Chapter 06
Ia tidak pula melupakan Tan-wangwe dan selalu menanti kesempatan baik untuk memberi hajaran kepada orang-orang ini.
Semenjak mendengar berita tentang tewasnya sembilan orang serdadu secara mengerikan di dalam hutan itu, para penduduk di sepanjang lembah sungai Cialing, terutama sekali penduduk dusun Tai-kun-an yang terdekat dengan hutan itu, makin merasa takut dan seram. Tak seorang pun berani mendekati hutan itu, dan kalau dulu masih ada orang yang berani masuk sampai satu atau dua li, sekarang mendekati hutan itu pun tidak seorang pun berani. Orang-orang menganggap hutan itu sebagai tempat berhantu atau yang ditempati oleh siluman-siluman ganas.
Kepercayaan itu bukan tahyul semata, karena semenjak serdadu-serdadu itu tewas di dalam hutan, maka sering kali muncul siluman yang mengganggu dusun Tai-ku-an. Anehnya, yang diganggu adalah orang-orang hartawan, dan siluman itu mencuri pakaian, makanan, dan barang berharga lainnya. Pernah ada yang melihat berkelebatnya bayangan siluman yang bertubuh bongkok dan berwajah menakutkan, akan tetapi dalam sekejap mata saja siluman itu lenyap dari pandangan.
Para penduduk menganggap bahwa itu tentulah siluman penghuni hutan yang menjadi marah karena para serdadu itu telah mengganggunya. Anehnya, yang dicuri itu, baik pakaian maupun barang-barang, adalah pakaian dan barang-barang yang dibutuhkan oleh wanita, maka semua orang lalu mempunyai anggapan bahwa siluman itu tentulah siluman wanita. Dan oleh karena hutan itu terletak di lembah sungai Cialing, maka orang lalu memberi julukan Cialing Mo-li (Siluman wanita Sungai Cialing).
Sesungguhnya, semua ini adalah perbuatan Bu Lam Nio. Wanita pelayan ini tadinya sama sekali tidak mau mengganggu orang dan bersembunyi dari orang dan masyarakat ramai. Akan tetapi, semenjak Sui Giok tinggal di situ, setelah ia mendengar betapa orang-orang hartawan mempergunakan uangnya untuk menyogok para serdadu, bahkan mendengar tentang kejahatan seorang hartawan marga Tan terhadap Sui Giok, ia tidak segan-segan lagi untuk mengganggu orang-orang hartawan, mencuri pakaian dan makanan untuk keperluan Sui Giok dan putrinya. Bahkan beberapa kali ia menyatakan hendak memberi hajaran kepada Tan-wangwe, akan tetapi Sui Giok selalu mencegahnya, menyatakan bahwa ia sendiri yang kelak hendak membalas, sebab ia memiliki kepandaian yang cukup tinggi.
Demikianlah, sepuluh tahun kemudian, pada suatu hari ketika Tan-wangwe sedang duduk menikmati angin di kebun belakang, bersenang-senang dengan perempuan-perempuan peliharaannya, dijaga oleh para pengawal, tiba-tiba berkelebat bayangan yang gesit sekali dan tahu-tahu di hadapan hartawan itu berdiri seorang wanita yang cantik jelita. Bukan main kagetnya Tan-wangwe melihat kejadian ini dan ia merasa seakan-akan sedang bermimpi. Adapun perempuan-perempuan yang berada di situ, segera berteriak-teriak, "Setan! Setan!"
Perempuan cantik yang bukan lain adalah Liem Sui Giok sendiri itu, tersenyum manis, akan tetapi sepasang matanya yang bening dan tajam itu memandang dengan sinar bernyala penuh kebencian kepada Tan-wangwe. "Memang, memang aku setan yang datang hendak mencabut nyawamu!" Suaranya merdu dan halus. Akan tetapi Tan-wangwe merasa betapa seluruh tubuhnya menggigil.
Kemudian Tan-wangwe yang pernah belajar ilmu silat dan selalu membawa sebatang pedang di pinggangnya, memberanikan diri dan berseru, "Penjaga! Serbu siluman ini!" Dan ia sendiri mencabut pedangnya, pedang yang tajam dan cukup indah karena gagangnya dihiasi dengan emas dan permata. Memang para penjaga di luar kebun itu tidak melihat gerakan Sui Giok yang melompat ke dalam pekarangan, karena Sui Giok kini telah memiliki ginkang yang luar biasa tingginya, berkat latihan yang ia pelajari dari Bu Lam Nio.
Mendengar seruan majikan mereka, enam orang penjaga lalu melompat masuk sambil menghunus golok. Mereka berdiri bengong dan tidak mengerti karena mereka tidak tahu manakah siluman yang disebut oleh majikan mereka. Adanya Sui Giok di situ tidak mengherankan mereka, oleh karena perempuan yang belum tua lagi dan sangat cantik ini memang patut menjadi hiburan bagi majikan mereka yang mata keranjang. Disangkanya bahwa Sui Giok adalah salah seorang wanita yang dibawa ke dalam tempat itu.
Akan tetapi ketika Tan-wangwe melihat enam orang penjaganya, nyalinya menjadi besar dan sambil berseru keras ia lalu menerjang dan membacokkan pedangnya ke leher Sui Giok. Nyonya muda ini sambil tersenyum melihat betapa gerakan ini lambat dan lemah sekali, maka kedua tangannya lalu bergerak dengan jurus Kwan-im siu-kiam (Dewi Kwan-im Mencabut Pedang). Tangan kirinya menyambar ke arah pergelangan tangan kanan Tan-wangwe, sedangkan tangan kanannya dengan amat cepatnya mendahului serangan lawan mengirim totokan ke arah lambung lawan.
Tan-wangwe tidak sempat menjerit karena tahu-tahu ia merasa betapa lambungnya sakit sekali dan tubuhnya menjadi lemas. Tanpa dapat dicegah lagi, tangan kiri Sui Giok telah berhasil merampas pedangnya. Tan-wangwe limbung dan roboh ke atas tanah bagaikan sehelai kain lapuk.
Barulah keenam orang penjaga itu terkejut. Sementara itu, para istri muda Tan-wangwe dengan tubuh gemetar lalu berlutut dan berseru, "Siluman wanita... dia... dia adalah Cialing Mo-li!" Enam penjaga itu merasa betapa bulu kuduk mereka meremang. Mereka pernah mendengar tentang Cialing Mo-li ini sebagai seorang siluman yang amat mengerikan dan buruk rupa, dan pula belum pernah siluman itu muncul di siang hari. Mana ada siluman berani muncul di tengah hari? Akan tetapi, siapa tahu kalau-kalau siluman yang mengerikan itu telah berganti rupa, karena bukankah siluman-siluman pandai sekali pian-hoa (berganti bentuk)?
Dengan serentak mereka lalu menerjang maju dengan golok mereka. Akan tetapi, tingkat ilmu silat Sui Giok sudah amat tinggi dan sudah terang sekali jauh lebih tinggi daripada para penjaga yang kasar ini. Apalagi ia sekarang telah memegang sebatang pedang dan biarpun masih jauh daripada sempurna, baru paling banyak dua bagian saja, akan tetapi ia telah melatih ilmu pedang Kim-gan-liong Kiam-sut, maka begitu ia menggerakkan pedang itu, bergulunglah sinar putih yang menutup seluruh tubuhnya.
Melihat gerakan ini, bukan main takutnya para penjaga itu. Bagaimana orang dapat menghilang di balik gulungan sinar pedang? Belum pernah mereka menyaksikan hal seaneh ini, maka tentu saja mereka menyerang dengan lutut lemas dan kaki gemetar. Dengan amat mudahnya ketika Sui Giok menggerakkan pedangnya, terdengar suara keras dan enam batang golok terlempar jauh. Sui Giok menggerakkan tangan kirinya dan robohlah para penjaga itu seorang demi seorang. Tiga orang roboh karena tamparan tangan kiri Sui Giok, adapun yang tiga orang lagi roboh karena ketakutan dan lemas kakinya.
Saking girangnya melihat hasil jerih payahnya selama sepuluh tahun mempelajari ilmu silat, dan saking puasnya dapat membalas dendamnya kepada hartawan yang mata keranjang itu, Sui Giok lalu tertawa. Suara tawanya ini bebas dan lepas sehingga terdengar merdu, akan tetapi nyaring sekali menyakitkan telinga. Karena tanpa disadarinya, ia telah mengerahkan kikhangnya ketika tertawa sehingga terdengar keras sekali, bahkan dapat terdengar oleh orang-orang yang berada di tempat agak jauh sehingga banyak orang di saat itu berdiri bengong dan saling pandang dengan terheran-heran.
Sui Giok lalu menjambak rambut Tan-wangwe dan sekali ia melompat, ia telah berada di atas genteng lalu lenyap membawa tubuh hartawan Tan itu. Gegerlah keadaan di pekarangan Tan-wangwe. Perempuan-perempuan itu menjerit-jerit dengan tubuh gemetar dan masih berlutut, menangis dan menyebut-nyebut nama Tuhan untuk mengusir siluman jahat itu. Orang-orang datang melawat dan ketika mereka mendengar bahwa Tan-wangwe dibawa pergi oleh siluman wanita, mereka menjadi gempar.
Sebelum melakukan serangan terhadap Tan-wangwe, Sui Giok telah mendengar dari Bu Lam Nio bahwa yang mengkhianati Sui Giok dan suaminya dahulu memang Tan-Wangwe adanya. Hal ini dapat didengar oleh Bu Lam Nio dalam pekerjaannya mencuri harta benda para hartawan di malam hari. Oleh karena itu, bukan main sakit hatinya Sui Giok terhadap Tan-wangwe. Memang tadinya ia telah menaruh curiga, karena tanpa diberitahu oleh orang lain, bagaimana rombongan serdadu itu bisa mencari ke dalam hutan? Kalau saja ia tidak mendengar hal ini dari Bu Lam Nio, ia pasti tidak akan mengganggu nyawa Tan-wangwe dan cukup memberi hajaran pedas saja. Kini sakit hatinya terlampau besar dan Tan-wangwe dianggap menjadi biang keladi nomor satu dari penderitaannya.
Pada senja harinya, ketika empat puluh lebih penduduk laki-laki dari Tai-kun-an yang dipimpin oleh kepala kampung menyusul ke pinggir hutan, mereka ini melihat tubuh seorang laki-laki tergantung pada pohon dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Ketika mereka mendekat, ternyata bahwa laki-laki ini bukan lain adalah Tan-wangwe, akan tetapi muka dan kepalanya telah tidak keruan rupanya, rusak dan hancur bekas cakaran dan gigitan. Dan di bawah pohon itu nampak jejak-jejak kaki harimau yang terbenam di dalam tanah lumpur.
Memang, Sui Giok sengaja menggantung Tan-wangwe pada kakinya di atas pohon dan meninggalkannya begitu saja. Seekor harimau yang kelaparan melihat seorang manusia tergantung, lalu melompat dan berusaha untuk menangkapnya. Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan Tan-wangwe yang ketakutan. Harimau itu tidak dapat mencapai korbannya yang digantung terlampau tinggi, akan tetapi kedua kaki depannya masih juga berhasil merobek muka dan kepala Tan-wangwe sampai hancur dan nyawanya melayang. Dengan wajah pucat, orang-orang kampung itu lalu menurunkan jenazah Tan-wangwe dan membawanya pulang ke dusun.
Orang-orang yang tua lalu berlutut ke arah hutan itu dan berkatalah seorang yang tertua di antara mereka, "Toat-beng Mo-li (iblis Wanita Pencabut Nyawa), mohon Mo-li sudi mengampuni kami sekalian dan harap sudah puas dengan korban yang seorang ini."