Halo!

Tembok Besar - Chapter 12

Memuat...
Tembok Besar

Chapter 12

Ketika tubrukan itu luput, Bu Lam Nio terjerembap ke depan dan terguling, tergeletak dalam genangan darahnya sendiri.

Pada saat itu, datanglah Sui Giok dan Ling Ling.

"Nenek...!" Ling Ling menjerit ngeri melihat keadaan neneknya dan tanpa banyak bicara, ia mencabut pedangnya, pedang yang dahulu dirampas Sui Giok dari tangan Tan-wangwe, lalu menyerbu tiga pendeta Pek-sim-kauw. Bukan main hebatnya serangan itu.

Pedang di tangannya bagaikan kilat menyambar-nyambar, sulit ditebak arah serangannya.

Ketiga pendeta itu tadinya berdiri tercengang melihat kedatangan dua wanita cantik. Mereka pikir kedua wanita itu siluman, lalu mulai gelisah dan menyesal telah membunuh Bu Lam Nio.

Kini, melihat serangan gadis muda yang begitu cantik itu, kegelisahan mereka berubah menjadi kekagetan yang besar.

Mereka cepat menangkis, terdengar bunyi nyaring sekali. Dua pendeta masih bisa menahan, tetapi orang ketiga tidak dapat menahan getaran tangannya sehingga pedang yang digunakannya untuk menangkis terpental jauh.

Sui Giok melompat maju, menerima pedang pendeta yang melayang itu, kemudian tanpa banyak bicara, ia menyerbu dengan penuh amarah.

Pendeta yang pedangnya terpental oleh Ling Ling memiliki hati yang penakut dan pengecut. Melihat pedangnya mudah terampas dan kini berada di tangan wanita cantik itu, ia tidak punya nafsu bertarung lagi. Apalagi melihat kedua kawannya terdesak hebat dalam sekejap. Tanpa banyak pikir, ia membalikkan tubuhnya dan berlari sekencang kilat.

Memang, kedua pendeta Pek-sim-kauw tingkat dua itu bukan tandingan Ling Ling. Begitu Ling Ling bergerak, ia sudah mendesak lawannya hingga tak berdaya membalas, hanya bisa menangkis dan mengelak.

Gerakan Ling Ling terlalu gesit dan sulit ditebak, sedangkan ilmu pedangnya luar biasa. Jika yang dihadapi Ling Ling bukan pendeta Pek-sim-kauw yang mewarisi tujuh puluh bagian dari Pekhoat, ia takkan bisa bertahan lebih dari sepuluh jurus.

Kini, meskipun pendeta itu mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya, pada jurus keempat belas, pedang Ling Ling dengan cepat menyambar lehernya. Saat pendeta itu menangkis, secepat kilat pedang Ling Ling mengubah gerakannya dari sabetan menjadi tusukan ke arah dada pendeta itu. Hal ini sama sekali tidak disangka oleh tosu dari Pek-sim-kauw itu. Ia berusaha mengelak namun tak sempat, apalagi menangkis. Terpaksa ia mengumpulkan hawa di dadanya untuk mencoba menahan tusukan itu.

Ilmu lweekang para tosu Pek-sim-kauw memang tinggi, dan Liang Gi Cinjin sendiri terkenal sebagai ahli lweekeh yang langka tandingannya. Pendeta yang menghadapi Ling Ling ini telah melatih Pihiat (Menutup Hawa Melindungi Jalan Darah) dan ilmu kebal yang disebut Thiat-po-san (Baju Mustika Besi).

Akan tetapi, ia tidak menghadapi lawan sembarangan. Mungkin jika yang menusuk dadanya adalah orang dengan ilmu silat rendah, kulit dadanya akan berhasil menahan dan tidak terluka. Namun, Ling Ling selalu menggerakkan pedangnya mengikuti petunjuk kitab Kimgancoan-si dan selalu disertai getaran yang disalurkan tenaga lweekangnya. Pedang itu kini telah menjadi bagian dari tangannya, seakan ujung pedang itu dapat "memilih" jalan masuk.

"Cep!" Tosu itu berseru keras, memukul tangan kiri ke depan dengan tenaga terakhir untuk membalas lawannya. Akan tetapi, Ling Ling tidak hanya dapat menahan angin pukulan itu, tetapi juga menambah dengan tendangan ke arah perut lawannya. Tubuhnya terpental dua tombak lebih jauh dalam keadaan tewas.

Ketika Ling Ling menengok keadaan ibunya, ternyata Sui Giok juga sedang mendesak hebat pendeta lawannya. Ilmu kepandaian Sui Giok tidak sehebat Ling Ling, karena putrinya jauh lebih berbakat dan berlatih silat sejak kecil. Bagi Sui Giok yang berlatih silat setelah memiliki anak, gerakannya tentu tidak selentur Ling Ling, meskipun kecerdikan dan ketekunannya membuatnya memiliki kepandaian yang jarang dimiliki ahli silat lain. Dalam hal tenaga dan kegesitan, Sui Giok berimbang dengan lawannya, tetapi ilmu pedang Kimkiam-sut memperlihatkan keunggulannya. Dengan ilmu pedang ini, Sui Giok berhasil mendesak lawannya yang kini semakin gelisah.

Ling Ling tidak mau membantu ibunya karena ia tahu ibunya akan segera merobohkan lawannya. Benar saja, setelah bertempur tiga puluh lima jurus, akhirnya dengan gerak tipu Kimyau (Naga Mata Emas Mengulur Pinggang), Sui Giok berhasil menipu dan memanipulasi lawannya. Tubuhnya membelakangi lawannya dengan gerakan yang lemas dan indah. Melihat kesempatan dan celah ini, pendeta itu segera menusuk dari belakang. Ini hanya pancingan untuk mematahkan kekuatan pertahanan tosu itu.

Setiap ahli ilmu silat tentu tahu bahwa serangan dan pertahanan adalah dua gerakan berlawanan. Apabila orang menyerang, pertahanannya pasti berkurang. Sebaliknya, saat bertahan, daya serangnya pun berkurang. Ketika tosu itu menusukkan pedangnya ke arah dada kiri Sui Giok, tiba-tiba wanita itu berseru keras, membalikkan tubuh, membuka lengan kiri sehingga pedang lawan meluncur di bawah pangkal lengan kirinya. Kemudian, pedang di tangan kanannya tak dapat dicegah lagi telah memasuki dada lawannya.

Pendeta Pek-sim-kauw itu menjerit, dan ketika Sui Giok mencabut pedangnya sambil melompat ke belakang, tubuh pendeta itu terguling roboh tak bernyawa lagi.

Kedua anak dan ibu itu segera menghampiri Bu Lam Nio yang masih terbaring mandi darah. Ketika Sui Giok merobohkan pendeta lawannya, Ling Ling sudah berlutut dan memangku kepala neneknya. Kini keduanya hanya menangis sedih. Keadaan Bu Lam Nio sudah jelas, tak dapat disembuhkan lagi. Kulit lambungnya telah terbuka, bahkan isi perutnya ada yang menonjol keluar. Darah membasahi rumput dan pakaiannya. Wajahnya pucat dan makin mengerikan, tetapi Ling Ling dan ibunya tiada henti menciumi muka nenek itu sambil memanggil-manggil namanya.

Bagaikan dipanggil kembali nyawanya oleh tangisan Ling Ling dan Sui Giok, tiba-tiba mata yang tertutup rapat itu terbuka kembali dan melihat Ling Ling memangkunya, Bu Lam Nio tersenyum. Bibirnya berbisik-bisik, tetapi suara yang keluar sangat pelan, sukar ditangkap telinga. Ling Ling dan Sui Giok mendekatkan telinga mereka untuk mendengar pesan terakhir itu.

"Oei-hong-kiam (Pedang Tawon Kuning) dari suamiku telah dirampas oleh pembunuhnya... carilah pemegang Oei-hong-kiam dan... bunuh dia untuk membalas sakit hati Kamciangkun (Panglima Kam)..." Setelah berkata demikian, leher Bu Lam Nio menjadi lemas dan melayanglah nyawa nenek yang malang itu meninggalkan raganya yang sudah rusak.

Dengan hati sedih, Sui Giok dan Ling Ling mengubur jenazah Bu Lam Nio. Ketiga jenazah pendeta Pek-sim-kauw itu pun mereka kubur dengan baik. Hal ini menandakan budi pekerti Sui Giok yang halus dan baik. Nyonya ini bersama anaknya masih merasa heran mengapa pendeta-pendeta berjubah hati putih itu memusuhi Bu Lam Nio.

"Mereka ini tentulah pendeta-pendeta jahat, sebagaimana sering ibu ceritakan padaku!" kata Ling Ling. "Maka kelak kalau kita bertemu pendeta berpakaian seperti ini, kita harus membasmi mereka!"

Memang pada waktu itu, kedudukan para tosu dan hwesio dirusak dan dicemarkan oleh orang-orang jahat yang sengaja menjadi "orang suci" untuk menutupi perbuatan jahat mereka. Dengan jubah pendeta, mereka lebih leluasa membodohi rakyat dan melakukan hal-hal yang sangat mengecewakan. Hal ini diketahui oleh Sui Giok, maka ia sering menasihati anaknya agar berhati-hati menghadapi orang berjubah pendeta, karena jika mereka berhati jahat, sulit bagi kita untuk menyangka.

"Ibu, setelah nenek tiada, tentu ibu tidak berkeberatan mengawani aku keluar dari tempat ini. Marilah kita pindah ke tempat ramai, ibu, dan hidup seperti orang biasa," Ling Ling membujuk dua hari setelah peristiwa itu terjadi.

"Baiklah, Ling Ling. Akan tetapi, aku masih merasa tidak tega meninggalkan makam nenekmu. Biarlah kita tinggal lagi di sini sampai sembilan hari, baru kita tinggalkan tempat ini."

Akan tetapi, tujuh hari kemudian, terjadilah peristiwa hebat yang memaksa ibu dan anak itu pergi sebelum waktu yang mereka tetapkan. Pada hari itu, pagi-pagi sekali, serombongan pendeta mendarat di hutan itu. Mereka datang dengan perahu, dan ternyata mereka adalah pendeta-pendeta Pek-sim-kauw, berjumlah tiga belas orang. Melihat tusuk konde mereka, ternyata mereka adalah pendeta-pendeta Pek-sim-kauw berkepandaian tinggi. Sepuluh orang bertingkat dudan, dan tiga orang adalah pendeta-pendeta Pek-sim-kauw tingkat sa.

Bagaimana begitu banyak pendeta Pek-sim-kauw bisa menyerbu ke sini? Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, seorang pendeta dapat melarikan diri dari hutan itu dan langsung berlari ke kota Kong-goan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment