Chapter 45
"Kalau kakakmu Sian Lun ada pembicaraan penting dengan ayahmu, tentu mereka itu membicarakan tentang pekerjaan dan urusan negara." Akan tetapi, sesungguhnya yang dibicarakan oleh dua orang itu sama sekali bukanlah urusan negara.
"Siokhu, mulai saat ini sampai malam nanti, harap Siokhu sekeluarga jangan keluar dari kamar. Biar aku menjaga di sini, di dekat Siokhu, sampai bahaya itu datang." "Apa maksudmu, Sian Lun?" tanya Kwee Siong terkejut.
"Siokhu, nanti akan ada orang yang datang dan berusaha menyerang untuk membunuh Siokhu." Pemuda ini sengaja tidak mau menyebut nama Ling Ling agar orang tua ini jangan menjadi kaget dan berduka.
"Orang mau membunuhku? Siapakah dia dan bagaimana kau bisa tahu?" Kwee Siong adalah seorang yang telah lama melakukan pekerjaan sebagai hakim. Maka, mendengar tentang ada orang hendak membunuhnya bukan merupakan hal yang aneh karena tentu banyak penjahat merasa dendam kepadanya.
Dan karena kebiasaan memeriksa pesakitan, kali ini pun ia telah mendesak Sian Lun dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Siokhu, tak perlu kiranya aku beritahukan siapa orangnya yang hendak melakukan hal itu. Tiada gunanya Siokhu mengetahui." Pemuda ini menundukkan mukanya.
Ia tidak bisa berbohong dan juga bukan seorang ahli dalam memutarbalikkan omongan. Maka agar dapat bersembunyi dari pandangan mata pamannya yang luar biasa tajamnya, ia menundukkan mukanya.
Berat sekali rasa hatinya untuk memberitahukan siapa orangnya yang hendak melakukan perbuatan jahat ini. Ia tidak ingin orang lain, terutama sekali pamannya, tahu akan maksud jahat dari Ling Ling. Ia hendak menghadapi gadis yang dicintainya itu sendiri, hendak berusaha sedapat mungkin untuk mencegah gadis itu melanjutkan niatnya. Kalau perlu, ia akan mengorbankan nyawanya.
Untuk membiarkan Ling Ling membunuh pamannya, tak mungkin dapat ia lakukan. Dan untuk memberikan keterangan sejelas-jelasnya kepada pamannya, sehingga orang tua ini memandang rendah dan marah kepada Ling Ling, atau lalu bertindak menghadapi gadis itu dengan kekerasan sehingga Ling Ling akan mendapat bencana, juga tak dapat dilakukannya.
Ia mencintai dan berbakti kepada pamannya yang dianggap sebagai ayah sendiri, akan tetapi ia pun amat mencintai Ling Ling.
Hening sejenak, Kwee Siong menatap tajam sedangkan Sian Lun menunduk sambil menahan napas.
"Tentu dia yang akan datang, bukan? Dia... gadis yang bernama Ling Ling dan dijuluki orang Toat-beng Mo-li, gadis yang dulu hendak membunuh Jenderal Li, bukan?" tiba-tiba Kwee Siong berkata.
Serasa ambruk bangunan rumah di atas kepalanya ketika Sian Lun mendengar pertanyaan ini. Ia cepat mengangkat kepala memandang pamannya dan melihat sinar mata itu menembus dadanya dengan pandangan menyelidik, ia tidak berani mencoba-coba untuk menyangkal lagi.
"Siokhu, bagaimana kau dapat menduga demikian tepat?" tanyanya kagum.
Kwee Siong tersenyum pahit. Tentu saja ia dapat menduga. Kalau penjahat-penjahat biasa yang hendak mengincar nyawanya, tentu Sian Lun tak akan menyembunyikan namanya. Sui Giok dan Ling Ling adalah orang-orang yang selama ini tidak pernah meninggalkan ingatannya. Ia maklum betapa gadis putrinya itu akan membencinya kalau mendengar dari ibunya betapa ia adalah ayahnya yang seakan-akan telah menyia-nyiakan kehidupan ibunya.
"Sian Lun, mengapa kau menyembunyikan namanya dariku?" Kwee Siong menjawab pertanyaan pemuda itu dengan pertanyaan pula, pertanyaan yang dikeluarkan dengan suara menuntut dan penuh selidik.
Berdebar jantung Sian Lun. Tentu saja tak mungkin baginya untuk berkata terus terang bahwa ia mencintai gadis itu. Bahwa ia tidak ingin gadis itu tertangkap dan mendapat celaka, akan tetapi ia pun tidak ingin melihat gadis itu membunuh pamannya.
"Dia... dia... adalah seorang dara perkasa, seorang pendekar wanita yang sudah berjasa, yang sudah membantu perjuangan kita, Siokhu. Aku hendak mencegahnya melakukan perbuatan yang jahat ini. Siokhu, bolehkah aku mengetahui, mengapakah dia begitu benci kepadamu? Mengapa dia begitu berkeras hati hendak membunuhmu?" Melihat wajah pemuda itu yang sedih dan ucapannya yang penuh penasaran dan kepedihan hati itu, mata Kwee Siong yang tajam sudah dapat menduga lebih mendalam lagi.
"Sian Lun," katanya dengan lemah, "jangan kau menghalanginya. Biarkan ia datang dan aku sendiri yang akan menghadapinya!" "Siokhu! Dia... dia hendak membunuhmu!" "Biarlah! Jangan kau ikut campur, Sian Lun. Dengarkah kau? Ini sebuah perintah dariku, mengerti? Jangan kau menghalangi dia dan biarkan dia turun menjumpaiku. Aku tidak mau dibantah oleh siapa pun dalam hal ini. Tak seorang pun boleh mencampuri urusan ini, juga kau sendiri tidak!" "Siokhu! Akan tetapi aku... bukankah kau kuanggap ayah sendiri? Bukankah aku sama dengan putramu sendiri? Bagaimana aku dapat membiarkan orang mengancam keselamatanmu?" Kwee Siong tersenyum sedih, "Kau tahu bahwa kau lebih dari putra sendiri bagiku. Bahkan aku ingin sekali... mengambilmu sebagai mantuku!" Bukan main herannya hati Sian Lun mendengar ini, dan ia hendak bertanya, akan tetapi Kwee Siong mendahuluinya dengan kata-kata tegas, "Sian Lun, kau malam ini keluarlah dari rumah ini. Ajak ibumu bermalam di rumah Jenderal Li. Biarkan aku sekeluarga seorang diri di dalam gedung ini." Ketika pemuda itu memandangnya dengan wajah pucat, ia menyambung cepat, "Anakku yang baik, percayalah kau kepadaku. Aku hanya minta kau menaati kata-kataku sekali ini. Jangan membantah, anakku..." Dua titik air mata melompat keluar dari mata pemuda ini. Sebutan "anakku" membuatnya merasa terharu sekali. Pamannya yang amat baik hati ini menghadapi bahaya maut, akan tetapi ia bahkan diminta keluar dari situ bersama ibunya. Ia tahu bahwa Ling Ling bukanlah seorang gadis yang bisa dipermainkan. Ancaman yang keluar dari mulut gadis seperti Ling Ling adalah ancaman yang timbul dari dasar hatinya. Akan tetapi ia tidak berani membantah kehendak pamannya yang tegas-tegas menyatakan bahwa ini adalah sebuah perintah, maka ia lalu mengajak ibunya keluar dari rumah itu dan bermalam di rumah Jenderal Li Goan.
Sesosok bayangan hitam yang gesit sekali melompat ke atas genting Gedung Kwee Siong. Bayangan ini tidak lain adalah Ling Ling yang datang dengan maksud membunuh ayahnya sendiri. Ia merasa heran karena melihat keadaan di luar gedung dan di atas genting sunyi saja. Benar-benar di luar dugaannya semula. Di manakah Sian Lun? Apakah pemuda yang mendahuluinya itu tidak melakukan penjagaan untuk mencegahnya? Dan di mana pula para penjaga? Apakah Sian Lun telah memperingatkan ayahnya dan keluarga itu telah pergi bersembunyi di lain tempat? Ah, kalau rumah itu telah dikosongkan, tentu rumah itu merupakan perangkap baginya. Akan tetapi Ling Ling tidak merasa takut sedikit pun. Ia menganggap bahwa niatnya ini merupakan tugas terakhir. Biarlah ia tewas dalam melakukan tugas ini, karena apa artinya hidup baginya? Ibunya tidak ada, ayahnya hendak ia bunuh, dan Sian Lun... ah, dia tidak mau memikirkan pemuda itu dalam saat seperti itu. Dengan amat ringannya ia melompat turun sambil mencabut pedang Oei-hong-kiam dari pinggangnya. Ia masuk ke dalam ruangan yang terang dan sunyi. Masuk terus dengan langkah kaki ringan, makin ke dalam. Sebuah pintu yang menuju ke ruang belakang tertutup, maka dibukanya perlahan. Matanya silau karena di ruang itu amat terang, banyak lilin dipasang di atas meja. Untuk beberapa lama Ling Ling menggosok matanya agar tidak begitu silau. Ketika ia membuka matanya, ia memandang ke depan dan... berdiri bengong seperti patung. Kwee Siong dengan tenangnya duduk di atas sebuah kursi sambil memandangnya dengan mata tajam, akan tetapi wajahnya muram dan berduka sekali. Seorang nyonya yang cantik duduk di sebelahnya, menundukkan muka dan wajahnya tampak amat pucat. Seorang anak laki-laki yang tadinya menangis sambil menyembunyikan mukanya di pangkuan ibunya, kini serentak bangun berdiri, memandang kepada Ling Ling dengan matanya yang lebar dan bening.
"Ling Ling, kau baru datang, Nak?" terdengar Kwee Siong berkata dengan suara seakan-akan seorang ayah menegur putrinya yang baru kembali dari perjalanan jauh. "Sudah sejak tadi aku, ibu tirimu, dan adikmu menanti kedatanganmu!" Sedu sedan naik dari dada gadis itu menuju kerongkongannya, akan tetapi ia cepat menekan perasaan keharuan ini dan membentak marah.
"Siapa anakmu? Kau orang jahat, manusia kejam berhati binatang. Kau telah membiarkan ibu hidup sengsara sampai bertahun-tahun. Ibu hidup bagaikan seekor binatang buas di dalam hutan, menjadi seorang yang dijuluki iblis wanita oleh orang lain. Semua karena kau! Laki-laki tidak tahu kewajiban, kau masih berani menyebut aku sebagai anakmu?" "Ling Ling, kau boleh memaki sesuka hatimu, akan tetapi katakanlah, mengapa ibumu tidak ikut datang? Mana Sui Giok? Mana istriku itu?" Tak tertahan lagi air mata menetes dari sepasang mata Ling Ling. Kemudian ia mengangkat mukanya memandang wajah ayahnya dengan marah sekali. Dengan jari telunjuk tangan kirinya ia menuding ke arah muka Kwee Siong sambil berkata keras, "Manusia rendah! Kenapa tidak dari dulu kau menanyakan ibu dan mencarinya? Mengapa sekarang setelah kau membunuh ibu, kau masih berpura-pura bertanya lagi?" Muka yang sudah pucat dari pembesar itu kini menjadi makin pucat seperti mayat. Ucapan Ling Ling itu benar-benar menusuk hatinya dan membuatnya terkejut sekali.
"Ling Ling!" ia bangun dari kursinya dengan kedua kaki menggigil. "Apa kau bilang? Mana ibumu... Mana...?" "Ibu telah mati, dan kau tidak berhak bertanya-tanya lagi!" seru gadis itu dengan ganas sambil melangkah maju dengan pedang siap di tangan.
"Ya, Tuhan...!" hanya itulah yang dapat diucapkan oleh Kwee Siong. Ia terjatuh kembali ke atas kursinya dan menutupi mukanya dengan kedua tangannya. "Sui Giok..."