Chapter 35
"Anakku... Ling Ling!" Tentu saja Li Goan merasa terharu dan menggeleng-gelengkan kepala. Ia mengira hakim ini telah kacau pikirannya karena terserang demam.
"Beristirahatlah, Saudara Kwee. Kau terserang demam, mungkin karena terlalu lelah," katanya dengan lemah lembut sambil mendorong perlahan pundak Kwee Siong agar berbaring kembali.
Namun, dengan mata terbelalak, Kwee Siong memegang tangannya dan berkata, "Tidak, Goanswe, tidak! Dua orang wanita itu... yang katanya menyerangmu, mereka benar-benar istri dan putriku yang kukira telah tewas belasan tahun yang lalu!"
Barulah Jenderal Li Goan terkejut mendengar ucapan ini. Ia lalu duduk di pinggir pembaringan Kwee Siong yang menceritakan riwayatnya saat dibawa pergi oleh pasukan pengumpul tenaga rakyat untuk dipaksa bekerja. Ia menuturkan pula bahwa telah beberapa kali ia menyuruh orang menyelidiki keadaan istri dan anaknya, namun mendengar kabar bahwa mereka tidak meninggalkan jejak lagi dan kemungkinan besar sudah tewas di dalam hutan.
"Dan sekarang mereka muncul... mereka berada di sini! Ah, tolonglah Goanswe, bebaskan mereka. Biarkan mereka datang ke sini!"
Li Goan sangat terkejut dan segera pergi keluar untuk memberi kabar kepada Sian Lun. Akan tetapi, ia mendengar dari pemuda itu bahwa ibu dan anak tersebut telah pergi entah ke mana. Sian Lun menuturkan pengalamannya, dan dengan wajah lesu sang jenderal kembali masuk ke kamar tempat Kwee Siong berbaring dengan penuh harapan.
Alangkah terkejut dan menyesalnya hati Kwee Siong ketika mendengar Li Goan berkata, "Mereka sudah pergi. Agaknya istrimu tidak mau bertemu denganmu." Ia lalu menuturkan kembali apa yang ia dengar dari Sian Lun tadi.
Kwee Siong menutup mukanya dengan kedua tangan dan menangis terisak-isak seperti anak kecil. "Ah, Sui Giok... Sui Giok... tentu kau marah dan membenciku. Aku telah berdosa besar kepadamu! Sui Giok, mengapa kau tidak mau kembali kepadaku?"
Dalam keadaan sakit keras, Kwee Siong kemudian diangkat pulang ke rumahnya sendiri. Atas permintaannya, peristiwa itu dirahasiakan; hanya Kwee Siong dan Li Goan yang mengetahuinya. Bahkan Sian Lun sendiri tidak diberi tahu bahwa ibu dan anak yang menyerang Li Goan itu sebenarnya adalah istri dan putri Kwee Siong.
Nyonya Kwee Siong dari keluarga Liok adalah seorang yang terpelajar. Melihat keadaan suaminya dan mendengar betapa dalam sakitnya sang suami mengigau serta memanggil-manggil nama Sui Giok, ia menjadi curiga. Ia telah diberitahu oleh suaminya bahwa dulu Kwee Siong pernah menikah dengan wanita bernama Sui Giok yang dikabarkan telah tewas. Maka, ketika suaminya mulai membaik, dengan halus ia mendesak dan membujuk Kwee Siong untuk menceritakan apa yang terjadi.
Kwee Siong memaklumi kebaikan hati istrinya, maka ia pun berterus terang menceritakan segalanya. Nyonya Kwee menjadi sangat terharu dan dengan setulus hati mengucurkan air mata.
"Aduh, kasihan sekali mereka! Suamiku, mengapa pada saat kau bertemu dengan mereka, kau tidak mengajak mereka pulang ke sini? Mereka berhak duduk di sampingmu dan hidup bersama kita serumah. Dia adalah ibu dari anakmu yang sulung dan aku adalah ibu dari anakmu yang bungsu. Kami dapat menjadi kakak-adik dan hidup rukun di sini."
Kwee Siong menghela napas berulang kali dengan penuh penyesalan. "Aku berdosa besar... aku berdosa besar kepada mereka..." Hanya itulah yang diucapkannya berkali-kali. Hatinya penuh dengan pertanyaan bagaimana Sui Giok yang lemah lembut itu kini telah menjelma menjadi seorang pendekar wanita yang memiliki ilmu kepandaian hebat dan mengerikan.
Namun, siapakah yang dapat menjawab pertanyaan ini? Putrinya, Ling Ling, yang dulu masih berada dalam kandungan Sui Giok saat mereka terpaksa berpisah, ternyata tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita dan gagah berani.
Tiada habisnya penyesalan menggerogoti hati Kwee Siong sehingga dalam beberapa bulan saja rambut kepalanya banyak yang memutih. Sikapnya makin pendiam dan ia sering kali duduk melamun. Meski masih melakukan tugas pekerjaannya seperti biasa, ia tak pernah lagi tampak gembira.
Hati Kwee Siong mulai terhibur oleh ucapan istrinya yang bijaksana itu. Ia pun mulai menyuruh orang-orangnya untuk mencari keberadaan ibu dan anak tersebut.
***
Jenderal Li Goan ternyata tidak hanya pandai memainkan senjata dan memimpin pasukan, tetapi juga mahir dalam mengatur pemerintahan. Ia mulai menata birokrasi, mengangkat pejabat, membagi tugas, dan menjalankan ketatanegaraan dengan adil. Di samping itu, ia tetap mengerahkan pasukannya untuk terus mengejar kaisar dan sisa tentaranya.
Sementara itu, di mana-mana masih berkobar api pemberontakan. Sebagian besar pasukan pemberontak yang bergerak sendiri-sendiri dapat dibujuk untuk bergabung dengan barisan di bawah pimpinan Jenderal Li. Namun, ada pula pemberontak yang mempunyai cita-cita sendiri dan bahkan memerangi pasukan Jenderal Li karena dipimpin oleh orang-orang yang menginginkan kedudukan kaisar. Oleh karena itu, di mana-mana terjadi pertempuran antara pasukan kaisar melawan pemberontak, serta antara pasukan Jenderal Li melawan pemberontak yang tidak mau menggabungkan diri. Keadaan negara menjadi sangat kacau. Pertempuran pecah di mana-mana. Kedudukan Kaisar Yang Ti makin lemah, meskipun ia masih melakukan perlawanan mati-matian.
Pemberontak yang paling hebat menggempur barisan Kaisar Yang Ti adalah sepasukan pemberontak baru yang terdiri dari para pendeta dan anggota perkumpulan agama Pek-sim-kauw. Mereka berjuang tanpa maksud mencari keuntungan diri sendiri. Mereka hanya bergerak untuk menumbangkan kekuasaan Kaisar Yang Ti yang amat dibenci karena kezalimannya.
Tadinya anggota Pek-sim-kauw ini bergabung dengan para pemberontak setempat tanpa memilih pihak. Namun, akhirnya mata mereka terbuka ketika merasa bahwa barisan tempat mereka bergabung diselewengkan oleh pemimpin yang memberontak hanya demi menjadi kaisar. Mereka pun keluar dari pasukan itu. Akhirnya, para anggota Pek-sim-kauw ini mendapatkan pemimpin baru dan bersatu menjadi sebuah pasukan yang luar biasa kuatnya.
Tiap kali terjadi pertempuran antara barisan Pek-sim-kauw melawan barisan pelindung kaisar, banyak perwira gagah perkasa kaisar yang tewas oleh pasukan ini. Sesungguhnya pasukan Pek-sim-kauw tidak seberapa banyak jumlahnya, tetapi rata-rata anggotanya memiliki ilmu silat yang tinggi. Apalagi pemimpin baru mereka sangat tangguh. Tiap kali pasukan Pek-sim-kauw menghadapi perlawanan dari perwira lihai, pemimpin inilah yang selalu merobohkan lawan tersebut.
Siapakah pemimpin Pek-sim-kauw yang lihai ini? Tidak lain adalah Ling Ling dan ibunya, Sui Giok. Sebagaimana telah dituturkan sebelumnya, ibu dan anak ini melarikan diri dari tempat tahanan setelah dilepaskan oleh Sian Lun. Hati Sui Giok hancur dan harapannya musnah saat mendengar bahwa suaminya, yang kini telah menjadi pembesar tinggi, ternyata telah menikah lagi dan mempunyai putra.
Jika dulu Sui Giok selalu menjadi pengendali dan mencegah putrinya berlaku ganas, kini sikapnya berubah menjadi mengerikan. Dalam setiap pertempuran, Sui Giok mengamuk bagaikan kerbau luka, menghancurkan tentara musuh yang berani menghadapinya. Ia berlaku nekat dan tidak memedulikan lagi bahaya yang mengancam, seolah-olah tidak peduli lagi akan hidup atau matinya. Memang wanita ini telah putus harapan. Di dalam dadanya terdapat kedukaan besar yang selalu disembunyikan dari orang lain, bahkan dari putrinya sendiri.
Ling Ling dan Sui Giok diangkat menjadi pemimpin oleh pasukan Pek-sim-kauw ketika pada suatu hari serombongan pendeta Pek-sim-kauw yang terdiri dari belasan orang dikepung oleh sepasukan tentara kaisar di dalam hutan. Belasan pendeta itu melawan mati-matian, tetapi karena pihak lawan sangat banyak dan dipimpin oleh lima perwira kelas satu, rombongan tersebut terdesak dan tidak memiliki jalan keluar.
Tiba-tiba terdengar bentakan merdu yang nyaring. Dua bayangan orang dengan gerakan luar biasa menyerbu masuk, mengacaukan barisan kaisar, dan dalam beberapa jurus saja berhasil merobohkan lima perwira kaisar. Barisan kaisar menjadi kacau-balau. Melihat pemimpin mereka gugur, para tentara itu segera melarikan diri.
"Toat-beng Mo-li dan Cialing Mo-li!" tiba-tiba terdengar seruan heran. Ketika kedua wanita yang membantu itu menoleh, Ling Ling dan Sui Giok mengenali bahwa di antara para pendeta itu terdapat dua orang yang mereka kenal baik, yakni Pek Hong Ji dan Pek Thian Ji, dua orang di antara Pek-sim Ngo-lojin dari Chengdu.