Halo!

Tembok Besar - Chapter 32

Memuat...
Tembok Besar

Chapter 32

Akan tetapi, selagi mereka meronta-ronta di dalam jala, Sian Lun lalu menghampiri Ling Ling dan dengan cepat sekali menotok pundak gadis itu di jalan darah *tai-hwi-hiat* sehingga lemaslah tubuh Ling Ling.

Jenderal Li Goan juga melompat ke dekat Sui Giok. Jenderal yang berkepandaian tinggi ini mencontoh tindakan Sian Lun dengan *tiam-hoat*-nya yang dipelajari dari ilmu totokan Siauw-lim-pai, maka robohlah Sui Giok dengan tubuh lemas. "Tahan mereka dan hadapkan kepada pengadilan tertinggi untuk diperiksa!" jenderal itu memerintahkan kepada para perwiranya.

"Akan tetapi, harus memperlakukan mereka dengan baik!" Setelah berkata demikian, ia mengajak Sian Lun masuk ke dalam istana untuk melanjutkan usaha perkembangan selanjutnya agar pemerintahan yang baru dapat berjalan lancar.

Pada keesokan harinya, Kwee Siong dengan pakaian kebesaran telah duduk di belakang meja besar di dalam istana, di ruang lebar bagian persidangan pengadilan kaisar. Pembantu-pembantunya telah menduduki tempat masing-masing dan di kanan-kiri siap menjaga empat belas orang perwira yang berpakaian indah dan bersikap gagah. Empat orang algojo yang bertubuh tinggi besar bagaikan raksasa berdiri di kanan-kiri pula, diam tak bergerak bagaikan patung.

Suasana di ruang pengadilan sepi sunyi, tidak ada seorang pun berani mengeluarkan suara. Memang Kwee Siong terkenal amat memegang aturan dan melarang orang-orang membuat gaduh apabila ia sedang mengadakan pemeriksaan terhadap para pesakitan. Ia amat manis budi, akan tetapi memegang disiplin dengan teguh sekali. Di dalam pemeriksaan, ia amat jujur dan adil, serta pandai sekali memancing omongan pesakitan.

Pandai pula ia mengangkat dan menyanjung-nyanjung pesakitan untuk kemudian dibantingnya, sehingga banyaklah para pesakitan yang tadinya mati-matian menyangkal perbuatannya, terkena bujuk dan masuk dalam perangkap sehingga tanpa diminta lagi mereka dengan sukarela telah mengakui semua perbuatannya. Di dalam pekerjaan ini, sistem yang dipergunakan oleh Kwee Siong jauh berbeda dengan sistem pengadilan di masa itu.

Biasanya, seorang hakim mengandalkan alat penyiksaan untuk memaksa pesakitan mengakui perbuatannya. Pendapat Kwee Siong lain lagi karena menurutnya, pemeriksaan yang mengandalkan alat penyiksaan ini banyak sekali membuat orang-orang yang tidak bersalah terpaksa mengakui perbuatan pelanggaran yang sebenarnya tidak dilakukan, semata-mata karena tidak tahan terhadap siksaan-siksaan tadi. Dengan demikian, terkenal di zaman itu banyak sekali orang tidak berdosa terpaksa menjalani hukuman karena terpaksa mengakui perbuatan kejahatan yang tidak dilakukannya akibat dipaksa oleh alat-alat penyiksa tadi.

Algojo-algojo atau tukang penyiksa yang seperti raksasa itu diadakan di situ oleh Kwee Siong hanya untuk menakut-nakuti saja, dan mereka berempat ini jarang sekali turun tangan. Setelah memeriksa surat-surat tuduhan dan laporan dari para pesakitan yang banyak sekali jumlahnya, Kwee Siong lalu memanggil nama seorang pesakitan. Dengan amat lancar dilakukan tanya jawab dan pemeriksaan terhadap para pesakitan, seorang demi seorang. Cara memutuskan sesuatu perkara amat bijaksana dan kadang-kadang membuat para pembantunya diam-diam saling pandang dengan terheran-heran.

Sebagai contoh dari kebijaksanaan pemeriksaan dan keputusan Kwee Siong yang dianggap aneh oleh para pendengarnya adalah dua hal sebagai berikut. Seorang bangsawan tua yang dekat dengan keluarga kaisar, ketika dibawa menghadap di ruangan itu, tidak mau berlutut di depan meja pengadilan.

"Berlutut!" bentak seorang algojo sambil memaksanya untuk berlutut.

Karena tenaga algojo itu amat kuat, maka bangsawan tua itu terpaksa berlutut. Akan tetapi, begitu ia berlutut dan tangan algojo yang menekan pundaknya dilepaskan, ia berdiri lagi dengan tegak dan memandang kepada Kwee Siong dengan mata menentang.

"Tua bangka kurang ajar! Kau harus berlutut!" algojo itu berseru lagi dan mengangkat tangannya untuk mengancam bangsawan itu, akan tetapi terdengar Kwee Siong berkata, "Biarkan saja!"

Kemudian ia memandang kepada bangsawan itu dengan sabar. Ia mengenal bangsawan itu yang bukan lain adalah Cin Kui Ong, seorang yang berpangkat kepala urusan kebudayaan di zaman pemerintahan Sui.

"Kiranya Cin Kui Ong Taijin yang berdiri di hadapanku," hakim ini berkata tenang. "Kerajaan Sui telah musnah, apakah kau masih saja berkeras kepala dan hendak melakukan perlawanan dengan sikapmu yang angkuh?"

Cin Kui Ong meludah ke atas tanah dengan sikap yang menghina sekali. "Cih! Kerajaan boleh musnah, akan tetapi kesetiaanku takkan musnah biarpun kau akan memenggal leherku. Aku, Cin Kui Ong, tidak boleh dipersamakan dengan segala *siauw-jin* (orang rendah) marga Kwee yang tidak ingat budi. Kau dulu mendapat anugerah kaisar dan sekarang kau berbalik memihak pemberontak. Apakah kau tidak malu menghadapi nenek moyangmu?"

Seorang algojo hendak turun tangan membungkam mulut yang amat menghina itu, akan tetapi Kwee Siong memberi tanda agar bangsawan itu dibiarkan saja bicara.

"Orang marga Kwee!" Cin Kui Ong melanjutkan bicaranya dengan semangat membubung tinggi dan muka merah. "Telah beberapa keturunan aku, orang marga Cin, mengabdi kepada kaisar, mengalami jatuh bangunnya kerajaan, akan tetapi belum pernah keluargaku berlaku khianat. Kami adalah orang-orang setia yang tidak akan takut menerima datangnya hukuman dari pihak pemberontak keji. Bagi kami, lebih baik mati sebagai seorang pahlawan terhadap kaisar!"

"Bagus, Cin Kui Ong! Kau masih bisa bicara tentang kepahlawanan dan kegagahan. Memang tepat sekali ucapanmu bahwa orang harus menjunjung tinggi kesetiaan, akan tetapi lupakah kau bahwa di atas kesetiaan masih terdapat kebajikan, perikemanusiaan, dan keadilan? Apakah benar-benar kau tidak melihat betapa Kaisar Yang Te berlaku amat lalim dan tidak memedulikan keadaan rakyat jelata? Lupakah kau betapa ratusan laksa jiwa rakyat kecil dikorbankan hanya untuk kesenangan dan nafsu dari kaisar yang angkara murka itu? Tidak tahukah pula kau betapa pembesar-pembesar tinggi berlaku korup, memeras rakyat, menggendutkan kantong dan perutnya sendiri tanpa memedulikan keluh kesah serta penderitaan rakyat?"

"Tak usah kau memberi petuah kepadaku, Kwee Siong! Dalam hal ini, kau yang masih muda mana dapat melampaui pengalamanku. Aku tahu, tidak buta mataku, aku tahu akan semua itu. Akan tetapi, aku orang marga Cin tidak pernah melakukan hal-hal semacam itu. Betapapun juga, kami adalah orang-orang yang patuh akan kewajiban, tidak sudi memeras rakyat, tidak sudi berlaku korup, patuh dan setia dengan setulus hati!"

Kwee Siong tertawa. "Kesetiaan membuta, ketulusan yang timbul dari hati lemah. Eh, orang marga Cin, pernahkah kau yang melihat segala ketidakadilan itu menegur kaisar? Pernahkah kau turun tangan menghalangi kawan-kawan sejawatmu yang melakukan pekerjaan terkutuk itu?"

Untuk pertanyaan ini, Cin Kui Ong tidak dapat menjawab. Akhirnya ia membela diri, "Urusan orang lain bukanlah urusanku. Kewajibanku telah kuselesaikan dengan hati bersih. Peduli apa dengan urusan orang lain. Tian tidak buta dan semua orang yang berbuat jahat pasti akan mendapat hukumannya sendiri."

"Nah, itulah kelemahanmu, Cin Taijin! Kegagahan tanpa disertai keadilan dan kebajikan akan menjadi kegagahan yang merusak. Kesetiaan tanpa disertai pertimbangan dan perikemanusiaan akan menjadi kesetiaan yang palsu. Setialah orang-orang yang berani menegur dan memperingatkan junjungannya dari kesesatan. Setialah orang-orang yang berani melakukan hal itu tanpa memedulikan nasib sendiri, tidak takut menghadapi murka raja. Rakyat menderita hebat, yang makmur hanyalah orang-orang yang memegang pangkat, akan tetapi kau membutakan mata terhadap nasib rakyat jelata. Aku dapat melihat hal itu dan aku membantu perjuangan rakyat yang memang sudah seadil-adilnya. Pemimpin yang tidak pandai membawa rakyat ke arah kemakmuran sudah tidak layak lagi disebut pemimpin. Kaisar diangkat bukan untuk menyenangkan diri sendiri, melainkan untuk berusaha ke arah kemakmuran rakyatnya dan kekuatan negaranya!"

Mendengar uraian ini, diam-diam Cin Kui Ong menjadi kagum sekali. Terbukalah matanya bahwa kesetiaannya terhadap pemerintah Sui itu sama halnya dengan mendorong dan membela kejahatan yang merajalela. Akan tetapi, ia tetap mengangkat dada dan berkata, "Kalau begitu, biarlah aku mengaku bahwa pemerintah Sui memang buruk. Dan sebagai seorang pembesar dari pemerintah yang buruk, aku siap untuk dihukum mati. Biarlah aku membayar kesalahan kerajaan Sui dengan kesetiaan dan nyawaku!"

Kwee Siong tersenyum girang. Ia memberi tanda kepada penjaga dan berkata, "Bebaskan dia! Kembalikan gedungnya yang disita dan bebaskan pula semua keluarganya!"

"Kwee Siong, kau menghinaku!" Cin Kui Ong berkata marah. "Lebih senang hatiku kalau kau menjatuhkan hukuman mati kepadaku!"

Akan tetapi, Kwee Siong menggelengkan kepalanya. "Tidak, Cin Taijin. Orang-orang bersemangat kesatria dan berjiwa pahlawan seperti kau amat dibutuhkan oleh rakyat yang perlu dipimpin. Pemerintahan baru membutuhkan tenagamu, dan kalau kau memang mencintai nusa dan bangsa, tentu kau akan suka menyumbangkan tenagamu!"

Demikianlah, Cin Kui Ong yang terheran-heran itu didorong keluar dari ruang sidang dan disuruh pulang. Hal ini amat mengherankan semua orang, akan tetapi perhitungan Kwee Siong memang tepat. Sebelumnya ia memang telah tahu bahwa pembesar ini termasuk di antara para pembesar yang jujur dan adil. Setelah kini dikeluarkan, ternyata kelak Cin Kui Ong menjadi seorang pembesar yang amat baik dan membantu kelancaran roda pemerintahan yang baru.

Keputusan kedua yang dijatuhkan kepada seorang pembesar muda bernama Oei Lok Cun juga mengherankan semua orang. Pembesar ini usianya baru tiga puluh tahun lebih dan tadinya ia berpangkat kepala bagian perbendaharaan. Seperti juga Cin Kui Ong, ia ditawan sebelum sempat melarikan diri karena ia tidak dapat pergi meninggalkan gedungnya yang penuh dengan harta benda.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment