakrawala. Puri Jayakatwang di Ujung Galuh berdiri indah. Di tempat itu pula Jayakatwang mengisi hari tuanya sebagai begawan yang melahirkan banyak karya sastra bersama sang istri. Dua orang lelaki tampak memasuki halaman puri, yaitu Pangeran Jayanagara dan gurunya, Putu Risang.
"Keindahan pagi ini menjadi sempurna dengan kedatangan kalian," sambut Jayakatwang.
"Semoga darma kita langgeng sampai Hari Galungan tahun depan," ujar Putu Risang. Gajah Mada dan Pendeta Gunakara pun menyambut kedatangan mereka di atas pendapa puri.