Halo!

Tembok Besar - Chapter 13

Memuat...
Tembok Besar

Chapter 13

Pek Sui Cu, seorang pendeta dari cabang Pek-sim-kauw di Konggoan, kedatangan beberapa pendeta tingkat dua yang ingin merundingkan keadaan perkumpulan mereka. Mereka terkejut dan marah mendengar tewasnya Pek Kin Cu dan keganasan siluman di hutan.

"Celaka, twa-suheng," ujar salah seorang pendeta dengan wajah pucat, "Ji-suheng dan sam-suheng entah bagaimana nasibnya. Siluman wanita itu bukan main tangguh dan gagah." Ia lalu menceritakan bagaimana seorang "siluman wanita" termuda berhasil merampas pedangnya hanya dengan sekali tangkis.

Pek Sui Cu dan kawan-kawannya berunding. "Terang bahwa mereka itu tentulah wanita jahat yang menyembunyikan diri dan berkepandaian tinggi. Kita harus minta bantuan dari pusat dan bertindak hati-hati. Sebisa mungkin, kita harus minta bantuan dari suheng-suheng kita yang bertingkat satu. Jangan sampai kita menyerbu dan gagal lagi."

Setelah dua hari menanti tanpa kabar dari dua orang kawan mereka yang tidak kembali, seorang pendeta dikirim untuk melaporkan ke pusat minta bantuan. Pusat Pek-sim-kauw berada di kota besar Ceng-tu di sebelah selatan. Liang Gi Cinjin, pemimpin pusat, jarang berada di sana karena lebih suka merantau dan mengunjungi sahabat-sahabatnya di puncak-puncak gunung seperti Kunlun-san dan Gobi-san. Ia sudah bosan mengurus urusan dunia dan lebih suka bermain catur serta bertukar pikiran tentang ilmu batin dan alam dengan para ketua perguruan.

Apabila ia sedang bepergian, urusan Pek-sim-kauw diserahkan kepada lima muridnya yang bertingkat satu: Pek Im Ji, Pek Hong Ji, Pek Yang Ji, Pek Thian Ji, dan Pek Te Ji. Kelimanya adalah pendeta berusia lebih dari lima puluh tahun, memiliki kepandaian tinggi dari ajaran Pekhoat dan Pekhoat, serta pemahaman mendalam tentang kebatinan. Sikap mereka halus, lemah lembut, dan penuh welas asih.

Ketika kelima murid Liang Gi Cinjin mendengar tentang siluman yang membunuh anak murid Pek-sim-kauw, mereka terkejut dan heran. "Bagaimana bisa terjadi hal sehebat itu?" tanya Pek Im Ji, murid tertua yang mewakili gurunya. "Kesalahan apakah yang sudah diperbuat oleh orang-orang kita sehingga mendapat marah dari orang gagah yang menyembunyikan diri di dalam hutan?" Pek Im Ji yakin bahwa yang disebut siluman itu adalah orang gagah yang pandai ilmu silat.

Pendeta utusan dari Kong-goan kemudian menceritakan kronologi kejadian. Penduduk dusun Taikun-an sering diganggu oleh siluman wanita yang disebut Toat-beng Mo-li atau Cialing Mo-li, bahkan seorang she Tan beserta beberapa pengawalnya telah terbunuh. Sute Pek Kin Cu, mendengar laporan penduduk, segera mendatangi hutan tempat tinggal siluman tersebut. Dalam pertempuran, ia tidak dapat melawan seorang wanita tua yang berwajah seperti siluman. Sute Pek Kin Cu terkena pukulan dan pingsan.

Ketika sadar, ia sudah berada di luar hutan. Sute Pek Kin Cu kemudian meminta bantuan ke Kong-goan. Bersama tiga orang saudara dari Kong-goan, mereka menyerbu hutan itu. Ternyata, siluman wanita tua itu memiliki dua orang kawan, seorang wanita dan seorang gadis dengan ilmu silat luar biasa. Sute Pek Kin Cu tewas dalam pertempuran. Ketika tiga orang saudara dari Kong-goan menjatuhkan siluman tua, kedua wanita itu muncul. Saudara-saudara mereka terdesak hebat. Seorang berhasil melarikan diri, namun dua lainnya kemungkinan tewas karena belum kembali hingga kini. "Mohon bantuan dari twa-suhu!" ujar pesuruh itu, yang terhitung murid dari kelima pendeta kepala, sehingga menyebut Pek Im Ji sebagai twa-suhu.

Pek Im Ji menghela napas panjang. "Terlalu gegabah!" kecamnya. "Pek Kin Cu terlalu sembrono. Ia agaknya terpengaruh oleh dongeng orang-orang dusun yang tahyul dan mengira bahwa orang gagah itu benar-benar siluman. Celaka, kita telah menanam permusuhan dengan mereka. Sungguhpun pihak kita telah tewas tiga orang, namun pihak mereka juga tewas seorang. Kalau diselidiki secara adil, tak dapat kita menyalahkan pihak mereka. Kalau pihak kita tidak mengganggu dan kalau Pek Kin Cu tidak menyerbu ke dalam hutan, tak mungkin terjadi peristiwa ini."

"Akan tetapi, twa-suhu," bela pesuruh itu, "siluman itu telah membunuh orang-orang dusun Taikun-an, apakah kita harus diam saja?"

Pek Im Ji mengerutkan keningnya. "Hm, pertanyaan bodoh yang kau ajukan ini. Apakah kau belum mengerti betul tentang hukum sebab dan akibat? Kalau memang orang-orang gagah di dalam hutan itu benar-benar siluman, mengapa mereka tidak membunuh semua penduduk? Pembunuhan terhadap orang she Tan itu hanyalah akibat, dan seperti juga semua akibat yang terjadi di dunia ini, pasti ia bersebab. Apakah mendiang Pek Kin Cu sudah menyelidiki sebabnya? Tahukah dia mengapa orang she Tan itu sampai terbunuh oleh orang gagah yang disebut siluman?"

Pesuruh itu tidak bisa menjawab dan tidak berani membantah, hanya berkata perlahan, "Terserah kepada kebijaksanaan twa-suhu, karena teecu sekalian memang tak berdaya."

Meskipun mulutnya berkata demikian, Pek Im Ji merasa penasaran. Hal ini sungguh memalukan nama Pek-sim-kauw. Tiga orang pendeta tingkat dua dan seorang pendeta tingkat tiga tidak berdaya menghadapi tiga orang wanita, bahkan salah satunya seorang gadis muda.

"Sam-sute, Si-sute, dan Ngo-sute, harap suka membereskan urusan ini. Temuilah orang-orang gagah di dalam hutan dekat Taikun-an itu dan tanyakanlah mengapa sampai terjadi pertumpahan darah dan pembunuhan yang tidak perlu. Kalau memang pihak kita yang salah, mintakan maaf atas nama Pek-sim-kauw. Akan tetapi kalau ternyata mereka itu orang-orang dari golongan hek-to (jalan hitam, orang-orang jahat), jangan sembarangan membunuh, akan tetapi usahakan agar mereka itu dapat ditangkap. Kita akan menanti keputusan suhu kalau dia sudah pulang."

Saudara ketiga, keempat, dan kelima dari kelima murid Liang Gi Cinjin itu segera menyatakan kesanggupannya dan berangkat ke Kong-goan. Mereka adalah Pek Yang Ji, Pek Thian Ji, dan Pek Te Ji, tiga dari lima saudara seperguruan yang dijuluki Pek-sim Ngo-lojin (Lima Kakek Hati Putih). Kelima murid Liang Gi Cinjin bukanlah orang sembarangan; mereka memiliki kepandaian tinggi dan keistimewaan masing-masing.

Pek Yang Ji, murid ketiga, memiliki tenaga lweekang yang disebut Tailekjiu (Pukulan Halilintar), yang sangat dahsyat dan mampu merobohkan lawan dari jarak jauh. Pek Thian Ji, murid keempat, unggul dalam kepandaian ginkang, sehingga tubuhnya bergerak lebih cepat dari angin. Jika bepergian sendirian, ia dijuluki Bu-eng-cu (Tanpa Bayangan) karena sulit sekali melihat gerakannya, bahkan bayangannya pun. Pek Te Ji, murid kelima, memiliki kepandaian ilmu menotok yang disebut Im-yangtiam-hoat. Cara menotoknya khusus dan tidak dapat dilawan oleh ilmu kekebalan apa pun.

Ketika ketiga pendeta sakti ini tiba di rumah perkumpulan Pek-sim-kauw di Konggoan, mereka mendapati sepuluh orang pendeta tingkat dua, kawan-kawan Pek Sui Cu, yang datang untuk mencari kabar. Mereka bertugas di dusun dan kota sekitar Kong-goan. Kesepuluh pendeta itu segera berlutut di hadapan ketiga kakek dari Ceng-tu tersebut, karena mereka dianggap sebagai guru mereka. Meskipun pendeta tingkat dua juga murid Liang Gi Cinjin, sebagian besar ilmu silat mereka dilatih oleh kelima Peklojin, sementara Liang Gi Cinjin hanya sesekali menguji mereka.

Mendengar ketiga kakek ini hendak mencari siluman di hutan sebelah utara Taikun-an, sepuluh pendeta tingkat dua itu serentak menyatakan ingin ikut untuk melihat sendiri siluman wanita yang telah membunuh saudara-saudara mereka. Di antara Pek-sim Ngo-lojin, hanya Pek Im Ji yang sangat keras dan disiplin. Jika Pek Im Ji yang hendak mencari siluman, ia pasti melarang anak buahnya ikut. Namun, ketiga pendeta tingkat satu ini tidak melarang mereka. Maka, berangkatlah tiga belas orang pendeta itu ramai-ramai memasuki hutan di sebelah utara Taikun-an dengan perahu yang didayung sepanjang sungai Cialing.

Ketika mereka mendarat dan menuju tempat tinggal Bu Lam Nio, diantar oleh pendeta yang melarikan diri dulu sebagai petunjuk jalan, tiba-tiba mereka mendengar suara tangisan wanita. Mereka cepat menghampiri tempat itu dan melihat dua orang wanita tengah berlutut di depan sebuah makam baru sambil menangis.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment