Halo!

Tembok Besar - Chapter 48

Memuat...
Tembok Besar

Chapter 48

Ujung pedang Oey-hong-kiam menusuk pahanya dan bersamaan dengan itu, ujung lengan bajunya sebelah kanan juga terbabat putus oleh Pek-hong-kiam.

Ia menjerit dan roboh di atas tanah.

Ling Ling mengangkat pedangnya dan hendak memberi tusukan terakhir, tetapi tiba-tiba Liang Gi Cinjin berseru keras, "Nona, jangan bunuh dia!" Ling Ling menahan tusukannya, menghadapi Liang Gi Cinjin dan berkata, "Totiang, dia ini adalah musuh besarku. Dialah yang telah membunuh sucouw Kam Kok Han!"

Liang Gi Cinjin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dia bohong, Nona. Bukan dia yang membunuh Panglima Kam Kok Han, tetapi seorang jenderal she Gui yang sudah lama meninggal dunia. Suheng, mengapa kau tidak mau memberi penjelasan?"

Akan tetapi Liang Hwat Cinjin yang kini sudah dapat duduk dengan paha berlumur darah, tersenyum dan berkata, "Ayo lekas bunuh aku! Aku sudah kalah oleh dua orang muda, sungguh memalukan. Jika tidak segera menghabisi nyawaku, apa yang ditunggu lagi?"

"Liang Hwat Suheng, bukalah matamu baik-baik. Kau berhadapan dengan calon Kaisar, apakah kau masih bersikap jahat dan keras kepala? Inilah Jenderal Li Goan yang gagah perkasa, yang telah membebaskan kesengsaraan rakyat dari tindasan pemerintahan Sui. Apakah kau tidak tunduk?"

Liang Gi Cinjin memaklumi watak suhengnya ini. Betapapun jahatnya, Liang Hwat Cinjin adalah seorang yang berjiwa patriot. Sudah berkali-kali tosu ini dahulu mencoba untuk membunuh kaisar, tetapi selalu gagal. Bahkan, yang membunuh Jenderal she Gui, pembunuh Kam Kok Han, adalah Liang Hwat Cinjin sendiri. Hal ini baru diketahui oleh Ling Ling dan Sian Lun setelah mereka kelak mendengar penuturan Liang Gi Cinjin.

Liang Hwat Cinjin mendengar ucapan sutenya itu, lalu memandang kepada Jenderal Li Goan yang sudah menghampirinya. Jenderal ini memandangnya dengan tersenyum dan berkata, "Liang Hwat Totiang, lupakah kau kepadaku? Lupakah kau ketika kita bahu-membahu menghadapi serbuan tentara dari Mongol dahulu?"

Mata Liang Hwat Cinjin terbelalak. Tentu saja ia teringat kepada jenderal ini, yang amat dikagumi dan dipujinya. Saking menyesalnya atas kesesatannya sendiri dan saking terharunya melihat jenderal itu berhasil menumbangkan kekuasaan kaisar, tiba-tiba Liang Hwat Cinjin lalu menangis.

"Biarlah pinto pergi bersama suheng, karena kami berdua sudah terlalu tua untuk mencampuri urusan dunia. Sian Lun, aku telah meninggalkan urusan Pek-sim-kauw kepada seorang murid, dan kau agar suka membantu pergerakan perkumpulan itu. Dan sekali lagi aku usulkan perjodohanmu dengan Toat-beng Mo-li. Nona, biarlah aku menggunakan kesempatan ini untuk menjadi comblang melamarmu untuk menjadi jodoh muridku. Bagaimana jawabanmu?"

Namun, Ling Ling tidak menjawab, hanya memandang kepada Kwee Siong yang sejak tadi juga sedang memandangnya dengan mata basah.

"Ling Ling ......" bisiknya.

"Ayah ....!" Ling Ling menubruk kaki ayahnya sambil menangis tersedu-sedu. Kwee Cun juga lari kepadanya dan memeluk encinya sambil menangis penuh bahagia. Hanya Jenderal Li Goan saja yang tidak terkejut melihat pemandangan ini karena ia telah mendengar dari Kwee Siong. Yang paling merasa aneh sehingga berdiri melongo seperti patung adalah Sian Lun. Ia merasa seakan-akan sedang mimpi.

Adapun Ling Ling yang merasa bahwa ia tadi belum menjawab pinangan dan pertanyaan Liang Gi Cinjin, lalu berpaling kepada kakek itu dan berkata perlahan, "Totiang, aku menyerahkan segala hal kepada ayahku."

Bukan main girangnya hati Kwee Siong, ia mengelus-elus kepala puterinya dan berkata, "Ling Ling ...... anak baik ....." dan di dalam tangisnya ia berkata kepada ketua dari Pek-sim-kauw itu, "Totiang, sudah lama sekali aku telah menunangkan puteriku ini kepada keponakanku, Liem Sian Lun. Maka usulmu tadi hanya merupakan pengesahan belaka dari pertunangan mereka."

"Bagaimana, Sian Lun?" Liang Gi Cinjin menggoda muridnya yang masih berdiri seperti patung.

Wajah pemuda ini memerah, merah karena malu dan girang. Ia cepat menjatuhkan diri berlutut dan berkata, "Teecu hanya menerima titah dan .... dan ... berterima kasih."

Sambil tertawa Liang Gi Cinjin lalu membawa suhengnya, yang digandeng dan setengah diangkatnya, pergi dari tempat itu.

Adapun Kwee Siong lalu duduk di atas rumput dikelilingi oleh Jenderal Li, Sian Lun, Ling Ling, dan Kwee Cun. Dia menceritakan tentang pengalaman dan riwayat hidupnya, betapa ia terpisah dari Sui Giok, isterinya. Mereka bergembira atas pertemuan yang amat mengharukan. Pertemuan antara air mata dan tawa, karena di samping kegembiraan, Kwee Siong juga berduka mendengar tentang tewasnya isterinya, Sui Giok yang bernasib malang.

"Ia gugur sebagai seorang puteri tanah air yang gagah perkasa, mengapa terlalu disedihkan?" kata Jenderal Li Goan. "Mati sebagai seorang patriot yang gagah adalah kematian terhormat, yang patut dibanggakan oleh anak cucu, karena meskipun andaikata namanya akan terlupakan orang, namun darah yang mengalir dari tubuhnya telah menyuburkan tanah air, telah mencuci rakyat jelata bersih dari penindasan dan penghisapan kejam."

Demikianlah, beramai-ramai mereka lalu kembali ke Tiang-an dan tentu saja dapat diduga bahwa di antara mereka, yang merasa paling bahagia adalah Ling Ling dan Sian Lun. Meskipun keduanya tidak berani membuka mulut karena terlalu jengah dan malu digoda terus-menerus oleh Kwee Cun, namun senyum dan kerling mereka telah bicara banyak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment