Halo!

Tembok Besar - Chapter 38

Memuat...
Tembok Besar

Chapter 38

Kedua orang muda itu bukanlah makanan empuk bagi empat orang siwi itu, dan tak lama kemudian, terdengar teriakan-teriakan susul menyusul. Kelima orang siwi itu semua telah tewas di ujung pedang Sian Lun dan Lin. "Nona, dimanakah ibumu?" tanya Sian Lun yang tidak tahu apa yang harus dikatakan terhadap nona itu.

Akan tetapi, matanya memandang dengan amat kagum, sehingga Ling Ling menjadi cemberut. Ia menganggap pandang mata pemuda itu kurang sopan. Tanpa menjawab sesuatu, Ling Ling lalu melompat dan menyerbu ke dalam kemah kaisar. Akan tetapi, di dalamnya ternyata sunyi dan kosong.

Ling Ling berjalan terus dan keluar dari pintu belakang kemah itu, diikuti oleh Sian Lun yang merasa penasaran melihat sikap nona yang seakan-akan membencinya itu. Ketika kedua orang muda itu sampai di belakang kemah itu, tiba-tiba mereka berhenti dan berdiri memandang ke depan dengan muka tertegun.

Apakah yang mereka lihat? Kaisar Yang Te, masih nampak gagah dan berpakaian mewah, sedang berdiri di dekat anak sungai, dihadap oleh seorang kakek tua yang berpakaian sebagai pelayan. Terdengar suara kaisar itu berkata sambil tersenyum-senyum. "Tidak betulkah kata-kataku tadi, Lao Kwang? Seorang kaisar harus menghadapi kebangkitan atau keruntuhannya dengan senyum di mulut.

Semua orang memberontak, tidak ingat bahwa aku adalah kaisar yang harus mereka hormati, kaisar yang dipilih oleh Thian sendiri untuk memimpin rakyat seluruh negara. Ha, ha, ha! Dan sekarang mereka mengejar-ngejarku untuk membunuhku. Bukankah ini lucu sekali? Lihatlah, laksaan orang saling membunuh hanya karena aku seorang! Bukankah hal ini hebat sekali? Apakah artinya aku mengorbankan nyawaku untuk kebesaran seperti itu?" Ha, ha, Lao Kwang, kau bilang apa tadi? Kaupun ingin pula memberontak?"

Kakek itu sambil bercucuran air mata lalu mencabut sebilah pedang pendek dan setelah berlutut ia lalu berkata, "Hong-siang, junjunganku, juga anak yang kutimang-timang semenjak masih bayi! Mengapa tidak dulu-dulu paduka mendengar nasehat seorang rendah seperti hamba? Mengapa paduka, hanya menurutkan kata nafsu hati, menurutkan bujukan para pembesar buruk? Mengapa paduka ingin memuaskan hati tanpa memperdulikan pengorbanan rakyat jelata? Ah, apakah yang akan menimpa diri paduka?"

Kaisar itu tertawa bergelak. "Lao Kwang, kau seorang yang setia dan bersikap selalu merendah. Alangkah bodohnya kau ini! Kalau aku bertindak sebagai seorang kaisar yang bodoh dan mengalah, tidak mau memeras tenaga rakyat untuk membuat bangunan-bangunan besar, untuk menyerang negara timur, akan jadi kaisar apakah aku ini? Betapapun juga, akhirnya aku toh mesti mati.

Kalau aku membiarkan keadaan negara tanpa memperkuatnya, biarpun dengan menekan rakyat, aku akan mati sebagai seekor semut, rakyat yang gendut dan senang akan lupa kepadaku dan negara sebentar lagi akan dirampas oleh orang asing. Sekarang, biarpun aku mati, lihatlah saluran air yang megah, lihatlah tembok besar yang jaya, semua adalah bekas tanganku. Orang takkan melupakan selama sejarah berkembang.

Mati! Ha, ha, ha, siapa yang takut mati? Di dunia aku menjadi kaisar, mustahil di alam baka aku tidak diberi pangkat dan kedudukan! Aku adalah kaisar, tahu? Dalam keadaan bagaimanapun juga, kaisar tetap dihormati, menjadi tawanan pun berbeda dengan perajurit biasa. Tetap menjadi tawanan besar dan penting, diperlakukan penuh penghormatan!"

Pada saat itu, mereka melihat dua orang muda yang berdiri dengan pedang di tangan. "Hong-siang, musuh telah datang menyerbu!" bisik Lao Kwang. "Mereka itu?" Kaisar membalikkan tubuhnya dan menudingkan telunjuknya ke arah Ling Ling dan Sian Lun. "Hanya dua orang muda yang bodoh, yang menjadi alat dari pada keganasan perang! Apakah mereka ini akan dapat menggantikan kedudukanku? Ha, ha, ha!"

"Kaisar lalim, rasakan pembalasanku!" tiba-tiba Ling Ling berseru keras dan menyerbu. Akan tetapi, ia kalah dulu oleh Lao Kwang. Dari belakang, pelayan yang semenjak Yang Te masih kecil telah menjadi pelayannya itu, telah menusuk punggung Kaisar Yang Te dengan pedangnya. Kaisar itu mengeluh berat dan tubuhnya roboh telentang, tak bergerak lagi.

"Hamba ikut, tuanku!" kata Lao Kwang dan sebuah tusukan ke arah dadanya dengan pedang yang dipegangnya membuat ia roboh di samping Kaisar Yang Te. Tertegunlah Ling Ling dan Sian Lun menyaksikan peristiwa ini. Untuk beberapa lama Ling Ling berdiri memandang ke arah tubuh kaisar itu.

Inikah musuh besarnya? Inikah orang yang telah menghancurkan penghidupan ibunya? Yang telah menghancurkan penghidupan rakyat banyak? Sukar untuk dipercaya. Kaisar ini hanya memerintah dan memberi petunjuk. Yang menjadi pelaksana bukanlah dia sendiri dan mana kaisar ini bisa mengetahui cara pelaksanaan perintahnya? Tahukah kaisar ini bahwa tenaga rakyat yang dikerahkan itu diperoleh dengan jalan yang curang dan keji oleh para petugasnya? Siapakah yang salah? Kaisarnya, atau para petugas yang nyeleweng, ataukah jamannya yang salah?

Setelah menarik napas panjang, Ling Ling lalu berpaling dan Sian Lun melihat betapa kedua mata gadis cantik itu basah oleh air mata. Ling Ling lalu melompat pergi meninggalkan tempat itu. "Nona, tunggu dulu!" Ling Ling menahan tindakannya. Mereka telah berada jauh dari kemah kaisar itu. "Kau mau apa?" tanyanya dengan tegas dan ketus.

Sian Lun menggerakkan alisnya dan tersenyum pahit. "Beginikah sikapmu kepada orang yang kah telah berusaha membantumu? Nona, kau agaknya benci kepadaku. Ada apakah dan apakesalahanku?" "Tidak ada yang benci dan tidak ada yang salah! Aku hanya ingin tahu mengapa kau menyusulku?" "Nona, aku hanya ingin menyatakan bahwa pamanku Kwee Siong telah mencari-cari dan menanti-nanti kau dan ibumu."

Berkerut kening Ling Ling mendengar nama Kwee Siong disebut-sebut. "Aku tidak kenal pamanmu. Ada apa dia menanti-nanti kami?" "Entahlah, hanya aku tahu bahwa paman sedang sakit dan seringkali menanyakan kau dan ibumu. Di manakah ibumu?" "Ibu... ibu sudah meninggal dunia!" Setelah berkata demikian Ling Ling melompat dan lari lagi dengan cepatnya.

"Nona, tunggu dulu.....!" Ling Ling berlari terus, akan tetapi Sian Lun mengejarnya dan karena ia sudah lelah sekali, Ling Ling terpaksa berhenti. Sian Lun melihat kini betapa air mata telah mengalir turun di kedua pipi gadis itu yang agak pucat. "Mengapa kau mengejarku? Apakah kau menagih budimu ketika kau menolongku tadi? Nah, biarlah aku mengucapkan terima kasih kepadamu, dan sekarang pergilah!" Sian Lun memandang dengan penuh iba.

"Nona, aku menyesal sekali, yakni... tentang ibumu..." "Jangan kau sebut-sebut akan hal ibuku. Ibu telah gugur dalam pertempuran, tidak ada hubungannya dengan kau." Pada saat itu, terdengar bunyi derap kaki kuda dan dua orang perwira pembantu Sian Lun tiba di tempat itu. "Liem-ciangkun, musuh telah dipukul habis. Sebagian besar telah menyerah. Menanti perintah!" Demikian kata mereka sambil turun dan berdiri dengan sikap gagah.

"Bawa semua tawanan dan kembalikan ke Tiang-an. Kau mewakili aku memimpin pasukan. Seperti biasa, berlakulah keras, jangan biarkan anak buah kita meninggalkan barisan," perintah Sian Lun dengan suara keren. Kedua pembantunya memberi hormat dan pergi lagi menunggang kuda. "Aku harus pergi sekarang, selamat tinggal!" kata Ling Ling.

"Nanti dulu, nona. Kau telah banyak berjasa dalam perjuangan kami, apakah kau tidak mau bersamaku kembali ke Tiang-an?" Sungguh, nona, pamanku amat mengharap-harap kedatanganmu." "Memang aku mau ke Tiang-an, akan tetapi tidak bersama engkau!" Berseri wajah Sian Lun mendengar ini, "Bagus, kau tentu akan datang kepada pamanku Kwee Siong, bukan?" Baik sekali." "Memang aku akan mencari orang she Kwee itu, untuk membunuhnya dengan pedangku!" Setelah berkata demikian, Ling Ling melompat dan berlari pergi.

Untuk sejenak Sian Lun berdiri bagaikan sebuah patung batu. Ucapan yang dikeluarkan dengan sengit oleh gadis itu benar-benar telah membuatnya terheran-heran dan terkejut sekali. Ada apakah antara pamannya dan gadis ini serta ibunya yang telah gugur? Ah, ia harus mencegah maksud gadis itu. Setelah melihat bayangan Ling Ling lenyap dibalik pohon-pohon barulah Sian Lun menjadi terkejut dan cepat ia lalu melompat dan berlari cepat mengejar.

Dengan hati yang amat berat karena masih berduka mengingat kematian ibunya, Ling Ling berlari dengan cepat sekali. Kakinya telah terasa lelah dan lemahlah seluruh tubuhnya. Ia telah bertempur melawan musuh-musuh yang tangguh dan telah sehari lamanya ia tidak makan. Akan tetapi ia tidak mau berhenti mengaso karena maklum bahwa pemuda she Liem itu tentu akan mengejarnya.

Ketika ia tiba di sebuah dusun dan melihat, bahwa pemuda itu tidak dapat menyusulnya, ia lalu masuk ke sebuah restoran dan memesan makanan. Setelah makan dan beristirahat sejenak, pulihlah kembali kekuatannya dan ia merasa tubuhnya sehat. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya dan alangkah mendongkolnya ketika tiba di luar dusun itu, pemuda she Liem itu telah menantinya sambil duduk di atas rumput seorang diri.

Ling Ling berpura-pura tidak melihatnya dan hendak berlari terus, akan tetapi Sian Lun berkata. "Nona Ling Ling, mengapa tergesa-gesa? Akupun hendak menuju ke Tiang-an. Tidak sudikah kau melakukan perjalanan bersamaku?" "Kau melakukan perjalanan, apa hubungannya dengan aku? Aku tidak melarang orang menuju ke Tiang-an," jawab Ling Ling merasa marah kepada dirinya sendiri mengapa melihat pemuda ini hatinya berdebar girang.

Sian Lun terpaksa mempercepat langkahnya agar dapat mengimbangi kecepatan lari gadis aneh ini. "Nona, bukankah kau adalah nona yang dulu pernah menerima pedang Pek-hong-kiam dari Liang Gi Cinjin, ketua dari Pek-sim-kauw?" "Memang akulah yang dimaksudkan oleh suhumu itu. Dia seorang yang baik hati, akan tetapi suhumu itu masih mempunyai hutang kepadaku yang harus dibayarnya!" Setelah berkata demikian, kembali Ling Ling berlari pergi tanpa memperdulikan kepada Sian Lun lagi.

Pemuda ini segera mengejarnya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment