Halo!

Tembok Besar - Chapter 10

Memuat...
Tembok Besar

Chapter 10

Ia tidak suka ada orang lain memasuki hutan itu dan melihat Sui Giok dan putrinya. Hatinya masih penuh kecurigaan kalau-kalau orang ini adalah suruhan dari kaisar untuk menangkap Sui Giok.

"Kaukah siluman yang suka mengganggu penduduk dusun?" tosu itu membentak setelah dapat menenangkan hatinya yang tadi berdebar keras.

Disebut siluman, Bu Lam Nio tertawa bergelak. Suara tawanya keras, nyaring, dan bergema di seluruh hutan, menyeramkan sekali. Akan tetapi, ia tidak menjawab, hanya memandang kepada pendeta itu dengan matanya yang hampir tertutup oleh keriput mukanya.

"Eh, iblis wanita!" Pek Kin Cu berseru keras untuk melawan suara tawa yang menggetarkan hatinya itu. "Kau tentu iblis yang disebut Toat-beng Mo-li atau Cialing Mo-li. Jangan kau berlagak di depan Pek Kin Cu. Seorang pendeta Pek-sim-kauw tidak boleh dibuat main-main dan tidak takut menghadapi segala macam siluman jahat seperti kau."

Mendengar ucapan-ucapan yang dianggapnya tidak karuan itu, Bu Lam Nio berkata dengan suaranya yang parau karena ia sudah tua sekali. "Kau boleh sebut aku apa saja, akan tetapi sekarang juga kau harus pergi dari sini. Pergi!" Wanita itu menggerak-gerakkan tangannya mengusir Pek Kin Cu.

"Aku tidak takut kepadamu dan tidak akan pergi. Aku memang sengaja datang untuk mengusir dan mengirimkan kau kembali ke neraka. Di nerakalah tempatmu, bukan di atas bumi tempat tinggal manusia. Kau telah membunuh seorang she Tan di dusun Tai-kun-an, dan karenanya kau harus menerima hukuman di bawah pedangku!"

Kalau Pek Kin Cu tidak menyebutkan nama Tan-wangwe, mungkin keadaannya akan masih baik baginya. Akan tetapi, sekali ia menyebut nama ini, marahlah Bu Lam Nio. Ia mengira bahwa pendeta ini tentulah seorang jagoan yang datang untuk membalaskan dendam Tanwangwe.

"Keparat!" teriaknya marah sekali. "Kau tadi menyebutku Iblis Wanita Pencabut Nyawa, memang aku akan mencabut nyawamu yang jahat!" Sambil memekik seram, ia lalu menyerang tosu itu.

Pek Kin Cu sudah siap sedia dan begitu melihat tubuh wanita itu bergerak, ia segera membalas dengan bacokan pedangnya. Akan tetapi, dengan gesit sekali Bu Lam Nio mengelak ke kiri dan mengirim pukulan dengan tangan kanannya.

Pek Kin Cu terkejut bukan main ketika merasa betapa angin pukulan itu telah mendahului tangan iblis itu, menyambar ke arah lambungnya dengan kekuatan yang mengherankan sekali. Ia cepat melompat ke belakang dan tahulah ia bahwa siluman ini benar-benar lihai sekali, memiliki kegesitan dan tenaga lweekang yang tinggi.

Ia lalu memutar pedangnya dan mengeluarkan ilmu pedang Pekhoat yang amat diandalkan. Perlu diketahui bahwa murid-murid Pek-sim-kauw yang belum menguasai sedikitnya lima puluh bagian dari pada ilmu silat Pekhoat dan ilmu pedang Pekhoat, tidak boleh mengaku sebagai murid Pek-sim-kauw dan tidak boleh pula di dalam pertempuran mempergunakan ilmu silat ini. Pendeknya, mereka ini belum diakui sebagai murid. Kalau sudah menguasai lima puluh bagian atau setengahnya dari ilmu silat keluaran Pek-sim-kauw, barulah ia akan diakui sebagai murid dan mendapat tingkat ketiga. Oleh karena itu, biarpun tingkatnya hanya tingkat tiga, namun ilmu silat dan ilmu pedang Pek Kin Cu sudah hebat sekali. Kalau hanya ahli silat kebanyakan saja, jangan harap akan dapat melawan pendeta ini.

Bu Lam Nio maklum akan kelihaian Pek Kin Cu. Ilmu silat dan ilmu pedang pendeta itu memang amat tangguh dan hampir saja Bu Lam Nio sendiri sukar menghadapinya. Akan tetapi, dalam hal ginkang dan lweekang, Bu Lam Nio masih menang setingkat. Dan inipun kalau wanita tua ini belum pernah mempelajari Kimkiam-sut, biarpun baru sedikit, agaknya ia pun takkan dapat menang. Berkat pengetahuannya tentang Kimkiam-sut yang benar-benar merupakan raja ilmu pedang itu, ia dapat mengikuti gerakan pedang lawannya dan dengan ginkangnya yang tinggi, ia dapat mengelak dan membalas dengan serangan-serangan maut.

Memang hebat sekali pertempuran ini. Kalau pedang Pek Kin Cu boleh diumpamakan seekor naga, maka tubuh Bu Lam Nio merupakan segulung awan hitam yang mengelilingi naga itu. Telah lima puluh jurus lebih Pek Kin Cu menyerang, akan tetapi belum pernah ujung pedangnya dapat menyentuh baju Bu Lam Nio yang hitam. Sebaliknya, sudah beberapa kali pendeta ini terkena dorongan angin pukulan Bu Lam Nio sehingga terhuyung-huyung.

"Siluman wanita, kau jahat sekali!" Pek Kin Cu membentak sambil memperhebat gerakannya.

"Tosu palsu, kaulah yang jahat!" Bu Lam Nio juga bergerak makin cepat dan mendesak lawannya dengan pukulan-pukulan dari ilmu silat keturunan keluarga Kam.

Di dalam gebrakan selanjutnya, tiba-tiba terdengar Pek Kin Cu berteriak keras dan tubuhnya terkena pukulan Bu Lam Nio sehingga terpental jauh dan jatuh dalam keadaan pingsan. Pendeta ini telah terkena pukulan di bagian dadanya dan masih untung bahwa lweekangnya cukup tinggi dan tadi melihat sambaran pukulan tangan Bu Lam Nio yang istimewa, ia masih dapat cepat-cepat menutup jalan darah dan menahan napasnya yang dikumpulkan di dada untuk melindungi jantung dan paru-parunya, maka ia hanya jatuh pingsan karena kerasnya pukulan membuat kepalanya tergoncang hebat.

Bu Lam Nio tertawa nyaring sekali sehingga suara tawanya kali ini bergema lebih keras lagi. Kemudian ia melompat mendekati pendeta itu, mengambil pedang yang terlepas dari tangan Pek Kin Cu, mengangkatnya ke atas hendak dipancungkan ke arah leher pendeta itu.

"Nenek Lam, jangan bunuh orang!" tiba-tiba terdengar seruan halus dan nyaring sekali, dan belum hilang gema suara itu, bayangan orangnya telah berkelebat cepat dan berdiri di belakang Bu Lam Nio. Ternyata ia adalah seorang gadis yang luar biasa cantiknya, akan tetapi wajahnya tampak agung dan angkuh. Sekali saja gadis ini mengulur tangannya, pedang di tangan Bu Lam Nio telah dapat dirampasnya. Dapat dibayangkan betapa lihainya gadis ini yang dapat merampas pedang dari tangan nenek itu demikian mudahnya.

Bu Lam Nio menengok dan berkata menegur, "Ling Ling! Mengapa kau mencegahku? Pendeta ini datang hendak mencelakakan kita, patut dibunuh!"

"Jangan, Nenek Lam. Membunuh orang tanpa sebab yang kuat dan beralasan adalah dosa yang besar. Sudah cukup merobohkan dia dan mengirim dia kembali ke luar hutan. Ibu akan menjadi marah kalau melihat nenek membunuh orang."

"Ayaaa...! Orang lemah!" nenek tua itu mencela, akan tetapi ia tidak berani membantah lagi. Dengan ringan dan mudah sekali ia lalu menangkap leher pendeta itu, mengempit tubuh itu dengan lengan kirinya dan berlari secepat terbang keluar dari hutan. Ling Ling mengikuti nenek itu dengan gerakannya yang ringan dan cepat, bagaikan bayangan nenek yang menyeramkan itu.

Di luar hutan terdapat banyak sekali penduduk Tai-kun-an yang menanti kembalinya Pek Kin Cu. Mereka itu semua menaruh kepercayaan penuh kepada pendeta Pek-sim-kauw yang pergi hendak membasmi siluman wanita itu. Sambil menanti, mereka duduk di atas rumput dan bercakap-cakap, membicarakan perkumpulan Pek-sim-kauw yang terkenal dengan pendeta-pendetanya yang. Sudah menjadi kebiasaan manusia bahwa dalam percakapan seperti itu, orang selalu menambah-nambahkan dan melebih-lebihkan apa yang mereka pernah dengar dan menceritakan keanehan-keanehan pendeta Pek-sim-kauw seakan-akan mereka pernah menyaksikannya sendiri.

Seorang di antara mereka bahkan menceritakan betapa Liang Gi Cinjin, ketua dari Pek-sim-kauw, pernah menyelam ke dalam laut selama sepekan untuk mengadakan perundingan dengan Hai-liong-ong (Raja Naga Laut Pengatur Hujan) dan untuk menolong daerah timur yang kekurangan air. Setelah Liang Gi Cinjin keluar dari laut, maka segera turun hujan lebat di daerah yang kekurangan air. Ada pula yang bercerita betapa pendeta-pendeta Pek-sim-kauw telah mengusir siluman-siluman dengan ilmu gaib mereka.

Masih banyak sekali dongeng-dongeng tentang perkumpulan agama Pek-sim-kauw sehingga hati mereka menjadi besar dan makin percayalah mereka kepada Pek Kin Cu yang masih berada di dalam hutan untuk mengusir Toat-beng Moli atau Cialing Mo-li, siluman yang telah bertahun-tahun merupakan gangguan dan yang mereka amat takutkan itu.

"Pek Totiang tentu akan dapat menangkap Cialing Mo-li," kata seorang di antara mereka, "dan akan membawanya ke sini."

"Asal saja Toat-beng Mo-li tidak sedang menjelma menjadi anak kecil," kata orang kedua, "sungguh tidak enak melihat seorang anak kecil tertangkap dan hendak dibunuh." Ramailah kini mereka bicara tentang Toat-beng Mo-li, iblis wanita pencabut nyawa yang menyeramkan itu.

Tiba-tiba terdengar suara di atas pohon besar tak jauh dari tempat mereka berkumpul sehingga semua orang menjadi terkejut dan ketakutan. Suara berkeresekan di pohon itu, lalu disusul oleh melayangnya tubuh orang yang jatuh di depan mereka. Alangkah kagetnya orang-orang ini ketika melihat bahwa yang dilemparkan ke arah mereka itu bukan lain adalah tubuh Pek Kin Cu, pendeta yang menjadi jagoan mereka yang kini menggeletak dalam keadaan pingsan.

Ributlah orang-orang itu menolong Pek Kin Cu. Setelah kepalanya disiram air dan siuman dari pingsannya, pendeta itu menjawab pertanyaan orang-orang dusun dengan gelengan kepala dan suaranya amat sedih ketika ia berkata perlahan, "Sungguh berbahaya. Iblis wanita itu sungguh lihai sekali......"

Bukan main kecewa rasanya hati orang-orang itu dan dengan lemas mereka lalu kembali ke Tai-kun-an. Setelah tiba di kampung, barulah Pek Kin Cu menceritakan pengalamannya, bahwa ia tidak kuat menghadapi iblis wanita yang benar-benar kuat sekali itu. "Akan tetapi harap kalian jangan khawatir," katanya menghibur orang-orang itu, "perkumpulan Pek-sim-kauw takkan membiarkan kejahatan merajalela, biarpun yang melakukan pengacauan adalah seorang iblis atau siluman, kami pasti akan bertindak untuk menolong kalian."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment