Chapter 24
Akan tetapi, seperti juga empat orang saudaranya, pendeta ini baru mewarisi delapan bagian saja dari Pek Hoat.
Betapapun juga, ilmu silatnya sudah lebih masak daripada kepandaian Pek Yang Ji dan dua adik seperguruannya yang lain. Setiap pukulannya mendatangkan angin berdesir, sementara gerakannya cepat sekali.
Dalam setiap pukulan, ia mempunyai variasi lebih banyak daripada adik-adiknya.
Pendeta ini, meskipun bertangan kosong, seperti memiliki empat lengan.
Tidak hanya sepasang kepalannya yang menyerang, tetapi juga dua ujung lengan bajunya ikut menyambar-nyambar dengan dahsyat.
Kalau Sui Giok yang menghadapi Pek Hong Ji, nyonya ini tentu tidak akan dapat menang.
Hal ini diketahui baik oleh Sui Giok yang menonton pertandingan itu dengan hati berdebar.
Akan tetapi, menghadapi Ling Ling, Pek Hong Ji mendapatkan lawan yang amat berat.
Ilmu silat keturunan dari keluarga Kam sudah merupakan ilmu silat yang luar biasa kuat, apalagi ilmu silat Kimciang Hoat, bukan main hebatnya.
Gerakan-gerakan dua tangan Ling Ling sedemikian cepatnya sehingga tampak seakan-akan gadis ini mempunyai enam tangan. Bagaimanapun juga, setelah bertempur selama lima puluh jurus, barulah Ling Ling berhasil mendesak lawannya.
Pada saat itu, Pek Hong Ji menyerang dengan gerak tipu "Harimau Sakti Menubruk Bulan". Kedua tangannya dengan jari-jari terbuka menyerang ke arah kepala Ling Ling, sedangkan dua ujung lengan bajunya yang panjang meluncur ke arah leher gadis itu, melakukan totokan dari kanan dan kiri.
Bukan main berbahayanya serangan ini yang merupakan serangan maut.
Akan tetapi, Ling Ling yang bersikap tenang, memperlihatkan kepandaiannya yang luar biasa.
Ia merendahkan tubuhnya sehingga serangan kedua tangan itu tidak mengenai kepalanya dan dengan gerak cepat, kedua tangannya bergerak ke depan mencengkeram ke arah ujung lengan baju itu. "Brett!!" Ketika Pek Hong Ji yang serangannya gagal itu melompat ke belakang, ternyata ujung lengan bajunya telah terobek oleh cengkeraman tangan Ling Ling, dan kini robekan baju itu berada di tangan gadis itu.
"Hebat, hebat!" kata pendeta itu sambil menghela napas.
"Kau cukup pandai untuk menghadapi twa suheng, Nona!" Pendeta ini diam-diam berterima kasih atas kemurahan hati Ling Ling, karena kalau gadis itu mau, bukan ujung lengan bajunya yang robek, tetapi bagian lain yang berbahaya dari tubuhnya.
Ling Ling sudah tampak lelah sekali, dan ibunya mengetahui hal ini.
"Ling Ling, biarlah rintangan terakhir ini aku yang menghadapinya.
Kau perlu mengumpulkan tenaga untuk menghadapi Liang Gi Cin Jin, ketua mereka!" Ling Ling dapat menyetujui pendapat ibunya ini, namun ia merasa khawatir karena dapat menduga bahwa ilmu kepandaian murid pertama itu tentulah lebih lihai lagi.
Pada saat itu mereka telah maju sampai di pintu ruangan dalam, dan di situ telah menanti Pek Im Ji yang berdiri dengan gagah sambil memegang pedang.
"To Tiang," kata Sui Giok sambil maju menghadapi to su itu, "belum cukupkah kami mengalahkan empat orang saudaramu? Lebih baik kau mempersilakan gurumu keluar agar dapat bertemu dengan kami." Pek Im Ji terkenal paling sabar di antara semua saudaranya.
Ia tersenyum dan memandang kagum.
"Sungguh sukar dapat dipercaya bahwa kalian dua orang wanita lemah ini dapat mengalahkan empat orang su te ku.
Ketahuilah bahwa kami telah diberi tugas oleh Su Hu untuk menjaga di sini, maka sebelum kau mengalahkan pedangku ini, jangan harap akan dapat bertemu dengan Su Hu.
Aku telah mendengar bahwa kalian orang-orang yang dijuluki iblis wanita di Lembah Sungai Cialing, dan mengapa kalian masih mendesak terus kepada kami? Su Hu telah menganggap habis urusan dengan kalian berdua, mengapa kalian datang mencari penyakit? Seandainya kalian bisa mengalahkanku, apakah kalian dapat melawan Su Hu?" Mendengar ucapan ini, Sui Giok lalu berkata, "To Tiang, kau keliru.
Kami datang bukan hendak berlaku kurang ajar terhadap Liang Gi Cin Jin, kecuali kalau orang tua itu masih merasa penasaran atas kematian murid-muridnya dan hendak menyerang kami, terpaksa kami tidak akan mundur demi membela kebenaran.
Ketahuilah bahwa sampai saat ini pun, kami tidak merasa salah, dan bahkan kami hendak mengadukan perbuatan para pendeta Pek Sim Kauw kepada orang tua itu untuk meminta pertimbangan yang adil.
Kami pun bukan orang-orang yang mencari permusuhan, dan kami tidak akan mengganggu apabila tidak diganggu terlebih dahulu.
Maka, kau mundurlah dan biarkan kami bertemu dengan Su Huumu." "Enak saja kau bicara!
Apakah kau suruh aku melalaikan kewajibanku menjaga di sini? Tidak bisa! Kalian harus mencoba dahulu pedangku!" Pendeta itu berkeras.
"Baiklah, kau yang mencari perkara, bukan aku!" Sui Giok lalu mencabut pedangnya, dan sebentar kemudian kedua orang ini bertempur dengan sengit.
Pada saat itu, seorang pendeta tingkat dua, kembali melaporkan kepada Liang Gi Cin Jin, "Su Couw, celaka! Ji Su Hu juga telah kalah, dan sekarang iblis-iblis wanita itu bertempur melawan twa Su Hu!" Terbelalak mata kakek itu ketika mendengar disebutnya julukan "iblis wanita", "Apa katamu? Siapa yang datang?" "Mereka adalah dua orang iblis wanita itu, Su Couw." "Yang disebut Cialing Mo Li dan Toat Beng Mo Li?" "Benar, Su Couw.
Mereka mengamuk hebat!" Mendengar ini, Liang Gi Cin Jin lalu bertindak keluar, dan memang benar, ia melihat betapa muridnya yang tertua, yakni Pek Im Ji, sedang terdesak hebat oleh ilmu pedang yang dimainkan secara luar biasa sekali oleh seorang gadis muda yang cantik jelita.
Tadi ketika melihat gerakan Pek Im Ji, Ling Ling maklum bahwa ibunya tidak akan dapat menang, maka ia lalu mencabut pedangnya dan berseru, "Ibu, silakan mundur, biarlah anak yang memberi rasa kepada pendeta ini!" Sui Giok memang merasa betapa tangguhnya lawan ini, maka terpaksa ia melompat mundur, digantikan oleh anaknya.
Setelah Ling Ling maju dan memainkan pedangnya, Pek Im Ji merasa terkejut sekali.
Ilmu pedang yang dimainkan oleh gadis ini masih sama dengan ilmu pedang yang dimainkan oleh nyonya cantik itu, namun jauh lebih cepat, lebih kuat, dan lebih aneh gerakannya.
Sebentar saja ia terdesak hebat dan terkurung oleh sinar pedang di tangan Ling Ling.
Melihat gerakan ilmu pedang gadis itu, Liang Gi Cin Jin berdiri dengan mulut sedikit terbuka.
Hampir ia tidak percaya kepada pandangan matanya sendiri.
Ia memandang dengan penuh perhatian, dan mengikuti setiap gerakan ilmu pedang Kim Kiam Hoat dengan kening berkerut.
