Chapter 40
"Kalau kau ada kepandaian, boleh kau rampas kembali. Pedang ini sekarang sudah berada di tanganku!" Ling Ling memandang dengan sikap menantang.
Untuk sesaat, teganglah semua urat dalam tubuh Sian Lun. Ia hendak bergerak menyerang nona itu untuk merampas kembali pedangnya, akan tetapi ia mengurungkan niatnya dan kemudian bahkan duduk di atas rumput sambil tersenyum.
"Biarlah, ambillah kalau kau kehendaki, asal saja kau jangan membunuh Paman Kwee."
"Kau peduli apa dengan segala niatku? Kalau masih penasaran, hayo kau berdiri dan mari kita lanjutkan pertempuran kita!"
Akan tetapi, Sian Lun menggelengkan kepalanya. "Kau serang dan bunuhlah aku kalau kau mau. Aku tiada nafsu untuk bertempur mati-matian seperti orang gila tanpa ada alasannya. Aku tidak percaya kau tidak akan malu menyerang seorang yang tidak melawan."
Karena ia pun sudah merasa lelah sekali, Ling Ling lalu menyimpan pedangnya dan menjatuhkan diri di atas rumput serta bersandar pada pohon. Kembali kedua orang muda itu duduk berhadapan di atas rumput seperti tadi, sebelum mereka bertempur mati-matian. Matahari telah mulai bersembunyi di balik pohon-pohon dan hawa mulai terasa dingin. Setelah melepaskan penat, Ling Ling bangkit kembali, dan Sian Lun menegurnya.
"Hendak ke manakah, Nona?"
"Ke mana lagi? Tentu ke Tiang-an!" Jawaban ini terdengar penuh tantangan.
"Kalau aku jadi engkau, aku takkan melewati daerah seribu rawa di malam hari."
"Apa maksudmu?"
"Kalau kau keluar dari hutan ini, kau akan tiba di daerah yang penuh dengan rawa-rawa yang amat berbahaya. Tidak saja banyak sekali rawa yang tertutup rumput dan merupakan perangkap maut yang mengerikan, bahkan di situ juga banyak terdapat binatang berbisa. Tak mungkin ada orang dapat melalui tempat itu di waktu malam!"
Ling Ling adalah seorang gadis yang keras hati, keras kepala, dan bandel. Apalagi yang mengeluarkan kata-kata tadi adalah seorang pemuda yang menjadi musuhnya, pemuda yang "dibencinya", tentu saja ia tidak sudi menaati nasihatnya. Ia teringat akan daerah berawa ini, karena dulu ia pernah melewati daerah ini.
"Aku tidak takut!" katanya dan dengan cepat ia berlari pergi.
Ketika ia keluar dari hutan itu, tibalah ia di daerah penuh rawa tersebut. Suasana tampak gelap, sunyi, dan menyeramkan. Matahari telah lenyap, digantikan oleh malam yang remang-remang, dengan pohon-pohon besar menjulang dan jurang di sana-sini, seperti raksasa setan yang menanti kedatangannya dengan penuh ancaman.
Tak terasa, Ling Ling merasa ngeri juga dan ia menengok ke belakang. Dari jauh, nampak sosok tubuh orang berupa bayang-bayang yang bergerak ke arahnya. Ia terkejut, akan tetapi setelah bayangan itu mendekat, ia mengenalnya sebagai Sian Lun. Ling Ling merasa girang sekali, akan tetapi hanya untuk sebentar. Siapa pun akan merasa girang jika melihat orang yang dikenal dalam malam yang menyeramkan di daerah yang mengerikan itu, sekalipun orang itu adalah Sian Lun.
Akan tetapi, ia segera mengusir rasa girangnya dan berganti merasa gemas. Ia ingin berlari secepatnya, tetapi tidak mungkin dilakukan di daerah yang demikian berbahaya. Ia maklum bahwa tanah berlumpur yang membentang luas di depannya belum tentu tanah keras. Jika sekali saja kakinya terjeblos ke dalam rawa yang tertutup rumput, celakalah dia.
Sebentar saja pemuda itu sudah menyusulnya. Mereka berdua berjalan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, tanpa saling pandang, bagaikan dua bayangan setan yang berkeliaran di daerah menyeramkan itu.
"Gadis bandel!" tiba-tiba Sian Lun berkata perlahan. Ia marah dan mendongkol sekali.
Ling Ling tidak menjawab, hanya diam-diam tersenyum di dalam kegelapan. Telah berkali-kali ia dibuat mendongkol dan marah oleh pemuda ini, dan kali ini ia merasa senang dapat membalas dendam dengan membuat Sian Lun marah.
Pemuda ini sudah beberapa kali melewati daerah ini, maka ia lebih hafal liku-liku jalannya dan tahu letak rawa-rawa yang berbahaya. Akan tetapi, ia diam saja dan hanya mengikuti ke mana Ling Ling memilih jalan. Ia maklum bahwa gadis itu telah tersasar dan salah jalan, tetapi ia tetap diam.
Setelah berjalan tersaruk-saruk dan bulan mulai muncul menambah keseraman tempat itu, mereka belum juga keluar dari daerah liar ini. Tiba-tiba Ling Ling menahan langkahnya dan melompat mundur. Hampir saja ia celaka, karena ketika kakinya menyentuh rumput di depannya, ternyata di bawah rumput itu terdapat lumpur. Beruntung ia bersikap hati-hati; jika tidak, tentu ia akan terjeblos ke dalam lumpur yang berbahaya.
Ling Ling melompat ke belakang bagaikan diserang ular. Ia berjalan ke kanan, tetapi baru beberapa belas tindak, kembali ia menghadapi lumpur berumput. Ke kiri tidak mungkin karena di sana membentang jurang yang amat dalam. Untuk kembali? Ah, bagaimana ia harus kembali melalui jalan tadi yang sedemikian jauhnya? Ia berdiri termenung dengan bingung.
"Kita telah salah jalan," kata Sian Lun dengan suara tenang, namun mengandung nada kegembiraan karena diam-diam ia menertawakan gadis itu.
Ling Ling cemberut. "Kau sudah tahu dari tadi?"
"Tentu saja aku tahu," jawab pemuda itu.
"Kurang ajar! Kalau sudah tahu, mengapa diam saja? Mengapa kau membiarkan kita tersesat ke jalan buntu ini?"
"Kuberitahu pun kau takkan percaya omonganku, apa perlunya? Biarlah, gadis kepala batu seperti engkau perlu sewaktu-waktu mendapat hajaran."
"Tutup mulutmu! Siapa suruh kau mengikuti perjalananku? Pergilah dan biarkan aku sendiri!" Suara yang marah ini mengandung isak yang ditahan.
Sian Lun tidak menjawab. Ia lalu mengumpulkan daun-daun kering dan memanjat pohon untuk mengambil ranting kering. Ditumpuknya daun dan ranting itu, lalu ia membuat api unggun.
"Pergi!" seru Ling Ling. "Mengapa kau tidak mau pergi? Aku tidak ingin ditemani!"
"Di sini bukan tempat milikmu. Ini daerah rawa, tidak ada pemiliknya. Siapa saja boleh bermalam di sini. Kau menyuruhku pergi ke mana? Kembali ke jalan tadi mungkin akan tersasar ke tempat yang lebih berbahaya lagi. Tahukah kau bahwa tak jauh dari sini terdapat daerah yang penuh dengan ular-ular kecil berbisa? Bagaimana kau dapat melawan ular-ular kecil yang tiba-tiba menyerang kakimu dari dalam gelap? Sekali saja terkena gigitan ular itu, tubuh kita akan menjadi kaku dan bengkak-bengkak, nyawa takkan tertolong lagi. Aku akan bermalam di sini dan besok kalau sudah terang, barulah kita dapat keluar dari neraka ini."
Meremang bulu tengkuk Ling Ling mendengar cerita tentang ular-ular berbisa itu, padahal cerita ini amat dilebih-lebihkan oleh Sian Lun. Dengan jengkel, Ling Ling duduk di bawah pohon tempat Sian Lun mengambil ranting tadi. Ia memandang pemuda itu yang sedang mengatur ranting dan daun yang mulai menyala.
Kemudian Sian Lun duduk menghadapi Ling Ling. Untuk beberapa lama mereka diam saja. Di dalam cahaya api unggun yang suram itu, Sian Lun lebih berani menatap wajah gadis itu lebih lama, karena dalam keadaan remang ini, sinar mata gadis itu yang luar biasa tajam tidak begitu menusuk pandangannya.
"Jadi kau adalah ahli waris dari Panglima Besar Kam Kok Han?" tanya Sian Lun kemudian.
"Ya," jawab Ling Ling singkat.
"Jadi kau bermarga Kam?"
"Bukan," kembali jawaban yang singkat sekali.
Suasana kembali sunyi untuk waktu yang lama. Sian Lun merasa heran melihat gadis yang menarik perhatiannya ini. Seorang gadis yang keras hati dan galak, seakan-akan telah mengeras dalam rendaman pengalaman yang pahit getir. Siapakah dia? Ada hubungan apa dengan Kwee Siong? Betapa pun juga, ia adalah seorang gadis patriot yang gagah perkasa dan berpribadi tinggi. Buktinya, gadis yang pernah bermusuhan dengan Pek Sim Kauw ini akhirnya justru menjadi pemimpin pasukan Pek Sim Kauw yang amat terkenal dan ditakuti musuh.
"Nona, aku telah mendengar bahwa namamu Ling Ling, akan tetapi siapakah margamu?"
Hampir saja Ling Ling menjawab jujur, tetapi ia teringat bahwa pengakuannya akan membuka rahasia bahwa ia adalah putri Kwee Siong. Ia tidak mau pemuda ini mengetahuinya, maka ia segera menutup kembali bibirnya yang hampir terbuka.
"Nona, mengapa kau diam saja? Apakah pertanyaanku tadi terlalu kurang ajar?" Setelah menanti agak lama, Sian Lun berkata lagi.
"Sudahlah, jangan banyak tanya," akhirnya Ling Ling menjawab juga. "Aku lelah dan mengantuk, hendak tidur!"
Sambil berkata demikian, gadis itu berdiri dan hendak menjauhkan diri dari tempat itu.
"Eh, Nona, mengapa pergi? Kalau mau tidur, tidurlah di sini, di bawah pohon dekat api unggun. Biarlah aku yang menjauh jika kau tidak ingin berdekatan denganku."
Akan tetapi, Ling Ling menoleh sambil berkata, "Aku tidak biasa tidur dalam terang api. Menyilaukan mata. Padamkanlah api unggunmu yang menyilaukan itu!"
"Mana bisa dipadamkan? Api ini mengusir binatang-binatang kecil yang mengganggu kita. Lagipula, hawa malam begini dingin," bantah Sian Lun.
Ling Ling membanting-banting kakinya. "Kalau begitu, mengapa kau menawarkan tempat itu kepadaaku? Kau selalu membantah dan memaksakan kehendak sendiri. Keras kepala!"
Gadis ini dengan marah menjauhi tempat itu, berjalan kembali ke jalan tadi, kemudian merebahkan diri di bawah pohon berikutnya, tak jauh dari tempat Sian Lun. Ia dapat melihat pemuda itu berdiri di dekat api unggun sambil memandang ke arahnya. Akan tetapi, Ling Ling tidak peduli. Ia membuka buntalan pakaiannya, segera duduk bersandar ke pohon, dan menyelimuti tubuhnya dengan mantel.
"Gadis aneh," pikir Sian Lun sambil duduk bersandar pada pohon itu. "Aneh, galak, akan tetapi amat manis dan menarik hati."
Pada keesokan harinya, Ling Ling bangun dari tidurnya dengan tubuh lemas.