Halo!

Tembok Besar - Chapter 07

Memuat...
Tembok Besar

Chapter 07

Kami akan membakar dupa wangi setiap malam untuk menghormati Mo-li!" Sejak peristiwa ini, sebutan untuk "siluman" di dalam hutan itu menjadi dua: Cialing Mo-li (Iblis Wanita Sungai Cialing) dan Toat-beng Mo-li (Iblis Wanita Pencabut Nyawa).

Sebutan kedua ini timbul karena Sui Giok menyatakan hendak mencabut nyawa Tan-wangwe ketika bertemu dengan hartawan itu, dan banyak orang mendengar ucapannya.

Benar saja, semenjak penduduk membakar dupa wangi setiap malam, tak pernah ada gangguan lagi.

Hal ini karena Sui Giok melarang Bu Lam Nio mencuri barang-barang para hartawan di dusun itu.

"Mencuri adalah perbuatan yang memalukan," kata Sui Giok kepada Lam Nio.

"Biarpun yang dicuri adalah barang-barang para hartawan yang pelit dan kejam.

Aku dan anakku tidak suka memakai barang-barang curian." Bu Lam Nio, yang pernah tinggal bersama orang-orang bangsawan, tidak membantah dan bahkan mengakui kebenaran ucapan itu dalam hati.

Pada suatu hari, Sui Giok secara kebetulan mendapatkan banyak mutiara di antara tumpukan kulit kerang di pinggir sungai.

Ia sangat gembira karena tahu mutiara-mutiara ini amat mahal harganya.

Ia lalu mencoba membawa beberapa butir mutiara ke kota Kong-goan, dan ternyata orang berani membayar mahal untuk sebutir mutiara.

Padahal yang ia dapatkan tidak kurang dari seratus butir.

Sejak saat itu, Bu Lam Nio tidak perlu mencuri lagi karena dengan persediaan mutiara sebanyak itu, mereka dapat membeli apa saja yang mereka kehendaki.

Meskipun Ling Ling tinggal di tengah hutan yang sunyi, ia tidak terasing dari dunia ramai.

Sui Giok mengerti bahwa hal ini tidak baik bagi putrinya, maka setidaknya seminggu sekali ia mengajak Ling Ling ke dusun atau kota yang agak jauh dari tempat itu.

Akan tetapi, setelah Ling Ling berusia delapan tahun, anak ini merasa kurang puas dengan ajakan ibunya yang hanya sesekali itu.

Anak ini rindu akan teman bermain, dan ibunya serta Bu Lam Nio yang disebut "nenek Lam" mulai percaya padanya dan membolehkan dia bermain di dalam hutan sendirian.

Menurut pendapat Sui Giok dan Lam Nio, Ling Ling kini memiliki kepandaian yang cukup untuk menjaga diri dari serangan binatang buas.

Memang, gadis yang amat berbakat ini, baru berusia delapan tahun, telah memiliki gerakan yang luar biasa gesit dan ginkang yang mengagumkan.

Karena rasa rindunya akan teman bermain tak tertahankan, tidak heran apabila pada suatu pagi, ketika belasan anak dusun Tai-kun-an sedang bermain, tiba-tiba mereka melihat seorang anak perempuan yang cantik dan manis di tengah-tengah mereka.

Anak perempuan ini rambutnya dikuncir dua dengan pita merah, wajahnya segar dan mungil, selalu tersenyum, dan sepasang matanya cemerlang bagaikan bintang pagi.

Pakaiannya pun berbeda dengan anak-anak dusun: bersih dan terbuat dari sutera berwarna indah.

Tentu saja anak-anak itu menjadi terheran-heran.

Mereka memandang kepada anak perempuan yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka.

Seorang anak laki-laki di antara mereka bertanya, "Eh, kau siapakah?" "Aku?" Ling Ling menjawab sambil tersenyum manis dan matanya memandang penuh kegembiraan.

"Namaku Ling Ling!" Ia amat senang mendengar suara anak-anak ini dan melihat wajah mereka.

Inilah yang diinginkannya selama ini, inilah yang dirindukannya.

Ia sudah bosan berada di tempat yang sunyi, hidup hanya dengan ibu dan neneknya.

"Nama yang bagus!" kata seorang anak perempuan memuji.

"Pitanya lebih bagus!" kata anak perempuan lain sambil memegang-megang pita itu.

"Kau mau ini?" tanya Ling Ling, yang segera melepaskan dua pita rambutnya.

"Ambillah!" Ia memberikan sehelai pita merah kepada anak itu, dan sehelai lagi ia berikan kepada anak perempuan lain.

Karena pitanya diambil, rambut Ling Ling menjadi terurai. Rambut itu memang amat bagus, lemas, hitam, dan panjang.

"Kau anak dari manakah?" tanya lagi anak laki-laki tadi, memandang kagum sekaligus heran.

"Kami tidak pernah melihatmu.

Di mana rumahmu?" "Di sana!" kata Ling Ling sambil menunjuk ke arah hutan di luar dusun.

Anak-anak itu hanya mengira rumah Ling Ling di arah yang ditunjuk, yaitu di ujung dusun sebelah utara.

Tiba-tiba terdengar anak perempuan yang tadi diberi pita oleh Ling Ling menangis.

"Pitaku...!

Jangan ambil pitaku...!

Kembalikan!" Ling Ling cepat menengok dan ternyata pita yang tadi diberikan kepada anak perempuan itu telah dirampas oleh seorang anak laki-laki yang usianya sudah lebih dari sepuluh tahun.

Anak perempuan yang paling banyak berusia enam tahun itu menangis dan jatuh di atas tanah sambil meratap.

"Eh, kau!" tiba-tiba Ling Ling berseru keras sekali, mengejutkan semua anak-anak itu.

"Kembalikan padanya!" Anak laki-laki yang merampas pita itu pun terkejut. Namun, ketika ia menengok dan memandang kepada Ling Ling, ia menghampiri sambil tertawa menyeringai.

"Ha, ha, ha!

Kau seperti pemain sandiwara yang kutonton dulu itu.

Galak dan berlagak seperti permaisuri raja.

Kau anak baru hendak memerintah aku. Hm, kalau kau laki-laki tentu sudah kujotos hidungmu!" Bukan main marahnya Ling Ling mendengar ucapan itu. Kini sepasang matanya yang indah dan bening itu mengeluarkan cahaya berapi, sehingga tidak saja semua anak-anak menjadi tercengang, bahkan anak laki-laki itu sendiri melangkah mundur dua langkah.

"Kau.......

kau siapa?

Matamu sungguh tidak sedap hatiku melihatnya.

Seperti......

seperti mata setan!" "Plak!" Tangan kanan Ling Ling dengan cepat menyambar dan menampar pipi anak laki-laki itu.

"Aduuuuhhh.....!!" Sungguh mengherankan semua anak-anak yang berada di situ. Anak lelaki itu telah terkenal sebagai "jagoan" di antara semua anak-anak dusun Tai-kun-an. Mengapa kini ditampar sekali saja lalu mengaduh-aduh dan berjingkrak-jingkrak sambil memegangi pipinya?

Memang, anak laki-laki itu merasa sakit bukan main terkena tamparan tadi. Pipinya terasa panas dan pedas sampai menembus ke dalam mulut.

Setelah mengusap-usap pipinya dan menahan sakit sampai air matanya mengucur keluar, ia menjadi sangat marah.

"Anak anjing!

Kau berani memukul aku?" Setelah berkata demikian, anak laki-laki ini lalu menyerang Ling Ling dengan pukulan ke arah kepala Ling Ling.

Ling Ling, semenjak baru bisa berjalan, sudah menerima latihan silat tingkat tinggi di bawah bimbingan ibu dan neneknya, maka tentu anak laki-laki itu bukan lawannya.

Sekali mengangkat tangan menyaut, lengan tangan anak laki-laki itu telah ditangkapnya. Dengan gerakan amat cepatnya sehingga sukar diikuti mata, tahu-tahu lengan tangan kanan anak itu telah ditekuk ke belakang, sehingga anak laki-laki itu meringis kesakitan.

"Hayo, cepat kembalikan pita itu kepadanya!" Ling Ling membentak. Kini semua anak melihat betapa sikap gadis cilik ini luar biasa keren dan gagah.

Anak laki-laki itu hendak membangkang, akan tetapi ketika Ling Ling menguntir lengannya, ia berkaok-kaok kesakitan dan cepat mengembalikan pita yang masih berada di tangan kirinya kepada anak perempuan itu.

"Hayo kau berlutut dan minta ampun kepadanya!" kembali Ling Ling membentak sambil mendorong tubuh anak laki-laki itu yang terguling roboh di depan anak perempuan kecil yang diganggunya tadi.

Akan tetapi, tentu saja anak laki-laki itu tidak sudi minta ampun. Begitu ia berdiri, dengan geramnya ia hendak menyerang Ling Ling lagi.

Ia masih merasa penasaran sekali. Masa ia harus mengaku kalah terhadap seorang anak perempuan yang masih kecil ini?

Namun kini Ling Ling menjadi sangat marah.

Sebelum anak laki-laki itu dapat mengenainya dengan pukulan, Ling Ling telah mendahuluinya dengan sebuah tendangan yang mengenai perutnya.

Untung Ling Ling tidak bermaksud mencelakainya, karena kalau tendangan ini dilakukan sekuat tenaga, mungkin sekali anak itu akan mati.

Meskipun tendangan ini perlahan saja, anak itu menjerit-jerit sambil memegangi perutnya, bergulingan di atas tanah bagaikan seekor cacing terkena abu panas.

"Hayo berlutut dan minta ampun kepadanya!

Lekas!" teriak pula Ling Ling.

Karena tidak dapat menahan sakitnya lagi, anak laki-laki itu lalu merangkak dan berlutut di depan anak perempuan yang tadi diganggunya.

"Awas, jangan kau berani mengganggu anak-anak lain lagi. Kalau aku melihat hal itu atau mendengar dari orang lain, aku akan mencabut nyawamu!" kata Ling Ling dengan sikap yang bengis sekali.

Kebetulan sekali pada saat itu ada seorang petani yang lewat di situ dan melihat anak-anak yang berkerumun. Ia tertarik hatinya.

Ia merasa terheran-heran melihat betapa anak laki-laki yang terbesar kini, sambil menangis dengan muka pucat, berlutut di hadapan seorang anak perempuan terkecil, sedangkan semua anak memandang kepada seorang gadis cilik dengan mata terbelalak heran dan kagum.

Petani ini sudah mengenal semua anak-anak di dusun itu, akan tetapi gadis cilik yang manis ini belum pernah dilihatnya.

Ketika ia mendengar ucapan Ling Ling tentang "mencabut nyawa", tiba-tiba ia terbelalak dan mukanya berubah pucat.

Sekilas saja, petani ini maklum bahwa anak laki-laki yang besar itu tentu telah kalah oleh anak perempuan yang aneh dan berpakaian indah itu.

"Toat-beng Mo-li......

(Iblis Wanita Pencabut Nyawa)......

!" katanya perlahan sambil memandang kepada Ling Ling dengan mata terbelalak.

Ketika anak-anak perempuan mendengar ucapan ini, mereka menjerit-jerit. Terutama anak laki-laki yang tadi diberi hajaran, kini memandang kepada Ling Ling lalu berlari terbirit-birit. Ling Ling telah mendengar dari ibunya betapa ibu dan neneknya dianggap iblis wanita.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment