Halo!

Chapter 01

Memuat...

Orang selalu berlalu lalang dari selatan ke utara, buku merupakan harta yang tak ternilai, jalanan berliku-liku penuh bahaya.

Konon pada Dinasti Song, ketika Kaisar Xiaozong naik takhta, terjadi peperangan di perbatasan.

Pasukan Jin (Tatar) menyerbu ke dalam perbatasan Kerajaan Song, sehingga menduduki beberapa wilayah Kerajaan Song, menimbulkan kesengsaraan rakyat jelata.

Di daerah selatan, panoramanya sangat indah.

Di sana terdapat tempat pelesiran dan rumah makan mewah, maka tidak heran daerah itu amat ramai.

Di kotaraja, para pejabat dan hartawan hidup bersenang-senang dengan minuman keras serta makanan lezat, sedangkan di jalanan justru terdapat begitu banyak rakyat jelata yang menderita, menahan lapar dan kedinginan.

Konon ketika Kaisar Gaozong melalui sebuah sungai di daerah selatan, pernah mencetuskan sumpah akan menghancurkan pasukan Jin (Tatar).

Maka rakyat pun bersatu hati menghancurkan pasukan Jin yang menyerbu ke dalam perbatasan Kerajaan Song.

Memang tidak begitu sulit melaksanakan itu, sebab di dalam istana terdapat seorang menteri bernama Lie Kang yang amat setia, sedangkan di perbatasan terdapat seorang jenderal yang amat gagah berani bernama Gak Hui.

Kalau mereka bersungguh-sungguh hati untuk menghancurkan pasukan Jin, bukankah pasukan Jin yang menduduki beberapa wilayah Kerajaan Song dapat diusir sekaligus dihancurkan? Akan tetapi, di dalam istana justru terdapat seorang menteri durjana, sehingga membuat Kerajaan Song menjadi berantakan.

Sedangkan kaisar hanya tahu bersenang-senang dengan para selir yang cantik jelita.

Sudah barang tentu Kerajaan Song menjadi bobrok tidak karuan, rakyat jelata sengsara dan menderita.

Secara tidak langsung, kotaraja telah berubah menjadi kota pelesiran.

Para pejabat dan para hartawan bersenang-senang siang malam, sebaliknya rakyat jelata hidup menderita dan kelaparan.

Di sudut sebuah jalanan, terdapat sebidang tanah yang amat luas dan di sana tampak beberapa buah gubuk yang keadaannya sangat memprihatinkan.

Di depan salah satu gubuk itu, terlihat belasan orang mengerumuni seseorang.

Orang itu memakai jubah panjang yang dibuat dari bahan kasar.

Dia sedang bercerita dan bernyanyi, tangannya menggenggam dua potong belahan bambu, sekaligus membunyikannya mengiringi suara nyanyiannya.

Belasan orang mendengarkan dengan mulut ternganga lebar, bahkan beberapa orang tampak terbelalak pula, sedangkan orang itu terus bernyanyi.

Sejak dahulu, para menteri setia pasti mati penasaran, sementara menteri durjana hidup senang dan mewah.

Menteri setia mati meninggalkan nama harum, menteri durjana mati meninggalkan nama busuk.

Perang di sungai, membunuh musuh dua ribu orang. Tentara Jin berjumlah empat puluh ribu, tentara Song hanya ratusan, tapi dapat melawan pasukan Jin.

Begitu mendengar nama Gak Hui, pasukan Jin sudah gentar.

Pasukan Jin mengakui kegagahan Jenderal Gak Hui...

Mendengar sampai di situ, para pendengar langsung bertepuk tangan sambil berseru.

"Bagus! Bagus!"

Sungguh mengherankan, orang itu dan para pendengar berani mencela kebusukan menteri durjana!

Padahal ketika itu, siapa yang berani mencela para pejabat, pasti ditangkap dan langsung dijatuhi hukuman berat.

Sementara orang yang bernyanyi itu melanjutkan.

Menteri durjana Cing Kwei memfitnah Jenderal Gak Hui di hadapan kaisar, sehingga Gak Hui yang gagah berani dijatuhi hukuman mati....

Ketika orang itu bernyanyi sampai di situ, mendadak terdengar suara bentakan sengit.

"Orang bermarga Cing, aku sudah buta bersahabat denganmu! Menteri durjana Cing Kwei berpihak pada musuh demi hidup senang dan mewah! Aku tidak menyangka orang marga Cing berakhlak seperti itu!"

Orang yang membentak sengit itu adalah teman baik orang bermarga Cing tersebut.

Orang bermarga Cing diam saja sebab Cing Kwei memang menteri durjana, sedangkan dia bermarga Cing.

Setelah orang itu membentak, yang lain pun menatap gusar kepada orang bermarga Cing tersebut.

"Hajar dia! Orang marga Cing memang harus mampus!"

Terdengar suara seruan di sana-sini.

Bersamaan dengan itu, mendadak terdengar suara tawa dingin.

Padahal saat itu, hati semua orang sedang panas, namun suara tawa dingin itu membuat hati semua orang berubah dingin seketika.

Kemudian terdengar salah seorang membentak.

"Siapa? Siapa yang tertawa? Cepat tampil untuk bicara!"

Wajahnya berseri, tapi terlihat angkuh sekali.

Dia memandang semua orang yang berada di situ, kemudian berkata dengan suara lantang.

"Kelihatannya hati kalian telah tergerak semua!"

"Siapa kau?" tanya salah seorang dari mereka yang berkerumun.

Orang itu sama sekali tidak memandang sebelah mata pun kepada orang yang bertanya.

Dia menyahut dengan angkuh.

"Siapa aku, tidak perlu kau tahu!"

Orang yang bertanya diam seketika, tapi semua orang yang berada di situ mulai memperhatikan orang yang berbicara itu.

Orang tersebut berusia dua puluhan.

Wajahnya tampan, tapi terlihat lemah seperti seorang sastrawan.

Tangannya memegang sebuah kipas dan mengenakan jubah panjang warna abu-abu.

Semua orang tertegun menyaksikannya, dan dalam hati mereka memuji ketampanannya.

Berselang sesaat, salah seorang memandangnya seraya bertanya.

"Setelah kau mendengar Dinasti Song menghancurkan pasukan Jin, kenapa kau terlihat acuh tak acuh?"

Orang itu tertawa, lalu menyahut.

"Memang bagus cerita itu, namun tidak perlu dibanggakan. Dinasti Song melaksanakan sesuatu, setelah Kaisar Gaozong menyeberang sungai, sudah tiada yang berharga untuk diceritakan lagi. Aku justru tidak habis berpikir, kalian semua hanya bisa menceritakan Dinasti Song, bahkan pandai mengkritik pihak lain pula!"

Usai orang itu menyahut, tampak seorang berbadan gemuk berteriak dengan gusar.

"Sungguh menggelisahkan! Sungguh menggelisahkan!"

Salah seorang yang berdiri di sisinya segera bertanya.

"Kenapa kau menggelisahkan?"

"Jelas Kerajaan Song punya pahlawan dan jenderal yang gagah berani, tapi orang itu malah mengatakan tidak perlu dibanggakan. Bukankah itu sungguh keterlaluan?" jawab si Gemuk.

Ketika berbicara, si Gemuk mengangkat kedua tangannya saking bersemangatnya.

Tampak sepasang tangannya berwarna hitam, pertanda dia ahli ilmu pukulan Hek Sah Ciang (Pukulan Pasir Hitam).

Apa yang dikatakan si Gemuk tadi memang benar, maka semua orang langsung menatap pemuda tampan itu dengan bengis, seakan ingin menelannya bulat-bulat. Semula orang yang bercerita itu juga merasa gusar terhadap pemuda tampan tersebut.

Dia berharap semua orang menghajarnya.

Namun kini menyaksikan semua orang terlihat begitu gusar, dia khawatir akan terjadi sesuatu.

Karena itu, dia segera berkata untuk menenangkan semua orang.

"Apa yang dikatakan pemuda ini juga ada benarnya. Dinasti Song kita memang sudah bobrok, tidak heran dia mengatakan begitu."

Dia bermaksud baik, yakni ingin menenangkan semua orang.

