Halo!

Tembok Besar - Chapter 26

Memuat...
Tembok Besar

Chapter 26

Akan tetapi, apakah yang harus dan dapat dilakukan oleh orang-orang militer seperti kita? Kita hanya menanti perintah, dan para menteri dorna yang lemah itu bahkan berkuasa untuk memegang kendali pemerintahan, mengatur segala urusan dengan maksud memenuhi kantong sendiri. Sungguh menyebalkan!

"Kau keliru, Liem Ciangkun!"

Dalam keadaan seperti ini, biarpun kita tidak memegang jabatan sebagai pengurus negara, namun kita harus menghadapi kenyataan dengan pikiran tenang dan mata waspada. Kalau negara terancam oleh barisan tentara asing, serahkanlah kepada kita yang akan menghancurkan mereka atau mengorbankan nyawa dalam perang. Akan tetapi, jangan menyuruh aku melakukan pembasmian terhadap tentara pemberontak yang sesungguhnya adalah rakyat jelata yang sudah tidak sudi lagi dijadikan landasan kaki para menteri dorna berikut kaisar yang lalim.

Aku masih cukup setia dan selama ini aku mengendalikan nafsu agar jangan ikut memberontak. Akan tetapi, aku sekarang hendak menghadap kaisar dan memberi nasihat terakhir. Kalau beliau tidak menuruti nasihatku, menarik mundur barisan dari timur dan memperbaiki keadaan rakyat yang sengsara, aku akan memihak kepada pemberontak!

Liem Siang Hong mengerutkan alisnya. "Berbahaya sekali tindakan ini, Goanswe. Untuk memberi nasihat kepada kaisar, rasanya tidak perlu Goanswe berangkat sendiri. Biarlah aku yang mewakili Goanswe dan membawa surat untuk disampaikan kepada kaisar."

Jenderal itu memandang dengan mata tajam kepada Liem Siang Hong, "Saudaraku, tahukah kau betapa bahayanya tugas ini?"

"Tentu saja aku tahu!" jawab panglima itu dengan gagah. "Akan tetapi, perasaan takut merupakan pantangan besar bagi seorang prajurit seperti aku!"

"Bagus! Ketahuilah, memang terkandung maksud dalam hatiku menyuruh seorang mewakiliku menghadap kaisar, dan kalau ada orang itu, hanya engkaulah, saudaraku! Bukan aku tidak berani menghadap sendiri, akan tetapi kalau sampai di kota raja aku terkena malapetaka dari para dorna, habis siapakah yang akan dapat memimpin pasukan-pasukan untuk menyerbu dan meruntuhkan kerajaan yang sudah bobrok itu? Kau berangkatlah, bawalah surat nasihatku kepada kaisar dan jangan khawatir, aku telah siap dengan seluruh anak buahku. Kalau ada yang berani mengganggu sehelai rambutmu di kotaraja, aku bersumpah untuk mengganti kerugian dengan menduduki Tiang-an dan membasmi para dorna!"

Demikianlah, setelah menerima surat dari jenderal itu, Liem Siang Hong lalu pulang ke rumahnya. Ia tidak berani menceritakan tugasnya yang penting dan rahasia ini kepada istrinya, akan tetapi ia merasa terharu juga. Pertemuan dengan istrinya ini mungkin sekali untuk yang terakhir. Ia merasa rindu kepada putranya yang masih berada di Kun-lun-san belajar ilmu kepada Beng To Siansu.

"Isteriku!" katanya pada malam hari itu, "besok pagi aku akan pergi melakukan tugas pekerjaanku. Tak usah kau tahu ke mana, karena memang belum ada ketentuan. Akan tetapi mungkin sekali agak lama. Keadaan negara sedang kalut seperti ini dan siapa tahu kalau di kota ini pun akan ada huru-hara yang besar. Pesanku kepadamu, kalau sampai terjadi sesuatu dan aku belum kembali, kau mintalah tolong kepada jenderal Li Goan dan apabila kelak kau berada dalam keadaan yang membutuhkan pertolongan, kau dan putra kita berlindunglah kepada saudara kita Kwee Siong. Hanya dia seoranglah yang akan dapat menerima kau dan anakmu sebagai keluarga sendiri!"

Istrinya memandang kepadanya dengan mata terbelalak dan suaranya gemetar ketika bertanya. "Suamiku, mengapa kau berkata demikian? Seakan-akan kau berpamit untuk pulang ke alam baka saja. Apakah yang terjadi, dan kau hendak pergi kemanakah?"

Melihat wajah istrinya menjadi pucat, Liem Siang Hong lalu menghiburnya dan tersenyum untuk menenangkan hati istrinya. "Soal mati hidup, siapa yang tahu? Aku hanya bicara sebagai penjagaan dan persiapan saja. Siapa yang akan tahu perkembangan keadaan yang makin lama makin panas ini. Aku bukan maksudkan kalau aku mati, akan tetapi misalnya kalau perjalananku ini menjadi terputus oleh kerusuhan dan pemberontakan sehingga kita terpisah jauh. Nah, kepada Kwee Siong dan jenderal Li Goan saja kau boleh dan dapat berlindung."

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, diantar oleh lima orang perwira, berangkatlah Liem Siang Hong ke kota raja. Panglima yang gagah berani ini telah berhasil menghadap kaisar dan menyampaikan surat dari jenderal Li Goan yang isinya mengecam pedas kepada Kaisar, mengajukan tuntutan agar kaisar suka insaf dan jangan menuruti bujukan dan hasutan para pembesar dorna.

Sebelum menghadap kepada kaisar, Liem Siang Hong menyuruh kelima orang perwira yang mengawalnya itu untuk bersembunyi di rumah gedung Kwee Siong dan kepada adik angkatnya ini ia memberi surat. Kwee Siong menerima lima orang perwira dari Tai-goan yang sudah dikenalnya itu dan alangkah kagetnya ketika ia membaca surat Liem Siang Hong yang berbunyi singkat.

"Adikku Kwee Siong yang baik,

Aku sengaja tidak berhenti di rumahmu agar kau jangan ikut terbawa-bawa dalam perkara ini. Aku sedang menjalankan tugas membawa surat Jenderal Li Goan kepada kaisar dan karena isi surat ini merupakan kecaman dan nasihat, tidak terlalu dilebihkan apabila aku mungkin takkan kembali dengan selamat dari dalam istana.

Hanya satu pesanku, apabila aku benar-benar sampai binasa oleh kaisar dan para pembesar dorna, kau peliharalah baik-baik isteriku dan puteraku.

Selamat Tinggal.

Kakakmu, Liem Siang Hong"

Bukan main sedihnya hati Kwee Siong. Ia maklum dan telah yakin akan nasib kakak angkatnya itu, oleh karena pada masa itu, "menasihati" kaisar merupakan pantangan besar bagi mereka yang masih ingin hidup. Telah banyak para pembesar jujur yang menasihati kaisar dan mereka ini dicap sebagai pemberontak, dan hanya satulah hukuman bagi mereka yang berani lancang menasihati kaisar, yakni hukuman mati. Kwee Siong lalu berkemas dan ia memerintahkan seorang perwira pengiring Liem Siang Hong untuk diam-diam membawa istri dan puteranya, yakni Kwee Cun yang baru berusia sembilan tahun, untuk diam-diam melarikan diri ke Tai-goan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment