Pendekar Pemanah Rajawali
Di luar gunung, ada lagi gunung hijau. Di luar lauwteng, ada pula lauwteng lainnya. Nyanyian-nyanyian dan tari-tarian di Telaga Barat, hingga kapan itu akan berhenti? Penghidupan mewah di Selatan telah membuat pelancong-pelancong tetamu mabuk, hingga kota Hangciu dianggapnya sebagai kota Pianciu!
Syair di atas adalah lukisan dari peristiwa delapan ratus tahun yang lalu.
Ketika itu, kerajaan Song telah menjadi sangat lemah. Kedua kaisar, Hwie Cong dan Kim Cong, sudah ditawan oleh bangsa Kim. Pangeran Kong Ong lalu menyeberang ke Selatan dan menerima tahta kerajaan di kota Lim-an, menjadi Kaisar Kho Cong.
Dalam masa sulit itu, selagi musuh mengancam di perbatasan, setelah separuh dari negara berada di tangan musuh, sudah selayaknya seorang kaisar bangkit untuk membuat perlawanan. Namun, Kaisar Kho Cong tidak demikian. Dia justru takut terhadap bangsa Kim, yang dipandangnya sebagai harimau. Bersamaan dengan itu, dia khawatir bahwa kedua Kaisar Hwie Cong dan Kim Cong nanti akan kembali dari tawanan, sehingga dia tidak dapat terus bercokol di atas singgasana naga.
Maka, menurut perkataan Dorna Cin Kwee, dia memerintahkan membunuh Jenderal Gak Hui, pendekar yang menentang musuh Kim. Sesudah itu, dengan merendahkan martabat sendiri, dia mengajukan permohonan damai dengan bangsa Kim.
Inilah pengharapan bangsa Kim, yang saat itu tengah gelisah karena mereka telah beberapa kali mengalami kekalahan dari Jenderal Gak Hui, sehingga semangatnya terpukul hebat. Sementara di wilayah Utara, mereka terancam oleh pemberontakan tentera rakyat sukarela.
Begitu, pada bulan pertama tahun kerajaan Ciauw-hin ke-12 (1138 M), perdamaian telah ditandatangani dengan syarat perbatasan kedua negara Song dan Kim adalah aliran tengah sungai Hoay-sui.
Perdamaian itu namanya saja perdamaian, kenyataannya adalah penaklukan oleh Kaisar Kho Cong. Sebab, dalam suratnya, Kho Cong menyatakan dan mengaku telah menerima budi kebaikan dari raja Kim. Karena itu, turun-temurun, dia akan menjadi "menteri yang setia" dan berjanji setiap hari lahirnya, "Kaisar" - demikian dia menyebut raja Kim - serta setiap tahun, dia akan mengirim utusan untuk memberi selamat sambil menghantarkan upeti uang perak dua puluh lima laksa tail dan cita dua puluh lima laksa balok.
Demikianlah martabat seorang Kaisar, yang sungguh memalukan. Maka, ketika tentera dan rakyat negeri mengetahui hal itu, semuanya menjadi murka dan berduka.
Lebih bersedih lagi adalah rakyat di wilayah utara sungai Hoay-sui, karena mereka menjadi tidak mempunyai harapan lagi akan bangunnya negara.
Di pihak lain, Kho Cong menganggap itu sebagai jasa besar dari Dorna Cin Kwee, sehingga dia yang sudah tinggi pangkatnya, yaitu Siaupo Copoksia merangkap Kie-bit-su, gelar Pangeran Louw-kokong, dinaikkan menjadi Taysu, sehingga kedudukannya telah mencapai puncak kebesaran suatu menteri.
Semenjak itu, bangsa Kim menduduki separuh dari wilayah Tiongkok.
Walaupun demikian, pemerintahan di Hangciu malah bertambah buruk. Raja dan menteri-menterinya setiap hari berpelesiran saja, berpesta pora, tidak memikirkan lagi kepentingan negara. Beberapa menteri atau perwira yang setia umumnya kalah pengaruh dan tidak berdaya, sehingga mereka pada akhirnya menutup mata karena merasa.
Demikianlah syair di atas, gambaran dari kaisar yang lemah dan buruk, tapi pecandu pelisir.
Catatan:
1. Telaga Barat: See Ouw (Si Hu)
2. Piancu: Kaifeng (Kayhong), ibukota propinsi Honan, bekas kotaraja.
3. Lim-an: Hangciu (Hangchow), ibukota Chekiang, inilah yang dimaksud dengan Selatan (Kanglam).
4. Dorna Cin Kwee: Di Hangciu telah dibuat patungnya sebagai tanda peringatan dari khianatnya terhadap negara, dan ada satu waktu patungnya itu telah diperhina dengan ludah maupun kotoran manusia.