Chapter 19
"Orang yang selalu menyekap dirinya di dalam gua yang sempit seperti kau, bagaimana bisa sehat? Heran, orang seperti kau masih bisa panjang usia!" Belum habis Liang Gi Cinjin bicara, dari dalam gua itu keluarlah seorang kakek lain yang bertubuh tinggi besar dan rambutnya juga putih semua seperti rambut Liang Gi Cinjin.
Usia kedua kakek ini memang sebaya, dan sukarlah dikatakan siapa yang lebih sehat di antara keduanya, karena muka mereka masih tampak merah dan segar sekali.
"Liang Gi Cinjin, biarpun aku tinggal di dalam gua yang sempit, namun hawa yang masuk di dalam gua adalah hawa pegunungan yang bersih, tidak seperti kau yang setiap hari mengisap hawa kota yang kotor, mengandung debu tahi kuda!" Beng To Siansu menjawab sambil tertawa juga.
Sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa, kedua kakek ini lalu duduk bersila di depan gua, di atas rumput yang bersih.
Mereka menghadapi sebuah papan catur dan mulai bermain catur.
Kepandaian mereka dalam permainan ini seimbang, dan juga dalam ilmu silat, kepandaian mereka setingkat.
Pernah mereka memperbincangkan tentang ilmu silat dan pernah pula pibu (mengadu kepandaian), akan tetapi ternyata mereka tidak dapat saling mengalahkan.
Sesungguhnya, Liang Gi Cinjin masih terhitung adik seperguruan. Akan tetapi, kakek ini cepat sekali memperoleh kemajuan sehingga tingkat mereka menjadi seimbang dan hubungan mereka yang amat erat itu melenyapkan sebutan suheng dan sute.