Halo!

Tembok Besar - Chapter 08

Memuat...
Tembok Besar

Chapter 08

Hal itu amat menyebalkan hati Ling Ling dan dianggapnya sebagai hinaan. Kemarahannya timbul, tetapi ia tersenyum girang ketika melihat anak perempuan kecil yang dibelanya tadi tidak lari meninggalkannya. Anak itu mendekatinya, menggenggam tangannya, dan berkata, "Enci Ling Ling, aku tidak percaya bahwa kau adalah seorang siluman!" Ling Ling memandangnya, lalu tanpa terasa memeluk dan menciumi anak itu. Ia belum pernah merasakan senangnya mempunyai seorang kawan, dan kini melihat anak ini ia merasa suka sekali.

"Kau tidak takut kepadaku?" tanyanya. Anak itu menggelengkan kepala. "Mengapa mesti takut? Kau cantik dan baik, tidak seperti anak-anak lain yang suka menggangguku."

Pada saat itu, dari sebelah selatan datang serombongan orang. Ternyata mereka adalah lelaki yang datang karena diberitahu oleh petani tadi bahwa di situ terdapat Toat-Beng Mo-li. Semua orang berlari-lari karena mengira Toat-beng Mo-li hendak mengganggu anak-anak mereka. Akan tetapi, ketika melihat bahwa di situ hanya terdapat seorang anak perempuan yang cantik mungil, mereka berhenti dan memandang heran.

"Itulah dia, anak perempuan yang cantik itu!" kata petani tadi sambil menunjuk ke arah Ling Ling. Semua orang memandang dengan mata tidak percaya. Ayah anak perempuan yang masih bergandengan dengan Ling Ling itu segera melangkah maju dan berkata kepada anaknya, "A-cui, kau kesini!" Anak perempuan itu memandang Ling Ling dan berkata, "Dia adalah ayahku, Enci Ling Ling."

Sementara itu, Ling Ling kembali marah melihat orang-orang itu memandangnya dengan muka aneh. Ia merasa sangat sebal, maka ia menjawab kasar, "Jangan pergi kepadanya!" Mendengar suara Ling Ling yang nyaring, makin takutlah orang-orang itu. Terutama ayah A-cui, ia segera menjatuhkan diri berlutut dan dari jauh memberi hormat kepada Ling Ling sambil berkata, "Harap jangan mengganggu anakku, biarlah aku akan bersembahyang tiap malam untuk menghormatimu!"

Ling Ling tentu saja tidak mengerti arti kata-kata itu, maka ia hanya memandang dengan masih marah. Sementara itu, ketika A-cui melihat kemarahan Ling Ling dan pandang matanya yang memancarkan cahaya berapi-api, ia mulai takut dan berkata, "Enci Ling Ling, aku mau pergi kepada ayahku!" Dan larilah A-cui kepada ayahnya.

Ling Ling mengulurkan tangan hendak menangkap A-cui, akan tetapi orang-orang lelaki yang berdiri kurang lebih lima tombak darinya, ketika melihat ia mengulurkan tangan seakan-akan hendak menangkap A-cui, segera menyerbu dengan senjata tajam di tangan. Menurut kehendak hatinya yang marah, Ling Ling hendak melawan orang-orang ini. Akan tetapi, ia pernah mendengar pesanan ibunya bahwa ia dilarang berkelahi dengan orang-orang dusun, dan pernah pula mendengar neneknya berkata bahwa orang-orang dusun adalah orang-orang bodoh.

Sebutan mereka yang menganggapnya iblis wanita oleh orang-orang kampung itu bukanlah penghinaan, melainkan sebutan yang timbul dari kepercayaan bodoh dan tahayul. Sungguh pun Ling Ling tak dapat mengerti jelas keterangan neneknya ini, namun melihat orang-orang kampung itu dan melihat A-cui, Ling Ling merasa kasihan juga. Maka dengan hati mendongkol, kecewa, dan marah yang ditahan-tahan, ia lalu menggerakkan tubuhnya. Sekali ia melompat, tubuhnya telah berkelebat jauh dan sebentar saja lenyap di antara pepohonan.

Melihat gerakan ini, percayalah kini semua orang dusun itu dan terdengar seruan-seruan, "Toat-beng Mo-li....." Beberapa orang di antara mereka bahkan sudah menjatuhkan diri berlutut dengan mulut berkemak-kemik membaca doa. Semenjak saat itu, semua penduduk Tai-kun-an percaya bahwa Toat-beng Mo-li adalah iblis wanita yang amat sakti dan pandai pian-hoa. Sebentar menjadi iblis yang buruk rupa dan tua sekali, sebentar berobah menjadi seorang wanita yang cantik jelita seperti bidadari, kadang-kadang menjelma menjadi seorang anak perempuan yang manis dan mungil.

Akan tetapi, ketika mendengar penuturan A-cui, mereka berpendapat bahwa "iblis wanita" itu bukanlah iblis yang jahat dan agaknya tidak mau mengganggu orang, kecuali orang yang jahat. Sepanjang pengetahuan mereka, yang pernah diganggu adalah Tan-wangwe dan tukang-tukang pukulnya. Semua orang sudah tahu akan kejahatan dan kekejaman hartawan ini beserta kaki tangannya. Orang kedua yang mengalami hajaran adalah anak laki-laki yang telah mengganggu A-cui. Maka, kini nama Toat-beng Mo-li atau Cialing Mo-li dipergunakan oleh mereka untuk menakut-nakuti orang yang hendak berbuat jahat. Berkat ketahyulan inilah maka orang-orang yang berwatak jahat di dusun itu menjadi ketakutan dan mereka jarang berani melakukan kejahatan lagi.

Sementara itu, Ling Ling kembali ke tempat tinggal orang tuanya di dalam hutan sambil cemberut dan mendongkol sekali. Ketika ibunya melihatnya, ia ditegurnya, "Ling Ling, kau datang dari manakah dan mengapa kau tampak marah?" Ditanya demikian, Ling Ling lalu menangis dan menjatuhkan diri di atas pangkuan ibunya. Sui Giok terkejut sekali dan dengan penuh kasih sayang ia mengelus-elus rambut Ling Ling. Terlihat olehnya betapa rambut anaknya yang bagus itu terurai tanpa ikatan pita merah seperti biasa. "Eh, kenapa kau menangis dan ke mana pula perginya pita rambutmu?"

Ling Ling lalu menceritakan pengalamannya yang didengar oleh ibunya dengan kening berkerut dan beberapa kali terdengar ia menarik napas panjang. "Itulah sebabnya maka aku selalu melarang kau pergi ke dusun Tai-kun-an, anakku. Penduduk di situ menganggap kita sebagai iblis wanita, akan tetapi hal ini tidak perlu diributkan. Mereka adalah orang-orang bodoh yang patut dikasihani. Mereka sebetulnya tidaklah jahat."

"Ibu, aku sudah bosan tinggal di dalam hutan yang sunyi sepi ini. Mengapa ibu tidak pindah saja ke tempat ramai di mana aku bisa bermain-main dengan anak-anak lain?" Sui Giok mencium pipi anaknya. "Belum waktunya, Ling Ling. Kau belajarlah dengan rajin dan apabila kepandaianmu sudah cukup, tentu aku takkan selamanya menahanmu di sini, bahkan kalau kau sudah cukup pandai, kita akan bersama keluar dari sini, pergi ke kota-kota besar dan kau akan gembira dan senang. Tunggulah sampai kau dewasa dan pandai, nanti kita akan pergi mencari ayahmu."

Mendengar disebutnya ayah, Ling Ling lalu bangkit dan duduk di depan ibunya. Ia menyusut air matanya dan dengan sepasang matanya yang bening itu dipandangnya muka ibunya. "Ibu, di manakah adanya ayah sekarang? Mengapa ia meninggalkan kita?" Ia teringat akan ayah dari A-cui yang demikian menyinta anaknya.

Sui Giok menghela napas. Memang ia belum menceritakan riwayatnya kepada Ling Ling, hanya memberitahukan tiap kali anaknya menanyakan ayahnya, bahwa ayahnya itu sedang pergi jauh dan bahwa kelak mereka akan menyusulnya. "Ling Ling, sudah berkali-kali kukatakan bahwa kalau kau sudah pandai dan sudah dewasa, tentu akan kuceritakan semua hal itu. Sekarang belum waktunya, nak. Kau berjanjilah kepada ibumu untuk belajar ilmu kepandaian dengan tekun. Kau harus lebih memperdalam ilmu membaca agar kau dapat membaca kitab Kimkiam-coan-si dan melatih ilmu pelajaran yang terdapat di dalam kitab itu."

Ling Ling adalah seorang anak yang berhati keras dan berotak cerdik, akan tetapi terhadap ibunya ia amat penurut dan berbakti. Maka mendengar ucapan ini, ia sudah merasa puas dan tidak mau mendesak lagi. Semenjak saat itu, ia belajar makin giat dan tekun, dan mulailah ia mempelajari kitab ilmu pedang itu bersama-sama ibunya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment