Chapter 27
Mereka masih merasa amat penasaran dan marah karena telah dikalahkan oleh Ling Ling dan ibunya tiga hari yang lalu.
Mereka masih mendongkol terhadap guru mereka karena telah dimarahi dan ditegur, tetapi guru mereka tetap memerintahkan agar mereka menjaga di tempat penjagaan masing-masing dan menyerang siapa pun yang ingin menghadap Liang Gi Cinjin.
"Jika ada orang datang mencariku, kalian harus mencoba dan menguji ilmu kepandaiannya, tetapi berhati-hatilah. Jangan sampai melukai orang itu sehingga kalian kembali menanam permusuhan dengan orang lain. Aku hanya ingin kalian menguji kepandaiannya saja." Kini datanglah pemuda ini yang ingin bertemu dengan Liang Gi Cinjin.
Lima orang pendeta itu baru tiga hari yang lalu menderita kekalahan, maka kini setelah saling pandang dengan teman-teman mereka, serentak mereka mencabut pedang dan berkatalah Pek Thian Ji yang galak.
"Mau bertemu dengan guru kami? Tidak mudah, anak muda. Jika kau tidak dapat mengalahkan pedang kami, kau lebih baik pergi saja dan jangan mencoba mengganggu guru!" Sian Lun tidak merasa heran mendengar ini dan ia memang telah bersiap menghadapi ujian ini. Hanya saja ia merasa heran, pendeta-pendeta yang menjadi murid gurunya ini tampak galak dan sepertinya hendak maju mengeroyoknya.
Ia lalu mencabut pedang pemberian Beng To Siansu dan sambil memalangkan pedang di depan dada, ia berkata. "Jika kalian hendak menghalangiku, terpaksa aku akan berlaku kurang ajar!" Lima orang pendeta Pek-sim-kauw itu lalu maju mengepungnya dan bertempurlah mereka dengan ramai.
Akan tetapi, baru saja mereka bertempur sepuluh jurus, Pek-sim Ngo-lojin sangat kaget dan heran ketika melihat bahwa ilmu pedang yang dimainkan oleh pemuda tampan ini tidak lain adalah ilmu pedang Pekhoat. Jika saja kelima orang pendeta itu menghadapi Sian Lun dengan ilmu silat lain, mungkin pemuda itu akan repot juga menghadapi keroyokan lima orang pendeta yang lihai itu. Akan tetapi, Pek-sim Ngo-lojin menyerangnya dengan ilmu pedang Pekhoat yang baru mereka kuasai delapan bagian, sedangkan pemuda itu sudah mewarisinya sepenuhnya, maka tentu saja Sian Lun dapat melayani mereka dengan sangat baik. Bahkan ketika ia memainkan bagian akhir dari ilmu pedang itu, yang paling sulit dan paling lihai sehingga pedangnya berkelebat bagaikan segulung awan putih menyelimuti tubuh kelima pengeroyoknya, murid-murid Liang Gi Cinjin ini menjadi terkejut dan sangat bingung.
Pada jurus kedua puluh dengan gerak tipu Halilintar Menyambar Ombak, Sian Lun memperhebat gerakan pedangnya dengan sepenuh tenaga. Terdengar suara nyaring dan keras sekali dan tiba-tiba lima batang pedang dari pendeta-pendeta itu terlepas dari pegangan dan terlempar jauh. Tentu saja kelima orang pendeta itu berdiri melongo saking herannya. Hanya guru mereka saja yang dapat memainkan ilmu pedang Pekhoat sedemikian hebatnya.
"Dari mana kau mencuri ilmu pedang kami?" Pek Im Ji berseru sambil memandang tajam.
Akan tetapi, Sian Lun tidak menjawab, hanya lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap ke kiri sambil berseru, "Guru ......!" Kelima orang pendeta itu terkejut dan cepat menengok ke kiri, dan benar saja, Liang Gi Cinjin telah berdiri di situ sambil tersenyum. Hal ini menunjukkan pula betapa tajam penglihatan dan pendengaran pemuda ini, jauh lebih lihai daripada mereka yang tidak mengetahui bahwa guru mereka telah berada di situ. Cepat mereka lalu menjatuhkan diri berlutut pula di hadapan Liang Gi Cinjin.
"Kalian berlima kembali menuruti nafsu untuk maju mengeroyok pemuda ini. Sebaiknya kalian ketahui bahwa tidak ada gunanya mempergunakan kekerasan karena di dunia ini masih banyak orang yang lebih pandai daripada kita. Ketahuilah bahwa pemuda ini adalah muridku sendiri, atau juga _sute_ (adik seperguruan) kalian yang jauh lebih berhasil dalam mempelajari ilmu silat daripada kalian berlima." Sian Lun lalu berpaling kepada _suheng-suheng_-nya dan berkata, "Mohon _suheng_ sekalian sudi memaafkanku yang kurang ajar!"
"Tidak apa, _sute_, bukan salahmu karena kami berlimlah yang menyerangmu lebih dulu." Liang Gi Cinjin menjadi sangat gembira melihat kemajuan Sian Lun. Ia benar-benar merasa puas dan tidak sia-sia ia mewariskan ilmu kepandaiannya kepada pemuda ini. Ia lalu mengajak semua muridnya masuk ke dalam dan berkatalah Liang Gi Cinjin kepada Sian Lun, "Muridku, menurut berita yang sampai di sini, di kotamu, yaitu Tai-goan, telah mulai ada pergolakan. Agaknya Jenderal Li Goan telah bergerak pula dan menurut pendengaranku, jenderal ini adalah seorang bijaksana dan gagah perkasa. Kau pulanglah dan coba perhatikan sepak terjang para pejuang itu dari dekat. Jika aku tidak salah, Li Goan inilah orangnya yang patut kita bantu." Kemudian ia memberi perintah kepada Pek-sim Ngo-lojin untuk memberitahukan semua anggota Pek-sim-kauw agar di mana pun cabang mereka berada, suka membantu pergerakan untuk menumbangkan kekuasaan kaisar dan kaki tangannya yang lalim dan kejam.
Maka setelah kakek sakti ini selesai memberi wejangan, bubarlah enam orang muridnya. Sian Lun langsung melanjutkan perjalanan ke Tai-goan, sedangkan kelima orang pendeta itu lalu berpencar untuk menghubungi anak buah mereka di berbagai kota. Kemudian ternyata bahwa bantuan para pendeta Pek-sim-kauw ini merupakan dorongan yang sangat besar, dan tenaga mereka benar-benar amat berjasa dalam perjuangan menumbangkan pemerintah Sui yang sudah tidak disukai rakyat lagi.
Adapun Liem Sian Lun segera keluar dari kota Ceng-tu dan menuju ke timur. Akan tetapi, baru saja ia keluar dari kota, tiba-tiba berkelebat bayangan yang sangat gesit dan tiba-tiba Liang Gi Cinjin telah berada di sampingnya. Sian Lun cepat memberi hormat kepada gurunya sambil memandang heran.
"Sian Lun, sesungguhnya dalam keadaan kacau seperti ini, tidak semestinya aku memberitahukan ini. Akan tetapi, sukarlah bagiku menahan keinginan hatiku ini. Aku telah bertemu dengan seorang gadis yang ilmu kepandaiannya luar biasa sekali dan ia adalah ahli waris dari seorang yang dulu sangat kuhormati. Ia telah mewarisi ilmu silat dari sahabatku, Panglima Besar Kam Kok Han, dan tentang ilmu pedangnya, mungkin hanya dia yang akan dapat menghadapi Pekhoat. Melihat keadaan gadis itu, sebelum kau datang, telah timbul niat dalam hatiku untuk menjodohkan kau dengannya. Hal ini tentu saja terserah kepadamu dan kepada orang tuamu, akan tetapi aku yakin bahwa jika ayahmu mendengar bahwa gadis itu adalah ahli waris Panglima Kam Kok Han yang besar dan terkenal, pasti ia akan setuju juga. Nah, puaslah hatiku telah menyampaikan hal ini kepadamu, muridku. Ketahuilah bahwa aku telah memberikan pedangku Pek-hong-kiam kepadanya, maka mudah saja kau mengenalnya apabila kau melihatnya." Setelah berkata demikian, tanpa menanti jawaban Sian Lun, kakek itu berkelebat pergi.
Sampai beberapa lama Sian Lun berdiri dengan muka merah, dan ia sangat heran melihat sikap gurunya ini. Benar-benar orang-orang tua di dunia _kang-ouw_ ini mempunyai watak yang luar biasa aneh.
Kemudian Sian Lun melanjutkan perjalanan. Ia melihat rakyat berbondong-bondong mempersatukan diri dan ikut dalam perjuangan menyerang tentara Sui yang berada di daerah mereka. Di mana-mana orang memegang pedang dan tombak sehingga suasana menjadi sangat panas. Hal ini membuat Sian Lun makin ingin cepat-cepat tiba di rumah dan ia mempercepat perjalanannya. Apalagi setelah ia tiba di daerah Tai-goan dan mendengar bahwa kini Tai-goan sudah bergolak dan Jenderal Li Goan sudah mengumpulkan balatentara untuk menyerang ibu kota. Akan tetapi, sangat kagetnya ketika ia tiba di depan pintu rumah keluarganya, ia melihat di depan tergantung kain putih dan di ruangan depan tampak duduk banyak sekali tamu. Ibunya sedang bersembahyang, menyembahyangi meja tanpa ada peti matinya. Sian Lun melompat maju dan memeluk ibunya.
"Ibu....., ada apa ini....? Siapa ....? Siapa yang ....?" Nyonya yang sedang menangis itu menengok dan melihat Sian Lun, ia menubruk putranya sambil menangis tersedu-sedu. Di antara tangis dan sedu sedan, Nyonya Liem menceritakan kepada anaknya betapa Liem Siang Hong telah dihukum mati oleh kaisar. Sangat sedih dan marahnya hati Sian Lun mendengar ini. Dengan air mata bercucuran, ia berlutut di depan meja sembahyang itu dan tanpa memedulikan pandangan semua mata yang berada di situ, ia bersumpah keras-keras. "Ayah, aku bersumpah untuk membalaskan sakit hati ini, untuk membantu perjuangan menumbangkan pemerintahan yang lalim, dan untuk mencari serta membunuh kaisar jahat itu."
"Anak muda, bangunlah! Berlakulah tenang. Ucapanmu tadi lebih mudah dikeluarkan dari mulut daripada dilaksanakan!" Terdengar suara yang berwibawa dan sebuah tangan yang sangat kuat memegang pundaknya. Sian Lun merasa sangat terkejut karena merasa betapa tangan ini telah mengerahkan tenaga menekan pundaknya dengan kekuatan yang sedikitnya ada delapan ratus kati beratnya. Ia cepat mengumpulkan _lweekang_ untuk menahan tekanan ini dan dengan gerakan pundak yang gesit ia berhasil melepaskan pundaknya lalu bangun berdiri. Ternyata di depannya telah berdiri seorang laki-laki setengah baya yang bertubuh tinggi besar dan bersikap sangat gagah. Orang ini berpakaian sebagai seorang panglima, seperti pakaian ayahnya, dan untuk beberapa lama Sian Lun tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa.
"Sian Lun, berilah hormat kepada _Li-goanswe_ (Jenderal Li)," kata ibunya. Mendengar ucapan ini, teringatlah Sian Lun bahwa ia sedang berhadapan dengan Jenderal Li Goan, pemimpin besar yang gagah perkasa dan namanya telah terkenal di seluruh daratan Tiongkok. Cepat-cepat ia memberi hormat dan mengusap air matanya, karena di hadapan seorang gagah, ia merasa malu untuk mengeluarkan air mata. Jenderal itu lalu menarik tangan Sian Lun, mengajaknya bicara di ruang dalam, diikuti oleh Nyonya Liem Siang Hong yang menggandeng tangan putranya.