Chapter 30
"Siapa yang menyerah akan diampuni nyawanya!" teriaknya keras karena ia mempergunakan tenaga khikang dari dalam perut.
Ketika balatentara kerajaan beserta para perwiranya melihat bahwa kepala yang kini tergantung di tangan jenderal besar itu adalah kepala tiga orang panglima, pemimpin mereka, semua orang menjadi ketakutan. Ada yang melarikan diri, ada yang berlutut sambil melepaskan senjata. Dengan demikian, Li Goan meraih kemenangan besar dan segera memberi perintah untuk menyerbu masuk ke dalam kota raja.
Ketika jenderal ini memandang ke sana kemari hendak mencari dua orang wanita yang tadi membantunya, ternyata kedua wanita gagah itu telah lenyap tanpa bayangan. Akan tetapi, karena perjuangan masih belum selesai dan Jenderal Li Goan masih sibuk menghadapi penyerbuan ke dalam kota raja, ia tidak dapat mencurahkan perhatiannya kepada kedua wanita gagah yang membantunya itu. Ia memimpin tentaranya masuk ke dalam kota raja setelah menyerbu para penjaga tembok benteng dan mendobrak pintu gerbangnya.
Pada saat hampir bersamaan, balatentara pemberontak yang dipimpin oleh Liem Sian Lun juga berhasil membobol pertahanan para penjaga benteng dan dengan sorak-sorai yang ramai sekali barisan ini menyerbu masuk dari jurusan lain. Dengan mudahnya barisan penjaga kaisar dipukul hancur, dan Li Goan memimpin pasukannya menyerbu istana kaisar. Akan tetapi, ternyata bahwa siang-siang kaisar telah melarikan diri dan mengungsi ke Yang-kouw.
Liem Sian Lun bertemu dengan Jenderal Li Goan yang merasa girang. Ia memuji pemuda itu atas hasil serbuannya dan menyerahkan pedang rampasannya yang berhasil direbut dari tangan Panglima Sui yang bernama Kwan Sun Giok. Ketika Li Goan menerima dan memeriksa pedang itu, ia terkejut. "Aah.......! Inilah pedang Oei Hong Kiam! Pedang ini adalah milik Panglima Besar Kam Kok Han yang gagah perkasa dan yang kemudian dibunuh secara mengecewakan. Pedang ini patut sekali dipergunakan sebagai pedang pusaka kerajaan baru karena ia menjadi lambang kegagahan dan kepahlawanan seorang patriot besar. Dengan pedang ini pula menteri-menteri durjana yang telah mengacaukan negara dan memeras rakyat akan kupenggal lehernya!" Sambil berkata demikian, Jenderal Li Goan lalu menggerak-gerakkan pedang itu sehingga nampaklah gulungan sinar kuning yang menyilaukan. Sian Lun memandang kagum. Jenderal itu nampak agung, gagah, dan berpengaruh sekali memegang pedang sakti itu.
Sebagai ganti jasa atas kemenangannya, Sian Lun lalu menerima pengangkatan sebagai panglima muda dan menerima pula sebilah pedang pusaka, yaitu pedang Gi-tiang-kiam, pedang mustika yang diwariskan turun-temurun oleh nenek moyang Jenderal Li Goan.
Jenderal Li Goan lalu mengumpulkan semua pemimpin barisan yang kini telah diangkatnya menjadi perwira-perwira, dan dengan kata-kata keras ia memberi perintah, "Cuwi-ciangkun! Berkat kerja sama dan semangat kepahlawanan seluruh barisan, akhirnya kita berhasil menggulingkan takhta kerajaan Kaisar Yang Te dan menduduki Tiang-an! Sungguhpun kaisar sendiri berhasil mengungsi, akan tetapi kerajaan dan singgasana telah berada di tangan kita. Sekarang kita harus bertindak tegas, membuktikan kemauan kita yang baik dan perjuangan kita yang suci. Para pembesar yang kini masih berada di kota, tangkap dan tahan semua, tetapi jangan sekali-kali melakukan tindak hukum sendiri-sendiri. Semua tawanan baru harus diserahkan kepada Hakim Agung kita, saudara Kwee Siong. Hanya dialah yang berhak memutuskan hukuman atau pembebasan seorang tawanan. Juga awaslah terhadap penyelewengan para prajurit!"
Pada saat Jenderal Li Goan sedang berunding dengan para perwira, tiba-tiba datang seorang perwira yang bicara dengan gugup. "Celaka, tai-goanswe! Di sebelah barat jalan raya terdapat orang mengamuk. Banyak prajurit dia tewaskan dan kepandaiannya amat tinggi!" Mendengar ini, Sian Lun lalu melangkah maju dan berkata, "Biarlah hamba diberi izin menangkap perusuh itu!" Li Goan memberi persetujuan, dan berangkatlah Sian Lun keluar dari istana itu sambil membawa pedangnya Gi-tiang-kiam.
Sebetulnya apakah yang terjadi di tempat keributan itu? Orang yang mengamuk itu bukan lain adalah Ling Ling bersama ibunya. Kedua wanita gagah ini, terutama Ling Ling, sedang mengamuk hebat, dikeroyok oleh sepuluh orang prajurit, dan sudah banyak yang roboh tewas di bawah pedang Ling Ling yang digerakkan sedemikian rupa sehingga yang nampak hanya sinar merah yang menyilaukan saja.
Mengapa Ling Ling menjadi begitu marah dan mengamuk? Hal ini diakibatkan oleh penyelewengan para prajurit. Memang tidak mengherankan apabila dalam suatu peperangan, pihak yang menang selalu tergoda oleh setan angkara murka dan bertindak sewenang-wenang. Demikianlah, banyak anggota tentara dari barisan Jenderal Li Goan yang memenangkan perang itu, setelah memasuki kota, lalu melakukan perampokan dan penculikan terhadap kaum wanita. Serombongan tentara terdiri dari tujuh orang dengan kurang ajar sekali melakukan perampokan dan menyeret keluar orang-orang wanita, keluarga para bangsawan. Pekik orang-orang yang terbunuh, jerit wanita-wanita yang diculik keluar dari rumah, menarik perhatian Ling Ling dan ibunya yang juga diam-diam sudah ikut masuk ke dalam kota yang diduduki oleh barisan Jenderal Li Goan itu.
Ketika Ling Ling melihat tujuh orang prajurit merampok dan mengganggu wanita, ia menjadi sangat marah. "Kurang ajar! Beginikah macamnya orang-orang yang menyebut dirinya sebagai patriot-patriot?" bentaknya, dan sekali tubuhnya berkelebat, ia telah menjambak rambut kepala seorang tentara yang sedang menyeret seorang gadis bangsawan. Begitu ia mengerahkan tenaga, prajurit yang menyeleweng itu terlempar jauh, menjerit ketakutan, dan ketika jatuh ke atas tanah, ia tak dapat bergerak lagi. Ling Ling, yang dibantu pula oleh ibunya, lalu bergerak cepat, dan tujuh orang prajurit yang berlaku sewenang-wenang itu sebentar saja tergeletak semua dalam keadaan terluka hebat.
Sudah menjadi lazim bahwa di antara anggota tentara terdapat rasa setia kawan yang amat besar. Mereka tentu saja selalu membantu kawan-kawan mereka tanpa memeriksa dulu apakah kawan-kawan itu bertindak salah atau benar. Demikianlah, makin banyak prajurit yang mengurung dan mengeroyok Ling Ling dan ibunya, bahkan kini mereka telah mencabut senjata, dan tak seorang pun yang ingin menangkap dan memeluk Ling Ling, melainkan menyerang dengan maksud membunuh. Ling Ling dan ibunya sudah terlampau banyak merobohkan kawan-kawan mereka, melukai bahkan membunuh. Kini mereka mengamuk dan mengeroyok dua orang wanita itu untuk dibunuh. Akan tetapi, pengeroyokan yang sungguh-sungguh ini bahkan membuat Ling Ling dan ibunya makin marah. Kini Ling Ling tidak ragu-ragu lagi untuk mencabut pedangnya, dan berkelebatlah sinar merah mengamuk dengan hebat sekali.
Para perwira yang mendengar keributan itu mulai tertarik dan datang ke tempat itu. Akan tetapi, mereka juga tidak berdaya menghadapi Ling Ling yang sudah menjadi amat marah itu. "Tidak tahunya pemberontak-pemberontak yang menggulingkan pemerintahan lama adalah perampok-perampok jahat!" seru Ling Ling di antara amukannya. "Sama halnya dengan mengusir harimau mendatangkan serigala! Ibu, mari kita basmi mereka semua ini!"
"Ling Ling!" teriak Sui Giok sambil memutar pedangnya, "jangan sembarangan membunuh! Cukup asal kau menjatuhkan mereka dengan melukai kaki mereka saja. Tak perlu kita melakukan pembunuhan. Lebih baik kita melaporkan kepada panglima yang berkuasa!" Betapapun juga, Sui Giok masih lebih sabar dan dapat menduga bahwa tidak semua prajurit berlaku sewenang-wenang terhadap penduduk kota itu yang sebagian besar terdiri dari para bangsawan. Akan tetapi, mana Ling Ling mau menaruh hati kasihan kepada para pengeroyoknya?
Pada saat itu, terdengar bentakan keras, "Semua prajurit, mundur!" Dan berkelebatlah bayangan yang gesit sekali menghadapi Ling Ling dan Sui Giok. Prajurit-prajurit yang tadinya mengeroyok dua orang wanita itu, ketika melihat siapa orangnya yang datang, menjadi lega dan cepat melakukan perintah itu, lalu melompat mundur menjauhi kedua wanita itu.
Ling Ling dan Sui Giok memandang, dan mereka melihat seorang pemuda dengan pedang bersinar gemilang di tangan kanan berdiri dengan gagahnya. Adapun Sian Lun, ketika melihat Ling Ling, ia menjadi kagum sekali dan untuk beberapa lama tak dapat mengeluarkan suara. Tak terasa lagi mereka berdua saling pandang sampai lama sekali, dan akhirnya Sian Lun menjadi merah mukanya. Bagaimana ia bisa tertarik kepada seorang gadis yang agaknya membantu kaisar dan telah merobohkan banyak sekali anak buahnya. Akan tetapi, untuk menegur gadis itu, hatinya merasa berat sekali.
Ketika melihat wanita kedua, seorang nyonya setengah tua yang juga cantik sekali, ia lalu menegur, "Toanio, mengapakah kau dan kawanmu mengamuk dan membunuh banyak prajurit? Apakah kalian ini menjadi pembela-pembela kaisar lalim?" Akan tetapi sebelum Sui Giok sempat menjawab, Ling Ling sudah mendahului ibunya dan membentak, "Kaukah yang mengepalai semua bangsat-bangsat perampok ini? Bagus, kalau begitu rasakan tajamnya pedangku!" Sambil berkata demikian, Ling Ling lalu maju menyerang dengan pedangnya yang bersinar merah. Sian Lun menjadi mendongkol dan marah sekali.