Halo!

Tembok Besar - Chapter 03

Memuat...
Tembok Besar

Chapter 03

Orang macam kau ini tidak perlu membantu bekerja, patutnya dibunuh di sini agar bangkaimu dimakan oleh binatang buas!" Akan tetapi, seorang di antara anak buahnya yang berpikir bahwa jika orang ini dibunuh, maka akan menakutkan hati penduduk kampung di situ, lalu berkata, "Terlalu enak baginya kalau mati begitu saja, lebih baik ditangkap dan dikirim sekarang juga untuk memikul batu di tembok besar!" Ucapan ini mengingatkan Cong Hwat dan ia lalu menerjang maju sambil mengayun kepalan tangannya yang besar dan kuat.

Kwee Siong mencoba untuk menangkis dengan parangnya, akan tetapi dengan gerakan tangan yang cepat sekali, Cong Hwat dapat memukul pergelangan tangan Kwee Siong sehingga parang yang dipegangnya itu terlepas.

Sebuah sapuan dengan kaki membuat Kwee Siong terguling.

"Sui Giok… cepat kau larilah…!" Kwee Siong masih sempat menengok kepada istrinya.

Bukan main gelisah, takut, dan sedihnya hati Sui Giok melihat keadaan suaminya, akan tetapi ketika ia hendak menerjang suaminya ia mendengar seruan ini dan teringatlah ia akan bahaya yang lebih hebat lagi mengancamnya.

Kalau ia sampai jatuh ke tangan orang-orang ini, akan celakalah dia!

Maka ia lalu lari ke dalam hutan.

"Kejar!" seru Cong Hwat lalu memimpin orang-orangnya mengejar Sui Giok.

Adapun seorang serdadu lalu melepas ikat kepala Kwee Siong dan membelenggu kedua tangan orang muda itu erat-erat.

Perasaan takut yang hebat dapat mendatangkan hal yang aneh-aneh pada orang.

Ada sebagian orang yang kalau merasa ketakutan lalu kedua kakinya terasa lumpuh dan tidak dapat lari sama sekali, akan tetapi ada pula sebagian yang di dalam ketakutan hebat kedua kakinya menjadi ringan dan dapat berlari cepat sekali seperti seorang jago lari.

Sui Giok tergolong pada orang-orang kedua ini.

Di dalam ketakutan yang hebat, tiba-tiba ia menjadi gesit sekali dan kedua kakinya dapat berlari amat cepatnya.

Ia tidak merasa sakit lagi ketika ia menyusup-nyusup ke dalam semak belukar, duri-duri diterjangnya sehingga pakaiannya robek-robek, kulitnya pecah-pecah mengeluarkan darah, telapak kakinya terluka dan berdarah pula karena sepatunya yang tipis telah rusak oleh batu-batu karang dan duri.

Dengan membuta ia lalu lari secepat mungkin memasuki hutan yang gelap dan yang tadinya selalu menimbulkan kengerian di dalam hatinya.

Andaikata di depannya berdiri lima ekor harimau, agaknya Sui Giok akan menerjangnya pula tanpa takut sedikit pun.

Rasa takutnya terhadap para serdadu itu lebih hebat daripada segala rasa takut yang mungkin dapat dirasakannya.

Ia membayangkan bahaya yang jauh lebih hebat apabila ia terjatuh ke dalam tangan para serdadu itu.

Oleh karena pikiran inilah maka Sui Giok berlari makin cepat memasuki hutan yang gelap tanpa ragu-ragu sedikit pun.

Beberapa kali Sui Giok jatuh dan satu kali hampir saja tubuhnya terguling ke dalam jurang.

Akan tetapi sambil menahan isak dan dengan napas terengah-engah, ia bangun lagi dan berlari terus, mata terbelalak, wajah pucat bagaikan seekor anak kelinci yang dikejar harimau.

Untung baginya bahwa tidak hanya dia yang jatuh bangun, akan tetapi para pengejarnya pun tidak dapat melalui jalan yang amat sukar itu dengan cepat.

Hutan itu amat liar dan semak belukar yang diterjang oleh Sui Giok amat padat penuh duri-duri tajam sehingga biarpun Cong Hwat dan para anak buahnya adalah orang-orang yang memiliki kepandaian dan kekuatan, tetap saja tidak mudah bagi mereka untuk bergerak cepat.

Berbeda dengan Sui Giok yang nekat dan tidak merasakan tusukan duri, Cong Hwat dan kawan-kawannya tentu saja tidak mau menjadi korban duri-duri yang tajam, dan sambil mengejar mereka menggunakan golok untuk membabat semak-semak berduri yang menghalangi pengejaran mereka.

"Kepung dia!" seru Cong Hwat penasaran setelah mereka mengejar sampai tiga li jauhnya belum juga dapat menangkap korbannya itu.

"Kepung dari tiga jurusan!" Mendengar perintah ini, anak buahnya lalu berpencar.

Lima orang mengambil jalan dari kanan yang tidak begitu penuh semak belukar, sedangkan empat orang mengambil jalan dari kiri memanjat batu-batu karang yang tinggi.

Kini keadaan Sui Giok benar-benar terancam.

Biar pun jalan yang ditempuhnya selalu melalui semak-semak berduri sehingga Cong Hwat yang mengejarnya tak dapat bergerak cepat, namun para pengejar dari kanan kiri yang mengambil jalan lain itu dapat mengejar dan mendahuluinya.

Kini para pengejar dari kanan kiri itu mulai mencari jalan untuk memotong perjalanannya dan untuk mengurungnya.

Sui Giok sudah makin ketakutan saja dan menjadi bingung.

Ia melihat di belakangnya perwira pendek gemuk itu masih mengejarnya dengan mukanya yang kemerah-merahan dihias oleh tahi-tahi lalat yang hitam dan besar, nampak mengerikan sekali.

Di kanan kirinya, sebelah depan, para serdadu itu telah mulai mendekatinya.

Di depannya nampak jurang yang amat dalam. Ke mana ia dapat melarikan diri? Hanya ada dua jalan agaknya untuk dapat melepaskan diri dari para pengejarnya, yakni terbang ke langit atau melemparkan diri ke dalam jurang itu.

Dan oleh karena ia tidak mungkin dapat terbang ke atas maka agaknya jalan satu-satunya baginya adalah melemparkan diri ke dalam jurang itu.

Sui Giok berdiri di pinggir jurang dengan muka pucat.

Air mata mengalir turun dari kedua matanya yang biasanya bening dan tajam bagaikan bintang pagi itu, membasahi kedua pipinya.

Ia memandang ke bawah, ke dalam jurang yang agaknya tidak bertepi.

Bibirnya berbisik perlahan, "Suamiku… selamat tinggal… biarlah aku yang mendahuluimu meninggalkan dunia yang kotor ini…" Ia telah siap untuk mengayun kakinya, melompat ke dalam jurang.

Matanya dirapatkan.

Tiba-tiba ia tersentak kaget oleh bunyi pekik yang panjang dan mengerikan sekali.

Pekik ini datangnya dari arah kiri.

Dengan terkejut Sui Giok sadar dari keadaan yang seperti dalam mimpi itu dan ia menengok ke kiri.

Alangkah ngeri dan terkejutnya ketika ia melihat empat orang serdadu yang menghampirinya dari kiri itu, ketika turun dari batu karang, mereka disergap oleh belasan ekor harimau besar.

Harimau-harimau itu menggeram dengan suaranya yang menggetarkan seluruh hutan.

Percuma saja empat orang serdadu itu melakukan perlawanan.

Golok-golok mereka yang biasanya amat ganas dan telah mengalirkan banyak darah manusia lemah, kini tidak ada artinya sama sekali menghadapi belasan ekor harimau besar itu.

Agaknya kulit harimau-harimau itu sudah kebal dan amat kuatnya sehingga bacokan golok tidak melukai mereka, bahkan golok-golok itu terpental dari pegangan tangan para serdadu.

Kemudian harimau-harimau itu menerjang dan rebahlah empat orang serdadu itu dengan tubuh koyak-koyak.

Mereka tewas sambil mengeluarkan pekik yang dahsyat dan mengerikan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment