Chapter 16
Mereka kemudian bersembahyang di depan makam ketiga pendeta Pek Sim Kauw yang telah menjadi korban di tangan Toat Beng Mo Li atau Cia Ling Mo Li.
"Sungguh lihai dan berbahaya!" Pek Yang Ji berkata sambil menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Entah setan mana yang telah memberi pelajaran ilmu silat kepada mereka. Akan tetapi harus diakui bahwa ilmu pedang mereka tidak kalah hebatnya dengan ilmu pedang kita." Maka pulanglah para pendeta itu beramai-ramai ke tempat masing-masing, dan ketika Liang Gi Cinjin pulang dari perantauannya lalu mendengar peristiwa ini, kakek sakti ini mengerutkan kening dan menggeleng kepalanya yang sudah penuh dengan rambut putih seperti benang perak.
"Salah, salah, kalian telah berlaku semberono sekali, menuruti hati dan perasaan. Sudah berkali-kali kukatakan bahwa untuk mengurus sesuatu, pergunakanlah otak dan jangan terlalu menuruti emosi. Betapapun marah dan tersinggungnya hati seseorang, apabila ia masih dapat mempergunakan otaknya secara dingin dan sehat, ia akan menang juga akhirnya dalam suatu perselisihan, dan takkan sampai perselisihan itu menjadi pertempuran. Kalian ini mudah sekali menurunkan tangan, apakah kau kira bahwa ilmu silat kita ini yang tertinggi di dunia?" Sampai di sini Liang Gi Cinjin menarik napas panjang dan para pendeta yang menjadi muridnya dan yang duduk di hadapannya, tak berani bergerak sedikit pun, hanya menundukkan kepala.
"Kalian keliru kalau mengira bahwa Pek Hoat adalah ilmu pedang yang nomor satu di dunia. Apakah yang tertinggi di dunia ini?" Di antara gunung-gunung yang menjulang tinggi, masih ada gunung Thai San yang paling tinggi. Akan tetapi, di atas gunung Thai San masih ada langit, dan di atas langit yang nampak oleh mata masih ada ruang lain yang tak terlihat oleh kita. Di antara sungai yang dalam, masih ada lautan yang paling dalam. Akan tetapi, di bawah lautan ini masih ada dasarnya dan di dalam dasar itu masih ada pula isinya yang lebih dalam. Nah, jangan sekali-kali kalian membanggakan kepandaian sendiri, karena sesungguhnya kepandaian itu tiada batasnya. Mulai sekarang harap kalian berlaku hati-hati, jangan sekali-kali menyerang orang apabila tidak diserang. Boleh kita mempergunakan kepandaian hanya untuk menjaga diri, bukan untuk menyerang orang lain!" Demikianlah, kakek sakti ini telah memberi banyak nasihat kepada murid-muridnya dan ia merasa amat menyesal bahwa murid-muridnya telah menanam bibit permusuhan dengan wanita-wanita yang mereka sebut Toat Beng Mo Li atau Cia Ling Mo Li.
Telah lama sekali, semenjak pada permulaan cerita ini, kita tidak mengetahui bagaimana dengan nasib Kwee Siong, suami dari Liem Sui Giok. Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Kwee Siong telah ditangkap oleh Cong Hwat, komandan pasukan pengumpul tenaga rakyat dan langsung dikirim ke utara untuk dipaksa menjadi pekerja dalam usaha besar, yakni memperbaiki dan memperkuat tembok besar di tapal batas Tiongkok Utara.
Dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan Kwee Siong dalam pekerjaan kasar ini. Ia diharuskan membantu para pekerja dan termasuk dalam rombongan kuli kasar, mengangkut batu-batu, menggunakan pemukul besi memecah batu-batu besar, dan pekerjaan kasar lain. Kwee Siong adalah seorang pelajar. Selama hidupnya semenjak kecil yang dipegangnya hanyalah buku-buku dan pena (alat tulis), sehingga tubuhnya lemah dan tenaganya tidak besar. Bagaimana ia dapat melakukan pekerjaan ini dengan baik? Telapak tangannya yang berkulit halus dan tipis itu telah pecah-pecah, seluruh urat tubuhnya terasa sakit-sakit.
Penderitaan ini masih ditambah lagi dengan adanya mandor-mandor yang berupa serdadu-serdadu yang kejam sekali. Sedikit saja pekerja-pekerja "patriot" ini melakukan kesalahan atau nampak malas, ujung cambuk akan membuatnya menari-nari kesakitan. Darah akan mengucur dari luka-luka cambukan di punggung mereka.
Akan tetapi, beberapa bulan kemudian, Kwee Siong mulai terbiasa, tenaganya timbul dan ia tidak merasa terlalu menderita lagi. Hanya apabila ia teringat kepada istrinya, diam-diam ia mengucurkan air mata yang turun mengalir di sepanjang pipinya untuk bercampur dengan peluhnya yang membasahi seluruh tubuhnya.
Kwee Siong adalah seorang yang beriman teguh, tidak mudah putus asa, tidak mudah menyerah kepada nasib. Sebagai seorang pelajar dan orang yang berdarah seni, di dalam kepahitan penderitaan hidup ini, jiwanya mencari-cari sesuatu yang indah. Kehausan jiwanya akan keindahan membuat ia dapat pula melihat dan mendapatkan keindahan dalam pekerjaan itu. Ia melihat betapa hebatnya tenaga manusia dalam pekerjaan ini. Mau tak mau, lepas dari persoalan paksa atau tidak, diam-diam ia memuji kaisar yang telah sanggup melakukan pekerjaan besar ini. Kagum ia menyaksikan tembok besar itu dan hatinya memuji kebesaran para kaisar yang dahulu membuat bangunan ini.
Untuk apakah tembok besar yang amat panjang itu dibangun oleh jutaan tangan manusia, sehingga pekerjaan besar itu telah mengorbankan ribuan, bahkan puluhan ribu jiwa manusia? Untuk kepentingan kaisar yang memerintahkan pembangunan ini? Mungkin sebagian kecil saja, untuk melindungi kaisar. Akan tetapi kaisar telah meninggal dunia dan tembok besar itu masih tetap berdiri kokoh kuat. Kwee Siong adalah seorang yang berjiwa patriot, ia keturunan dari orang-orang penting, di antaranya keturunan dari Kwee Lo Seng yang terkenal sekali karena kesetiaannya kepada negara, seorang pembesar tinggi yang mengorbankan nyawa demi kepentingan negara ketika terjadi pemberontakan puluhan tahun yang lalu.