Chapter 37
"Ibu, bicaralah, bukalah matamu, Ibu...." Bagaikan gila, Ling Ling membuka-buka pelupuk mata ibunya yang sudah tertutup. Melihat betapa bola mata ibunya diam tak bergerak, ia menciumi mulut dan mata ibunya, memohon supaya ibunya hidup kembali.
Akhirnya gadis yang malang ini roboh pingsan sambil memeluk tubuh ibunya. Ketika siuman kembali, ternyata Ling Ling telah ditolong oleh Pek Hong Ji dan kawan-kawannya. Dengan penuh penghormatan, jenazah Sui Giok lalu dikubur, diiringi tangis dan ratap Ling Ling yang memilukan.
Dari Pek Hong Ji, Ling Ling mendengar betapa kota Yang-kouw telah jatuh ke tangan bala tentara Jenderal Li Goan dan bahwa pasukan kaisar telah dapat dihancurkan.
"Yang memimpin pasukan dari Tiang-an itu tidak lain adalah *sute* kami yang gagah perkasa!" Pek Hong Ji menuturkan kepada Ling Ling dengan bangga. "Memang benar-benar hebat sepak terjang *sute* kami, Liem Sian Lun itu. Kegagahannya dapat disamakan denganmu, *Siocia*."
Akan tetapi, Ling Ling tidak tertarik. Di dalam kesedihannya ditinggal mati ibunya, yang teringat olehnya hanya balas dendam saja. "Kumpulkan kawan-kawan! Sekarang juga kita menyerbu ke bukit itu, menghabiskan sisa-sisa pengikut kaisar dan membunuh kaisar jahanam itu!"
"Nona, kawan-kawan sudah lelah. Menurut Liem-*sute*, sudah disiapkan pasukan istimewa untuk menyerbu naik ke bukit dan menawan kaisar!"
Ling Ling memandang marah. "Begitukah? Kalau demikian, biarlah aku sendiri naik ke atas dan melakukan penangkapan sendiri!"
Terpaksa Pek Hong Ji lalu menjawab, "Baiklah, baiklah, tentu saja kami menurut perintahmu."
Maka dikumpulkanlah pasukan Pek-sim-kauw yang masih tersisa tiga puluh orang lebih, lalu mereka menyerbu ke atas bukit. Benar seperti yang dikatakan Pek Hong Ji, dari jurusan lain—yakni dari jurusan kota Yang-kouw—tampak barisan panjang sedang menuju ke bukit tempat Kaisar Yang Te mengungsi.
"Cepat, jangan sampai terdahului oleh mereka!" Ling Ling memberi perintah dan mereka bergerak lebih cepat lagi untuk mendahului barisan yang dipimpin oleh Liem Sian Lun.
Sementara itu, Liem Sian Lun yang memimpin pasukannya juga melihat pasukan Pek-sim-kauw ini menaiki bukit. Ia telah mendengar dari Pek Hong Ji bahwa pasukan itu dipimpin oleh Toat-beng Mo-li, wanita yang dicari-cari oleh pamannya, Kwee Siong. Ia tidak tahu mengapa pamannya mencari mereka, akan tetapi hatinya merasa gembira ketika mendengar bahwa kedua orang wanita itu ternyata membantu perjuangan menumbangkan kekuasaan kaisar.
Kini, melihat pasukan Pek-sim-kauw mempercepat gerakannya, ia pun lalu memberi aba-aba kepada pasukannya untuk bergerak lebih cepat lagi. Maka bergeraklah dua pasukan itu dari jurusan yang berbeda, bergegas dan agaknya berlomba untuk lebih dulu menerjang pertahanan akhir kaisar di puncak bukit itu.
Bukan main sibuknya barisan pengawal kaisar menghadapi serbuan dua pasukan musuh ini. Betapa pun juga, barisan pengawal terakhir ini adalah barisan terkuat, terdiri atas pengawal-pengawal yang setia dan gagah berani. Mereka melakukan perlawanan hebat sehingga tidak mudah bagi pasukan penyerbu untuk membobolnya. Pertempuran hebat terjadi, dan di kedua pihak jatuh korban yang banyak sekali.
Di tengah kehebatan pertempuran ini, Ling Ling memisahkan diri dan dengan cepat mendaki bukit itu menuju perkemahan kaisar yang berada di pinggir sebuah anak sungai. Keadaan di puncak bukit itu indah sekali. Ketika Ling Ling tiba di atas, ia sendiri terpesona oleh keindahan pemandangan alam di tempat itu. Suara pertempuran di lereng bukit hanya terdengar samar-samar saja, sementara keadaan di situ amat sunyi dan asri. Burung-burung berkicau mengiringi desiran anak sungai, sesekali diembus angin gunung yang membuat daun dan kembang seolah menari.
Perkemahan yang didirikan di situ amat banyak jumlahnya. Adapun kemah tempat kaisar berada merupakan kemah terbesar dengan bendera naga terpancang di atasnya. Di situ tampak kosong dan sunyi karena para penjaga semua dikerahkan ke lereng bukit untuk membendung serbuan musuh. Akan tetapi, ketika Ling Ling hendak menyerbu ke dalam kemah kaisar itu, tiba-tiba muncul lima orang perwira dengan pedang di tangan.
Lima orang ini adalah pengawal pribadi kaisar. Mereka adalah lima orang *siwi* (pengawal kaisar) berkepandaian tinggi; tingkat kepandaian mereka bahkan masih sedikit di atas perwira-perwira kelas satu kerajaan. Mereka inilah yang menjadi perisai kaisar. Untuk dapat menawan atau membunuh kaisar, seseorang harus dapat merobohkan mereka terlebih dahulu. Bagaikan patung-patung batu, kelima orang *siwi* itu berdiri dengan pedang di tangan, menghadang di depan kemah dengan mata memandang penuh kemarahan.
"Nona, sekarang bukan waktunya bersenang-senang. Kalau kau hendak mencumbu *Hongsiang*, lebih baik mencari kesempatan di lain waktu," kata seorang di antara mereka dengan senyum sindir.
"Keparat jahanam! Aku datang untuk memenggal leher kaisar lalim!"
"Oho, mudah benar kau membuka mulut!" seru *siwi* kedua.
Akan tetapi, Ling Ling tidak mau banyak bicara lagi. Pedang Pek-hong-kiam diputar cepat dan berubah menjadi segulung sinar putih yang menerjang kelima orang *siwi* itu.
"Bagus, kau dapat juga memainkan pedang!" seru seorang *siwi*, dan kelimanya lalu menyambut serbuan Ling Ling. Gadis ini harus mengakui ketangguhan para lawannya karena tangkisan pedang mereka membuat pedangnya terpental kembali. Apalagi, kelimanya ternyata juga memiliki pedang pusaka yang kuat sekali.
Pertempuran terjadi dengan hebatnya di tempat sunyi itu. Betapa pun Ling Ling mengerahkan tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya, namun sukar sekali baginya untuk merobohkan salah seorang di antara kelima pengeroyoknya. Ilmu pedang para *siwi* itu amat kuat karena mereka adalah murid-murid dari Bu-tong-pai yang sudah menamatkan pelajaran ilmu pedang Buhoat.
Kalau saja mereka tidak maju berlima, agaknya Ling Ling masih akan dapat menang karena sesungguhnya ilmu pedang Ling Ling yang luar biasa, yakni Kimkiam-sut, masih lebih unggul daripada ilmu pedang Buhoat. Akan tetapi, dengan majunya lima orang yang ilmu kepandaiannya setingkat ini, mereka merupakan lawan yang amat tangguh. Mereka dapat bermain pedang dengan saling membela dan melindungi, serta melakukan serangan pembalasan yang tak kalah berbahayanya.
Ditambah lagi dengan kelelahannya, Ling Ling mulai terdesak dan terkurung hebat. Akhirnya ia bermain pedang sambil mundur, selalu menangkis dan harus mempergunakan *ginkang*-nya untuk menghindarkan diri dari bahaya maut yang disebarkan oleh pedang-pedang lawannya. Ia menjadi marah dan sangat penasaran. Hanya keteguhan hati dan ketabahannya yang luar biasa yang membuat Ling Ling masih kuat bertahan selama itu.
Pertempuran telah berjalan hampir seratus jurus, namun tetap saja kelima orang *siwi* itu tidak mampu merobohkan gadis pendekar ini. Bukan main kagum dan penasaran rasa hati para *siwi* ini. Mereka telah berlatih hebat, dan ilmu silat mereka di ibu kota telah amat terkenal serta sukar dicari tandingannya. Setelah melalui ujian yang amat berat dan mengalahkan banyak calon, barulah mereka diterima sebagai yang terkuat dan diangkat menjadi pengawal pribadi kaisar. Akan tetapi sekarang, menghadapi seorang gadis muda saja mereka tidak berdaya merobohkannya. Sungguh memalukan sekali.
"Kurang ajar!" seru seorang *siwi* yang berjenggot panjang. "Rasakan *hui-to* (golok terbang) mautku!"
Setelah berseru demikian, ia melemparkan tiga batang golok kecil yang melayang cepat sekali ke arah tubuh gadis itu. *Hui-to* ini benar-benar berbahaya karena selain datang sangat cepat, juga mengeluarkan bunyi melengking yang dapat mengacaukan semangat lawan. Tiga batang *hui-to* ini menyambar ke arah leher, dada, dan pusar Ling Ling.
Pada saat itu, empat orang *siwi* lain sedang menyerang Ling Ling dari kanan dan kiri. Agaknya tidak ada jalan keluar lagi bagi gadis ini dan tampaknya ia akan menjadi korban sambaran tiga buah *hui-to* tadi. Akan tetapi, ternyata Ling Ling memiliki ketabahan dan ketenangan yang luar biasa. Begitu melihat serangan *hui-to* dari depan dan serangan pedang dari kanan-kiri, tiba-tiba ia berseru nyaring dan menjatuhkan tubuhnya ke belakang dengan gerak tipu "Trenggiling Turun Dari Gunung".
Dengan amat cepat, setelah tubuhnya rebah telentang sehingga tiga batang *hui-to* menyambar lewat di atasnya, ia lalu menggulingkan tubuhnya ke depan dan pedangnya menyambar cepat sekali ke arah kaki *siwi* yang melepaskan *hui-to* tadi. Bukan main kagetnya *siwi* berjenggot panjang itu. Serangan balasan ini sama sekali tidak disangkanya; begitu cepat dan kontan datangnya. Ia segera mengelak sambil melompat ke atas, dan sebelum Ling Ling dapat melanjutkan serangannya, kawan-kawannya telah datang mengurung kembali sehingga Ling Ling dikeroyok lima lagi.
Pada saat yang amat berbahaya bagi gadis itu, tiba-tiba terdengar seruan keras, "Jangan khawatir, Nona, aku datang membantumu membinasakan lima anjing penjaga ini!"
Liem Sian Lun telah memutar pedangnya yang bersinar kuning itu untuk menggempur para pengeroyok Ling Ling. Memang dalam tugasnya ini, Sian Lun dipinjami pedang Oei-hong-kiam oleh Jenderal Li Goan. Biarpun tidak menjawab dan berpura-pura tidak melihat Sian Lun, namun semangat Ling Ling bertambah ketika melihat pemuda yang pernah dikenalnya kelihaiannya ini.
Pedang Pek-hong-kiam diputar makin cepat dan dengan sebuah sabetan kilat, ia berhasil membacok roboh seorang pengeroyok. Tadi ketika mengeroyok Ling Ling seorang diri, lima orang *siwi* itu masih belum dapat mengalahkannya dalam seratus jurus, apalagi sekarang setelah Ling Ling mendapat bantuan Sian Lun yang ilmu pedangnya bahkan lebih lihai daripada gadis itu.