Chapter 39
Ling Ling mengerahkan kepandaiannya berlari cepat yang disebut Couw-sang-hui (Terbang Di Atas Rumput). Ia sengaja mengeluarkan kepandaiannya karena ia hendak mencoba apakah pemuda itu akan dapat mengejarnya.
Sian Lun merasa penasaran sekali melihat betapa gadis itu berlari dengan amat cepatnya. Ia pun lalu mengeluarkan ilmu berlari cepat yang disebut Keng-sin-sut, dan setelah berlari-larian beberapa belas li, akhirnya ia dapat juga mengejar gadis itu.
"Nona, kau sungguh terlalu. Mengapa kita tidak berjalan perlahan saja menuju ke Tiang-an? Apakah yang membuat Nona demikian terburu-buru?" Ling Ling tidak menjawab, tetapi tiba-tiba ia lalu duduk di atas rumput di bawah sebatang pohon besar. Enak sekali duduk di situ, ditiup angin sambil mendengarkan gemersik daun-daun pohon tertiup angin. Peluhnya mengalir dari atas jidat, disapunya dengan sehelai saputangannya.
Sian Lun juga duduk di depannya, agak jauh dari Nona itu. Meskipun mereka duduk berhadapan, tetapi keduanya tidak berkata-kata dan bahkan tidak saling memandang. Sungguh keadaan yang amat lucu dan ganjil.
"Mengapa kau mati-matian mengejarku dan hendak berjalan bersamaku?" tanya Ling Ling tiba-tiba, dan sepasang matanya yang indah dan tajam itu menatap wajah Sian Lun. Untuk sesaat, pemuda itu berusaha menahan serangan sinar mata ini, tetapi akhirnya ia menunduk karena pandangan mata gadis yang menyelidik ini benar-benar tajam sekali.
"Nona, aku tidak mempunyai niat buruk terhadapmu. Aku kagum sekali akan kegagahanmu, hanya aku merasa tidak enak mendengar ucapanmu tadi yang hendak membunuh pamanku Kwee Siong. Ketahuilah bahwa Paman Kwee bagiku sama dengan ayahku sendiri. Tidak boleh kau mengganggunya. Dia orang yang baik-baik, semulia-mulianya orang. Mengapakah kau begitu membencinya dan hendak membunuhnya?" Ling Ling memandang tajam dengan kening berkerut.
Ia amat benci kepada ayahnya itu. Seorang ayah yang telah menyia-nyiakan ibunya. Ibunya menyatakan bahwa ayahnya itu tidak bersalah. Kalau memang ayahnya itu orang baik-baik, mengapa tidak dicarinya ibunya yang hidup seperti seorang "iblis" di dalam hutan? Mengapa ayahnya yang sudah menjadi seorang pembesar itu bahkan lalu menikah lagi dan telah memperoleh seorang putra? Mengapa ketika bertemu di pengadilan dulu, ayahnya tidak menerima mereka sebagai istri dan anak? Kalau dipikir-pikir, bukan kaisar yang menjadi biang keladi kesengsaraan ibunya, melainkan Kwee Siong itulah! Orang itu harus dibunuhnya, untuk membalas sakit hati ibunya.
Kini melihat sikap Sian Lun yang hendak membela Kwee Siong, mendengar ucapan pemuda gagah ini yang memuji-muji Kwee Siong sebagai seorang yang berhati mulia, hatinya menjadi perih dan gemas sekali.
"Paman Kwee amat baik kepadaku," terdengar lagi Sian Lun berkata, "seakan-akan aku anaknya sendiri. Ia memperlakukan aku seperti anak sendiri, mengajarku membaca dan menulis, memberi nasihat-nasihat dan pelajaran filsafat dan budi pekerti. Orang sebaik dia tidak mungkin mempunyai musuh dan tidak mungkin mengganggu orang lain. Mengapa kau hendak membunuhnya, Nona?"
"Kau tak perlu tahu, Liem Ciangkun. Urusan ini adalah urusanku sendiri, orang luar tidak berhak tahu. Bagaimanapun juga, aku akan mencarinya di Tiang-an dan akan membunuhnya dengan tanganku sendiri." Kata-kata ini diucapkan dengan tegas dan mengandung tekad bulat.
"Tidak mungkin, Nona. Perbuatanmu itu, sebelum dapat kau lakukan, kau akan menghadapi seluruh penduduk Tiang-an, seluruh barisan di bawah pimpinan Jenderal Li Goan sendiri. Kwee Susiok adalah seorang yang dihormati dan dipandang tinggi oleh semua orang. Membunuhnya akan lebih sukar daripada mengganggu kaisar."
Makin tinggi orang memuji ayahnya, makin banyak orang mengingatkan kepadanya akan kemuliaan ayahnya, makin teringatlah Ling Ling akan kesengsaraan ibunya dan makin panaslah hatinya. Ia tersenyum mengejek dan menjawab sambil berdiri dan mencabut pedangnya.
"Kau kira aku takut menghadapi siapa pun juga? Biarpun ada selaksa dewa hendak melindungi orang marga Kwee itu, tetap aku hendak membunuhnya!"
Mulai panas darah Sian Lun. Bagaimanapun ia mengagumi gadis ini dan menaruh iba mendengar kematian ibu gadis ini, namun sikap gadis itu dianggapnya amat keterlaluan. Ia pun bangkit berdiri dan berkata, "Dan dengarlah, Nona. Orang pertama yang akan menghalangi kehendakmu yang kejam itu tak lain adalah aku sendiri!"
"Kau...?" Ling Ling memandang tajam sambil mengangkat alisnya yang berbentuk melengkung seperti bulan sabit itu.
"Ya, aku sendiri! Aku yang telah diperlakukan dengan baik oleh Kwee Susiok, yang telah dianggap sebagai anak sendiri, aku tidak akan membiarkan siapa pun juga mengganggunya!"
"Manusia sombong! Siapa takut kepadamu? Apa kau kira dulu aku sudah kalah olehmu? Cabutlah pedangmu dan mari kita lanjutkan pertempuran yang dulu!" tantang Ling Ling.
"Nona, haruskah kita bertempur lagi? Mengapa kau begitu berkeras hendak membunuh pamanku? Berilah penjelasan agar aku ikut pula mempertimbangkan apakah niatmu itu benar atau salah."
"Bukan urusanmu, tidak usah kau bertanya lagi. Singkatnya, aku hendak membunuh Kwee Siong dan kalau kau menghalangiku, boleh kau mencoba mengalahkanku!"
Terpaksa Sian Lun mencabut pedangnya, Oei-Hong-Kiam. "Menyesal sekali, Nona. Aku tidak ingin bertempur denganmu...."
"Awas pedang!" teriak Ling Ling tanpa memedulikan ucapan ini dan langsung menyerang dengan sebuah tusukan berbahaya. Sian Lun cepat menangkis dan berpijarlah bunga api ketika dua pedang pusaka itu bertemu. Ling Ling menyerang lagi dan memainkan pedangnya dengan hebat sehingga yang tampak hanyalah gulungan sinar putih yang menyilaukan mata. Sian Lun terpaksa mengimbangi permainan pedang Nona ini, dan pedang Oei-Hong-Kiam segera diputarnya, merupakan segulung sinar kuning yang tidak kalah cepatnya.
Demikianlah, kedua orang muda yang lihai itu kembali mengadu kepandaian di dalam hutan, ramai dan seru, tanpa ada siapa pun yang menjadi saksi. Sian Lun bertempur dengan hati-hati. Ia maklum bahwa gadis ini amat lihai. Ginkang dan lweekang-nya berimbang dengan kepandaiannya sendiri, dan ilmu pedang gadis itu luar biasa ganasnya. Bagaimanapun juga, ia tidak tega untuk melukai gadis ini, dan bertempur hanya dengan maksud menguji kepandaian saja, dan kalau ia mencari kemenangan juga, bukan dengan cara merobohkan gadis itu dalam keadaan terluka. Ia hanya akan merampas atau melepaskan pedang dari tangan Nona itu. Tetapi ia maklum bahwa hal ini bukanlah hal yang mudah.
Sebaliknya, Ling Ling yang sudah tahu pula akan kepandaian pemuda ini, kini berusaha untuk mengalahkan lawannya dan bertempur dengan amat sengitnya. Dalam keadaan demikian, maka sedikit kelebihan permainan pedang Sian Lun menjadi tertutup dan pertempuran itu menjadi berimbang dan luar biasa ramainya. Seratus jurus lewat tanpa terasa, dan belum juga di antara kedua orang muda ini ada yang kalah atau menang. Mereka saling serang dan saling desak, mengeluarkan gerak tipu yang paling lihai.
Bagaimanapun juga, diam-diam Ling Ling harus mengakui keunggulan pemuda itu, karena setelah pertempuran berjalan seratus lima puluh jurus, ia mulai merasa lelah dan telapak tangan kanannya yang memegang pedang menjadi panas dan perih. Adapun Sian Lun, lawannya, masih tampak kuat dan gerakan serta kecepatannya tidak berkurang. Akhirnya Sian Lun merasa bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan Nona yang nekat ini tanpa melukainya. Tetapi bagaimana ia sampai hati untuk melukai Nona yang dikagumi dan dikasihinya ini? Dan sedikit saja ia melamun, tiba-tiba ujung pedang Pek-Hong-Kiam di tangan Ling Ling sudah menyerangnya dengan gerak tipu Kimhian Jiauw (Naga Bermata Emas Mengulur Kuku). Sedangkan pada saat itu pedangnya masih tersembunyi di balik lengan ketika ia tadi bergerak dengan gerak tipu Burung Walet Menyembunyikan Ekor.
Melihat serangan maut ini, Sian Lun terkejut sekali dan cepat ia menggunakan tenaga pergelangan tangan untuk memutar pedangnya yang segera meluncur ke depan melakukan tangkisan ke arah ujung pedang lawan yang menusuk ke arah dadanya. "Traaang!" dua pedang itu beradu keras sekali. Saking hebatnya tenaga keduanya yang dikeluarkan pada saat genting itu, ujung pedang Ling Ling meleset dan meluncur cepat ke arah tenggorokan Sian Lun, sedangkan pedang Sian Lun sebaliknya terpukul dan melesat menuju ke arah pundak gadis itu.
Keduanya terkejut sekali. Untuk mengelak sudah tidak ada waktu lagi. Dengan cepat tangan kiri mereka bergerak. Ling Ling melakukan gerakan Kwankiam (Dewi Kwan-im Menyambut Pedang), sedangkan Sian Lun membuat gerakan Siauwjiu Hwat mencengkeram ke arah gagang pedang gadis itu. Gerakan mereka begitu kuat dan cepat sehingga pada saat itu juga, pedang mereka telah pindah tangan. Oei-Hong-Kiam telah terampas oleh Ling Ling, sedangkan Pek-Hong-Kiam terampas oleh Sian Lun. Mereka terhindar dari bahaya maut, tetapi tetap saja mereka menjadi pucat dan mengeluarkan keringat dingin.
Sian Lun cepat melompat ke belakang dan menjura. "Nona, ilmu pedangmu benar-benar luar biasa sekali. Dan pedang ini pun amat baiknya."
"Pedang itu adalah pedang suhu-mu, Liang Gi Cinjin. Biarlah kau kembalikan kepadanya. Adapun pedang ini...." Ling Ling menggerak-gerakkan Oei-Hong-Kiam yang terasa lebih enak di tangannya, karena pedang ini gagangnya lebih kecil dan lebih cocok untuk jari-jari tangannya. "Pedang ini adalah pedang dari Panglima Kam Kok Han, dan aku sebagai ahli waris ilmu pedangnya, aku berhak mendapatkan pedang ini!" Sambil berkata demikian, Ling Ling memandang kepada pemuda itu dengan sikap menantang.
Sian Lun menjadi tertegun. "Kau... kau hendak merampas pedang itu? Kembalikan, Nona. Pedang itu pun boleh kupinjam dari Jenderal Li!"
"Bukankah kau dulu merampasnya dari seorang panglima Kerajaan Sui? Pedang ini bukan pedangmu, bukan pula pedang Jenderal Li, tetapi adalah pedang dari mendiang Panglima Kam!"