Chapter 47
"Aku dan Adik Cun belum ingin pulang."
Sian Lun hendak membantah, tetapi Kwee Cun yang nakal itu berkata, "Pulanglah, Lun-ko. Kalau kau membantah, enciku akan marah. Jika dia marah kepadamu, aku tidak akan berani bertanggung jawab. Jika Ayah yang datang, barulah Enci mau pulang."
"Hus, Kwee Cun!" Ling Ling kembali membentak adiknya.
Akan tetapi, kata-kata itu sudah cukup bagi Sian Lun. Ia hampir berjingkrak dan menari-nari saking girangnya. Meskipun saat itu ia belum bermimpi bahwa gadis ini adalah putri Kwee Siong sendiri, jelas baginya bahwa Ling Ling tidak marah lagi kepada pamannya. Tanpa banyak cakap lagi, ia membalikkan tubuh dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.
Kembali ia berlari tanpa henti ke Tiang-an. Kali ini ia berlari cepat dengan hati girang, tidak seperti tadi ketika meninggalkan Tiang-an dengan hati gelisah.
Kwee Siong mendengarkan penuturan Sian Lun dengan mata basah, lalu dua titik air mata mengalir turun di sepanjang pipinya. Wajah yang tadinya pucat itu perlahan-lahan menjadi merah kembali. Akhirnya, ia memeluk istrinya yang menangis di dekatnya, lalu berkata perlahan, "Apa kataku? Tepat seperti yang kuduga!" Istrinya hanya dapat menangis di sela senyumnya.
Sian Lun benar-benar tidak mengerti dan memandang dengan melongo. Ia merasa makin heran ketika pamannya berkata, "Sian Lun, kuulangi lagi kata-kataku bahwa kau patut menjadi menantuku."
Ia menoleh kepada istrinya yang sudah duduk di kursi dengan wajah berseri, lalu berkata, "Bukankah sudah cocok sekali Sian Lun menjadi jodoh anak kita?"
"Cocok sekali, dan aku akan senang sekali melihat Sian Lun sebagai menantuku!"
Sian Lun memandang dengan bingung. Apakah kedua orang tua ini sudah gila? Mereka hanya mempunyai seorang putra, bagaimana bisa mengambil menantu laki-laki? Tiba-tiba ia teringat kepada Ling Ling. Apakah gadis itu putri pamannya? Tak mungkin. Akan tetapi, ia teringat bahwa suhunya, Liang Gi Cinjin, juga menyatakan bahwa ia cocok sekali menjadi jodoh Toat-beng Mo-li.
Usul suhunya ini lebih masuk akal baginya karena sosok yang dimaksud sudah jelas, yaitu Ling Ling yang ternyata membawa pedang suhunya, Pek-hong-kiam. Namun, benarkah dia putri pamannya? Bagaimana kalau bukan Ling Ling? Agaknya tidak mungkin jika itu Ling Ling, karena bukankah gadis itu tadinya hendak membunuh pamannya?
"Maaf, Siokhu. Akan tetapi, aku... aku sudah dijodohkan oleh Suhu kepada seorang gadis lain."
Kwee Siong tampak terkejut. "Apa? Mana bisa begitu? Kau tidak boleh menikah dengan gadis lain, kecuali dengan putriku sendiri! Kebetulan suhumu berada di sini, akan kubicarakan hal ini dengannya."
"Suhu berada di sini, Siokhu? Di mana beliau?"
"Ya, suhumu, Liang Gi Cinjin, baru saja datang dan sekarang masih berada di rumah Ligoanswe."
Baru saja percakapan mereka sampai di situ, datanglah penjaga yang melaporkan bahwa Jenderal Li Goan dan Liang Gi Cinjin telah tiba. Kwee Siong dan Sian Lun segera menyambut dengan tergesa-gesa. Pemuda ini segera memberi hormat kepada suhunya yang tertawa terbahak-bahak melihat Sian Lun.
"Aku mendengar dari Ligoanswe bahwa kau telah bertempur melawan Liang Hwat Cinjin, suhengku? Ah, Sian Lun, masih untung kau dapat terlepas dari tangannya yang ganas."
Kemudian kakek berilmu ini menuturkan sambil menarik napas panjang betapa kakak seperguruannya itu sejak dulu telah menyeleweng dan berkali-kali melakukan pelanggaran.
"Aku sendiri tentu sudah lama ia celakakan jika aku tidak memiliki sejenis ilmu yang dapat mengimbangi dan melawan ilmu andalannya, yakni Kim-kong-jiu yang lihai itu. Ia sering kali mengganggu dan mengejek tentang Pek-sim-kauw."
"Ah, seandainya Teecu sudah mempelajari ilmu yang Suhu maksudkan itu, tentu Teecu tidak akan terdesak hebat."
Ia lalu menuturkan kembali dengan jelas betapa tadinya ia tidak berani melawan supeknya itu, tetapi ia terus didesak sehingga akhirnya terpaksa melawan. Tentu saja ia merasa malu mengakui bahwa sebenarnya ia memberanikan diri menghadapi supeknya hanya karena ingin melindungi Ling Ling.
"Itulah akibatnya jika orang masih kurang pengalaman," cela suhunya. "Padahal jika melihat kepandaianmu, kau tidak akan kalah olehnya. Hanya saja kau tidak tahu cara menghadapi Kim-kong-jiu. Bukan dengan ilmu silat lain, Muridku, melainkan kau harus selalu menghadapinya dengan gerakan rendah. Ketahuilah bahwa tenaga Kim-kong-jiu yang dimainkan oleh sepasang ujung lengan bajunya itu hanya berbahaya bagi tubuh bagian atas dan selalu dipergunakan untuk menyerang dari pinggang ke atas. Jika kau bermain dengan gerakan rendah, permainan Kim-kong-jiu akan kacau."
Girang sekali hati Sian Lun mendengar penjelasan itu. Saat ia berbicara dengan suhunya, ia melihat pamannya sedang asyik berbincang dengan Ligoanswe. Tiba-tiba terdengar suara Ligoanswe.
"Saudara Kwee Siong mempunyai keperluan penting untuk menjemput anaknya, marilah kita beramai-ramai mengantarnya. Kuharap Losuhu juga berkenan ikut mengantar. Urusan lain boleh ditunda karena urusan ini benar-benar amat penting dan baru sekarang kudengar!"
Wajah Jenderal itu tampak berseri-seri dan gembira sekali, seolah-olah baru saja mendengar berita yang sangat menyenangkannya. Memang, sesungguhnya Jenderal ini baru saja mendengar dari Kwee Siong bahwa Toat-beng Mo-li sebenarnya adalah putri kandungnya sendiri.
Empat ekor kuda yang kuat segera disediakan. Tak lama kemudian, Kwee Siong, Jenderal Li, Sian Lun, dan Liang Gi Cinjin berangkat dengan cepat menuju hutan tempat Sian Lun meninggalkan Ling Ling dan Kwee Cun.
Matahari mulai condong ke barat ketika keempat orang ini tiba di tempat tujuan. Berbeda dengan saat Sian Lun datang sendirian, di depan kelenteng itu kini tidak sunyi. Mereka terkejut melihat Ling Ling sedang bertempur hebat melawan seorang kakek. Kwee Cun berdiri menonton sambil memaki-maki keras, "Kakek tua bangka kurang ajar! Jangan serang enciku!"
"Liang Hwat Cinjin!" seru Sian Lun.
"Benar, dia adalah suhengku," sahut Liang Gi Cinjin. "Benar-benar tidak tahu diri, menyerang seorang gadis muda."
Pertempuran itu berlangsung hebat. Pedang Oei-hong-kiam di tangan Ling Ling berkelebat mengeluarkan cahaya kuning hingga membuat Jenderal Li Goan kagum. Ia sudah mendengar dari Sian Lun perihal penukaran pedang itu dan tidak merasa keberatan. Ia bahkan menyatakan bahwa jika gadis itu adalah keturunan atau ahli waris ilmu pedang Panglima Kam Kok Han, sudah sepatutnya pedang itu diberikan kepadanya.
Akan tetapi, jelas terlihat bahwa Ling Ling terdesak hebat oleh ilmu silat Kim-kong-jiu yang dilancarkan melalui sepasang lengan baju Liang Hwat Cinjin. Melihat rombongan yang datang, Liang Hwat Cinjin melompat keluar dari lingkaran pertempuran. Ketika melihat Liang Gi Cinjin, ia tertawa menyindir dan membentak, "Liang Gi, bagus sekali perbuatanmu! Muridmu itu telah berani melawanku. Sudah sedemikian jauhkah kekurangajaranmu terhadap saudara tua?"
Liang Gi Cinjin memberi hormat dan menundukkan kepala. "Suheng, kau sendirilah yang mencari penyakit. Kau tidak dapat menjaga diri sehingga yang muda-muda berani menentangmu."
"Bangsat kurang ajar!" bentak Liang Hwat Cinjin hendak menyerang adik seperguruannya, tetapi Ling Ling membentak marah dan kembali menyerangnya.
"Gadis liar, aku harus membunuhmu dulu!" seru kakek itu. Sebuah kebutan hebat dari ujung lengan baju kanannya membuat Ling Ling terhuyung mundur. Tenaga kebutan itu sangat kuat sehingga kuda-kuda Ling Ling tergempur hebat.
Liang Hwat Cinjin hendak mendesak maju, tetapi tiba-tiba Sian Lun membentak, "Jangan kau ganggu Ling Ling!"
Pedang Pek-hong-kiam di tangannya berkelebat menciptakan gulungan sinar putih, menyambar cepat ke arah paha Liang Hwat Cinjin. Pemuda ini teringat nasihat suhunya, maka ia menyerang dengan posisi rendah dan mengarahkan pedangnya ke bagian bawah tubuh kakek itu.
Liang Hwat Cinjin sangat marah. "Bagus, kau juga sudah bosan hidup?"
Dalam sekejap, seperti sebelumnya, kakek ini dikeroyok oleh Ling Ling dan Sian Lun. Gerakan pedang sepasang muda-mudi itu benar-benar hebat sehingga semua orang yang menonton, termasuk Jenderal Li Goan, merasa kagum. Gerakan Ling Ling ganas dan cepat karena ia menganggap Liang Hwat Cinjin sebagai musuh besar, pembunuh Kam Kok Han. Ia melancarkan serangan-serangan maut, sementara Sian Lun menggunakan taktik serangan bawah yang membuat gerakan kakek itu kacau-balau.
Sepasang lengan baju itu, jika dimainkan dengan tenaga Kim-kong-jiu dan diputar di bagian atas, merupakan senjata yang dahsyat. Namun, ketika harus mempertahankan bagian bawah tubuh yang terbuka, daya serangnya banyak berkurang. Meski begitu, hingga seratus jurus berlalu, kedua orang muda itu belum juga berhasil merobohkannya.
Ling Ling merasa penasaran dan segera mengubah gerakan pedangnya. Kini ia bersilat dengan ilmu pedang bagian terakhir dari Kim-gan-liong Kiam-sut, bagian yang amat sukar dimainkan dan berbahaya sehingga jarang dikeluarkan. Benar saja, kali ini Liang Hwat Cinjin terkejut. Gulungan sinar pedang kekuningan itu seakan berpencar menjadi dua yang mengurungnya dari atas dan bawah.
Meskipun amat tangguh, Liang Hwat Cinjin sudah sangat tua. Pertempuran yang lama ini membuatnya lelah sehingga tenaga dan kegesitannya banyak berkurang. Serangan hebat ini, ditambah serangan Sian Lun yang tak kalah berbahaya, membuatnya tak sanggup lagi menangkis.