Chapter 42
“Gadis liar, siapakah kau? Berani sekali kau berlaku kurang ajar di hadapan Kim-kong Lo-koai (Setan Tua Sinar Mas)!”
Mendengar tosu itu menyebutkan julukannya yang menyeramkan, Ling Ling tersenyum mengejek dan berkata, “Aku adalah Toat-beng Mo-li (Iblis Wanita Pencabut Nyawa), mengapa harus takut berhadapan dengan setan tua yang sudah hampir mampus?”
“Kau bilang tadi bahwa pedang Oei-hong-kiam ini adalah pedangmu, ternyata kau telah berkata bohong besar.” Sampai pucat wajah Liang Hwat Cinjin mendengar ucapan yang disertai makian ini.
Belum pernah selama hidupnya ada orang yang berani bersikap demikian kurang ajar kepadanya.
“Bocah yang bosan hidup! Kau berani bilang aku membohong?”
“Tentu saja kau bohong, karena setahuku, pedang Oei-hong-kiam adalah pedang pusaka milik Panglima Besar Kam Kok Han!” Berubahlah wajah Liang Hwat Cinjin mendengar nama ini disebut.
“Hm, dari mana kau tahu akan hal ini? Memang benar, Kam Kok Han telah mampus di tanganku dalam pemberontakannya dan pedang ini terjatuh ke dalam tanganku, bukankah itu berarti bahwa pedang Oei-hong-kiam menjadi pedangku?”
“Bagus, bangsat tua! Sudah lama aku mencari-cari kau untuk membalas dendam sucouw (kakek guru)!” Sambil berkata demikian, Ling Ling lalu menyerang dengan tusukan pedangnya.
Liang Hwat Cinjin terheran mendengar ini, tetapi ia cepat mengelak sambil mengebutkan ujung lengan bajunya.
Ketika ujung lengan baju itu mengenai pedang, terdengar suara gemerincing nyaring dan tergetarlah tangan Ling Ling.
Gadis ini terkejut sekali, maklum bahwa kepandaian kakek ini benar-benar amat lihai dan masih lebih tinggi daripada tingkat kepandaiannya sendiri.
Akan tetapi, Ling Ling tentu saja tidak merasa takut sedikit pun juga, apalagi karena pada saat itu ia sedang merasa marah dan sakit hati sekali melihat orang yang dimaksudkan oleh pesanan Bu Lam Nio.
Inilah pembunuh suami Bu Lam Nio, dan orang inilah yang harus ia tewaskan untuk membalas dendam Bu Lam Nio dan Kam Kok Han.
Maka ia lalu menyerbu lagi dan mengeluarkan ilmu pedang Kim-kiam-sut sebaik-baiknya.
“Hoho! Jadi kau sudah mewarisi Kim-gan-liong Kiam-sut dari Kam Kok Han?” “Bagus, bagus, mari pinto antar kau menyusul sucouw-mu si pemberontak itu!” Setelah berkata demikian, Liang Hwat Cinjin lalu menggerakkan kedua lengan bajunya secara istimewa sekali.
Dari kedua ujung lengan bajunya keluar angin pukulan yang dahsyat, yang membuat pakaian para penonton yang berada di tempat jauh ikut berkibar dan yang membuat Ling Ling merasa seakan-akan menghadapi serangan angin ribut.
Biarpun gadis ini telah memiliki *lweekang* yang cukup tinggi sehingga ia tidak terpengaruh oleh hawa pukulan yang hebat ini, namun tetap saja kedua matanya terasa pedas dan hidungnya terasa sukar untuk bernapas ketika tertiup oleh hawa gerakan tosu yang lihai itu.
Inilah ilmu silat Soanko-jiu yang amat lihai dari Liang Hwat Cinjin.
Dulu, ketika ia menghadapi Kam Kok Han di waktu mudanya, ia telah berhasil pula merobohkan panglima kosen itu dengan Soanko-jiu ini.
Dan sekarang dengan ilmu pukulan ini pula ia telah membuat Ling Ling menjadi bingung sekali dan terdesak hebat.
“Supek, jangan celakakan dia!” terdengar Sian Lun berseru berulang-ulang, dan ketika *supek*-nya tidak memedulikan teriakannya, dan melihat betapa Ling Ling tampak makin lama makin lemah gerakan pedangnya, Sian Lun lalu mencabut pedang Pek-hong-kiam dan melompat maju, menyerbu ke dalam kalangan pertempuran yang hebat itu.
“Ha, ha, ha! Jadi kau membela gadis ini? Agaknya dia adalah kecintaanmu, baik... baik! Akan kuantar kalian berdua menjumpai Kwan Sun Giok muridku di alam baka!” Kini pertempuran menjadi makin hebat.
Gerakan kedua ujung lengan baju tosu itu benar-benar hebat.
Biarpun ujung lengan baju itu hanya terbuat daripada bahan kain yang tidak seberapa tebalnya, namun karena digerakkan dengan tenaga *lweekang* yang tinggi dan menurut aturan dari ilmu silat luar biasa Soanko-jiu, maka lengan baju itu merupakan senjata yang luar biasa berbahayanya.
Biarpun berkali-kali bertemu dengan pedang-pedang pusaka seperti Oei-hong-kiam dan Pek-hong-kiam, namun ujung lengan baju itu tidak menjadi putus, bahkan tangan kedua orang muda itu terasa kesemutan seakan-akan pedang mereka bertemu dengan benda yang amat keras dan kuatnya.
Makin lama makin banyak orang yang menonton pertempuran ini, dan semua orang tidak berani mendekat, menonton dari jarak jauh sambil menahan napas.
Memang pertempuran itu amat indah dilihat.
Pedang di tangan Sian Lun menjadi segulung sinar putih yang cepat dan kuat, sedangkan pedang di tangan Ling Ling berubah menjadi segulung sinar kuning yang amat ganas.
Adapun lengan baju Liang Hwat Cinjin kadang-kadang terbuka lebar merupakan awan-awan putih yang bergulung-gulung tertiup angin, sehingga tampaknya tubuh ketiga orang itu tidak kelihatan lagi, seakan-akan yang bermain di situ adalah seekor naga kuning dan seekor naga putih yang bermain-main di antara mega-mega yang tertiup angin.
Liang Hwat Cinjin merasa penasaran sekali dan diam-diam ia mengagumi ilmu pedang Sian Lun.
Pantas saja Kwan Sun Giok, muridnya itu tidak dapat menang; tidak tahunya, pemuda itu sudah hampir mewarisi seluruh kepandaian *sute*-nya, Liang Gi Cinjin.
Seratus jurus telah lewat dan tosu itu tetap belum dapat mengalahkan kedua orang lawan mudanya, sungguh pun kedua orang muda itu telah terdesak hebat oleh kedua lengan bajunya.
Bahkan Ling Ling tampak pucat sekali dan keringat telah membasahi jidatnya.
Gadis ini memang telah merasa tidak enak badan dan kini karena ia mengerahkan seluruh tenaganya, ia merasa kepalanya pening dan tubuhnya panas bagaikan terbakar.
Hanya semangat dan keberaniannya yang luar biasa sajalah yang membuat ia masih kuat melakukan pertempuran hebat itu.
Pada saat itu, terdengar seruan, “Kim-kong Lo-koai, kau memang jahat sekali!” Tiba-tiba seorang tosu tua berkelebat datang dan menggunakan sebatang tongkat bambu menyerbu serta menyerang Liang Hwat Cinjin.
“Beng Kui Tosu, kau mau ikut-ikut?” Liang Hwat berseru marah, tetapi diam-diam ia mengeluh karena dengan adanya tosu tua yang amat tangguh ini, ia merasa tidak sanggup melawan terus.
Tadi pun menghadapi Ling Ling dan Sian Lun, biarpun ia selalu dapat mendesak, namun kegesitan tubuh kedua orang muda itu telah membuat kepalanya pening dan sukar baginya untuk merobohkan seorang di antara mereka.
Kini, ditambah pula oleh Beng Kui Tosu, tokoh dari Kun-lun-san yang kepandaiannya tinggi juga, tentu saja berat baginya menghadapi keroyokan ketiga orang ini.
Biarpun tingkat kepandaian Beng Kui Tosu tidak lebih tinggi daripada kepandaian Ling Ling atau Sian Lun, namun tosu ini telah banyak pengalaman dalam pertempuran dan oleh karenanya bambu di tangannya itu tidak kalah lihainya daripada pedang pusaka di tangan Sian Lun atau Ling Ling.
Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan di antara para penonton, “Dia Liem-ciangkun! Ayo keroyok tosu siluman itu!” Banyak orang datang dengan senjata di tangan, siap mengeroyok Liang Hwat Cinjin.
Ternyata mereka itu adalah bekas pejuang-pejuang atau pemberontak-pemberontak yang mengenal Liem Sian Lun sebagai pemimpin mereka ketika dahulu menyerbu ke Tiang-an.
Melihat gelagat tidak baik, Liang Hwat Cinjin tertawa bergelak dan tubuhnya melompat cepat sekali dan lenyap dari pandangan mata.
Sian Lun lalu menghampiri Beng Kui Tosu dan berlutut.
“Suhu, terima kasih atas pertolongan Suhu.”
Akan tetapi, Beng Kui Tosu setelah mengelus-elus kepala bekas muridnya ini lalu berkata, “Lihat, Sian Lun, nona ini agaknya sakit.” Sian Lun terkejut sekali dan cepat menengok.
Alangkah kagetnya ketika ia melihat Ling Ling berdiri sambil memejamkan mata.
Wajahnya pucat sekali dan tiba-tiba gadis itu menjadi limbung, pedangnya terlepas dari tangannya dan ia tentu sudah roboh kalau Sian Lun tidak cepat-cepat melompat dan memeluknya.
Sementara itu, beberapa belas orang bekas anak buahnya sudah mengerubunginya dan di antaranya berkata, “Liem-ciangkun, marilah bawa nona itu ke rumahku untuk dirawat.” Beramai-ramai mereka lalu menuju ke rumah orang bermarga Thio yang peramah itu.
Ling Ling dipondong oleh Sian Lun yang merasa amat gelisah karena tubuh gadis itu ternyata amat panas bagaikan api.
Untung sekali bahwa pendeta Kun-lun-pai ini, yakni Beng Kui Tosu, paham akan ilmu pengobatan.
Setelah memeriksa nadi tangan Ling Ling dan meraba jidatnya, pendeta ini lalu berkata perlahan, “Ah, dia tidak terkena pukulan dan tidak terluka, hanya menderita demam akibat gigitan nyamuk berbisa!”
“Memang malam tadi kami berdua bermalam di tepi rawa, Suhu.”
Beng Kui Tosu mengangguk-angguk, maklum.
“Tidak apa, tidak usah gelisah, ada obatnya untuk penyakit ini.” Ia lalu menulis resep dan meminta seorang di antara bekas anak buah Sian Lun untuk mencarikan obat itu di toko obat.
Orang bermarga Thio itu sendiri lalu pergi ke kota yang berdekatan untuk membeli obat di toko obat.
“Penyakitnya tidak berbahaya,” kata tosu itu kepada Sian Lun, “dengan perawatan dan istirahat, ia akan sembuh jika kau beri minum obat itu selama beberapa hari saja. Siapakah nona ini dan mengapa pula kau sampai bertempur melawan Kim-kong Lo-koai yang lihai?” Dengan singkat Sian Lun menuturkan pengalamannya.
Tosu itu mengangguk-angguk lalu berkata, “Nona ini ilmu pedangnya hebat sekali. Agaknya ia cocok menjadi jodohmu, Sian Lun.” Pemuda itu hanya menunduk dengan muka merah.
Kemudian tosu itu lalu berpamit untuk melanjutkan perantauannya, karena tosu Kun-lun-pai ini memang seorang perantau yang tidak tentu tempat tinggalnya.
Dengan amat teliti dan sabar, Sian Lun merawat Ling Ling hingga empat hari kemudian. Setelah sembuh, gadis ini merasa amat terharu dan berterima kasih.
Akan tetapi, ia merasa malu untuk memperlihatkan perasaannya. Hanya kini ia tidak marah-marah lagi kepada Sian Lun.
“Kau baik sekali, Liem-ciangkun. Mengapa kau sebaik itu kepadaku?” Hanya inilah ucapannya ketika ia melihat betapa pemuda itu dengan kedua tangannya sendiri memberi obat minum kepadanya.