Halo!

Tembok Besar - Chapter 36

Memuat...
Tembok Besar

Chapter 36

Demikianlah, Ling Ling dan ibunya lalu diangkat menjadi pemimpin mereka. Ketika ditanya, Pek Hong Ji dan adiknya memberitahukan bahwa tiga orang di antara kelima kakek gagah itu, yakni Pek Im Ji, Pek Yang Ji, dan Pek Te Ji, telah gugur di dalam pertempuran-pertempuran yang lalu.

Dengan adanya pasukan Pek-sim-kauw ini, maka para anggota dan pendeta Pek-sim-kauw yang tersebar di mana-mana datang menggabungkan diri sehingga pasukan ini menjadi makin besar dan kuat. Pasukan ini bermarkas di dalam sebuah hutan di luar kota Yang-kouw, tempat Kaisar Yang Te membangun benteng sebagai pertahanan terakhir.

Memang, karena dikejar-kejar dan sebagian besar barisannya telah dapat dipukul mundur hingga hancur, Kaisar Yang Te dengan para pengikut dan pasukannya yang masih setia kepadanya, lalu bersembunyi di dalam kota Yang-kouw. Sisa-sisa barisan dikumpulkan dan dipusatkan di tempat ini untuk membangun pertahanan yang cukup kuat. Beberapa kali pasukan-pasukan pemberontak datang menggempur, akan tetapi pertahanan kaisar ini berhasil memukul mundur barisan penyerang sehingga sampai hampir setahun kaisar itu masih hidup selamat di kota Yang-kouw ini.

Pada suatu hari, ketika Ling Ling dan Sui Giok sedang duduk beristirahat di bawah sebatang pohon pek yang besar, datanglah seorang pendeta Pek-sim-kauw. Setelah dekat, ternyata yang datang itu adalah pendeta Pek Hong Ji. Napasnya terengah-engah tanda bahwa pendeta yang sudah tua ini telah berlari dari tempat jauh dalam keadaan tegang.

"Ada apakah, Totiang?" tanya Ling Ling sambil bangkit berdiri.

"Siocia, Toanio, pertempuran besar telah dimulai! Penyerbuan besar-besaran telah terjadi, dilakukan oleh barisan Jenderal Li dari Tiang-an. Inilah saatnya benteng Yang-kouw dihancurkan."

Seakan-akan menjadi bukti dari laporan pendeta Pek Hong Ji ini, tiba-tiba terdengar sorak-sorai yang riuh sekali dari jurusan kota Yang-kouw.

"Bagus, kita harus cepat menyerbu, membantu barisan Jenderal Li!" Dengan sigap Ling Ling memberi perintah. "Kumpulkan kawan-kawan kita dan kita menyerbu dari belakang kota. Biarkan barisan Tiang-an yang besar jumlahnya menggempur dari depan. Selagi para tentara kaisar mempertahankan dan mengumpulkan kekuatan di benteng depan, kita menyerbu dari belakang dan memasuki kota!"

Ketika pasukan mereka sudah berkumpul dan hendak berangkat, Sui Giok berkata kepada Ling Ling dan kepada kedua pendeta Pek-sim-kauw, yakni Pek Hong Ji dan Pek Thian Ji, "Kalau kita sudah berhasil menyerbu masuk, jangan mengganggu kaisar. Dia adalah bagianku dan pedang ini yang akan menamatkan riwayatnya!"

Pek Thian Ji tersenyum. "Aduh, Toanio bersemangat benar! Jangan khawatir, Toanio, kami tidak akan mendahului."

Berangkatlah pasukan istimewa ini keluar dari dalam hutan, berlari dengan cepat sekali tanpa mengeluarkan suara. Mereka rata-rata memiliki ilmu lari cepat yang cukup baik. Ketika mereka telah keluar dari hutan, suara sorak-sorai peperangan makin terdengar ramai. Ternyata barisan dari Tiang-an telah mulai menyerbu dan peperangan telah terjadi dengan hebatnya. Pasukan dari Tiang-an ini menggunakan anak panah yang menghujani tempat-tempat penjagaan di atas tembok benteng, sedangkan dari dalam benteng juga keluar anak panah dan batu dari atas tembok bagaikan hujan.

Ling Ling dan Sui Giok memimpin pasukan mereka ke belakang kota dan menghampiri tembok kota. Akan tetapi, ternyata perhitungan mereka meleset. Serbuan bala tentara dari Tiang-an yang amat besar jumlahnya dan amat kuat itu membuat kaisar menjadi ketakutan sehingga kaisar ini bersiap-siap untuk melarikan diri. Oleh karena itu, ketika pasukan Pek-sim-kauw tiba di luar benteng sebelah belakang dan hendak mendobrak pintu itu, tiba-tiba dari atas tembok yang tampaknya tidak terjaga itu turunlah batu-batu dan anak panah bagaikan hujan lebat.

Selagi mereka terkejut dan kacau-balau serta banyak anak buah yang menjadi korban hujan batu dan anak panah, tiba-tiba pintu benteng terbuka lebar dan sepasukan perwira istimewa, yakni barisan pelindung kaisar yang berkepandaian tinggi sekali, menerjang dan membabat mereka. Ling Ling dan Sui Giok menjadi marah sekali. Dengan nekat, ibu dan anak ini lalu menyerbu dan menghadapi keroyokan para perwira dengan gagahnya. Akan tetapi, para perwira itu benar-benar tangguh sehingga ibu dan anak ini tidak dapat mencegah ketika kaisar dapat melarikan diri dengan sebuah kendaraan, dikawal oleh sepasukan pelindung yang tampak gagah dan kuat.

Ling Ling dan Sui Giok tidak dapat mengejar karena para pengeroyok mereka amat banyak dan amat tangguh. Adapun para pendeta Pek-sim-kauw juga sibuk menghadapi serbuan prajurit-prajurit. Sementara itu, Sui Giok menjadi sengit sekali. Ia memutar pedangnya sedemikian rupa sehingga robohlah seorang lawan, kemudian ia berteriak keras, "Tahan anjing-anjing ini! Aku hendak mengejar kaisar jahanam itu!"

Ia lalu melompat pergi, mengejar ke arah rombongan kaisar sambil menjerit-jerit. "Kaisar lalim! Tunggulah pembalasanku! Kau telah menghancurkan hidupku, sekaranglah saatnya aku membalas dendam!"

Jeritan ini disertai isak tangis sehingga Ling Ling menjadi terharu dan terkejut juga. Amat berbahaya kalau ibunya menyerbu rombongan kaisar itu seorang diri. Ia maklum bahwa di antara rombongan kaisar itu terdapat banyak sekali pelindung yang ilmu silatnya tinggi. Maka ia lalu menyerbu cepat, merobohkan dua orang pengeroyok dan berkata kepada Pek Hong Ji, "Totiang, aku hendak menyusul Ibu."

Ia lalu melompat cepat, menyusul ibunya. Alangkah kagetnya ketika akhirnya ia dapat menyusul ibunya yang sedang dikeroyok oleh dua orang perwira yang amat gagah perkasa. Rombongan kaisar tidak kelihatan lagi, agaknya telah melarikan diri ke atas bukit yang tampak dari situ, dan ibunya telah dilawan oleh dua orang perwira yang berkepandaian tinggi.

"Kaisar jahanam, tunggu kupenggal lehermu!" Sui Giok masih menjerit-jerit sambil memutar pedangnya.

"Perempuan gila, kau ingin mampus!" seru seorang di antara kedua perwira yang mengeroyok. Dengan sebuah sabetan hebat, goloknya berhasil merobohkan Sui Giok.

"Ibu...!" Ling Ling yang tidak keburu mencegah peristiwa itu melompat menerjang dengan hebat. Begitu pedangnya berkelebat, ia telah membabat kepala perwira yang bergolok itu bersama goloknya yang juga terbabat putus. Tanpa dapat mengeluarkan suara, perwira itu roboh dengan kepala pecah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment