Chapter 43
Nona, kau adalah seorang gagah yang berbudi tinggi dan telah berjasa dalam perjuangan. Kita boleh dibilang orang-orang segolongan dan kebetulan sekali kita melakukan perjalanan yang sama, mengalami bahaya yang sama serta bertemu dengan Liang Hwat Cinjin yang berbahaya. Mengapa aku tidak akan merawatmu? Tak usah bicara tentang kebaikan, karena kalau aku yang tertimpa malapetaka, aku percaya penuh bahwa kaupun takkan tega meninggalkan aku begitu saja.
Belum tentu, kata Ling Ling sambil menghindari pandang mata pemuda ini. Aku, aku keras hati dan keras kepala. Sian Lun tersenyum. Dia sendirilah yang menyebut keras hati dan keras kepala kepada gadis itu. Apa kau kira aku tidak keras kepala? Kita sama saja, nona, dan haruskah kita bersikap seperti orang yang belum saling mengenal? Tak enak sekali mendengar kau menyebut ciangkun kepadaku. Di dalam barisan mungkin aku seorang panglima, akan tetapi di luar barisan, aku hanyalah Liem Sian Lun, orang biasa saja.
Akan tetapi Ling Ling tidak menjawab, hanya melengoskan muka untuk menyembunyikan mukanya, akan tetapi pemuda itu telah melihat betapa air mata mengucur deras dari sepasang mata gadis itu. Nona, Ling Ling, kau mengapakah? bisiknya perlahan. Gadis ini dalam keadaan sakit teringat akan nasibnya, teringat akan ibunya yang sudah meninggal dunia, teringat pula akan ayahnya, orang yang sesungguhnya akan menjadi orang satu-satunya yang dapat diminta tolong, menjadi tempat ia berlindung, akan tetapi, ayahnya telah menjadi ayah orang lain dan ia hanya akan menjadi anak tiri.
Selama hidupnya, baru dua orang yang menaruh hati kasih sayang kepadanya, yang memperhatikan dan mengurusnya, yakni neneknya dan ibunya. Bu Lam Nio dan ibunya telah meninggalkannya. Dan sekarang, dalam keadaan sebatang kara, seorang diri tiada orang lain yang dapat dimintai tolong, ia jatuh sakit dan mendapatkan perawatan yang demikian baiknya dari seorang yang dibencinya! Mengingat akan hal ini dan mendengar pertanyaan pemuda itu yang diucapkan dengan penuh perhatian, tak terasa lagi Ling Ling menangis tersedu-sedu. Baru kali ini dia menangis terisak-isak dengan hati serasa diperas-peras.
Kau, kau terlalu baik padaku, Liem-ciangkun, keluarlah, tinggalkan aku sendiri, tangis Ling Ling menjadi-jadi. Akan tetapi minumlah dulu obat ini, nona, kata Sian Lun mendekatinya sambil memegang mangkok berisi obat. Biarkan saja, aku dapat minum sendiri, keluarlah, Liem-ciangkun. Sian Lun menarik napas panjang. Sungguh ia tidak dapat mengerti akan sikap gadis ini. Kau masih lemah, nona, tak dapat minum sendiri, biarlah aku menyuruh enso Thio ke sini.
Setelah meletakkan mangkok obat itu ke atas meja, Sian Lun lalu keluar dan memanggil nyonya Thio. Nyonya rumah ini amat peramah seperti suaminya, dan ia segera masuk ke dalam kamar gadis itu. Nona, minumlah obat ini agar kau lekas sembuh, kata nyonya Thio. Dibantu oleh nyonya Thio, Ling Ling bangun duduk dan minum obat itu. Terima kasih enci, kau benar-benar baik sekali, aku berhutang budi kepadamu. Hush, mengapa bicara tentang budi, kalau mau bicara tentang budi, kau harus ingat kepada Liem-ciangkun, dialah yang merawatmu selama ini, dia lupa makan, lupa tidur mengkhawatirkan keadaanmu.
Ling Ling memandang kepada nyonya itu dengan air mata berlinang. Benarkah, enci? Mengapa tidak benar, Liem-ciangkun setiap malam duduk di atas bangku di luar kamarmu, selalu menjagamu seperti seorang ayah menjaga anaknya. Ah, kau beruntung sekali mempunyai seorang calon suami seperti dia, nona. Tertegun hati Ling Ling mendengar sebutan ini. Ia hendak membantah akan tetapi cepat ditahannya. Apa gunanya membantah, biarlah mereka mengira bahwa dia adalah calon isteri Sian Lun, apa salahnya. Hatinya merasa perih sekali, karena bagaimana ia bisa berjodoh dengan Sian Lun, dengan seorang pemuda yang dibencinya.
Tak mungkin seorang pemuda yang telah menduduki pangkat sebagai panglima, seorang pemuda gagah perkasa, orang kepercayaan Jenderal Li, sudi berjodoh dengan gadis bodoh seperti dia. Hatinya makin terasa perih, Sian Lun merawatnya tentu bukan karena cinta kasih, melainkan karena iba hati, terdorong oleh kebaikan budi pemuda itu. Ah, kalau saja Kwee Siong yang menjadi suami ibunya itu tidak berhati sekejam itu. Kalau saja Kwee Siong tidak melupakan ibunya, kalau saja ia bisa hidup sebagai puteri Kwee Siong, akan lain lagi halnya. Tentu ia takkan merasa lebih rendah dari pada pemuda itu.
Pikiran ini membuat hatinya panas dan kemarahan serta kebenciannya terhadap Kwee Siong meluap. Dan pada malam hari yang gelap itu, tanpa diketahui oleh siapapun juga, tidak diketahui pula oleh Sian Lun yang telah tertidur saking lelahnya, diam-diam Ling Ling meninggalkan rumah keluarga Thio itu, meninggalkan Sian Lun menuju ke Tiang-an. Pada keesokan harinya, gegerlah dalam rumah itu. Sian Lun yang diberi tahu tentang larinya Ling Ling, tanpa pamit lagi lalu melompat keluar dan berlari mengejar.
Akan tetapi, ia telah kalah dulu selama setengah malam, maka ia mempercepat larinya untuk menyusul gadis yang aneh, gadis yang berhati keras, yang manis dan yang dicintainya itu. Biarpun tubuhnya masih lemas, akan tetapi penyakit yang diderita oleh Ling Ling telah sembuh sama sekali. Aneh, ketika ia memaksa dirinya berlari pada malam hari itu, makin lama ia merasa makin sehat dan segar. Tahulah dia bahwa kelemasan tubuhnya itu sebagian besar karena terlampau lama berbaring dan kurang bergerak.
Ia telah memiliki tubuh yang kuat, tubuh yang semenjak kecil digembleng dengan ilmu silat tinggi, sehingga sebentar saja tenaganya telah pulih kembali, sungguhpun ia masih merasa lemah pada kaki dan punggungnya. Menjelang pagi, ia tiba di sebuah hutan dan beristirahat sambil mengatur pernapasannya dan melatih lweekangnya. Kalau teringat kepada Sian Lun, ia menjadi berduka. Entah mengapa, ia merasa sunyi dan sedih, berbeda sekali ketika ia mengadakan perjalanan bersama pemuda itu.
Ketika pemuda itu selalu berada di sampingnya, ia selalu hendak marah kepada Sian Lun, akan tetapi setelah kini berpisah dan melakukan perjalanan seorang diri, ia merasa rindu dan ingin sekali melihat pemuda itu berada di sampingnya. Inikah yang disebut cinta? Ia sendiri tidak mengerti, apakah ia merasa cinta atau benci kepada pemuda itu. Ia melanjutkan perjalanannya, sebentar-sebentar berhenti dan pada senja hari ia tiba di luar kota Tiang-an.
Ia berhenti di sebuah dusun yang bersih dan nyaman hawanya, makan sedikit bubur dari sebuah warung nasi, lalu menuju ke Tiang-an. Akan tetapi, malam telah tiba dan kembali Ling Ling bermalam di sebuah hutan, di mana ia melihat sebuah kelenteng tua yang kosong. Pada kesokan harinya, ia melihat kelenteng itu ternyata indah sekali pemandangan sekitarnya, dikelilingi oleh tanaman-tanaman bunga liar yang beraneka warna dan di belakang kelenteng terdapat sebuah sungai kecil yang amat bening airnya.
Tempat yang amat indah, pikirnya dengan hati senang. Akan senanglah ia kalau tinggal di tempat seperti ini, dekat dengan kota Tiang-an dan tak jauh dari hutan itu terdapat pula sebuah dusun yang bersih. Ketika ia hendak berangkat ke Tiang-an untuk mencari Kwee Siong dan melakukan niatnya membalas dendam, tiba-tiba terdengar suara halus memanggil namanya. Ling Ling menengok dan tiba-tiba wajahnya berobah menjadi merah. Ia melihat Sian Lun berdiri di depan kelenteng dengan pandangan mata sayu.
Ling Ling, mengapa kau meninggalkan aku, kata pemuda ini nampak pucat sekali karena memang ia amat gelisah. Ia telah mengejar Ling Ling dan tak dapat berjalan cepat-cepat karena ia harus mencari keterangan sepanjang jalan kalau-kalau ada orang yang melihat gadis itu. Ia tidak begitu yakin bahwa Ling Ling akan mengambil jalan langsung ke Tiang-an. Siapa tahu kalau gadis itu mengambil jalan lain. Karena itulah, maka ia baru dapat menyusul gadis itu pada pagi hari ini.
Ia merasa amat khawatir kalau-kalau gadis yang baru saja sembuh dari sakit itu akan jatuh sakit pula di tengah jalan. Liem-ciangkun, mengapa kau menyusulku, Ling Ling menjawab dengan pertanyaan sambil menundukkan mukanya. Ling Ling, mengapa kau lari dariku, mengapa kau selalu hendak menjauhkan diri dari padaku, sudah sembuh benarkah engkau, kau nampak begitu kurus dan lemah. Sian Lun melangkah maju mendekat dan tak terasa lagi ia memegang kedua tangan gadis itu.
Berdebar jantung Ling Ling ketika merasa betapa tangan pemuda itu memegang tangannya dengan mesra. Debaran jantungnya membuat telapak tangannya dingin sekali. Tanganmu dingin sekali, Ling Ling, kau masih belum sehat benar, mengapa kau memaksa melakukan perjalanan dan pergi di malam hari, aku benar-benar gelisah. Liem-ciangkun, jangan kau perdulikan aku lagi, aku sebatangkara, pergi ke mana aku suka, bagaikan seekor burung di udara, jangan kau acuhkan aku lagi, Liem-ciangkun.
Akan tetapi dorongan cinta kasih di dalam hati Sian Lun tak dapat ditahan lagi. Ia memegang kedua tangan Ling Ling makin erat dan berkata dengan bibir gemetar. Ling Ling, tidak tahukah kau betapa aku menyintamu. Apa, kedua mata Ling Ling terbelalak dan ia memandang tajam. Sungguhpun ia telah dapat mengira akan hal ini dan telah mendengar penuturan nyonya Thio tentang rawatan pemuda ini, namun mendengar pengakuan itu dari mulut pemuda itu sendiri, ia menjadi terkejut juga.
Memang, aku mencintamu, Ling Ling, kata Sian Lun dengan ketetapan seorang perajurit, biarpun mukanya menjadi sebentar pucat sebentar merah dan keringat mengalir dari jidatnya di pagi hari yang dingin itu. Aku sendiri tadinya tidak mengira sama sekali, kukira hanya karena kagumku dan rasa iba hatiku kepadamu, akan tetapi malam kemarin, pada pagi harinya ketika aku mendengar bahwa kau telah pergi meninggalkanku, aku yakin bahwa aku takkan dapat hidup bahagia tanpa kau disampingku.