Chapter 21
"Belajarlah baik-baik dan jangan menyia-nyiakan waktu." Kakek itu lalu masuk ke dalam gua untuk bersamadi, meninggalkan mereka berdua. Liang Gi Cinjin kemudian menceritakan tentang Pek-sim-kauw dan bahwa sesungguhnya ia tidak mau menerima seorang murid yang tidak menjadi pendeta Pek-sim-kauw.
Akan tetapi, karena ia tidak bisa mendapatkan seorang pendeta yang berbakat baik, kini ia memilih Sian Lun sebagai ahli warisnya.
"Aku telah mendengar dari Beng To Siansu bahwa kau adalah putra seorang perwira yang gagah dan jujur. Tentu saja kau tidak bisa menjadi pendeta; kau tidak berbakat untuk menjadi seorang pendeta Pek-sim-kauw. Namun, di dalam sepak terjangmu, kau harus selalu ingat kepada hati putih, yakni hatimu sendiri. Putih berarti bersih, dan apabila kau selalu menjaga kebersihan hatimu, maka jalan hidupmu tidak akan tersesat. Para pendeta Pek-sim-kauw, biarpun ilmu silatnya lebih rendah daripada tingkatmu, tetap harus kauanggap sebagai saudara tua. Kau mempunyai lima orang suheng (kakak seperguruan), dan biarpun kau lebih pandai dalam hal ilmu silat, namun tentang kebatinan, kau boleh mendengar dan menaati nasihat mereka."
Demikianlah, Liang Gi Cinjin lalu memperkenalkan nama kelima orang muridnya, pendeta-pendeta tingkat satu dari Pek-sim-kauw. Kemudian ia mulai menurunkan ilmu pedang Pek-sim Kiam-hoat dan pokok-pokok atau dasar-dasar ilmu silat Pek-sim Ciang-hoat kepada muridnya ini.
Sian Lun mempelajari semuanya dengan penuh ketekunan dan perhatian. Ia memang mempunyai kecerdasan dan bakat yang amat baik, maka dalam waktu singkat suatu gerakan dapat dipelajari dan dilakukan dengan baik. Hal ini membuat Liang Gi Cinjin menjadi gembira. "Kalau kau melatih dirimu setahun saja dengan serajin ini, aku yakin ilmu pedang Pek-sim Kiam-hoat akan dapat kau miliki sepenuhnya."
Sampai dua bulan penuh, ketua Pek-sim-kauw ini melatih dan menurunkan semua kepandaiannya kepada Sian Lun. Pemuda ini menghafal semua gerakan dan jurus-jurus ilmu silat itu di luar kepala. Setelah dua bulan berlalu, ia telah hafal betul seluruh rangkaian Pek-sim Kiam-hoat dan Pek-sim Ciang-hoat, tinggal melatih dan menyempurnakan gerakan-gerakannya saja.
Setelah itu, Liang Gi Cinjin berpamitan kepada Beng To Siansu. "Aku harus turun gunung," katanya kepada sahabat baiknya ini. "Siapa tahu kalau-kalau terjadi perubahan hebat di dunia ramai. Setan Sayur, terima kasih atas segala kebaikanmu, terutama sekali atas kerelaanmu memberi kesempatan kepadaku untuk mewariskan sedikit kepandaianku kepada orang yang patut menerimanya."
Kepada Sian Lun ia berkata, "Sian Lun, muridku, kau berlatihlah baik-baik sampai setahun. Setelah itu, aku menantimu di Cengtu. Jalan masuk untuk bertemu denganku dijaga oleh kelima orang muridku, maka sebagai ujian, jangan kau mundur menghadapi segala rintangan untuk bertemu denganku."
Setelah berkata demikian, pergilah Liang Gi Cinjin turun dari Kun-lun-san. Sian Lun berlatih dengan sangat rajin, bahkan Beng To Siansu yang sangat menyayangi murid tunggalnya ini pun membantunya memberikan petunjuk-petunjuk.
Sebagaimana telah dituturkan sebelumnya, setelah Liang Gi Cinjin tiba kembali di kota Cengtu, yakni pusat perkumpulan Pek-sim-kauw, ia mendengar tentang permusuhan antara pendeta-pendeta Pek-sim-kauw dengan dua orang iblis wanita yang disebut Toat-beng Mo-li. Kakek sakti ini merasa menyesal sekali dan menegur murid-muridnya. Kemudian ia berpesan kepada para muridnya untuk menjaga tempat perkumpulan itu baik-baik dan apabila ada orang muda yang hendak bertemu dengannya, pemuda itu harus diuji terlebih dahulu kepandaiannya.
"Akan tetapi, jangan main keroyok," ia berpesan. "Sungguh amat memalukan kalau murid-muridku mengeroyok lawan seperti yang kalian lakukan terhadap dua orang wanita dari hutan itu!"
Merahlah wajah Pek-sim Ngo-lojin mendengar teguran tersebut. Liang Gi Cinjin sebenarnya menantikan kedatangan Sian Lun, murid barunya, dan mempersiapkan kelima orang pendeta itu untuk menguji kepandaian Sian Lun. Akan tetapi, kelima orang pendeta tingkat satu itu berpikir lain. Mereka berjaga-jaga untuk menanti kedatangan Toat-beng Mo-li dan Cialing Mo-li yang dulu sudah berjanji hendak datang bertemu dengan ketua Pek-sim-kauw. Dan memang benar dugaan mereka, yang pertama-tama datang bukanlah seorang pemuda, melainkan Ling Ling dan ibunya.