Halo!

Tembok Besar - Chapter 31

Memuat...
Tembok Besar

Chapter 31

Nona ini ternyata amat galak dan telah berani memaki prajurit-prajuritnya sebagai bangsat perampok.

Tanpa banyak cakap, ia pun menangkis serangan itu dengan pedang Gi-tiang-kiam dan membalas dengan serangan yang tidak kalah hebatnya.

Terkejutlah keduanya ketika pedang mereka bertemu karena mereka merasa telapak tangan mereka pedas dan bergetar, sedangkan kedua pedang itu mengeluarkan percikan bunga api.

Pertempuran dilanjutkan dengan hebat dan makin lama keduanya menjadi makin heran, kagum, dan kaget. Ilmu pedang lawan benar-benar kuat dan sangat tinggi. Mereka sama gesit, sama kuat, dan sama pandai.

Betapa pun juga, lambat laun Ling Ling merasa bahwa ilmu pedang pemuda itu benar-benar amat mengagumkan dan gerakannya lebih tenang serta kuat daripada gerakan pedangnya sendiri. Memang, sesungguhnya Sian Lun masih unggul sedikit dalam ilmu pedangnya karena selain telah menerima gemblengan dari suhunya, Beng To Siansu, ia pun telah mewarisi ilmu pedang Pek-hoat dari Liang Gi Cinjin.

Seratus jurus telah lewat, akan tetapi kedua orang muda itu masih saling serang dengan hebatnya. Biarpun dalam keadaan terdesak, gadis yang tabah itu tidak menjadi gentar, bahkan ia lalu mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya untuk merobohkan lawan.

Bagi Sian Lun, ia makin tertarik kepada gadis ini dan hatinya tidak tega untuk melukainya. Maka ia berlaku hati-hati dan tidak mau melakukan serangan-serangan maut, sehingga keadaan mereka berimbang.

Sui Giok merasa gelisah sekali. Ia maklum bahwa jika dilanjutkan, putrinya akan kalah. Akan tetapi, bagaimana ia dapat membantu?

"Ling Ling, ayo kita pergi dari sini!" teriaknya berulang-ulang karena kini para perwira lainnya telah mengepung tempat itu dan keadaan mereka amat terancam.

"Tidak, Ibu. Sebelum aku berhasil merobohkan cacing tanah ini, aku tidak mau pergi!" jawab Ling Ling yang merasa penasaran sekali.

Beberapa orang perwira hendak maju membantu Sian Lun, akan tetapi begitu Sui Giok memutar pedangnya menghadapi mereka, senjata tiga orang perwira telah terpental dan tubuh mereka terkena sapuan kaki Sui Giok sehingga terguling-guling. Melihat kehebatan nyonya ini, terkejutlah semua perwira dan mereka tidak berani lagi maju mendekati.

Pada saat itu, berkelebat bayangan orang tinggi besar dan terdengarlah seruannya yang menggelegar dan sangat berpengaruh.

"Sian Lun, tahan! Nona pedang merah, harap kau bersabar dulu!"

Mendengar seruan ini, Sian Lun lalu melompat mundur karena yang datang adalah Jenderal Li Goan sendiri. Begitu pula Ling Ling, ketika melihat jenderal besar ini, ia menahan pedangnya. Akan tetapi, ia berdiri tegak dan memandang jenderal itu dengan tatapan mata tajam.

"Kau mau apa, Goanswe?" tanyanya angkuh.

Li Goan tersenyum dan berkata, "Kau dan panglimaku ini bertempur bagaikan dua ekor naga sakti saja! Sungguh hebat, sungguh indah dilihat, akan tetapi amat berbahaya!"

Kemudian ia berpaling kepada Sui Giok dan mengangkat tangan memberi hormat, lalu berkata kepada ibu dan anak itu, "Jiwi Lihiap, baru kemarin Jiwi membantu barisanku mengalahkan barisan kaisar, akan tetapi mengapa hari ini Jiwi telah melakukan hal sebaliknya? Mengapa Jiwi menyerang para prajuritku dan bahkan menyerang panglimaku? Sungguh aneh sekali Jiwi ini, kemarin menjadi pembantu sekarang menjadi lawan!"

Jenderal ini bicara dengan suara yang jelas, tenang, dan wajah yang cerah sehingga Sui Giok merasa malu. Akan tetapi, Ling Ling menudingkan pedangnya kepada semua prajurit yang tergeletak di situ sambil berkata keras.

"Kemarin yang kami bantu adalah barisan orang-orang gagah yang berjuang menumbangkan kekuasaan raja lalim. Akan tetapi, hari ini kami menyerang barisan perampok yang berlaku sewenang-wenang; merampok, membunuh, dan menculik wanita. Apanya yang aneh dalam perbuatan kami? Kaulah orangnya yang aneh, Goanswe! Kemarin kau memimpin pasukan pejuang, apakah hari ini kau hendak membela dan memimpin perampok-perampok jahat macam ini?"

Mendengar ucapan ini, bukan main malu dan marahnya jenderal itu. Mukanya yang gagah menjadi merah sampai ke telinga. Tanpa menjawab kata-kata Ling Ling, ia memandang kepada seorang prajurit yang terluka, menghampirinya, lalu menjambak rambutnya dan memaksanya berdiri.

"Siapa yang memimpin perampokan ini?" tanyanya dengan suara bagaikan harimau mengaum.

Prajurit yang terluka pahanya oleh pedang Ling Ling itu menjadi pucat. Dengan bibir gemetar dan tubuh menggigil, ia menjawab, "Hamba... hamba hanya terbawa-bawa, yang menjadi biang keladinya adalah Ciu-twako itu..."

Ia menuding ke arah seorang prajurit yang patah tulang pundaknya dan rebah merintih-rintih di atas tanah. Jenderal Li Goan melepaskan jambakannya, lalu menendang tubuh prajurit itu sehingga terpental jauh dalam keadaan tidak bernyawa lagi.

Kemudian ia menghampiri prajurit bermarga Ciu yang kini memandang dengan mata terbelalak ketakutan. Semua orang, termasuk Ling Ling, Sui Giok, dan Sian Lun, memandang diam tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Demikian pula para prajurit dan perwira. Keadaan menjadi sunyi sekali.

"Kau mengaku telah membawa kawan-kawanmu merampok dan menculik wanita-wanita?" tanyanya dengan suara mengguntur.

Prajurit itu tidak berani mengeluarkan suara, bahkan tidak berani pula menatap pandangan mata pemimpin besar itu. Ia menundukkan kepalanya dan tubuhnya menggigil seperti orang kedinginan.

"Jawab!" Jenderal Li Goan membentak.

"Hamba... hamba hanya merampok bangsawan-bangsawan... kaki tangan kaisar..."

"Bagaimana bunyi larangan ketiga dan kelima?" suara Jenderal Li mengguntur lagi.

"Ketiga... tidak boleh merampok... kelima... tidak boleh mengganggu wanita..."

"Bedebah, kau masih ingat larangannya, namun tetap kau langgar!"

Sret! Pedang yang mengeluarkan cahaya kuning tercabut dari pinggang jenderal itu dan sekali ia ayunkan pedangnya, putuslah leher prajurit yang menyeleweng tadi. Jenderal Li Goan lalu mengangkat pedang Oei Hong Kiam tinggi-tinggi, dan berkata dengan suara keras terhadap semua perwira dan prajurit.

"Dengarlah semua, wahai patriot-patriot bangsa sejati. Kalian telah mencucurkan keringat, mengeluarkan darah, mempertaruhkan nyawa untuk membela bangsa dan mengusir penindas rakyat. Perjuanganmu itu baru disebut suci dan bermanfaat apabila tidak kalian kotori dan nodai sendiri dengan perbuatan-perbuatan jahat seperti yang telah dilakukan oleh manusia-manusia ini. Jangan menjadi pelindung rakyat hanya di mulut saja, akan tetapi di hati selalu mencari kesempatan untuk memeras rakyat jelata. Contohnya prajurit yang kupenggal lehernya ini; siapa saja yang berani melakukan pelanggaran seperti dia, pedangku ini akan memenggal lehernya!"

Setelah berkata demikian, Jenderal Li Goan hendak memberi hormat kepada Sui Giok dan Ling Ling, akan tetapi ibu dan anak itu memandangnya dengan mata terbelalak. Pandangan mata Ling Ling dan Sui Giok sebenarnya bukan tertuju kepada wajah jenderal itu, melainkan kepada pedang Oei Hong Kiam yang diangkat tinggi-tinggi oleh Jenderal Li Goan.

"Oei Hong Kiam...!" seru Ling Ling dan ibunya hampir berbarengan, dan tiba-tiba wajah mereka menjadi beringas.

Inilah pedang peninggalan Panglima Kam Kok Han yang telah dirampas oleh pembunuhnya. Sebelum menarik napas terakhir, Bu Lam Nio telah berpesan agar mereka berdua mencari dan membunuh pemegang pedang Oei Hong Kiam!

Bagaikan mendapat komando, serentak Ling Ling dan Sui Giok menubruk maju dengan pedang mereka, menyerang Jenderal Li Goan yang sama sekali tidak menyangkanya. Beruntung jenderal besar ini memiliki ilmu silat tinggi, maka ketika dua pedang itu menyambarnya, ia masih dapat menangkis pedang Sui Giok dan mengelakkan diri dari tusukan pedang merah di tangan Ling Ling yang menyambar lehernya.

Namun, gerakan Ling Ling amat cepat sehingga biarpun jenderal itu berhasil menyelamatkan nyawanya, ujung pundaknya tetap terbabat sehingga baju dan kulit pundaknya robek oleh ujung pedang.

"Eh, gilakah kalian?" Jenderal Li Goan masih sempat berseru kaget, dan Sian Lun lalu menyerbu ke depan menghadapi amukan Ling Ling yang ilmu pedangnya amat berbahaya itu.

Juga semua perwira mengepung maju sambil berteriak-teriak. "Tangkap pemberontak wanita! Bunuh mereka!" Ada pula yang berseru, "Mereka adalah siluman kejam! Bunuh!"

Ling Ling tertawa bergelak dan dengan suara yang menyeramkan ia berseru, "Ayo, majulah! Keroyoklah Cialing Mo-li dan Toat-beng Mo-li! Kami tidak takut! Pemegang Oei Hong Kiam harus mampus di tangan kami!"

Ia terus mengejar Jenderal Li Goan, akan tetapi karena Sian Lun menghalanginya, dengan sengit dan marah sekali ia lalu menyerang Sian Lun sehingga kembali ia bertempur dengan hebatnya menghadapi pemuda gagah itu.

Nama Cialing Mo-li dan Toat-beng Mo-li sudah sangat terkenal karena nama ini telah banyak diceritakan orang. Maka mendengar nama ini, terkejutlah semua orang, termasuk Sian Lun dan Jenderal Li Goan. Akan tetapi, jenderal yang berpengalaman ini tidak mau melihat wanita gagah itu terbunuh karena ia berpikir tentu ada alasan di balik keinginan mereka untuk membunuhnya. Apalagi ucapan Ling Ling yang terakhir, yang menyatakan bahwa pemegang pedang Oei Hong Kiam harus mati di tangan mereka, amat menarik hatinya.

"Sian Lun, jangan bunuh mereka! Tangkap mereka hidup-hidup! Ini merupakan perintah!" katanya keras sehingga terdengar oleh semua perwira yang beramai-ramai mengepung ibu dan anak itu.

Para perwira ketika mendengar perintah ini lalu mengambil tali tambang dan jala. Beramai-ramai mereka melemparkan jala dan tambang ke arah kedua orang wanita yang mengamuk bagaikan kerbau gila itu. Dikeroyok demikian banyak orang, terutama sekali menghadapi pedang Sian Lun yang luar biasa, akhirnya Ling Ling dan Sui Giok dapat terkurung oleh jala. Mereka memberontak dan dengan pedang mereka, banyak jala yang putus dan banyak pula perwira yang terkena bacokan sehingga terluka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment