Halo!

Tembok Besar - Chapter 28

Memuat...
Tembok Besar

Chapter 28

Ketika mereka berada di dalam, ternyata ruangan itu telah dipenuhi oleh orang-orang terkemuka, yakni para pemimpin pemberontakan yang dikepalai oleh Jenderal Li Goan.

Saat Sian Lun datang, di dalam ruangan itu sedang diadakan pertemuan untuk merundingkan pergerakan mereka. Di antara mereka terdapat pula Kwee Siong, yang segera menyambut dan memeluk Sian Lun sembari menitikkan air mata. Sian Lun merasa amat terharu dan girang melihat paman yang amat dikasihinya itu berada di sana.

"Kebetulan sekali putra mendiang saudara Liem Siang Hong telah datang. Melihat keadaannya, aku percaya bahwa di antara kita semua, dialah yang tenaganya paling bisa diandalkan!" kata jenderal itu kepada semua orang yang hadir.

"Kita sangat membutuhkan tenaga seperti Liem Sian Lun ini, dan alangkah bahagianya hatiku bisa mendapat bantuannya."

"Aku akan membantu sekuat tenaga!" kata Liem Sian Lun dengan penuh semangat. "Kalau perlu, sekarang juga hamba bersedia untuk menyerbu!" sambungnya di hadapan jenderal yang gagah itu.

Jenderal Li Goan lalu melanjutkan pembahasan siasat dan rencananya yang tadi tertunda karena kedatangan Sian Lun. Secara singkat, ia menceritakan tugas yang dilakukan oleh mendiang Panglima Liem Siang Hong dan betapa panglima itu tewas akibat hukuman kaisar.

"Sekaranglah waktunya bagi kita untuk bergerak dan menggempur Tiang-an," katanya. "Bala tentara kaisar sedang dikerahkan ke berbagai daerah untuk membendung barisan petani yang membanjir dari segala jurusan. Jika kita melakukan serangan tiba-tiba, tidak akan sulit bagi kita untuk merebut dan menguasai Tiang-an."

Jenderal yang pandai dan berpengalaman dalam siasat peperangan ini lalu membagi pasukannya menjadi dua rombongan dan mengatur siasat untuk menyerbu Tiang-an dari dua arah, yakni dari selatan dan barat. Barisan yang menyerbu dari selatan akan dipimpin olehnya sendiri, adapun yang dari barat akan diserahkan kepada Liem Sian Lun.

Beberapa pengangkatan diadakan, dan Kwee Siong dipilih sebagai penasihat serta hakim tertinggi yang bertugas memeriksa dan menjatuhkan hukuman kepada para tawanan. Pria bermarga Kwee yang memiliki sifat lemah lembut dan jujur ini dipercaya untuk membujuk para tawanan agar mau tunduk dan membantu perjuangan mereka. Jika tidak mendesak, pertumpahan darah antarsesama bangsa akan dicegah.

Selain itu, Kwee Siong mendapat tugas untuk memeriksa dan mengadili anggota sendiri yang menyeleweng. Singkatnya, Kwee Siong mendapat kekuasaan penuh sebagai hakim tertinggi.

"Bahkan aku sendiri, jika dianggap menyeleweng dan tidak benar, Saudara Kwee berhak untuk menangkap dan mengadili!" kata Jenderal Li yang gagah itu.

Semua orang setuju. Demikianlah, pada keesokan harinya, barisan yang berjumlah ratusan ribu orang itu dikerahkan. Bagaikan air bah, pasukan ini bergerak menuju Tiang-an. Semakin dekat dengan Tiang-an, dua barisan yang bergerak dari selatan dan barat ini terus bertambah jumlahnya karena banyaknya rakyat yang menjadi sukarelawan untuk membantu perjuangan tersebut.

Dengan girang Sian Lun melihat bahwa di antara para sukarelawan ini banyak terdapat pendeta Pek-sim-kauw. Kwee Siong ikut pula dalam barisan Sian Lun karena ingin berjuang dekat dengan keponakan tercintanya.

Ketika kedua orang ini berangkat, mereka diantar oleh keluarga mereka, yakni Nyonya Liem Siang Hong, Nyonya Kwee Siong, dan Kwee Cun yang masih kecil.

"Kalau aku sudah besar, aku akan membantu Engkoh Sian Lun bertempur!" kata Kwee Cun dengan gagah.

Sian Lun memondong anak itu dan berkata, "Kelak kau akan menjadi seorang yang lebih gagah daripada semua pahlawan!"

Sian Lun berpesan kepada ibunya agar menjaga diri baik-baik. Sementara itu, Kwee Siong yang sudah meninggalkan rumahnya di ibu kota, berpesan kepada istrinya agar tinggal bersama Nyonya Liem Siang Hong.

Tepat seperti yang diperhitungkan oleh Jenderal Li Goan, pertahanan pasukan kerajaan di ibu kota tidak kuat karena bala tentara kerajaan telah terpecah-pecah untuk memadamkan pemberontakan yang muncul di mana-mana. Hanya pasukan dalam jumlah kecil yang melakukan perlawanan terhadap barisan pimpinan Jenderal Li Goan dan Liem Sian Lun.

Pasukan kerajaan ini dengan mudah dihancurkan; sebagian besar ditawan, bahkan ada yang menyerah dan menggabungkan diri dengan barisan pemberontak.

Liem Sian Lun memimpin pasukannya menyerbu ibu kota dari arah barat. Ketika tiba di luar tembok kota, barisannya dihadang oleh sepasukan tentara kerajaan yang besar, kuat, teratur, dan dipimpin oleh seorang panglima tinggi besar yang menunggangi kuda putih. Panglima yang bertubuh seperti raksasa itu duduk di atas kudanya dan bersuara seperti geluduk saat menantang, "Barisan pemberontak! Apakah kalian sudah bosan hidup sehingga berani menghadapi tentara di bawah pimpinanku?"

Sambil berkata demikian, ia mencabut pedangnya dan memutarnya di atas kepala hingga tampak sinar kekuningan dan terdengar suara nyaring saat pedang itu membelah udara di sekitarnya. Melihat lagak panglima pasukan kerajaan Sui ini, Sian Lun diam-diam merasa kagum. Panglima itu benar-benar gagah dan berwibawa dalam pakaian perangnya.

"Siapakah dia, Kwee-siokhu (Paman Kwee)?" tanyanya kepada Kwee Siong yang duduk di atas kuda di sebelahnya.

"Dia adalah seorang jenderal muda yang amat gagah perkasa bernama Kwan Sun Giok. Ia dulu mengepalai barisan penjaga tapal batas di sebelah selatan. Hati-hatilah, Sian Lun. Ia amat tangguh dan memiliki kemampuan tinggi," jawab Kwee Siong sambil mengernyitkan kening. Memang ia sudah mendengar nama jenderal muda yang terkenal tak terkalahkan ini.

Sementara itu, Jenderal Muda Kwan Sun Giok sudah melihat Kwee Siong. Ia menudingkan pedangnya dan membentak keras, "Orang bermarga Kwee! Kau benar-benar anjing yang tidak tahu budi! Kaisar telah memberimu anugerah, tetapi siapa sangka kau sekarang malah bergabung dengan pemberontak. Mana anjing tua Li Goan? Suruh dia maju dan lekas berlutut minta ampun untuk kubawa menghadap kaisar!"

"Kwan Sun Giok!" Sian Lun berseru marah sambil memacu kudanya maju menghadapi panglima itu. "Alangkah besar mulutmu! Kaisar yang lalim dan menyengsarakan rakyat tidak patut memegang pemerintahan lagi. Kau orang yang tolol dan buta, agaknya hanya mabuk oleh kesenangan dan harta benda kotor yang diberikan kaisar kepadamu. Tahukah kau harta benda siapa yang menyenangkan hidupmu? Keringat dan darah rakyatlah yang kaupergunakan untuk berfoya-foya setiap hari bersama para pembesar jahat. Untuk menghadapi orang macam kau, tidak perlu Li Goanswe yang maju, cukup dengan pedangku saja!"

Bukan main marahnya Kwan Sun Giok mendengar hal itu. Ia membelalakkan matanya dan memandang ke arah Sian Lun.

"Siapa kau?" tanyanya dengan suara keras yang mengejutkan kuda tunggangan Sian Lun. "Aku tidak sudi berurusan dan bicara dengan sembarang serdadu pemberontak. Suruh pemimpin barisan ini maju!"

"Akulah pemimpinnya," jawab pemuda itu.

"Kau...?" Kwan Sun Giok membelalakkan mata, lalu mendongak dan tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang besar. "Ha, ha, ha, ha! Agaknya anjing tua Li Goan sudah kehabisan panglima! Ia takut menghadapi aku dan menyuruh bocah ini mengantarkan nyawa. Ha, ha!"

"Sian Lun, jangan layani dia. Berikan saja perintah kepada barisan untuk menyerbu!" kata Kwee Siong perlahan, karena ia khawatir Sian Lun tidak dapat menandingi perwira tangguh tersebut.

Namun, Sian Lun tidak mau memperlihatkan kelemahan dan justru menantang. "Kwan Sun Giok, tak perlu banyak bertingkah dan menyombong. Jika kau memang gagah, marilah kita bertarung mengadu kepandaian di hadapan barisan kita!"

"Baik, baik! Jika kau dapat mengalahkanku, biarlah semua tentaraku dianggap kalah saja!" tantang jenderal itu sambil melompat turun dari kudanya.

Sian Lun juga melompat turun dan mencabut pedangnya. Setelah berdiri di atas tanah, nampaklah oleh Sian Lun betapa panglima musuh itu benar-benar tinggi besar. Namun, sedikit pun pemuda ini tidak merasa gentar. Ia berpesan kepada Kwee Siong agar jangan menggerakkan pasukan sebelum pertandingan selesai.

"Bocah ingusan!" Jenderal Kwan membentak sambil memutar pedangnya. "Bersiaplah untuk binasa!"

Ia maju menyerbu dan mengirimkan sabetan pedang. Sian Lun melihat gulungan sinar kuning menyambar ke arahnya. Ia sadar bahwa selain pedang lawan yang amat tajam, tenaganya pun sangat hebat. Sian Lun cepat mengelak ke kiri, lalu membalas dengan tusukan ke arah perut lawan.

Kwan Sun Giok tercengang melihat kegesitan lawannya yang masih muda ini. Ia segera menggerakkan pedang sekuat tenaga untuk menangkis. Namun, Sian Lun bukan pemuda bodoh. Ia paham akan ketajaman pedang lawan yang mengeluarkan sinar kuning itu, sehingga ia tidak mau mengadu senjata secara langsung. Ia menarik kembali pedangnya dan segera mengirimkan serangan bertubi-tubi.

Pedangnya berubah menjadi segulungan sinar putih yang kuat, lebar, dan cepat, berputar-putar bagaikan seekor elang yang mengitari dan menyambar mangsanya. Makin heran dan terkejutlah Kwan Sun Giok menyaksikan kehebatan ilmu pedang lawan. Tak disangka sama sekali bahwa panglima pemberontak yang muda ini memiliki ilmu pedang yang sedemikian tinggi. Panglima kerajaan Sui ini lalu membentak nyaring dan memainkan berbagai ilmu pedang yang telah dipelajarinya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment