Chapter 05
Kekuatan pasukan Jenderal Kao Hoan jauh melampaui keluarga Kam yang jumlahnya tidak seberapa. Bahkan, Jenderal Kao Hoan mengerahkan perwira-perwiranya yang terbaik untuk menggempur keluarga Kam yang telah dicap sebagai pemberontak.
Kam Kok Han memimpin anak buahnya melakukan perlawanan sengit, namun karena kelelahan, kelaparan, dan serangan yang terus-menerus, satu per satu anggota keluarga Kam berhasil dibinasakan. Seluruh keluarga Kam musnah, hanya menyisakan seorang pelayan wanita, Bu Lam Nio. Ia adalah pelayan yang sangat disayangi karena telah mengabdi sejak kecil.
Bu Lam Nio juga sangat berbakat dalam ilmu silat, bahkan paling unggul di antara para pelayan. Panglima Kam Kok Han sangat menyukai pelayan yang berbakat, cantik, dan pandai ini, sehingga dengan persetujuan istri-istrinya, Bu Lam Nio diangkat menjadi istri mudanya.
Ilmu silat Bu Lam Nio semakin bertambah karena Kam Kok Han tidak ragu menurunkannya kepada istri muda kesayangannya. Namun, nasibnya malang. Belum genap sebulan menjadi "nyonya muda", malapetaka datang, memaksanya mengerahkan seluruh kepandaiannya untuk membantu keluarga Kam.
Dalam pertempuran dahsyat, tubuh Lam Nio penuh luka. Wajahnya rusak akibat sabetan senjata musuh, dan tulang belakangnya patah akibat pukulan ruyung. Meski begitu, ia masih sanggup mendekati Kam Kok Han yang tergeletak berlumuran darah, sementara keluarganya masih bertahan mati-matian.
Kam Kok Han membuka matanya dan berpesan terakhir kepada Lam Nio untuk menyimpan sebuah kitab tua. Setelah itu, panglima gagah berani itu meninggal. Lam Nio mengambil kitab itu dari saku baju Kam Kok Han, memasukkannya ke dalam kutangnya, lalu roboh pingsan dalam keadaan berlumuran darah.
Semua anggota keluarga Kam dan pelayan mereka tewas. Jenderal Kao Hoan meninggalkan jenazah mereka begitu saja, hanya memerintahkan penduduk setempat untuk mengurusnya. Saat itu, rakyat tertindas dan membenci orang berpangkat. Dalam kelaparan, mereka enggan mengubur jenazah dengan baik. Lubang dangkal dibuat, jenazah diseret, dan ditimbuni tanah seadanya.
Malam harinya, gerombolan anjing kelaparan menggali tumpukan tanah itu. Sungguh mengerikan pemandangannya. Anjing-anjing itu mulai memakan daging jenazah. Di tengah kekacauan itu, Bu Lam Nio sadar dari pingsannya. Ia dikira tewas dan ikut terkubur hidup-hidup.
Untunglah, tanah yang menimbunnya tidak terlalu tebal. Ketika anjing-anjing menggerogoti jenazah dan menjilat darah, Lam Nio merangkak pergi. Hanya tekadnya yang luar biasa yang memberinya kekuatan untuk menyingkir dari tempat itu dengan hati hancur lebur, menyaksikan orang-orang yang dicintainya dimakan anjing tanpa bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya lemas, punggungnya sakit hebat, tenaganya habis.
"Demikianlah, *toanio*," Bu Lam Nio melanjutkan ceritanya dengan suara sedih, "aku terus melarikan diri, hidup sengsara dan terlunta-lunta. Hanya kehendak *Thian* yang membuatku masih hidup hingga kini. Di mana pun aku tiba, orang-orang menjauhiku, menganggapku gila, jijik, dan ngeri melihat wajah dan tubuhku. Enam puluh tahun aku masih diberi umur panjang hingga sekarang. Puluhan tahun aku tinggal di tempat ini, jauh dari manusia, jauh dari keramaian. Kau bisa membayangkan sendiri betapa sengsaranya penderitaanku."
Sui Giok mendengar cerita itu dan tidak kuasa menahan air matanya yang mengalir karena terharu dan kasihan. "Ah, Lam Nio, maafkan aku. Setelah mendengar riwayatmu, malapetaka yang menimpaku tidak berarti apa-apa. Aku hanya terpisah dari suamiku, dan masih besar harapan suamiku tertolong nyawanya. Akan tetapi kau...!"
Kemudian Sui Giok menceritakan pengalamannya. Mendengar itu, Bu Lam Nio mengepal tangannya, wajahnya berubah beringas. "Keparat! Setelah berpuluh-puluh tahun, ternyata kaisar masih saja lalim dan jahat. Jika kaisarnya lalim, pembesar dan tentaranya tentu juga penjahat keji. *Toanio*, aku telah menanti enam puluh tahun lamanya untuk memenuhi pesanan Panglima Kam Kok Han. Dia meninggalkan kitab itu bukan dengan percuma. Maksudnya agar aku memilih seorang murid untuk mempelajari isinya. Aku sendiri buta huruf dan tidak bisa membaca kitab itu, *toanio*. Maka, kaulah agaknya yang akan mewarisi kepandaian dari Kam Kok Han, junjunganku dan juga suamiku. Kitab itu bernama *Kimkiam-cian-si*, pelajaran ilmu pedang *Kim-gan-liong kiam-sut*."
"Akan tetapi, aku adalah wanita lemah, bagaimana aku dapat mempelajari ilmu silat dan memainkan pedang?"
" *Toanio*, apakah kau tidak ingin memiliki kepandaian untuk membasmi orang jahat, untuk menolong suamimu?" tanya Bu Lam Nio.
Wajah Sui Giok yang cantik berseri. "Benar katamu, Lam Nio! Baiklah, aku akan mempelajari ilmu silat darimu. Aku mau menerima warisan Panglima Besar Kam Kok Han!"
"Nah, kalau begitu, bersumpahlah pada kitab ini. Kau bukan menjadi muridku, aku tetap pelayan, bahkan sekarang aku menjadi pelayanmu karena kuanggap ahli waris keluarga Kam. Kau adalah murid mendiang Kam Kok Han!" Bu Lam Nio lalu mengeluarkan sebuah kitab yang sudah kuning dan lapuk.
Dengan semangat bernyala dan hati yang sungguh-sungguh, Sui Giok menutupi tubuhnya dengan selimut, bangun duduk di atas pembaringan, berlutut, memegang kitab di atas kepalanya, lalu mengucapkan sumpahnya. "Guru besar Kam Kok Han, *teecu* Liem Sui Giok, dengan disaksikan Bu Lam Nio dan kitab peninggalan *sucouw* (guru besar) ini, *teecu* bersumpah akan mempelajari isi kitab ini..." Ia berhenti sejenak, teringat bahwa belum tentu ia akan bisa mempelajarinya dengan baik, maka segera ia menyambungnya, "...dan akan memberi pelajaran pula kepada keturunan *teecu*, dan *teecu* bersama anak *teecu* akan mempergunakan isi kitab ini untuk membasmi kejahatan dan menolong mereka yang tertindas, seperti keadaan keluarga *sucouw* dan keadaan *teecu* sendiri."
"Bagus!" kata Bu Lam Nio sambil mengambil kembali kitab itu. "Sekarang kau harus beristirahat dan memulihkan tenagamu kembali. Tentu saja, sebelum kau melahirkan, kau tidak boleh berlatih silat. Sementara itu, aku hanya akan memberi petunjuk tentang teori dan dasar-dasarnya agar kelak kau dapat berlatih lebih cepat dan lancar."
Dengan sangat teliti dan penuh kasih sayang, Bu Lam Nio merawat Sui Giok, memberikan petunjuk dan pelajaran teori ilmu silat dari permulaan, menerangkan cara bersamadhi, mengumpulkan tenaga dalam, dan berlatih pernapasan untuk memperkuat *lweekang*. Latihan ini dapat dimulai oleh Sui Giok, meski hanya sesekali karena ia tidak boleh memaksa diri saat mengandung.
Enam bulan kemudian, di tempat yang sunyi dan terasing itu, di lembah Sungai Cialing yang deras airnya, terlahir seorang bayi perempuan. Hanya Bu Lam Nio yang menolong Sui Giok melahirkan, namun karena sejak kecil bekerja sebagai pelayan, ia sangat cekatan dan memiliki pengertian yang luas. Atas persetujuan Bu Lam Nio, anak perempuan itu diberi nama Kwee Li Ling, atau Ling Ling, untuk mengingatkan bahwa ia lahir di lembah Sungai Cialing.
Setelah melahirkan dan kesehatannya pulih, Sui Giok mulai berlatih ilmu silat. Mula-mula ia berlatih ilmu silat keluarga Kam dari permulaan. Karena sebelumnya telah mempelajari teorinya, ia dapat menguasai ilmu silat itu dengan sangat lancar. Bu Lam Nio merasa gembira melihat bahwa biarpun Sui Giok tidak terlalu berbakat, ia masih dapat menguasai ilmu silat keluarga Kam.
Akan tetapi, ketika Bu Lam Nio memberikan buku pelajaran ilmu pedang yang bernama *Kimgan-liong kiam-coan-si*, Sui Giok terkejut melihat betapa sulitnya kitab itu. Gerakan pedang yang diajarkan sangat sukar, dan karena ia tidak memiliki bakat yang luar biasa, sulit baginya untuk mempelajarinya dengan sempurna. Bu Lam Nio, hanya dengan mendengar Sui Giok membaca, sudah dapat menangkap inti sari kitab itu, tidak kalah oleh Sui Giok sendiri yang bisa membaca.
Adapun Ling Ling, sejak kecil digembleng oleh Bu Lam Nio dan Sui Giok. Alangkah girangnya hati mereka melihat gadis kecil ini ternyata memiliki bakat yang luar biasa. Sejak kecil, Ling Ling sangat suka bermain silat. Dalam kehidupan barunya, Sui Giok tidak pernah melupakan suaminya yang nasibnya tidak diketahui, juga tidak pernah melupakan bayangan Cong Hwat, perwira gemuk itu.