Namun ketika dia baru akan melanjutkan ceritanya, mendadak si Gemuk membentak gusar.

"Kau kira, di bawah kaki kaisar, sudah boleh bicara sembarangan?"

Semua orang langsung membungkam dan berpikir, mungkin si Gemuk adalah perwira di dalam istana, maka berani membentak begitu.

Akan tetapi, pemuda tampan itu malah tertawa dingin sambil memandang si Gemuk seraya bertanya.

"Siapa kau?"

Si Gemuk memang berharap pemuda tampan itu bertanya demikian, karena itu, dia tertawa terbahak-bahak, lalu menyahut.

"Siapa aku? Aku justru adalah pengawal istana, Tiat Ciang (Pukulan Tangan Besi) Sui Peng!"

Orang tersebut tahu namanya cukup terkenal di dalam atau di luar istana, maka dia memandang remeh terhadap pemuda itu.

"Sebetulnya siapa kau?" bentaknya.

Pemuda itu tertawa nyaring, lalu menyahut.

"Aku adalah orang yang tidak terkenal. Maka kalau pun aku memberitahukannya, kau pasti tidak akan tahu."

Tiat Ciang Sui Peng manggut-manggut, kemudian membusungkan dada sambil berkata sombong.

"Tentunya kau bukan orang yang terkenal, sebab aku tidak mengenalmu. Di dalam istana hingga dunia persilatan, aku mengenal banyak orang terkenal, maka bagaimana mungkin aku tidak tahu tentang dirimu? Aku yakin kau bukan warga kotaraja! Sebetulnya kau berasal dari mana?"

Pemuda itu tidak menjelaskan, melainkan tertawa ringan seraya berkata,

"Memang benar, aku bukan warga kotaraja, melainkan datang dari daerah lain."

Tiat Ciang Sui Peng bergirang dalam hati mendengar itu.

Pemuda itu datang dari daerah lain, maka sudah pasti bukan sanak famili pejabat tinggi kotaraja. Karena itu, nyali orang tersebut menjadi besar.

Dadanya terangkat sedikit, lalu tertawa seraya berkata,

"Baik, sebut namamu!"

"Tidak apa-apa kuberitahukan padamu; aku berasal dari Tho Hoa To (Pulau Bunga Persik) di Tong Hai (Laut Timur). Mengenai namaku, kau juga ingin mengetahuinya?" sahut pemuda itu acuh tak acuh.

Pemuda itu memberitahukan tempat tinggalnya membuat Tiat Ciang Sui Peng mengira ia takut kepadanya. Maka timbullah pikiran jahat: ingin menangkap pemuda itu untuk dijebloskan ke dalam penjara, lalu menghukum mati dia!

Setelah timbul pikiran jahatnya, Tiat Ciang Sui Peng mendengus dingin dan membentak.

"Hei! Aku bertanya, sebetulnya siapa namamu?"

Pemuda itu mengerutkan kening, sama sekali tidak menyahut, melainkan hanya tertawa dingin.

Tiat Ciang Sui Peng tampak gusar sekali, lalu membentak lagi.

"Cepat beritahukan namamu!"

Pemuda itu tersenyum dingin, kemudian menyahut dengan hambar,

"Namaku Oey Yok Su!"

Tiat Ciang Sui Peng tertegun dan terheran-heran mendengar nama pemuda itu.

Kemudian, dengan mata agak terbelalak, ia bertanya,

"Siapa namamu? Oey Yok Su? Kau Yok Su (Ahli Obat) apa? Kau mirip seorang sastrawan, bagaimana mungkin kau adalah Yok Su? Apakah kau tukang obat keliling?"

Tiat Ciang Sui Peng salah menduga.

Dia tidak tahu bahwa Tho Hoa To di Tong Hai merupakan tempat yang amat terkenal di kolong langit, dan Oey Yok Su adalah pemilik pulau itu.

Salah seorang dari lima pesilat tangguh dalam dunia persilatan, ilmu silat Pulau Tho Hoa To merupakan aliran tersendiri, sama terkenalnya dengan Ong Tiong Yang, ketua Coan Cin Kauw, dan Toan Hong Ya dari Dali.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment