Halo!

Tembok Besar - Chapter 02

Memuat...
Tembok Besar

Chapter 02

Kaisar Yang Te, sumber segala kesengsaraan, hidup mewah dan bersenang-senang dikelilingi banyak putri cantik yang menjadi penghiburnya. Suara musik tiada henti mengalun, nyanyian merdu terdengar, rayuan keluar dari bibir manis, dan belaian mesra membuat kaisar terbuai bagai babi kekenyangan.

Tangan-tangan dari barisan pengumpul tenaga rakyat menjangkau jauh, bagaikan tentakel cumi-cumi yang merembes ke daerah-daerah terpencil, bahkan hingga ke lembah sungai Cialing.

Suatu hari, serombongan empat puluh serdadu dari barisan pengumpul tenaga rakyat tiba di dusun Tai-kun-an. Mereka dipimpin oleh seorang komandan bertubuh gemuk dan pendek bernama Cong Hwat, yang memiliki muka bulat penuh tahi lalat. Cong Hwat terkenal kuat dan memiliki ilmu silat yang menakutkan, bersenjatakan golok besar yang berat dan tajam.

Tugas mereka adalah mengumpulkan rakyat untuk dikirim ke kota Kong-goan, markas besar barisan pengumpul tenaga rakyat. Begitu mereka memasuki dusun, suasana makmur dan penuh tawa berubah menjadi neraka tangis dan keluh kesah. Jeritan wanita terdengar karena ketakutan, sementara pria mengeluh. Keempat puluh serdadu itu, di bawah pimpinan Cong Hwat yang rakus wanita, berpesta pora.

Dalam tiga hari, mereka berhasil mengumpulkan seratus lima puluh pria, mengantongi banyak emas dan perak, serta mengganggu banyak wanita. Hanya wanita dari keluarga kaya yang punya uang suap yang selamat. Akibatnya, mayat wanita yang bunuh diri karena diperkosa, serta mayat pria yang putus asa, mengambang di sungai, menambah pemandangan mengerikan.

Di dusun Tai-kun-an, hiduplah pasangan suami istri pendatang baru, Kwee Siong dan istrinya, Liem Sui Giok. Kwee Siong yang muda dan tampan membuka sekolah kecil, mengajar anak-anak membaca dan menulis. Istrinya, Liem Sui Giok, sangat cantik dan pandai menyulam. Keduanya baru beberapa bulan di dusun itu mencari peruntungan. Istri Kwee Siong sedang mengandung tiga bulan.

Ketika barisan pengumpul tenaga rakyat tiba, Kwee Siong yang sudah mendengar kekejaman mereka, mengajak istrinya mengungsi ke hutan. Namun, karena hutan itu liar dan mereka lemah, mereka hanya masuk sejauh satu li. Merasa aman dan tidak terlihat dari luar, Kwee Siong membangun gubuk bambu dengan bantuan istrinya.

Tak disangka, bahkan orang yang tidak berbuat jahat pun bisa menjadi korban malapetaka dan kebencian manusia. Kwee Siong dan istrinya pun demikian. Sejak awal kedatangan mereka di Tai-kun-an, seorang hartawan muda bernama Tan, yang terkenal mata keranjang dan gila wanita, sudah tertarik pada kecantikan Liem Sui Giok yang berbeda dari wanita dusun lainnya.

Liem Sui Giok adalah wanita cantik jelita, berkulit halus putih seperti susu, berambut hitam lemas, dan bermata tajam. Tan-wangwe (hartawan Tan) mencoba membujuknya dengan cara tak tahu malu. Seorang wanita tua suruhannya mendatangi Liem Sui Giok, membujuknya agar melayani Tan-wangwe. Tentu saja, Sui Giok marah dan mengusirnya. Ia kemudian menceritakan kejadian itu kepada suaminya agar berhati-hati terhadap Tan.

Tan-wangwe yang keinginannya tidak tercapai menjadi dendam. Ketika rombongan pengumpul tenaga rakyat datang, ia dengan mudah menyogok petugas agar terhindar dari pekerjaan paksa. Bahkan, ia memberikan salah satu selirnya yang tercantik kepada Cong Hwat sebagai hadiah agar hubungan mereka erat.

Tan-wangwe mendengar tentang pelarian Kwee Siong dan istrinya ke hutan. Ia segera menemui Cong Hwat dan berkata, "Cong-ciangkun, aku tahu sepasang suami istri bersembunyi. Akan kuberi tahu tempat persembunyian mereka. Suaminya muda dan kuat, pandai menulis, pantas membantu perjuangan. Akan tetapi..." Tan-wangwe tersenyum penuh arti.

Cong Hwat yang bermuka bulat dan bermata sipit bertanya, "Akan tetapi apa, saudara Tan...?"

"Isterinya... sudah lama aku merindukannya. Jika ciangkun berhasil mendapatkan mereka, suaminya untuk ciangkun bawa, dan isterinya harap ditinggalkan padaku."

Cong Hwat tertawa, "Bagaimana kalau ia terlalu cantik sehingga hatiku tidak rela meninggalkannya kepadamu?"

Tan-wangwe tersenyum sambil menggeleng, "Tidak ada artinya bagimu, ciangkun. Isterinya memang cantik, kalau tidak masa aku she Tan sampai tertarik. Tapi ia sedang mengandung. Bagiku, aku bisa menunggu sampai ia melahirkan dan merawatnya baik-baik. Sedangkan bagimu yang banyak melakukan perjalanan, bukankah itu merepotkan?"

Pemimpin serdadu itu mengangguk, "Baik, baik. Mendapatkan suaminya pun sudah cukup baik, berarti penambahan tenaga untuk pembangunan negara!" Kata-katanya sejalan dengan firman kaisar.

Setelah mendapat petunjuk dari Tan-wangwe, Cong Hwat membawa lima belas anak buahnya memasuki hutan. Tak lama kemudian, ia melihat belasan orang kampung bersembunyi, delapan pria dan empat wanita muda berwajah lumayan. Mereka segera ditangkap, pria mengeluh dan wanita menjerit saat diseret keluar dari persembunyian.

Setelah para tawanan itu dibawa pergi, Cong Hwat bersama sepuluh serdadu masuk lebih dalam ke hutan. Liem Sui Giok sedang memasak sayur, sementara Kwee Siong membuat bangku kayu dengan parang. Keduanya kaget melihat Cong Hwat dan sepuluh serdadu berwajah galak mendekat.

"Ha, ha, ha!" Cong Hwat tertawa mengejek, menatap Sui Giok yang dinilainya sangat cantik. "Kalian mencoba menyembunyikan diri, ya? Kalian benar-benar orang rendah yang tidak mengenal cinta tanah air dan negara. Negara membutuhkan bantuan, tetapi kalian malah bersembunyi. Ayo ikut kami keluar dari sini!"

Sambil berkata demikian, Cong Hwat dengan seringai menghampiri Sui Giok dan mengulurkan tangan menjamah dadanya dengan tingkah laku jijik. "Hm, kau cantik sekali, sayang. Perutmu besar!"

Sui Giok terkejut, marah, dan malu. Ia cepat mundur menghindar dari sentuhan tangan keji itu. Namun, Cong Hwat dengan mudah menangkap lengannya. "Hm, kau mau lari dariku? Tidak mudah, manis!"

"Lepaskan isteriku, kau bedebah!" Kwee Siong yang marah melompat maju dengan parang terangkat tinggi. "Kau seorang pemimpin barisan mengapa bertingkah seperti bajingan rendah?"

Cong Hwat sangat marah mendengar makian itu. Belum pernah ada orang berani memakinya. Matanya yang sipit mengeluarkan cahaya berapi dan bibirnya yang tipis digigitnya. "Bangsat rendah!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment