Chapter 41
Ia hampir tak dapat tidur malam itu karena banyak nyamuk yang mengganggunya. Meski telah menutupi seluruh tubuhnya, nyamuk di daerah rawa itu benar-benar bandel. Binatang-binatang kecil itu dapat menggigitnya melalui mantelnya dan wajahnya menjadi sasaran. Ia merasa marah dan kesal, tetapi malu untuk membuat api unggun seperti Sian Lun.
Ketika pada pagi hari itu ia hendak melanjutkan perjalanan dengan diam-diam tanpa memberitahukan kepada pemuda itu, ternyata Sian Lun telah mendahuluinya dan datang mendekatinya. "Enak tidur?" tanya pemuda itu sambil tersenyum.
Panas hati Ling Ling mendengar pertanyaan ini yang dianggapnya seperti olokan karena tidak tahukah pemuda itu betapa ia menderita gangguan nyamuk. Ia sama sekali tidak tahu bahwa Sian Lun juga tidak tidur malam itu, bukan karena gangguan nyamuk, melainkan gangguan hati karena mulai jatuh cinta padanya. "Kau yang enak tidur!" jawabnya kesal. "Bagaimana aku dapat tidur di tempat seperti neraka ini?"
"Nona, harap kau jangan terlalu mencurigaiku. Kalau saja kau menurut kata-kataku, tentu kau tidak akan mengalami kekecewaan. Aku lebih hafal jalan-jalan di sini dan percayalah, aku akan membawamu ke Tiang-an, dan takkan kuhalangi segala tindakanmu kecuali kalau sudah sampai di kota itu."
Ling Ling tidak menjawab, tetapi tidak membantah dan mengikuti pemuda itu ketika Sian Lun mengajaknya keluar dari daerah rawa itu. Mereka berjalan kembali ke jalan kemarin, lalu membelok ke kanan dan selanjutnya Sian Lun yang menjadi penunjuk jalan. Mereka melakukan perjalanan bersama, merupakan pasangan yang amat sedap dipandang karena mereka sama-sama muda, gagah, dan elok. Akan tetapi, di sepanjang jalan mereka tidak pernah, atau jarang sekali bicara.
Ling Ling merasa tubuhnya terasa tidak enak sekali dan kepalanya kadang-kadang pening. Akan tetapi, ia tidak sudi memperlihatkan keadaannya kepada Sian Lun. Ia mengira bahwa ia terlampau lelah dan kurang tidur, dan ia tidak mau menyatakan kelemahannya terhadap Sian Lun. Padahal sebetulnya ia telah terserang bisa gigitan nyamuk-nyamuk malam tadi.
Setelah matahari naik tinggi, mereka tiba di sebuah dusun dan Sian Lun yang melihat betapa wajah gadis itu pucat dan penuh keringat lalu berkata, "Kita beristirahat dulu dan mengisi perut." "Aku tidak ingin makan!" bantah Ling Ling. "Ingat, nona. Aku yang menjadi penunjuk jalan dan sekarang aku merasa lapar dan lelah. Kau pun nampak lelah, mengapa berkeras kepala?" "Kau yang keras kepala!" kata Ling Ling merengut, tetapi ia mengikuti pemuda itu yang melangkah masuk ke dalam sebuah restoran.
"Dua bubur, bebek tim, dan air teh," Sian Lun memesan kepada seorang pelayan yang menghampiri mereka. Pelayan itu mengangguk dan pergi ke belakang untuk menyediakan pesanannya. "Aku tidak suka bubur dan bebek tim, apalagi air teh!" Ling Ling membantah. "Aku ingin daging dan arak!"
"Dalam keadaan ini, tidak baik makan daging dan minum arak, nona. Kesehatanmu bisa terganggu." Ling Ling dengan mata melotot, tetapi dalam pandangan Sian Lun, ia tampak makin cantik dan menarik kalau sedang marah. "Kau kira aku anak kecil yang harus menurut segala omonganmu? Aku mau daging dan arak!" kata Ling Ling. "Ssst, nona. Banyak orang di sini, tidak malukah kalau kita cekcok di sini?" kata Sian Lun berbisik perlahan.
Ling Ling mengerling ke kanan kiri dan melihat para tamu restoran yang duduk di meja lain memandang ke arah mereka sambil tersenyum-senyum. Mereka disangka sepasang suami istri yang sedang bertengkar. Terpaksa Ling Ling mengalah, tetapi ia kesal sekali. "Aku tidak sudi makan pesananmu!" bisiknya dengan gigi terkatup.
Sian Lun tidak menjawab. Akan tetapi, ketika masakan yang dipesan tadi dihidangkan oleh pelayan, tanpa berkata sesuatu Ling Ling lalu makan bubur dan bebek tim itu, bahkan lebih lahap dari pada Sian Lun. Pemuda ini diam-diam merasa geli sekali, tetapi ia tidak memperlihatkan perasaannya, hanya diam-diam memberi tanda kepada pelayan untuk menambah bubur. Ling Ling tidak berkata dan makan sampai kenyang betul. Ia merasa tubuhnya menjadi segar kembali dan diam-diam ia merasa bersyukur atas pilihan makanan pemuda itu. Ia tahu bahwa permintaannya untuk makan daging dan arak tadi hanya timbul dari hatinya yang keras, karena sesungguhnya ia tidak begitu doyan minum arak yang membuatnya pening dan merasa muak.
Ketika mereka keluar dari restoran itu, tiba di depan mereka, di luar restoran, berdiri seorang tosu yang bertubuh tinggi besar dan bermata bundar. Kedua orang muda itu memandang dengan mata curiga, tetapi tosu ini dengan tersenyum-senyum memandang kepada mereka, seakan-akan sedang menanti. Tiba-tiba matanya yang bundar itu memandang ke arah gagang pedang yang tergantung di pinggang Ling Ling dan senyumnya menghilang. Sinar matanya cepat dialihkan dan kini menatap wajah Ling Ling dengan pandangan mata yang membuat gadis itu terkejut sekali, karena pandangan ini penuh dengan ancaman.
"Di mana kau peroleh pedang itu?" tanyanya kepada Ling Ling dengan suaranya yang mengguntur sehingga para tamu di dalam restoran itu memandang keluar dengan heran. "Mau apa kau banyak tanya?" jawab Ling Ling dengan suara yang tak kalah keras dan nyaringnya. Memang, untuk membuat ia jangan sampai kalah muka, gadis ini telah mempergunakan khasiatnya sehingga suaranya terdengar nyaring dan bergema keras.