Chapter 09
Bagi Sui Giok, semua syarat ini ada walaupun tidak begitu kuat. Akan tetapi, tentang ketekunan dan ketenangan, bagaimana ia bisa tenang kalau hatinya selalu risau dan amat rindu kepada suaminya? Ia tidak tahu bagaimana nasib suaminya, dan sebagai seorang istri muda yang baru setahun lebih menikah dan berkumpul dengan suaminya, tentu saja ia merasa amat rindu.
Kegelisahannya memuncak apabila ia teringat akan nasib suaminya yang tercinta itu. Inilah yang menjadi penghalang besar baginya untuk dapat mencapai kemajuan ilmu pedang seperti yang telah dicapai oleh Ling Ling. Selama sembilan tahun, tiada hentinya Ling Ling belajar. Ibunya sendiri kadang-kadang sampai berkhawatir melihat betapa gadis itu kadang-kadang berlatih ilmu pedang sampai sehari penuh, melakukan siulan sampai semalam penuh belum juga "sadar" kembali, dan lain-lain kegiatan yang benar-benar mengagumkan.
Sembilan tahun lewat dengan cepatnya dan pada saat ini, kepandaian ilmu silat Ling Ling sudah jauh sekali melampaui kepandaian ibu dan neneknya. Bahkan menurut pendapat Bu Lam Nio, ilmu kepandaian pedang Ling Ling sudah melampaui kepandaian Panglima Kam Kok Han.
Kerajaan Sui, yakni kerajaan yang dipimpin oleh Kaisar Yang-te, demikian buruk keadaannya dan demikian kejam terhadap rakyat jelata cara pemerintahannya sehingga di sana-sini timbullah kesatuan-kesatuan orang-orang gagah yang sikapnya menentang alat-alat pemerintah. Mereka ini, yakni orang-orang kalangan kang-ouw dan liok-lim, melakukan bermacam-macam usaha untuk mengurangi penderitaan rakyat. Ada yang bergerak perseorangan, merupakan hiapkek-hiapkek (pendekar-pendekar) penolong rakyat dan dengan mengandalkan ilmu kepandaiannya memusuhi pembesar-pembesar jahat. Ada yang bergerak merupakan persatuan-persatuan, dan ada pula yang bergerak di bidang kebatinan untuk memberi hiburan dan penerangan kepada rakyat.
Perkumpulan agama Pek-sim-kauw (Agama Hati Putih) sudah amat terkenal dan mempunyai banyak sekali anggotanya. Cabang-cabangnya dibuka sampai jauh ke kota-kota dan dusun-dusun. Pendeta-pendeta Pek-sim-kauw berpakaian seperti tosu (pendeta penganut Agama To), yakni dengan jubah panjang dan lebar berwarna kuning dengan sulaman gambar hati berwarna putih di dada. Rambutnya dipelihara panjang, digelung di atas kepala dengan tusuk konde perak. Sepatunya berwarna hitam, kaos kaki hitam pula.
Yang membuat Pek-sim-kauw amat terkenal adalah sepak terjang mereka. Para pendeta Pek-sim-kauw terkenal amat gagah berani dan berkepandaian tinggi. Hal ini tidak mengherankan oleh karena ketua Pek-sim-kauw yang bernama Liang Gi Cinjin adalah seorang tokoh persilatan dari pegunungan Kunlun-sa. Dia adalah sute dari ketua Kunlun-pai dan ilmu silatnya sudah mencapai tingkat yang amat tinggi. Untuk memajukan dan menjaga nama baik Pek-sim-kauw, Liang Gi Cinjin telah menciptakan semacam ilmu silat yang disebutnya ilmu silat Pekhoat (Ilmu Pukulan Hati Putih) yang sesungguhnya masih berdasarkan Kunlun-kun-hoat.
Semua pendeta yang menjadi pengurus Pek-sim-kauw mempelajari ilmu silat ini, dan mereka ini mempunyai kedudukan yang disesuaikan dengan tingkat kepandaian dan pengetahuan mereka tentang ilmu silat dan kebatinan. Oleh karena Pek-sim-kauw menganut semacam agama yang sesungguhnya hanya pelaksanaan daripada ajaran-ajaran To-kauw, maka perkumpulan ini mendapat banyak pendukung. Terutama sekali karena memang dalam kenyataannya, para pendeta Pek-sim-kauw adalah orang-orang yang gagah perkasa dan penolong-penolong rakyat jelata, maka perkumpulan ini makin dihormati dan disegani. Tentu saja semua ini terutama sekali karena kekuatan perkumpulan ini. Semua orang kangouw maklum akan kelihaian para pendeta Pek-sim-kauw dan tidak sembarang orang jahat berani mencoba-coba menentangnya. Bahkan di mana saja Pek-sim-kauw membuka cabangnya, tentu para penjahat di tempat itu cepat-cepat pergi dan pindah ke tempat lain yang lebih aman bagi mereka.
Saking banyaknya pendukung, dalam waktu beberapa tahun saja, jumlah pendeta Pek-sim-kauw telah mencapai seratus orang lebih. Untuk membedakan tingkat mereka, maka diadakan perbedaan dalam warna tusuk konde mereka. Pendeta-pendeta tingkat satu, yakni anak murid Liang Gi Cinjin sendiri yang jumlahnya ada lima orang, memakai tusuk konde berwarna putih terbuat dari perak. Pendeta-pendeta tingkat dua memakai tusuk konde berwarna kuning terbuat daripada gading, dan pendeta-pendeta tingkat ketiga, yakni tingkat terendah bagi pendeta-pendeta Pek-sim-kauw, memakai tusuk konde berwarna hitam terbuat dari pada kayu hitam. Pakaian mereka semua sama, tiada perbedaan sama sekali.
Untuk memperkembangkan agama Pek-sim-kauw, para pendetanya lalu mendirikan cabangnya di kota Kong-goan dan seperti juga di lain tempat, sebentar saja perkumpulan ini telah melakukan banyak sekali hal-hal yang patut dipuji. Membasmi penjahat-penjahat, mempergunakan pengaruhnya untuk mengancam para pembesar yang suka berlaku sewenang-wenang, membujuk para hartawan dengan pengetahuan keagamaan untuk membuat para hartawan itu suka mengulurkan tangan menolong rakyat miskin, dan mengusahakan derma dan sumbangan untuk para penderita kemiskinan dan kelaparan.
Tak lama kemudian, cabang di Kong-goan yang dipimpin oleh lima orang pendeta tingkat dua ini membuka pula ranting-rantingnya, di antaranya di dusun Tai-kun-an. Pendeta yang bertugas di dusun ini adalah seorang pendeta tingkat tiga bernama Pek Kin Cu. Seperti semua pendeta Pek-sim-kauw, ia pun menggunakan she (nama keturunan) Pek. Pek Kin Cu sudah berusia lima puluh tahun, ilmu silatnya tinggi dan ilmu pengetahuannya tentang agama Pek-sim-kauw sudah cukup dalam. Hanya sedikit disayangkan bahwa Pek Kin Cu ini berhati lemah dan kurang cerdik sehingga ia amat mudah terpengaruh oleh kata-kata manis dan mudah sekali tergerak hatinya apabila melihat orang bermuram durja di depan.
Para penduduk Tai-kun-an sudah seringkali mendengar tentang kegagahan pendeta-pendeta Pek-sim-kauw, maka kedatangan Pek Kin Cu tentu saja mereka sambut dengan girang sekali. Yang paling girang hatinya adalah keluarga hartawan Tan yang dulu terbunuh oleh Cialing Mo. Mereka ini diam-diam menaruh hati dendam dan ingin sekali membasmi siluman itu, akan tetapi sudah belasan tahun mereka tidak berdaya karena siapakah yang berani melawan siluman itu? Sudah beberapa kali mereka mencari orang-orang gagah, akan tetapi tidak ada orang gagah yang berani mencoba-coba mengganggu siluman di dalam hutan yang demikian liar dan angkernya.
Baru beberapa hari setelah pendeta Pek Kin Cu membuka cabang agamanya di Tai-kun-an, datanglah janda Tan-wangwe bersama beberapa orang keluarganya menghadap Pek Kin Cu. Dengan menangis mereka menceritakan tentang gangguan Iblis Wanita Sungai Cialing itu kepada pendeta ini dan minta bantuannya untuk mengusir atau kalau mungkin membinasakan iblis itu.
Pek Kin Cu mengerutkan kening dan mengurut-urut jenggotnya yang panjang. "Apa? Iblis wanita yang disebut Toat-beng Mo-li atau Cialing Mo-li? Sungguh aneh. Benar-benarkah ada siluman yang berani membunuh manusia di siang hari pula? Belum pernah aku mendengar keanehan seperti ini." Akan tetapi, ketika pendeta itu mencari keterangan di seluruh dusun, tak seorang pun yang menyangkal kebenaran cerita itu. Semua orang menyatakan bahwa memang di dalam hutan sebelah utara itu, di Lembah Sungai Cialing, terdapat iblis wanita yang disebut Toat-beng Mo-li (Iblis Wanita Pencabut Nyawa) dan Cialing Mo-li (Iblis Wanita Sungai Cialing).
Betapapun juga, siluman itu harus dibasmi, harus dilenyapkan agar jangan mengganggu manusia lagi. Iblis wanita yang sudah membunuh Tan-wangwe merupakan bahaya besar bagi penduduk Tai-kun-an. Demikianlah, dengan hati bulat dan penuh kemauan menolong penduduk Tai-kun-an, Pek Kin Cu pada suatu pagi memasuki hutan di sebelah utara dusun itu. Hutan itu memang amat liar dan penuh semak-semak belukar. Akan tetapi, yakin akan kepandaiannya, Pek Kin Cu tidak merasa gentar sedikitpun juga. Pendeta ini mencabut pedangnya dan bersiap sedia menghadapi serangan iblis itu sambil berlari cepat, mempergunakan ilmu ginkangnya yang sudah tinggi. Pohon-pohon kecil dan tumbuhan berduri yang menghalangi perjalanannya, dibabatnya dengan pedang itu. Ia berlari terus di sepanjang pantai sungai Cialing.
Matahari telah naik tinggi ketika ia tiba di dekat tempat tinggal Bu Lam Nio, Liem Sui Giok dan Ling Ling. Ketika ia tiba di bawah sebatang pohon pek yang besar sekali, tiba-tiba ia merasa ada angin menyambar dari atas. Cepat sekali pendeta ini melompat mundur dan memalangkan pedangnya di depan dada sambil berdongak memandang ke atas. Tak terasa lagi Pek Kin Cu mengucapkan doa dan mantera ketika ia menyaksikan mahluk yang melompat turun dari atas pohon itu. Tak salah lagi, pikirnya. Inilah siluman wanita itu. Ia melihat seorang yang tua sekali, berpakaian hitam, mukanya tidak karuan dan menyeramkan, tidak menyerupai manusia, melayang turun dengan gerakan yang luar biasa.
Sesungguhnya, yang melompat turun itu adalah Bu Lam Nio, wanita tua yang berwajah buruk. Ia tadi tengah memetik buah ketika mendengar tindakan kaki pendeta itu datang dari jauh. Cepat Bu Lam Nio melompat naik ke dalam pohon Pek yang besar itu dan mengintai. Ketika melihat seorang pendeta dengan pedang di tangan mendatangi cepat sekali, ia lalu keluar dari tempat persembunyiannya.