Chapter 44
Ling Ling tak dapat menjawab, hanya menundukkan mukanya makin dalam dan ia menangis terisak-isak.
"Ling Ling..." Sian Lun menarik kedua tangan gadis itu dan hendak memeluknya, akan tetapi Ling Ling merenggutkan kedua tangannya sehingga terlepas dari pegangan Sian Lun dan gadis ini melangkah mundur tiga tindak. "Tidak, tidak... jangan sentuh aku!"
"Ling Ling..." kata Sian Lun dengan suara sedih, "kau bilang bahwa kau hidup sebatang kara. Tidak maukah kau ikut dengan aku dan menjadi menantu ibuku? Dia orang baik, Ling Ling. Ibuku amat baik dan tentu kau akan suka sekali kepadanya, akan kauanggap sebagai ibumu sendiri."
"Tidak! Tidak! Kau seorang panglima, seorang berkedudukan tinggi, sedangkan aku... aku seorang wanita kasar, bodoh, dan telah disebut orang sebagai... siluman, sebagai iblis wanita! Tahukah kau aku siapa?"
"Kau seorang gadis yang gagah perkasa, budiman, dan cantik jelita... dan..."
"Aku disebut Toat-beng Mo-li, Iblis Wanita Pencabut Nyawa, juga disebut Cialing Mo-li, Iblis Wanita Sungai Cialing! Aku seorang wanita jahat, kejam, dan tidak mengenal perikemanusiaan!"
"Mereka itu bohong!" kata Sian Lun dengan sengit. "Akan kutampar mulut setiap orang yang berani menyebutmu demikian, Ling Ling. Tidak dapatkah kau menerima cintaku...?"
"Tidak, tidak mungkin..."
"Apakah kau membenciku? Dan... tidak ada sedikit pun rasa cinta kasih di dalam hatimu terhadapku?" Pertanyaan ini terdengar amat mengharukan sehingga kini gadis itu menutupi mukanya dan tangisnya membuatnya tersedu-sedu. Ia tak dapat menjawab.
"Ling Ling, jawablah. Jawabanmu merupakan keputusan bagi kebahagiaan hidupku."
Setelah tangisnya mereda, gadis itu menatap wajah pemuda itu dengan pandangan yang berani, pandangan yang menyelidik dan tajam sekali sehingga kembali Sian Lun merasa betapa sinar mata gadis itu tajam dan runcing bagaikan ujung pedang yang menembus hatinya.
"Sian Lun, katakanlah, mengapa kau mencintaiku? Mengapa?" Berdebar jantung pemuda itu mendengar Ling Ling menyebut namanya begitu saja. Satu perubahan? Akan tetapi ia harus menjawab.
"Sukar sekali mengatakannya, Ling Ling," ia menatap gadis itu dari kepala sampai ke kaki, "entah apamu yang membuat aku jatuh cinta. Mungkin rambutmu, matamu, hidung atau mulutmu, mungkin pula kakimu... ah, aku tidak tahu. Mungkin pula watakmu yang keras, atau kegagahanmu, entahlah. Kenyataannya, kalau kau sedang marah, kau tampak makin menarik dalam pandangan mataku."
Ucapan ini terdengar bagaikan lagu dari tujuh surga di dalam telinga Ling Ling, membuatnya memejamkan kedua mata untuk beberapa lamanya. Alangkah merdu suara pemuda itu, ingin ia mendengar terus-menerus ucapan itu, mendengar selama hidupnya. Akan tetapi ia memaksa diri merenggutkan semangatnya yang sudah terayun oleh gelombang rayuan ini.
"Sian Lun, lihatlah kenyataan! Bukalah matamu! Aku bukan gadis yang tepat untuk menjadi jodohmu. Lupakah kau bahwa aku sedang menuju ke Tiang-an untuk mencari dan membunuh Kwee Siong, pamanmu?"
Bagaikan pisau berkarat, ucapan ini menikam ulu hati Sian Lun dan membuatnya menjadi pucat seketika. Sakit rasa hati Ling Ling melihat keadaan pemuda itu. Sesungguhnya Sian Lun menjadi limbung ketika ia melangkah mundur tiga tindak. Kata-kata ini merupakan suara halilintar di siang hari yang menggugahnya dari mimpi indah, bagaikan air dingin yang diguyurkan di atas kepala seorang yang mengantuk.
"Ling Ling... kasihanilah aku, kasihanilah pamanku... Sakit hati apakah yang membuatmu demikian kejam terhadap paman? Katakanlah, urusan apakah yang menyakitkan hatimu, yang diperbuat oleh Kwee Siokhu kepadamu?"
"Kau tak perlu tahu! Ini urusan pribadi. Cukup kalau kuberitahukan kepadamu bahwa aku harus membunuh orang she Kwee itu!" Setelah berkata demikian, Ling Ling memutar tubuh dan berdiri membelakangi Sian Lun.
"Ling Ling, tak dapat diubahkah niatmu ini? Demi Tuhan, sekali lagi aku mohon padamu, jangan lanjutkan niatmu ini. Biarlah aku berlutut di depan kakimu, Ling Ling, jangan kau mengganggu dia!" Dan Sian Lun benar-benar berlutut di depan gadis itu.
"Bodoh! Lemah!" tiba-tiba Ling Ling berseru sambil terisak, dan ketika Sian Lun mengangkat kepalanya, ternyata gadis itu sudah tidak ada di depannya pula. Pemuda ini terkejut sekali dan cepat ia melompat dan mengejar. Karena memang tubuh Ling Ling masih lemah, sebentar saja Sian Lun dapat menyusulnya. Akan tetapi, Ling Ling telah mencabut pedangnya dan berkata menantang, "Sian Lun, untuk satu hal ini, kalau terpaksa, aku akan menghadapimu dengan pedang!"
Bukan main bingung dan sedihnya hati Sian Lun. "Ling Ling, aku tidak sampai hati untuk bertanding dengan engkau. Tidak lagi. Kalau kau mau, kau boleh penggal leherku, aku takkan melawan. Akan tetapi, jika aku melihat engkau mengganggu pamanku, terpaksa aku akan membelanya, biarpun aku harus mati di tanganmu." Sambil berkata demikian, Sian Lun lalu berlari terus dengan amat cepatnya, mendahului gadis itu menuju Tiang-an.
Ling Ling maklum bahwa pemuda itu tentu akan pergi ke rumah Kwee Siong dan akan menjaga keselamatan orang she Kwee itu. Akan tetapi ia tidak takut. Kalau perlu, ia akan menyerang pemuda itu dengan pedangnya. Sakit hati ibunya lebih penting untuk dibalaskan. Ia belum pernah berbakti terhadap ibunya, dan ia telah menyaksikan sendiri betapa ibunya hidup bersengsara, semenjak muda hidup di dalam hutan dan dijuluki iblis wanita, sama sekali tidak diperpedulikan oleh ayahnya yang kini menduduki pangkat tinggi dan hidup bersenang-senang dengan istri dan putranya yang baru.
Dengan pikiran penuh nafsu dan dendam, gadis ini lalu berlari cepat menuju ke kota Tiang-an yang temboknya telah tampak di depan.
Semenjak pertemuan dengan Sui Giok dan Ling Ling, Kwee Siong sembuh dari sakitnya dengan keadaan yang berubah sama sekali. Ia kini tampak tua, selalu berwajah muram, dan sering kali termenung. Istrinya mencoba untuk menghiburnya, akan tetapi sia-sia. Kwee Siong terganggu oleh pikiran dan perasaannya sendiri. Ia merasa berdosa dan apabila ia teringat akan Sui Giok dan Ling Ling, ia menjadi amat terharu dan kasihan. Ia dapat membayangkan betapa hebatnya penderitaan dan kesengsaraan istrinya yang terpisah darinya di dalam hutan liar itu dalam keadaan mengandung tua.
Dulu ia merindukan istrinya dan telah berusaha mencari istrinya itu. Sampai lama, bertahun-tahun kemudian, baru ia mau menikah kembali atas bujukan saudara angkatnya, yakni Liem Siang Hong, ayah Liem Sian Lun. Dan sekarang, setelah penghidupannya dengan keluarganya yang baru ini mulai bahagia, tiba-tiba saja muncul Sui Giok yang dikira telah tewas itu dengan putrinya. Alangkah malang nasibnya, alangkah hebat penderitaan ibu dan anak itu. Ia menyesal sekali mengapa Sui Giok dan Ling Ling telah pergi.
Hiburan satu-satunya hanya Kwee Cun, putranya yang telah berusia delapan tahun itu. Kwee Cun ternyata menjadi seorang anak laki-laki yang amat cerdik. Sukar bagi ibunya untuk menyembunyikan sesuatu dari anak ini karena Kwee Cun memiliki kecerdikan dan keluasan pandangan seperti orang dewasa.
"Ibu," katanya setelah berkali-kali menanyakan keadaan ayahnya tanpa mendapat jawaban memuaskan dari ibunya, "bagaimanapun juga Ibu hendak menyembunyikan dariku, aku tahu bahwa tentu ada sesuatu yang menimpa diri Ayah. Ia tampak begitu sedih. Ibu, ceritakanlah kepadaku, Ibu."
"Cun-ji, kau masih kecil, tidak perlu mengetahui akan hal ini," kata ibunya sambil mengelus-elus kepala anak itu.
"Ibu, kalau kau tidak mau menceritakan, aku akan selalu merasa sedih. Aku tidak mau belajar, tidak makan, tidak mau bermain-main. Ayah berduka sedangkan aku tahu pun tidak urusannya. Ibu memperlakukan aku seperti orang luar saja."
Setiap hari Kwee Cun membujuk ibunya sehingga akhirnya ibunya merasa kewalahan dan diceritakannyalah tentang Sui Giok dan Ling Ling. Anak itu mengerutkan kening dan kontan berkata, "Ayah tidak bersalah!"
Ibunya hanya memeluknya sambil mengalirkan air mata. "Cun-ji, jangan kau ikut-ikut. Kau masih kecil, Nak, belum tahu perasaan hati orang tua. Mari kita berdoa saja semoga ayahmu akan terhibur hatinya dan semoga ibu dan anak itu akhirnya akan dapat tinggal bersama kita dalam keadaan yang rukun dan damai."
Kwee Cun memandang kepada ibunya dengan mata penuh kasih sayang, lalu katanya, "Ibu, kau seorang yang berhati mulia." Demikianlah, anak kecil ini dengan cara pikiran dan pertimbangannya sendiri, telah dapat mengetahui keadaan ayahnya.
Pada hari itu, menjelang senja, datanglah Sian Lun dengan wajah pucat dan lesu. "Engko Sian Lun datang!" Kwee Cun berteriak berkali-kali dengan girang sekali. Sian Lun mengangkat anak itu ke atas lalu menurunkannya kembali. Ia menganggap Kwee Cun seperti adiknya sendiri.
Ibunya, yakni Nyonya Liem Siang Hong, yang semenjak Kwee Cun lahir telah tinggal menjadi satu di gedung itu, menyambut kedatangan putranya dengan girang. "Lun-ji, pasukanmu telah lama tiba, mengapa baru sekarang kau datang? Kau membuat kami merasa gelisah saja. Kemanakah kau pergi?"
"Aku... aku mengurus sebuah hal yang penting, Ibu. Mana Kwee Siokhu?" tanyanya menyimpangkan pertanyaan ibunya itu.
"Di ruang belakang. Ah, Sian Lun, pamanmu itu akhir-akhir ini nampak selalu bersedih saja. Jumpailah dia, siapa tahu kedatanganmu akan menghibur hatinya." Sian Lun lalu menuju ke ruang belakang di mana ia disambut oleh paman dan bibinya.
"Kwee Siokhu, aku membawa sebuah berita yang amat penting." Melihat sikap pemuda itu, Kwee Siong lalu mengajaknya masuk ke dalam kamar kerja. Nyonya Kwee yang maklum bahwa sebagai seorang wanita ia tidak berhak mencampuri urusan pekerjaan suaminya segera membetot tangan Kwee Cun saat anak itu hendak ikut ayahnya. Nyonya Kwee mengajaknya ke belakang.
"Kau dan aku tidak boleh mengganggu ayahmu kalau sedang ada urusan pekerjaan," katanya.
"Mengapa tidak boleh, Ibu?"
"Kita tidak dapat membantu, hanya akan merupakan gangguan saja."