Tidak salahkah penglihatannya? Dalam jurus keempat puluh dengan gerakan "cam" (melibat) dan dilanjutkan dengan gerakan "coan" (memutar), Ling Ling berhasil mengurung pedang lawan, dan setelah ia berseru keras sambil menyontekkan pedangnya, Pek Im Ji berseru keras dan melompat mundur, sedangkan pedangnya terpental ke udara.
"Bagus sekali!" Liang Gi Cin Jin berseru dengan heran dan girang.
Kakek ini menyambut pedang Pek Im Ji yang melayang turun kembali, kemudian sambil memegang pedang itu ia menyerang Ling Ling sambil berkata, "Hayo, ulangi lagi gerakan Kim Jiao Cu (Naga Mata Emas merebut Mustika) tadi!" Ling Ling terkejut sekali ketika kakek tua berambut putih ini menyebut nama gerakannya yang telah dipergunakan untuk mengalahkan Pek Im Ji tadi.
Melihat gerakan serangan pedang kakek ini, ia dapat menduga bahwa ini tentulah Liang Gi Cin Jin.
Gerakan pedangnya demikian hebat dan kuat.
Akan tetapi, ia tidak mau memperlihatkan kelemahannya.
Meskipun menurut suara di kalangan kangouw ketika ia dan ibunya keluar dari hutan, nama Liang Gi Cin Jin dianggap sebagai tokoh tinggi dalam dunia persilatan, termasuk kaum locianpwe, namun kini kakek itu telah menyerangnya.
Ling Ling lalu mempergunakan ilmu gerakan Kim Jiao Cu dan seperti tadi, ia berusaha menempel pedang lawan, melakukan gerakan memutar, lalu mengerahkan lweekang-nya untuk membuat pedang lawannya terpental.
Namun, sungguh luar biasa sekali, meskipun dengan cara yang berbeda.
Ling Ling merasa betapa kakek itu pun melakukan gerakan yang sama, menempel, memutar, dan mengerahkan tenaga.
Dua tenaga bertemu, getaran pedang secara luar biasa beradu dan terdengar suara nyaring sekali.
"Traaang...! Krek!!" Pedang di tangan kakek itu patah menjadi dua potong, namun pedang di tangan Ling Ling patah menjadi tiga potong.
"Ha, ha, ha!" Liang Gi Cin Jin tertawa.
"Tidak salah lagi...! Eh, Nona, apakah kau bermarga Kam?" "Bukan," jawab Ling Ling, "teecu bermarga Kwee.
Apakah teecu berhadapan dengan Liang Gi Cin Jin yang terhormat?" Kembali Liang Gi Cin Jin tertawa.
"Aneh, aneh, kau bermarga Kwee, namun telah mewarisi ilmu pedang dari Kam Ciang Kun (Panglima bermarga Kam).
Mari kalian masuklah, aku ada pembicaraan penting sekali!" Tanpa ragu-ragu lagi Liang Gi Cin Jin lalu memegang tangan Ling Ling dan membawa gadis itu bersama ibunya masuk ke ruang dalam.
Kakek itu berjalan sambil tertawa-tawa senang seakan-akan bertemu dengan seorang kawan lama. Tentu saja para pendeta memandang peristiwa itu dengan melongo.
Juga Ling Ling merasa heran, sedangkan Sui Giok diam sambil mengerutkan kening.
Kelakuan kakek ini benar-benar aneh baginya.
Setelah berada di dalam, Liang Gi Cin Jin mengubah sikapnya dan kini tampak keras dan marah, "Hayo, katakan dari mana kalian mencuri ilmu pedang Kim Gan Liong Kiam Hoat, pusaka dari sahabat baikku Kam Kok Han itu!" Mendengar bahwa kakek ini adalah sahabat baik Panglima Besar Kam Kok Han, suami dari Bu Lam Nio, Sui Giok lalu memegang tangan Ling Ling dan menjatuhkan diri berlutut di depan Liang Gi Cin Jin.
"Memang kami berdua telah mewarisi ilmu silat dari keluarga Kam, namun sekali-kali bukan dengan jalan mencuri." Sui Giok lalu menuturkan bahwa dia dan putrinya menerima pelajaran dari Bu Lam Nio, pelayan dan juga istri muda Panglima Kam Kok Han.